
*
*
"Kau tahu, seharusnya perosedurnya tidak seperti ini Ram." Adam menyambutnya begitu Rama tiba di markas Pasukan Hantu. Pria itu tiba pada menjelang siang setelah mendapatkan pesan darinya tadi malam
"Dan kau juga tahu apa yang sedang terjadi di sini." Rama memasukkan beberapa peralatan ke dalam tas yang di temukannya menggantung di tempat penyimpanan.
"Tapi kita harus tetap berhati-hati karena yang kau hadapi bukan hanya satu orang. Kemungkinan lebih dari dua orang."
"Aku tahu, itu juga yang Kaysa katakan."
"Dan memang seharusnya kau tahu sejak awal. Instingnya sebagai wartawan tidak bisa di anggap enteng."
Rama tertegun untuk beberapa saat.
"Apa hasil yang kau dapatkan bisa di percaya?" Dia kemudiam bertanya.
"Dua ratus persen terpercaya." Adam meyakinkan.
"Kau serius?"
"Aku mempertaruhkan nyawa dan karirku demi rekan yang baru aku kenal sejak pelatihan. Apa itu tidak cukup untuk membuatmu yakin? kau pikir apa yang membuatku mau melakukan penyelidikannya? bukan karena kau adalah atasanku, tapi rasa kemanusiaanlah yang membawaku melakukannya. Dan adikmu butuh keadilan." ucap pria dengan selisih usia dua tahun di atasnya itu dengan tegas.
"Dan aku rasa Junno pun akan melakukan hal yang sama jika saja dia tahu soal ini. Percaya padaku." sambung Adam.
Rama menatap pria tinggi itu lekat-lekat. Ucapanya memang benar, dari sekian banyak orang mengapa juga dirinya menjatuhkan pilihan untuk melakukan penyelidikan atas kasus Livia ini kepadanya?
Karena selain Adam yang tidak mengenalnya sejak awal dan tidak terlalu mengetahui perihal kasus adik perempuannya, tidak ada lagi. Terutama setelah semalam sebelumnya pria itu mengiriminya kabar yang tidak pernah dia duga. Walaupun terasa tidak masuk akal baginya.
Rama masih menatap beberapa foto di meja di hadapannya. Hasil pengintaian beberapa hari belakangan sejak dirinya memergoki Alan di pemakaman dengan Alibi mengunjungi makam saudara kemambarnya. Namun yang Adam temukan kali ini cukup membuat curiga. Ketika sebuah mobil keluar dari gedung apartemen Alan, dan wajah yang cukup familar dia tangkap keberadaannya di tempat itu.
"Aku dengar Kaysa pernah bekerja di TV7?" Adam mendekat dan berdiri di sampingnya.
"Ya, sebagai wartawan lepas. Kenapa?"
"Apa dia juga pernah mengalami pelecehan?"
"Pelecehan? Entahlah, dia tidak pernah membicarakannya, dan aku juga tidak pernah bertanya kepadanya."
"Bisa saja Kaysa juga mengalaminya, tapi dia tidak bicara soal itu, jadi ...
"Nanti akan aku tanyakan. Tapi apa mungkin?"
"Bukankah reputasi Frans memang tidak baik selama ini? aku dengar beberapa reporter pernah dia lecehkan selama bekerja di stasiun tivi miliknya, dan ada kabar burung juga mengenai kenaikan jabatan yang bisa di dapatkan jika memiliki kedekatan dengan dia." Adam menunjuk foto tersebut.
"Dan hal yang masuk akal juga mengapa kasus Livia tidak di tangani secara terbuka jika dia memang benar terlibat. Pengaruh uang dan kekuasaan yang di miliki oleh keluarganya bisa membungkam segala hal. Termasuk kejahatannya."
"Termasuk membungkam pak Fandi?"
"Bisa jadi."
"Tapi apa motifnya? aku tidak pernah punya masalah dengan Frans sehingga rasanya tak ada alasan baginya untuk balas dendam kepadaku, jika itu yang menyebakan dia melakukannya?"
"Itulah mengapa kita harus tetap menyelidikinya lagi, tidak buru-buru seperti ini. Agar kita tahu secara menyeluruh dan tidak salah sasaran."
"Dua tahun itu lama, dan aku tudak tahan jika sebentar lagi Livia masih datang menghantuiku dalam mimpi." Rama tampak frustasi.
"Kau hanya begitu memikirkannya, sehingga membuatmu selalu bermimpi buruk." Adam menepuk pundak Rama untuk menyemangatinya.
"Dia satu-satunya keluarga yang aku punya, Dam. Bagaimana aku tidak memikirkannya?"
"Aku tahu. Dua tahun kau bisa bertahan, maka tetaplah bertahan sebentar lagi, sehingga kita memiliki bukti yang cukup untuk membuka kembali kasus ini. Aku yakin banyak orang yang terlibat di dalamnya, dan kita tidak boleh gegabah. Kau tahu keadaannya seperti apa, karena semua fakta bisa mereka putar balikkan dengan mudah."
"Kita tunggu hingga pihak Australia mengirim kabar jika Alvaro sudah di tangkap. Setidaknya Kaysa dan Aslan tidak berada dalam bahaya. Sekarang pulanglah, jangan menambah kecurigaan sehingga mereka memperketat pengawasan kepada keluargamu. Sementara biarkan kami meneruskan penyelidikan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ram, aku keluar untuk membeli sesuatu." Kaysa melakukan panggilan telefon dalam perjalanan keluar rumah.
"Baik." Rama menjawab.
"Apa kamu masih lama di sana?" Kaysa bertanya.
"Tidak tahu, aku masih ada urusan."
"Baiklah."
"Dengan siapa kamu pergi? Sendiri?"
"Tidak. Dengan Dikka. Dia sudah menunggu di depan begitu aku mengatakan akan pergi keluar."
"Kerjanya bagus, kamu memang tidak boleh pergi sendiri." Rama terkekeh.
"Yeah, serasa benar-benar punya pengawal kalau begini." Keluhnya, dan dia segera masuk ke dalam mobil yang di berikan sebagai fasilitas dari negara saat pengawal sekaligus sopirnya itu membukakan pintu.
"Memang dia pengawal kan?"
"Ya, tapi karena kamu tidak ada, jadi aku merasa agak risih juga."
"Kenapa harus risih? Dikka hanya menjalankan tugas. Dan dia dapat di percaya, tanya saja Adam."
"Tapi sepertinya dari sekarang kamu harus mulai membiasakan diri."
"Hmm ... kamu akan kembali bertugas?"
"Ini sedang di bicarakan."
"Baiklah, ... " Kaysa menurunkan ponselnya ketika menangkap pemandangan lain di luar kendaraan yang dia tumpangi ketika telah memasuki jalanan kota.
Motor Alan yang melewatinya menuju ke sebuah jalan yang berlawanan dengan tujuannya.
"Sebentar Ram, aku tutup dulu telefonnya ya?"
"Oke."
"Ikuti motor itu." Kaysa menepuk pundak pria di balik kemudi.
"Maaf Bu?" Pengawal bernama Dikka itu menoleh ke belakang sambil memelankan laju kendaraannya.
"Ikuti motor itu." Kaysa menunjuk ke arah motor yang melaju di depan mereka.
"Tapi kita kan ...
"Ikuti saja, hanya sebentar."
"Um ...
"Cepat!" Perempuan itu kembali menepuk pundaknya.
Dikka menambah kecepatan laju mobilnya mengikuti motor yang Kaysa kenali sebagai milik Alan, dan memang sosoknya yang juga tak mudah di lupakan.
Hingga beberapa blok mereka lewati, dan akhirnya tiba di sebuah area yang jauh dari kota utama.
"Kita masuk pinggiran kota, Bu." Dikka memberitahukan.
"Aku tahu, tetap jaga jarak." ucap Kaysa seraya mengeluarkan beberapa hal dari tas kecilnya. Sebuah kamera mini yang tak pernah dia tinggalkan yang selalu di bawanya kemana pun, meski dirinya sempat berhenti dari pekerjaannya sebagai wartawan.
Kaysa merasa ada yang harus dia telusuri.
"Tapi tugas saya hanya ...
"Sstt, diamlah. Hanya ikuti saja sampai di mana dia." katanya lagi, seraya mengambil gambar pria itu dengan kamera mininya.
Dan tak ada hal lain yang Dikka lakukan selain mengikuti perintah perempuan ini, sembari tetap mewaspadai keadaan.
Alan tampak berhenti di depan gerbang sebuah bangunan usang. Dia membuka kaca helm sebentar, kemudian seorang pria tinggi keluar. Mereka berbicara sebentar, kemudian Alan di persilahkan masuk.
"Bu?" Dikka bereaksi ketika Kisya turun dari mobil.
"Tunggulah, aku hanya ingin melihat sebentar."
"Tapi ..."
"Jaga saja keadaan sekitar. Kalau ada apa-apa, kamu tahu apa yang harus di lakukan." perempuan itu berucap.
Dikka tampak menjengit, tapi sesaat kemudian dia pun ikut turun.
"Mau ke mana kamu?" Kaysa menoleh.
"Tugas saya menjaga keselamatan ibu, kalau terjadi sesuatu, maka saya akan mendapatkan masalah." ucap pria muda itu.
"Ck! hanya mau melihat, bukan menghadapi ketua mafia." Kaysa menghentikan langkahnya.
"Tetap saja, tugas saya."
"Hanya berjaga sajalah di belakang, ..
"Kalau begitu, lebih baik kita kembali saja ke rumah. Disana adalah tempat paling aman." Dikka menghadang langkahnya.
"Apa?"
"Mari Bu? sebaiknya kita kembali? Saya tidak bisa ambil resiko, apa lagi di tempat asing seperti ini." Kemudian pria itu merentangkan sebelah tangannya.
"Haih, ... rumit sekali." Kaysa menggerutu.
"Hanya mejalankan tugas Bu." Dikka malah tersenyum.
"Ish, ... sebagai pengawal kamu tidak asik." Akhirnya Kaysa memutar tubuh, dan dia berjalan kembali ke arah mobilnya.
Sementara Dikka mengikutinya dari belakang. Memindai keadaan sekitar tempat itu, kemudian membagikan titik lokasinya kepada Adam.
"Cepatlah pergi, akan ku kirim seseorang kesana." sebuah pesan masuk di ponselnya.
*
*
*
Bersambung ...