
*
*
Rama menghentikan langkahnya di pelataran parkir kantor polisi pusat tempatnya bertugas selama beberapa tahun belakangan. Mendapati Radit yang sudah menunggunya tak jauh dari mobilnya yang terparkir.
"Kau benar-benar serius ya?" dia berdiri dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.
"Ini bukan hal yang bisa di permainkan." Rama menjawab. Mereka berdiri bersisian di dekat mobil masing-masing.
"Syukurlah jika memang kau serius. Ada yang bertanggung jawab juga untuk kehidupan Kaysa." Radit mengenakan kaca mata hitamnya untuk menyembunyikan rasa kecewa di matanya.
"Aku pikir kau datang untuk menghentikan aku?" Rama menoleh ke arahnya.
"Untuk apa aku menghentikanmu? aku datang hanya untuk memastikan kabar yang di sampaikan oleh mantan mertuaku." Radit menjelaskan.
"Kau akan menghentikan sokongan dana untuk perusahaan mereka karena Kaysa menikah lagi?" Rama pun bertanya.
"Bisnis is bisnis, tidak ada hubungannya dengan dia. Lagi pula aku sangat tidak menyukainya." pria itu menggendikkan bahu.
Tidak menyukainya tapi sampai punya Aslan? batin Rama.
"Aku benci perempuan cerewet seperti dia, suka mengatur, dan mandiri. Sering membuatku merasa kesal juga karena dia sulit di atur." Radit tampak bersungut-sungut."Tapi Aku datang hanya untuk satu hal saja."
"Apa?"
"Jangan halangi aku untuk menemui Aslan." katanya, lebih seperti memperingatkan.
Rama terkekeh.
"Menurutmu ada yang lucu?"
"Memangnya apa hakku melarangmu menemui Aslan? belum apa-apa kau sudah panik." Rama mengejek.
"Bukan panik, aku ayahnya tahu?"
"Memangnya siapa yang menyatakan jika kau bukan ayahnya? semua orang juga tahu kalau dia putramu. Tapi apa kau menjalankan fungsi itu dengan baik?"
Radit terdiam.
"Aku tidak memiliki hak sama sekali untuk melarangmu, tapi kau sendiri yang membuat peranmu sebagai ayahnya tampak tak berarti. Jadi jangan salahkan aku, Kaysa atau Aslan sendiri jika dia menjauh. Karena buktinya kau tidak ada saat dia membutuhkanmu."
Radit mendengus keras.
"Terserah padamu saja lah." pria itu membuka pintu mobilnya, kemudian masuk.Dan tanpa berbasa basi lagi pergi meninggalkan Rama yang tampak menggelengkan kepalanya.
"Ada juga makhluk model begitu?" gumamnya, dan dia pun pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kaysa menerima kedatangan Rama di apartemennya dengan membawa bungkusan berisi pakaian untuk acara pernikahan mereka. Tampaknya pria ini benar-benar serius dengan niatnya.
Rama sendiri yang menyiapkan segalanya, termasuk segala keperluan Kaysa dan Aslan. Pakaian, dan segala perlengkapan yang di butuhkan untuk acara pernikahan sederhana mereka.
"Aku benar-benar harus memakai ini?" perempuan itu keluar dari kamarnya dengan mengenakan gaun cantik berwarna cream.
"Siapa yang memilihkannya? kamu? sepertinya terlalu ..." Kaysa mendongak ke arah Rama yang terpaku menatapnya tanpa berkedip.
"Om?" Aslan menarik ujung kemejanya.
"Hah? ap-apa?" Rama menunduk ke arah bocah di sampingnya.
"Mama pakai baju itu kayak artis ya? cantik." ucap Aslan sambil mengangkat dua jempolnya ke atas
"Umm, ..." Rama kembali memalingkan perhatian kepada calon istrinya.
"Apa tidak terlalu terbuka? rasanya risih di bagian ini." Kaysa menutupi dada dengan kedua tangannya, dan dia tertawa hingga kepalanya terdongak.
Rambutnya sengaja dia ikat ke atas, menampilkan leher jenjang dan pundak telanjangnya yang tampak menggoda. Membuat Rama yang menatapnya merasa berdebar-debar.
Sial!
"Mm ...sudah cocok ya? kalau begitu, aku pergi." pria itu bangkit untuk menghindar.
"Kamu sendiri bagaimana?" Kaysa menghentikan langkahnya.
"Aku memakai pakaian dinas resmi."
"Oh, ... baiklah." Kaysa menganggukkan kepalanya.
"Besok ada yang menjemputmu, kita menikah di kantor."
"Baik."
"Tidak ada pesta, hanya ...
"Tidak apa-apa."
"Atau kalau kamu mau mungkin kita bisa minta ...
"Tidak usah, hanya begini saja aku sudah merasa senang. Terima kasih." Kaysa berucap.
"Mmm ... baiklah kalau begitu. Besok kita bertemu lagi di kantor, ..."
"Iya."
Pria itu membuka pintu dan dia hampir saja keluar dari apartemen tersebut.
"Eee ... Ram?" panggil Kaysa.
"Ya?" Rama langsung merespon.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihatmu sebelum kita menjadi suami istri." perempuan itu terkekeh.
"Eee ... " debaran di dadanya terasa semakin kencang saja, dan Rama merasa wajahnya memanas. "Aku pamit." katanya lagi, kemudian dia segera meninggalkan tempat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kantor polisi menjadi tempat paling sakral pagi itu. Mereka menyulapnya menjadi tempat pernikahan sederhana untuk salah satu anggota yang tanpa di duga sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.
Semua orang menyambutnya dengan antusias, mereka bahkan membantu persiapannya dengan begitu bersemangat. Tak terkecuali Fandi dan Bimasakti yang hadir lebih awal, juga rekan-rekannya di kesatuan dan tentunya para anggota pasukan hantu itu sendiri yang tiba beberapa saat kemudian.
Rama tampak mondar mandir di depan aula tempat di adakannya acara pernikahan. Berusaha menghilangkan kegugupannya yang terasa cukup menyiksanya sejak semalam. Dia bahkan tak bisa memejamkan matanya sama sekali hanya sekedar untuk beristirahat.
"Tenanglah, kau akan menikah. Bukannya menghadapi gembong narkoba internasional." Alan muncul untuk menyemangatinya.
"Bagiku lebih mudah menghadapi gembong narkoba dari pada perempuan ini." Rama menekan dadanya sendiri sambil mengatur napasnya.
"Benarkah? aku kira dia lebih mudah di jinakkan, dia kan janda?" Alan tertawa.
"Sialan kau!" Rama menumbuk pinggang rekannya tersebut.
"Tenang, sepertinya menikahi janda tidak sesulit anak perawan. Mereka lebih mudah dikendalikan dan lagi ..." Garin muncul sesaat kemudian, merebut perhatian dua pria yang sedang berbincang ini.
"Apa?" dia menghentikan ucapannya.
"Sepertinya kau cukup berpengalaman dengan perempuan?" Rama bereaksi.
"Ya, terutama janda." sahut Alan, lalu tertawa.
"Memangnya kalian tidak ya?" Garin menjawab, yang membuat dua rekannya terdiam.
"Tidak ya?" ulangnya, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Serius? astaga! aku salah bicara!" dia tertawa lagi.
"Kau nakal Garin!" Rama bergumam.
Namun pria itu malah terus tertawa.
Kemudian perhatian mereka teralihkan ketika sebuah mobil sedan memasuki pelataran aula kepolisian yang telah dihadiri oleh beberapa orang. Dan Rama merasakan ketegangan kembali menguasainya setelah sempat menghilang beberapa saat yang lalu.
Mobil berhenti tepat di depan, dan Adam segera turun untuk membukakan pintunya.
Kaysa menurunkan kedua kakinya, mengenakan sepatu berhak tinggi berwarna senada dengan gaun nya yang menjuntai ke bawah. Diikuti Aslan yang mengenakan stelan jas berwarna hitam dengan dasi kupu-kupunya. Dia tampak lucu.
Rambutnya di sanggul asal, tidak terlalu rapi dengan helaian tipis yang menggantung bebas, menggunakan make up tipis dan segar namun membuatnya terlihat lebih mempesona dari biasanya.
Lagi-lagi Rama harus menahan napasnya untuk beberapa detik, merasakan debaran di dada yang semakin menggila. Dia bahkan merasakan ingin pingsan saja saat ini
"Pengantinmu cantik, kawan." Garin berbisik seraya menepuk pundaknya, namun Rama segera menyikut pinggang rekannya itu.
Mereka berjalan memasuki aula yang cukup besar tersebut. Kaysa, dengan gaun putihnya, dan Aslan dengan penampilan rapinya. Sementara Rama berada di depan dengan pakaian dinas resminya yang berwarna cokelat kehitaman. Menunggu detik-detik melepaskan masa lajangnya dengan berdebar.
Kaysa berhenti setelah jarak mereka hanya tinggal setengah meter saja, kemudian tersenyum. Dan dia tampak tak gugup sama sekali, mungkin karena sudah pernah mengalaminya di pernikahan pertamanya. Sementara Rama tak mampu menyambunyikan kegugupannya.
Mereka duduk berdampingan, di depan penghulu, dan dua komandan yang berperan sebagai saksi dan wali nikah untuk Kaysa yang tidak di hadiri oleh satu pun anggota keluarganya.
"Apa kamu gugup?" Kaysa sempat-sempatnya bertanya.
"Sangat." jawab Rama, pelan. "Apa kamu tidak?" dia pun bertanya.
"Ya guguplah." Kaysa menjawab.
"Tapi kamu terlihat baik-baik saja?"
"Aku mencoba." perempuan itu menyunggingkan senyum termanisnya.
"Apa belum di mulai?" suara asing menginterupsi dari belakang, membuat semua yang berada di aula memalingkan pandangan.
Dua orang pria muda berdiri denga pakaian begitu rapi, yang kemudian keduanya Kaysa kenali sebagai dua adik laki-lakinya.
Mereka berjalan mendekat.
"Semoga kami tidak terlambat." ucap salah satunya, dengan senyuman sama seperti yang Kaysa miliki.
"Kenan? Keelan?" Kaysa bangkit dari duduknya.
"Maaf kak, jalannya macet." Kenan lebih mendekat.
"Kalian datang?" Kaysa melihat ke belakang mereka berdua, berharap kedua orang tuanya pun datang untuk menghadiri pernikahan keduanya itu.
"Tentu saja, memangnya siapa yang akan menikahkan kakak selain papa kalau bukan kami?" ucap adik pertamanya, dengan senyuman namun netranya berkaca-kaca.
"Maaf, tidak bisa membujuk papa dan mama." sahut Keelan yang juga mendekat.
"Tapi aku pastikan pernikahan kalian sah secara agama dan negara." sambung Kenan yang nerangkul pundak sang kakak.
"Oh, ... terimakasih adik-adikku." Kaysa membalas rangkulan adiknya, dan untuk beberapa saat keharuan menyeruak begitu ketiga kakak beradik itu saling berpelukan.
"Nah, karena wali nikah sudah di ambil alih oleh keluarga, apakah akad bisa di laksanakan sekarang?" sang penghulu bertanya setelah menunggu.
"Bisa pak, silahkan." ucap Keenan yang kemudian duduk di seberang Rama. Sementara Keelan adiknya berada di belakang bersama Aslan.
Maka acara akad pun segera di langsungkan dalam keadaan khidmat.
"Saudara Rama Hadinata, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan kakak perempuan saya, Kaysa Mela binti Yanuar dengan mas kawin dua puluh gram emas dibayar tunai." pria muda itu menyentakkan tangannya yang bertautan dengan Rama.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kaysa Mela binti Yanuar dengan mas kawin tersebut, tu-nai." Rama mengucapakannya dengan lancar dan lantang, seperti dia sudah melatihnya selama ini.
"Saksi sah?"
"SAH!!" semua orang yang hadir berteriak lantang, kemudian aula tersebut menjadi riuh setelah ijab kabul terlaksana.
Mereka bertepuk tangan dengan bahagia setelah menyaksikan pernikahan rekannya yang begitu menyita perhatian.
*
*
*
Bersambung ...
yeayyyyy ... akhirnya sah!!😙😙
like komen sama kirim hadiah dulu dong, buat kadonya. Biar semangat menuju mp nya🤭🤭