Kopassus And Me

Kopassus And Me
Sidang Kedua



*


*


"Tidak apa-apa jika Aslan masih dengan Radit?" Rama diam saja ketika Kaysa memasangkan kancing-kancing kemejanya.


Pagi itu mereka sama-sama sudah bersiap untuk menghadapi sidang dan bekerja untuk Kaysa.


"Neneknya menelfon jika sebaiknya selama persidangan Aslan bersama mereka dulu." Kaysa menjawab.


"Tidak apa-apa?"


"Aku rasa itu hal yang baik. Terutama bagi Aslan. Karena kamu menghadapi sidang, dan aku melakukan peliputan, akan menjadikan Aslan kurang perhatian kita. Jadi tinggal dengan Mas Radit untuk sementara waktu rasanya tidak apa-apa. Lagi pula dia kan sedang tidak bekerja, Aslan pun libur. Dan ada neneknya juga, jadi ... biarkan sajalah." Dia merapatkan kancing paling bawah, kemudian mengusap pundak suaminya.


"Kamu sudah rapi, dan tampan," katanya, sambil tersenyum puas. Entah kenapa akhir-akhir ini Kaysa merasa ingin mendandani Rama sesuai dengan keinginannya.


Dia bahkan sering membeli kemeja dengan warna-warna yang berbeda. Rasanya menyenangkan saja ketika melihat suaminya mengenakan pakaian itu untuknya.


"Kamu masih tidak mengalami gejalanya?" Rama menyentuh perutnya yang di sana sedang tumbuh buah cinta mereka.


"Tidak. Sudah aku katakan jika dia sangat kuat dan perhatian kan?"


Rama menganggukkan kepala. "Tapi tetap hati-hati oke?"


"Iya Papa, jangan khawatir."


***


"Baiklah, kamu siap?" Mereka tiba di pelataran gedung pengadilan tinggi.


Seperti sebelumnya, keadaan di tempat itu sudah ramai oleh para pemburu berita, dan tentunya masyarakat yang ingin mengikuti jalannya sidang, seperti yang mereka amati di media sosial jika perkembangannya menjadi semakin rumit saja.


Hari ini dalam persidangan mendatangkan para saksi yang kemungkinan ada hubungannya dengan kasus terkait. Juga untuk mengungkap beberapa fakta yang mungkin masih tersembunyi. Yang hasilnya hanya akan memunculkan dua kemungkinan. Yakni memberatkan, atau meringankan hukuman bagi para tersangka.


"Siap." Rama mengangguk, dan sekilas dia melihat keberadaan rekan-rekannya yang setia mendampingi. Mereka masih berada di dua mobil di ujung sana, menunggu.


"Baik, aku akan mulai bekerja. Hati-hatilah di sana." Kaysa segera memeluk pria itu untuk memberikan semangat kepadanya.


"Tidak, kamu yang seharusnya berhati-hati. Karena terkadang kamu terlalu berani." Rama berbisik.


"Terus menghadapi gembong narkoba di pulau terpencil itu apa namanya? Aksi heroik?" Kaysa selalu mampu membalikan setiap ucapan Rama.


"Kay, hanya ingat saja jika kamu sedang mengandung anakku. Janga sampai terjadi sesuatu kepadanya, atau aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." Rama mendorong tubuh perempuan itu perlahan, kemudian menyentuh perutnya.


"Jangan khawatir Pak. Bukankah sudah aku katakaj jika dia sangat kuat? Dia pasti aman di dalam sini, percayalah." Perempuan itu meyakinkan.


"Hmm ... tetap saja."


"Sssttt .. sebaiknya kamu segera masuk, sebentar lagi persidangannya aka segera di mulai dan aku juga harus bekerja." Kaysa mengingatkan.


"Iya, baiklah." Kemudian pria itu melepaskannya.


***


"Baik, pemirsa. Pagi ini kami sudah berada di pengadilan tinggi Jakarta. Menunggu detik-detik persidangan kasus pembunuhan Livia Hadinata yang melibatkan Ipda Alan Yanuar selaku petugas kepolisian yang berdinas di kantor polisi pusat, dan Frans Adijaya, editor senior sekaligus anak dari pemilik stasiun televisis TV7 yang menerima dakwaan gabungan yang di tujukan kepada mereka." Kaysa berbicara di depan kamera yang menyala.


"Pada saat ini, merupakan sidang kedua yang akan menghadirkan beberapa saksi. Yakni dari pihak kepolisian, yang akan di hadirkan bersamaan dengan di datangkannya beberapa barang bukti, juga turut di hadirkannya saksi ahli yang akan menambah keterangan di persidangan nanti. Dan tentunya, saudara Rama Hadinata juga sudah hadir selaku keluarga dari pihak korban yang kasus pembunuhannya di tutup hampir dua tahun yang lalu karena tidak ditemukannya baik bukti maupun tersangka." Kini kamera di tujukam kepada Rama yang berjalan bersama Adam dan Junno yang mengapit di sisi kiri dan kanannya. Sementara Garin dan empat rekannya yang lain mengawal di belakang.


"Perlu kami ingatkan tentang kasus ini di mana persis dua tahun yang lalu, sesosok mayat perempuan di temukan di pinggiran kota Jakata, terbungkus karung dalam keadaan tanpa busana. Ditemukan bekas cekikan di leher dan kerusakan fatal pada alat vitalnya, yang menandakan jika dia telah mengalami kekerasan se*sual. Dan hasil autopsi memang membenarkan hal tersebut. Namun kemudian kasusnya tiba-tiba saja di tutup setelah penyidikan selesai dengan alasan tidak ada bukti dan alat apa pun yang mengarahkan kasus ini pada pihak manapun." Perempuam itu menarik napasnya dalam-dalam.


"Namum setelah dua tahun lamanya, kasus ini kembali terungkap karena pekerjaan kakak korban sebagai petugas yang dulu tak memiliki akses, kini mulai menemui titik terang. Bersamaan dengan kasus suap yang melibatkan pimpinan mereka , Fandi Bagaskara yang kini telah mendekam di penjara, menunggu proses sidang atas dirinya juga di mulai."


Seperti biasa, semua kamera tertuju kepadanya, dan pertanyaan-pertanyaan di lontarkan, namun tak ada seorang pun yang menjawab. Hanya anggukkan saja yang menjadi penanda jika mereka merespon dan selanjutnya, mereka segera masuk.


Sama halnya ketika pihak Alan tiba, dan mereka pun berjalan tergesa tanpa memberikan keterangan terlebih dahulu. Apalagi melihat banyanya massa yang hadir, membuat semua orang ketar-ketir.


***


"Anda mengenal terdakwa?" Penuntut umun menanyai Rama, sebagai saksi pertama.


"Kenal." Pria itu menjawab.


"Kenal berapa lama?"


"Apakah ada yang mencurigakan dari perilaku terdakwa selama Anda mengenalnya?"


"Tidak ada. Dia normal-normal saja."


"Lalu apakah Anda mengetahui ada hubungann antara terdakwa dengan korban? Seperti yang anda katakan di pemeriksaan yang lalu?"


"Tidak tahu."


"Lalu bagaimana Anda bisa menyimpulkan bahwa di antara terdakwa dan korban ada hubungan khusus?"


"Dia yang megatakannya sendiri waktu saya interogasi."


"Aku tidak mengatakan begitu!" Alan membantah.


"Lagi pula kau tidak menginterogasiku, tapi menembak membabi buta." sambung Frans yang menunjukkan luka pada pahanya.


Rama tak merespon. Dia hanya menatap tajam ke arah dua pria di samping kanan itu.


"Kalian memang pantas mendapatkannya, kenapa tidak sekalian alat kel*min saja yang dia tembak!" seseorang berteriak dari luar ruang sidang yang menyimak hal tersebut lewat siaran langsung di ponselnya. Yang di amini oleh mereka yang hadir, menyebabkan keriuhan kembali terjadi.


Pengacara menahan Alan dan Frans dari apa yang akan mereka katakan selanjutnya.


"Adik Anda mengatakan sesuatu sebelum dia menghilang?" penuntut bertanya lagi.


"Tidak, selain soal kelulusannya hari itu." Rama kembali menjawab. "Lalu setelahnya dia menghilang."


"Dia tidak mengindikasikan tengah memiliki hubungan dengan seseorang selama ini?"


"Tidak."


"Bagaimana dengan kepribadiannya? Apa dia memiliki pergaulan yang luas?"


"Dia hanya anak gadis biasa, yang punya kehidupan biasa. Tapi mimpi dan cita-citanya tidak biasa. Dia bermimpi bisa menolong banyak orang dengan memilih sekolah kedokteran setelah kelulusan." Rama membayangkan hari-hari terakhir yang Livia ucapkan sebelum mereka berpisah untuk selamanya. Dan suasana mendadak hening saat pria itu berbicara.


"Dia berpikir dengan menjadi dokter bisa membuatnya mampu menolong mereka yang tidak bisa menjangkau akses kesehatan." Rama merasakan seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokkannya. Membuatnya sakit dan sesak di saat yang bersamaan.


"Sama seperti yang di alaminya waktu saya masih menempuh pendidikan di akademi." Dia memejamkan mata sebentar.


"Tapi semuanya pupus setelah kedua baj*ngan ini merenggut segala yang ada padanya." Rama kembali menatap kepada Alan dan Frans.


"Yang Mulia, saya meminta keadilan untuk adik saya. Saya meminta mereka berdua untuk di hukum seberat-beratnya!" Kemudian Rama beralih kepada hakim.


Frans tentu saja terpancing, membuatnya segera bangkit dan melayangkan penolakan.


"Aku bahkan tidak tahu jika dia sudah mati! Aku hanya datang dan melihat dia sudah seperti itu. Dia yag melakukannya, bukan aku!" Pria itu berteriak sambil menunjuk ke arah Alan.


Tim pengacara bahkan harus menenangkanya karena membuat keributan di ruang sidang. Sementara hakim mengetukkan palu dengan keras untuk menghentikan keributan.


"Kami keberatan karena saudara saksi mengatakan apa yang tidak berhubungan dengan kasus ini. Menyerang klien kami secara pribadi dan mengatakan hal tidak pantas." Pengacara memprotes.


"Hal tidak pantas? lalu apa yang klien kalian lakukan kepada adikku? Apa dia pantas mendapatkan perlakuan seperti itu? Dia bahkan tidak sengaja berada di sana saat kalian menyuap petugas. Dan kalian mengatakan jika aku mengucapkan hal tidak pantas?" Rama berteriak lalu bangkit. Dan Junno pun berusaha menghentikannya.


"Tahan, tahan. Jangan seperti ini."


Keadaan mulai memanas di ruang sidang, dan hal tersebut tersiar ke penjuru negeri lewat lensa kamera yang terus merekam di setiap sudut ruangan. Dan hakim terpaksa harus menjeda persidangan untuk menghentikan perselisihan.


*


*


*


Bersambung ...


ayo, like komen sama hadiahnya dulu biar sidangnya di lanjut 😂😂


mau macam-macam nih sama Kang Korma? kalau aku sih mau satu macam aja 🤣🤣