Kopassus And Me

Kopassus And Me
Extrapart #5



*


*


Kaysa memekik ketika sepasang tangan kekar menyelinap memeluk pinggangnya saat dia tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya di dapur.


“Ram! Kamu membuatku terkejut!” Perempuan itu tergelak setelah menyadari bahwa sepasang tangan itu adalah milik suaminya.


Rama kemudian merapatkan dada ke punggung Kaysa seraya mengecupi belakang kepalanya.


“Kapan kamu sampai? Kenapa aku tidak mendengarmu?” Perempuan itu balas memeluk tangannya yang melingkar di perut.


“Dua jam yang lalu. Dan kamu terlalu fokus pada masakan sehingga tidak menyadari kedatanganku.” Rama menjawab.


“Tapi kamu baru sampai di rumah?” protes Kaysa, lalu dia memutar tubuh sehingga mereka berhadapan.


“Iya, ada sesuatu yang harus aku urus.” jawab pria itu dengan pandangan memindai wajah Kaysa. 


Rasa rindu tentu saja menyeruak begitu saja setelah tertahan selama dua hari belakangan saat dirinya pergi untuk menjalankan tugas.


“Apa?”


Pria itu tak menjawab, namun dia menyentakkan kepalanya. Kemudian menarik Kaysa ke arah luar setelah mematikan kompor.


“Ada apa?” Perempuan itu mengikutinya.


Kaysa kemudian terdiam dengan mulut menganga demi melihat apa yang dibawa pria itu pulang ke rumah mereka. Bahkan Aslan pun sudah berada di dalam sana.


“Mama lihat, Papa bawa mobil keren!” Anak itu berteriak.


“Mobil siapa ini?” tunjuk Kaysa pada kendaraan roda empat yang terparkir di halaman.


Mobil sejenis SUV berwarna hitam yang terlihat begitu mengkilap mendominasi pandangan.


“Mobil kita.” jawab Rama sambil tersenyum.


“Mobil kita?” Kaysa membeo.


“Ya, mobil kita.” ucap pria itu lagi.


“Kamu membeli mobil?” Kaysa bereaksi.


“Ya.”


“Untuk apa?”


“Kok untuk apa? Ya untuk kita pakai lah.”


“Iya, tapi kenapa?”


“Kok malah tanya kenapa? Ya karena kita membutuhkannya.”


“Kan sudah ada motor?”


Rama menggeleng pelan.


“Kandungan kamu semakin besar, masa setiap hari naik motor?”


“Kan belum? Sekarang baru empat bulan.”


“Terus harus menunggu perut kamu membesar dulu baru kita beli mobil?”


“Soal itu … kan ada taksi online? Kenapa harus beli mobil juga sih?”


Rama memutar bola matanya.


“Kamu juga kebiasaan, kalau beli apa-apa tidak membicarakannya dulu denganku?”


“Eeee … soal itu ….” Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lagi-lagi dia lupa masalah yang satu itu.


“Tadinya aku pikir ….”


“Hmm … mobilnya pasti mahal?” Kaysa mendekati mobil tersebut, lalu berputar untuk memeriksa keadannya.


“Mobilnya bagus, mengkilap pula.” katanya, dan dia melongok kedalam lewat kacanya yang terbuka.


“Pasti mahal?” Kemudian dia menoleh kepada suaminya yang berdiri di belakang. Mempersiapkan jawaban yang tepat agar perempuan itu tak merajuk. Dia lupa jika istrinya itu sangat perhitungan soal uang.


“Kamu bilang kita harus berhemat, tapi kamu sendiri beli barang-barang tidak penting?”


“Mobilnya penting Kay, bagaimana kalau kamu mau melahirkan nanti? Masa aku harus meminjam kepada orang lain? Malu.”


“Aku bilang kan ada taksi online?”


“Lama. Nanti kamu keburu melahirkan?”


“Hmm … mentang-mentang sudah bekerja lagi, kamu berbuat begitu?” Perempuan itu menggerutu.


Sedangkan Rama hanya terkekeh.


“Memangnya kamu punya uang sebanyak itu ya, sampai-sampai bisa membeli mobil?”


“Soal itu ….”


“Terus uang yang kamu berikan kepadaku itu apa?” Kaysa mencondongkan tubuhnya ke arah Rama.


“Gaji, bonus dan lain lain-lain.”


“Semua kamu berikan kepadaku?”


“Iya.”


“Lalu ini apa?” Kemudian dia menunjuk mobil di depannya.


“Mobil.” Rama menjawab dengan lugu.


“Maksudku, kamu mendapatkan uang untuk membeli mobil ini dari mana?”


“Gaji juga.”


“Gaji yang mana?”


“Kay, kenapa sih kamu meributkan hal seperti ini? Bukannya bagus kalau aku bisa membeli sesuatu tanpa mengurangi apa yang telah aku berikan kepadamu?”


“Ya, tapi kalau semua gaji, bonus dan tunjangan lainnya kamu berikan kepadaku lalu dari mana kamu bisa mendapatkan ini? Mencurigakan!”


“Mencurigakan apanya?”


Kaysa terdiam sebentar sambil bersedekap.


“Kamu tidak melakukan sesuatu yang dilarang kan?” Dia memicingkan mata.


“Maksudmu?” Rama mengerutkan dahi.


“Kamu tidak … menerima pekerjaan buruk atau semacamnya agar mendapatkan bayaran lebih dan ….”


“Kay! Kamu ini bicara apa sih? Masa aku berbuat begitu?” sergah Rama.


“Ya … bisa saja kan?” Kaysa menggantung kata-katanya.


“Tidak! Aku ini aparat. Dan semua hal yang aku dapatkan murni dari gaji. Kalaupun ada lebihnya, seperti bonus atau semacamnya, itu karena tugas yang aku jalankan berhasil.” Rama menjelaskan.


“Benar?”


“Benar.”


“Masa bisa sampai membeli mobil?”


“Bisa lah.”


“Aku tidak percaya.”


“Kamu sadar tidak, kalau suamimu ini mempertaruhkan jiwa dan raga untuk menjalankan misi dan menyelamatkan negara tempatmu tinggal? Apakah aku tidak pantas menerimanya  jika negara memberikan imbalan yang besar atas keberhasilan itu?”


“Apakah harus aku ingatkan apa saja yang telah aku alami setiap kali menjalankan misi? Kamu juga lihat bagaimana keadannku waktu itu.”


Kaysa terdiam.


“Tapi benar kan kamu tidak melakukan hal lain diluar itu?” Kaysa meyakinkan.


“Tentu saja, memangnya apa yang mungkin aku lakukan?”


Kedua sudut bibir Kaysa tertarik ke belakang membentuk sebuah senyuman lebar.


“Sudah percaya sekarang?”


Perempuan itu mengangguk.


“Aku hanya memastikan Papa.” Lalu dia merangkul pundak suaminya.


“Aku tidak mau suamiku melakukan hal buruk hanya karena agar kita hidup nyaman. Atau sekedar untuk mengesankan aku.”


“Pikiranmu terlalu jauh, Kay.”


“Karena aku takut.” 


“Tapi tidak kan?”


“Ya, jangan sampai ya?”


Rama menganggukkan kepala.


“Jadi, kamu setuju dengan mobilnya?” Pria itu kemudian berucap.


“Memangnya aku bisa menolak? Sudah kamu beli juga kan?’


“Sudah.”


“Berapa?”


“Umm ….” Rama berpikir lagi.


“Apa mahal?”


“Tapi sangat bagus.”


“Pemiliknya merawatnya dengan baik.”


“Masa?”


“Ya. Seperti motorku kan?”


“Terus motornya kamu jual?”


“Tidak. Aku titip di tempat Adam, nanti aku ambil."


“Jadi berapa?” Kaysa bertanya lagi.


“Apanya?”


“Mobilnya?”


“Astaga!”


“Kan, aku bilang juga apa? Pasti mahal!”


“Yang pasti harganya layak lah.”


“Iya, tapi berapa?”


“Kamu tidak perlu tahu, itu urusanku.”


“Hmm ….”


“Apa masakanmu sudah matang? Rasanya perutku ini lapar.” Rama mengalihkan topik pembicaraan.


“Sepertinya sudah.”


“Kalau begitu, ayo kita makan.” Pria itu menariknya kembali ke dalam rumah.


***


“Bagaimana sekolah Aslan?” Mereka beralih ke ruang tengah setelah menyelesaikan acara makannya.


“Lancar.”


“Nilai tugas-tugasnya?”


“Semakin baik.”


“Bagus Kak.” Rama mengusap puncak kepala anak sambungnya itu.


“Terus apa lagi?”


“Aku nanti mau ikut lomba melukis, terus ada ekstrakulikuler karate juga. Boleh ikut ya?” Aslan dengan mulut penuh dengan kue yang dia ambil dari topes di meja.


“Wah, anak sd sekarang sudah ada ekstrakulikuler juga ya?” 


“Udah dong Pah. Boleh?”


“Memangnya kamu tidak capek? Mengerjakan tugas sekolah, melukis, terus ikut karate juga?”


“Karatenya cuma dua kali seminggu.” Sahut Kaysa yang membawakan teh hangat untuk mereka bertiga.


“Kamu setuju?” Rama kemudian beralih kepada istrinya.


“Kenapa tidak? Itu kegiatan positif. Bagus juga untuk Aslan.”


Rama mengangguk-anggukan kepalanya.


“Papa setuju?” Aslan yang terus mengunyah kue ditangannya, sehingga membuat  kedua pipinya menggembung dan membuatnya terlihat lucu.


“Kalau hal baik Papa pasti setuju. Tapi jangan lupakan latihan tinjunya juga ya?”


“Oke Pah.” Anak itu mengangkat ibu jarinya tanda setuju.


“Ck, apa sih yang kamu makan ini? Bersemangat sekali?” Rama menarik toples di meja yang berisi kue kering.


“Nastar.” jawab Aslan yang belum berhenti mengunyah makanan tersebut.


“Nastar?” Rama merogoh satu buah kue kering dengan isian selai nanas itu.


“Iya, enak. Cobain deh Pah.” ucap Aslan.


“Tentu saja enak, makanya kamu terus memakannya sampai hampir habis begini?” Rama menyuapkan satu butir kue kering itu ke dalam mulutnya sendiri.


Dan anak itu memang benar. Rasa kuenya memang cukup enak, dan Rama menyukainya.


“Papa suka kuenya ya?” Aslan tertawa, karena pria di sampingnya sampai berebut dengannya.


“Hmm … kamu benar, ini enak. Papa baru menemukan lagi kue seenak ini sejak ….” Pria itu mengingat sesuatu.


“Apa?”


“Sejak SMP. Hahahah ….” dia tertawa.


“Masa?”


“Iya, dulu tetangga Papa di Bandung sering membuat kue seperti ini. Dan kalau hari raya, nenekmu pasti membelinya untuk hidangan. Rasanya seperti yang Papa ingat.”


“Itu kan sudah lama, masih ingat saja?” Kaysa menyela percakapan anak dan suaminya.


“Karena memang enak. Tapi sejak pindah ke Jakarta, tidak lagi menemukan kue seenak ini?”


“Kamu suka?” Kausa kemudian bertanya.


“Suka, rasanya enak.”


“Kalau begitu, nanti aku tanya kepada Andini.”


“Andini?” Rama menghentikan kegiatan makannya.


“Iya, itu pemberian Andini. Nanti aku tanya dia beli di mana.”


Rama terdiam, lalu perlahan mengembalikan butiran kue yang baru saja diambilnya dari dalam toples. Kemudian meneguk air minum sebanyak yang dia bisa.


“Kenapa?”


“Kue ini dari Andini?”


“Ya.”


“Umm ….”


“Oh iya, kemarin dia bertanya soal kamu lho.” Kaysa tiba-tiba saja mengingat sesuatu.


Rama hampir saja menyemburkan air yang sedang diteguknya. Sementara perempuan itu menatapnya untuk beberapa saat. 


“Benarkah? Kenapa dia bertanya?” Rama meletakkan gelas kemudian mengalihkan perhatian pada televisi yang menyala.


“Entah. Dia bilang sepertinya mengenal kamu. Dia dari Bandung juga lho?”


“Begitu?”


“Ya, apa kamu belum pernah bertatap muka dengannya? Kamu kan sering mengantar Aslan?”


“Sesekali, tapi aku tidak terlalu memperhatikan.”


“Benarkah?”


“Ya.”


Kamu ini? Bagaimana kalau ternyata kalian saling mengenal? Tapi tidak tahu karena tidak menyadarinya?” Kaysa berpindah ke sisinya.


“Mmm ….”


“Aku bilang aku akan menanyakannya kepadamu, siapa tahu kalian memang kenal?’


“Dan bagaimana kalau benar?” Rama berujar.


“Apanya yang bagaimana?”


“Kalau seandainya benar aku kenal dia?” Rama menjawab.


Kaysa terdiam sebentar menata wajah suaminya. Namun kemudian dia tertawa.


“Serius sekali kamu ini? Hahaha … ya tidak apa-apa. Memangnya kenapa?”


“Umm ….”


“Memangnya benar kenal ya?” Kaysa memiringkan kepalanya, namun Rama tak langsung menjawab. Dia menimbang-nimbang apakah sebaiknya hal ini dikatakan atau tidak? Karena dampaknya tidak bisa diperkirakan.


“Aku ….”


“Mama, ayo kita jalan-jalan?” Aslan menginterupsi.


“Hah? Jalan-jalan ke mana?” Kaysa beralih kepada putranya.


“Ke mana aja, kita cobain mobil baru?” ucap anak itu, penuh harap.


“Bagaimana?” Lalu Kaysa kembali kepada suaminya.


“Boleh. Ayo?” Rama seperti mendapatkan alasan untuk menghindar.


“Asik!!” Aslan berjingkrak kegirangan.


*


*


*


Hayolooooohhh ... ada apa sebenarnya? 😂😂