
*
*
"Kamu pulang sendiri lagi?" Rama sudah berada di teras begitu Kaysa tiba.
"Tidak, tadi ikut Bram dan Manda." Perempuan itu menyerahkan tas laptop dan sebuah tote bag yang penuh dengan file berisi pekerjaannya.
"Sudah aku bilang telefon kalau mau pulang." Rama menerima benda tersebut, kemudian menuntun Kaysa masuk ke dalam rumah.
"Tidak apa-apa, kebetulan kami se arah."
"Hmm ... Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"
"Lancar, hanya saja ada beberapa hal yang tidak bisa aku selesaikan di kantor."
"Dan kamu membawanya ke rumah?"
"Ya, begitulah. Karena tidak ingin pulang terlalu malam makanya aku bawa." Kaysa tertawa.
"Bisa juga ya seperti itu?"
"Bisa lah, ... kan aku juga punya misi di rumah." Perempuan itu merebahkan tubuh lelahnya di atas sofa.
"Misi apa?" Rama mengerutkan dahi.
"Misi wawancara denganmu."
"Lagi?"
Kaysa menganggukkan kepala.
"Bukannya waktu itu sudah ya?"
"Sidangnya belum selesai Pak, jadi kami masih membutuhkan wawancara denganmu."
"Hmm ...
"Kamu sudah makan? Aku belum. Tadinya memutuskan pulang sore karena mau makan bersama."
"Belum. Tapi aku belum membuat makanan hari ini." Rama menjawab.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memasak dulu, baru setelahnya mandi." Kaysa bangkit dari sofa.
"Eh, tidak usah. Biar aku saja. Kalau mau mandi ya mandi saja." Sergah Rama.
"Benarkah?"
"Ya."
"Memangnya kamu bisa masak?"
"Kamu pikir apa yang aku lakukan kalau kamu pulang malam?"
"Serius? Paling cuma telur dadar dan membuat mie instan?" Perempuan itu tertawa.
"Jangan sembarangan."
Kaysa pun tertawa lagi sambil memeluk pundaknya.
"Manis sekali Papa, apa sih yang tidak bisa kamu lakukan? Sepertinya semua hal kamu bisa." katanya, dengan suara manja.
Membuat Rama mengatupkan mulutnya untuk menahan senyum.
"Baiklah, kalau kamu mau memasak. Aku harus cepat mandi sebelum kamu berubah pikiran." dia mengecup pipinya, lalu melepaskan rangkulannya, dan segera berlari ke kamar mereka.
"Apa itu barusan?" Sementara Rama bergumam.
***
Satu wadah nasi hangat, satu piring omelet, dan semangkuk sayuran hijau sudah terhidang di meja. Sedangkan Rama tengah menyelesaikan masakan terakhirnya. Sapi lada hitam dengan paprika berwana warni.
"Wanginya enak sekali Papa, aku jadi semakin lapar." Kaysa muncul sudah dalam keadaan segar. Mengenakan tanktop berwarna putih dengan celana pendek milik Rama yang menjadi terlihat kedodoran saat dia kenakan.
Dia mendekat kepada pria itu yang masih menyelesaikan pekerjaannya. Berdiri di dekat counter dengan kompor menyala. Jangan lupakan dengan afron yag dia kenakan sehingga membuatnya tampak seperti koki profesional saja.
"Wah, ... kamu serius dengan ucapanmu?" Dia menatap takjub apa yang tengah di lakukan oleh suaminya.
"Tentu saja, kapan aku berbohong kepadamu?"
"Ah, ... aku jadi semakin mencintamu!" Dia kembali melingkarkan kedua tangannya pada pundak pria itu, seraya mendekatkan wajahnya. Lalu kembali mendaratkan sebuah kecupan manis di pipinya.
"Stop Kay, kamu akan membuat makan malamnya terganggu nanti." wajah pria itu mulai merona.
"Kenapa memangnya?" Kaysa pun tertawa. Dia mengerti maksud dari ucapan suaminya.
"Jangan berlagak polos tapi kamu terus saja menggodaku." Rama mematikan kompor setelah masakan terakhirnya selesai, kemudian menuangkannya pada wadah yang sudah tersedia.
"Hanya begini saja kamu tergoda? Apa lagi kalau aku telanjang."
"Pria normal manapun akan tergoda jika kamu selalu bersikap seperti itu. Bayangkan jika aku ini biasa saja setiap kamu berbuat hal begini, apa yang akan kamu lakukan?"
"Hiii ... apa itu barusan? Masa kamu seperti itu?" Kaysa bergidik ngeri.
"Ya makanya."
"Tapi aku suka terus menggodamu seperti itu, kamu terlihat lucu kalau sedang tergoda."
Mereka memulai acara makan malam itu dengan obrolan tidak jelas, namun membuat keduanya banyak tertawa dan bercanda. Seperti tak ada topik lain untuk di bicarakan selain hal-hal absurd dan semacamnya.
***
"Kamu mau menyelesaikan semua ini?" Rama kembali ke ruang tengah di mana Kaysa telah memulai pekerjaannya kembali. Beberapa berkas dan laptop menyala.
"Iya, ..." Perempuan itu memutar video di laptop dari flashdisk yang dia isi dengan hasil wawancara beberapa hari terakhir.
"Mengedit?" Rama duduk di sampingnya.
"Hmm ..." Kaysa dengan sorot mata serius tanpa memalingkan pandangan dari layar laptop.
Sedekali dia menghentikan pemutara video, kemudian memutarnya kembali ke awal. Mencari celah di bagian mana yang kurang, yang nantinya akan dia perbaiki. Atau sesuatu yang terdengar berlebihan yang akan segera dia buang.
"Bukankah ada editor yang akan memperbaiki hasil liputanmu?"
"Iya, ini sudah."
"Terus kenapa masih kamu kerjakan juga?"
"Aku hanya mau memastikan jika pekerjaanku tidak ada yang mengganggu. Kamu tahu, bagaimana kecewanya ketika seseorang mengurangi atau menambah berita yang telah kamu kerjakan tanpa izin?"
"Hmm ... kecewa."
"Ya itu yang aku rasakan waktu Frans menambahkan hal lain pada liputan dan wawancara yang aku dapatkan denganmu."
Pria itu mengerutkan dahi.
"Kamu ingat wawancara pertamaku di awal kita berkenalan?" Kaysa menoleh kepadanya.
Dan Rama terdiam untuk mengingat.
"Polisi bermasalah, ... bla bla bla ...
"Oh, ... ingat ingat." Pria itu menganggukkan kepala. "Berita TV7 itu kan? Sebelum aku masuk kamp pelatihan khusus?"
"Ya, kamu tahu siapa yang menembahkan narasinya pada video yang telah aku buat?"
"Siapa?"
"Frans, siapa lagi?"
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Dia kesal dan ingin membalas dendam karena aku menolak diajaknya untuk ..." Kaysa menggantung kata-katanya.
"Apa?"
"Astaga, aku lupa soal itu!" Kaysa menarik tas selempang yang biasa di bawanya pergi ke manapun.
"Soal apa?"
"Rekamannya." Dia mencari ponsel miliknya.
"Rekaman?" Rama membeo.
"Nah!" Perempuan itu menemukan benda pipih miliknya, kemudian segera menyalakannya.
Dia mencari di aplikasi, sebuah rekaman percakapan yang di dapatnya beberapa bulan yang lalu, antara dirinya dan Frans. Kemudian menyalakannya.
Dahi Rama berkerut semakin dalam mendengarkan percakapan antara laki-laki dan perempuan yang dia tahu siapa.
"Kamu juga dia lecehkan?" Pria itu bereaksi.
"Hampir. Dan sepertinya itu juga yang dia lakukan kepada reporter sebelumnya, yang pernah melapor ke kantor polisi, tapi kasusnya menghilang begitu saja tapat dua hari setelah di laporkan. Hari yang sama waktu Livia menghilang.
Rama terdiam.
"Kamu pikir apa ini bisa menjadi barang bukti?"
"Entahlah, beberapa bukti sudah masuk ke pengadilan. Apa ini bisa menyusul? Tapi tidak ada hubungannya dengan kasus Livia."
"Tapi ini bukti jika Frans memang se br*ngsek itu."
"Kita kirim kepada Junno. Biar dia yang mempertimbangkannya. Mungkin bisa diikutsertakan untuk sidang pembuktian minggu depan. Ada banyak barang bukti yang akan di tunjukkan di hadapan pengadilan."
"Begitu?"
"Ya."
"Baiklah, semoga ini bisa menambah berat beban hukuman untuk mereka." Kaysa menyerahkan ponsel itu kepada Rama.
*
*
*
Bersambung ...
Selamat hari raya Idul Adha gaess... jangan lupa like koment hadiah. Apalagi vote seninnya.
lope lope sekebon korma 😘😘