
*
*
"Rama! jangan lakukan!!" Kaysa berlari sekencang yang dia bisa.
Dia segera meluncur ke kantor polisi begitu mendapat kabar jika suaminya sudah tiba di tanah air.
"Ram! janga kotori tanganmu dengan darah mereka!" dia menggedor pintu yang terkunci rapat itu dengan kedua tangannya. Sementara beberapa pria bersenjata lengkap berdiri di sekitarnya. Dia tahu kegilaan apa yang akan suaminya lakukan setelah mengetahui semua kebenarannya. Pria itu tidak akan bis di hentikan.
"Rama!" panggilnya lagi, kemudian terdengar suara tembakan dari dalam sana di sertai teriakan yang menggema.
"Tidak!! Rama!!" Kaysa menggedor pintu lebih keras.
Lalu setelah beberapa saat terdengar bunyi kunci yang di putar sebanyak dua kali, membuat Kaysa berhenti menggedor kemudian dia mundur dua langkan ke belakang.
Pintu itu terbuka perlahan, dan nampaklah sosok Rama dalam keadaan wajahnya yang masih babak belur sisa pertempuran. Darah bahkan kembali mengalir dari kepalanya bercampur dengan keringat dan air mata.
"Ram?"
Rama berdiri dibambang pintu dengan pistol masih dia genggam. Dadanya naik turun dengan cepat, dan tubuhnya tampak gemetar.
"Keluarlah, hentikan semuanya." ucap Kaysa, walau dengan perasaan takut.
Orang-orang di belakang bahkan sudah bersiaga dengan senjata mereka. Mengantisipasi kalau-kalau pria itu akan bertindak mengancam.
"Mereka ... yang melakukannya, Kay." ucap pria itu dengan suara parau.
"Mereka yang menyakiti Livia, dan menutup kasusnya hingga serapat ini, ...
Kaysa menganggukkan kepala, kemudian dia maju ke hadapan suaminya. Sekilas dia melirik ke arah dalam ruangan di mana tiga pria itu tampak kesakitan. Darah terlihat menggenang di lantai entah berasal dari luka siapa.
"Dan aku sudah membalasnya Kay, tapi mungkin tak semenyakitkan yang Livia alami." air mata segera terjatuh dari netra Rama. Tak terbayangkan bagaimana perasaannya saat ini.
Ketika mengetahui siapa dalang di balik kematian adiknya yang tertutup begitu lama. Dirinya bahkan sulit untuk mengungkapnya walau posisinya jelas menguntungkan, seharusnya.
Tapi pada kenyataannya hal itu tidaklah berarti.
"Kakak macam apa aku ini?" dia kemudian menjatuhkan pistolnya ke lantai, dan dirinya sendiri yang terhuyung, kemudian jatuh berlutut di depan Kaysa. Merasa tidak berdaya, terlebih, dirinya merasa tidak berguna.
Kaysa segera menghambur untuk memeluknya, sebelah kakinya menendang jauh pistol ke belakang sehingga tak akan bisa di capai lagi oleh Rama.
"Tidak apa-apa, kamu sudah berusaha." katanya, bersamaan dengan pria itu memeluk pinggangnya. Kemudian merapatkan wajah di perutnya.
"Aku kakak yang tidak berguna!" Rama meraung dalam tangis memilukan. Di saksikan rekan-rekan di kesatuannya, juga anggota pasuka hantu yang segera menyusul ketika mengetahui pimpinan mereka pergi ke kantor polisi.
"Tidak apa Ram, tidak apa."
"Bagaimana aku akan menghadapi ayah ibuku nanti? dan juga Livia, ... bagaimana aku akan mempertanggung jawabkan semuanya?" pria itu tergugu.
Kaysa jelas terbawa suasana. Dia pun menangis sama seperti suaminya, seraya menepuk-nepuk punggung pria itu untuk menenangkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kakak!" gadis itu berlari ke arahnya, dengan senyumnya yang mengembang ceria seperti biasa.
Pakaiannya indah, wajahnya berseri, dan dia dalam keadaan yang sangat baik. Livia kelihatan cantik sekali, dan dia berada di tempat yang sangat indah. Hamparan bunga yang bermekaran membentang sejauh mata memandang, dan suasananya yang terlihat nyaman.
"Oh, kakak terluka!" Dia meraih tangannya yang berlumuran darah.
"Tidak apa-apa, aku akan merawat luka kakak." katanya, seraya mengeluarkan sehelai kain entah dari mana.
Dia mengusapkan kain tersebut pada lengannya, dan darah itu segera menghilag. Lukanya sembuh begitu saja.
"Livia, kamu ...
"Aku benar kan? bisa menyembuhkan luka? aku sudah jadi dokter sekarang ini. Kakak bangga kan kepadaku?" katanya, dan senyuman tidak pernah hilang dari wajahnya.
"Livia, kamu baik-baik saja?" Rama merasa tidak sabar untuk bertanya.
Dan gadis itu mengangguk, tetap dengan senyum manisnya.
"Aku baik-baik saja, terimakasih berkat kakak." Livia segera menghambur ke pelukannya.
Aroma yang begitu wangi menguar dari tubuhnya, dan ini rasanya begitu nyaman. Rama merasakan hatinya menghangat, meski rasa sedih belum sepenuhnya hilang, tapi setidaknya dia merasa lega.
"Livia, kamu ...
"Ssssttt ... jangan bicara terus. Kakak harus tenang, istirahatlah. Aku sudah bahagia sekarang." ucap Livia seraya mengeratkan pelukannya.
"Aku sayang kakak. Kamu adalah kakak terbaik di dunia. Aku sayang kakak." katanya lagi, seiring pandangan Rama yang mengabur.
"Jangan bersedih lagi, karena aku bahagia." Livia terasa melepaskam pelukannya.
"Aku harus pulang, kakak juga pulang ya? kita harus melanjutkan hidup masing-masing." gadis itu menjauh.
"Livia, kamu mau ke mana? Livia, jangan tinggalkan kakak!" Rama berteriak, dan gadis itu tiba-tiba menghilang.
"Livia!"
Kedua matanya segera terbuka, dan dia mendapati langit-langit sebuah ruangan yang hening. Suara langkah tergesa terdengar mendekat, dan Rama segera memalingkan perhatian.
Tampak Kaysa yang berjalan ke arahnya.
"Kamu sudah bangun!" katanya seraya menghambur untuk memeluknya.
Rama tertegun untuk beberapa saat. Rupanya dia bermimpi lagi, namun kali ini tak se menyeramkan seperti biasanya.
"Kamu baik-baik saja?" Kaysa mengusap wajahnya, dan mereka saling pandang untuk waktu yang cukup lama.
"Jangan lagi berbuat seperti itu, kamu membuatku takut." dia menempelkan kening mereka berdua.
"Umm ..." Rama menyentuh wajahnya.
"Di mana Aslan? apa dia baik-baik saja?"
Kaysa terkekeh.
"Segitu sayangnya kamu kepada Aslan, sehingga hanya dia yang kamu ingat begitu terbangun dari pingsanmu?" katanya, dengan posisi mereka yang masih seperti itu.
Rama menjengit.
"Aslan baik-baik saja, dia sedang bermain dengan Garin di taman." lanjut Kaysa, kemudian bangkit.
"Hum? Garin?"
Perempuan itu menganggukkan kepala.
"Dia tidak mau pergi sejak dua hari lalu, dan memutuskan untuk tetap tinggal sampai yakin jika kamu baik-baik saja. Dia sedikit merasa bersalah."
"Iya."
"Karena apa?"
"Dia yang menembakkan obat bius saat kamu mengamuk setelah menembaki Alan dan Frans."
"Benarkah?"
"Iya, ...
Pria itu terdiam.
"Mereka mati?"
Kaysa menggelengkan kepala.
"Sayangnya tidak. Tapi kamu akan membuat mereka menderita seumur hidup."
Rama mengerutkan dahi.
"Masing-masing lima peluru bersarang di lutut dan paha. Dan aku yakin itu akan membuat mereka tersiksa untuk waktu yang cukup lama."
"Uh, aku gemas sekali kenapa pelurunya tidak mengenai ..." Kaysa menggantung kata-katanya.
"Kalau ingat kelakuan mereka rasanya aku jadi ingin berbuat sadis." dia tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Apakah aku sudah gila? hahaha, ...
"Semua orang memang akan menjadi gila jika berhadapan dengan manusia seperti mereka. Seperti halnya aku." Rama menjawab.
"Tidak, ... kamu hanya berbuat yang seharusnya." Kaysa menyentuh tangannya.
"Apa cedera Aslan tidak serius?" Rama bertanya, mengalihkam topik pembicaraan.
"Tidak, hanya ada sedikit memar di punggung. dan selebihnya dia baik-baik saja. Dengar?" Kaysa mengacungkan jarinya ketika suara putranya terdengar riang di luar.
"Lagi Om, aku bisa tangkap bolanya kan? udah aku bilang aku juga jago main bola." teriak anak itu.
"Heh, kamu curang." suara Garin juga terdengar menggema.
"Nggak ih, cuma sedikit pakai taktik."
"Taktik apanya?"
"Benarkan?" Kaysa membantunya saat Rama berusaha untuk bangkit. Dia sedikit meringis ketika rasa sakit dan pening menyerang kepalanya.
"Pelan-pelan Pak, kamu ini bukan robot."
Rama terkekeh.
"Sekarang aku lega." Kaysa menghembuskan napasnya pelan.
"Lega kenapa?"
"Kalau kamu sudah bisa tertawa seperti ini berarti kamu baik-baik saja." Perempuan itu mencondongkan tubuhnya.
"Hmm ...
"Kamu menakutkan kalau sedang marah. Jangan di ulangi, oke?"
Rama terdiam lagi.
"Dan terimakasih, sudah menyelamatkan Aslan. Kamu mempertaruhkan nyawa agar bisa membawanya pulang kepadaku. Terimakasih." Kaysa kembali memeluknya.
"Ehm ..." suara dehaman menginterupsi interaksi tersebut, membuat mereka melepaskan pelukan dan memalingkan perhatian.
"Duh, aku mengganggu ya?" Garin berdiri di ambang pintu dengan Aslan di sampingnya.
"Papa!!" anak itu segera berlari ke arah kedua orang tuanya.
"Hey, kamu tidak apa-apa?" Rama menyambutnya begitu Aslan melompat ke tempat tidur dan menghambur ke pelukannya.
"Nggak apa-apa, aku kuat." Aslan memeluk pundak ayah sambungnya itu dengan erat.
"Maaf, sudah membuatmu mengalami semua ini." Rama pun memeluknya tak kalah erat.
"Aku kemarin takut. Orang-orang itu jahat ya? mereka kejam!" Aslan menarik diri sehingga dia bisa menatap ayah sambungnya.
Rama mengangguk, dan dia menatap kedua mata bulat milik anak itu.
"Maaf, membuatmu takut. Tapi Om ...
"Papa udah baikan? aku juga udah." Aslan membingkai wajahnya. "Disini masih sedikit sakit sih, tapi nggak apa-apa kok." Aslan menarik kaus untuk menunjukkan punggungnya yang terdapat memar merah kebiruan.
"Udah nggak apa-apa kan?" katanya lagi, namun hal itu sukses membuat Rama tertegun untuk beberapa saat.
"Kamu sudah tidak takut?" kemudian dia bertanya.
"Nggak. Kan orang jahatnya udah aku pukul. Dia marah kan ya? jadinya berhenti mukulin papa." katanya, dengan begitu polosnya. Dan sapaannya untuk pria itu kini bahkan telah berubah.
"Hmm ... ya," Rama terkekeh. "Kamu pemberani. Terimakasih." namun pria itu merasakan kedua matanya kembali memanas.
"Papa bener, kalau kita takut terus kita akan di tindas. Makanya aku bangun, terus pukul orang jahatnya. Biar mereka berhenti. Dan berhasil kan?" ucap anak itu tanpa merasa takut seperti sebelum-sebelumnya.
"Ya, kamu berhasil." Rama menganggukkan kepala. Kemudian menariknya kembali, dan memeluknya begitu erat.
Suasana terasa begitu mengharukan, membuat siapa pun yang berada di sana meneteskan air mata. Tidak terkecuali anggota pasukan hantu yang baru saja tiba untuk menjenguk pimpinan mereka. Terutama Garin yang terdengar sesenggukkan.
"Oh, ini menyebalkan sekali! kenapa rasanya hatiku sakit melihat ini." gumamnya, seraya menyandarkan kepalanya pada bingkai pintu.
Sementara Adam menepuk kepalanya dengan keras.
"Dasar bodoh! kau merusak momen harunya!" katanya, yang juga merasakan hal yang sama.
*
*
*
Bersambung ...
Ikut nangis nih 😭😭😭 tapi lega.
cus like komen sama hadiahnya kirim lagi.
lope lope sekebon korma.😘😘