Kopassus And Me

Kopassus And Me
Pengunduran Diri



*


*


Kaysa berdiri di dekat counter dapur setelah menenggak habis susu kehamilannya pada pagi hari itu. Namun tak segera pergi, dia malah melamun di tempat itu ketika Rama masuk ke dalam rumah setelah menjalankan rutinitas paginya. Apa lagi kalau bukan berolah raga untuk melatih fisiknya.


"Apa yang sedang kamu lihat?" Pria itu berdiri di belakangnya, dan menatap ke arah pandangan Kaysa. Halaman belakang mereka yang kini sudah lebih terawat.


Berbagai macam tanaman tertata rapi di rak yang dibuatkan Rama untuk Kaysa, karena perempuan itu kini memiliki hobi baru. Yaitu membeli tanaman hias setiap kali mereka mengantar atau menjemput Aslan ke sekolah. Sehingga membuat halaman belakang dan samping rumah mereka kini semakin semarak dengan keberadaan bunga-bunga dengan warna berbeda.


"Eh, tidak ada." Perempuan itu tertawa, lalu meletakan gelas susunya yang telah habis di bak cuci.


"Apa aku membuat susunya pas pagi ini?" Rama beralih menatap gelas kosong yang dia isi dengan susu beberapa saat yang lalu.


Ingat setiap kali dia membuatkannya minuman khusus ibu hamil tersebut selalu saja membuat kesalahan. Entah itu terlalu kental, atau terlalu encer. Terkadang juga porsinya yang terlalu banyak, membuat si ibu hamil yang tak lain merupakan istrinya sendiri mengomel setiap hari.


"Iya, tapi sayang."


"Kenapa?"


"Aku telat meminumnya, jadi rasanya dingin."


"Kan sudah aku kasih tahu, tapi kamu tidak mau mendengar? Malah sibuk dengan masakan saja?"


Kaysa tersenyum.


"Kan aku harus menyiapkan makan dan bekalnya Aslan."


"Tapi minum susu tidak menghabiskan waktu dua jam, Bu."


"Baik Pak, akan aku ingat. Lain kali tidak seperti itu lagi."


"Bagus." Rama menyentuh dagunya, kemudian dia mengambil gelas berukuran sedang dari rak penyimpanan, lalu menuangkan air minum dari kran dispenser tak jauh darinya.


"Tapi aku juga sedang berpikir sih." Kaysa kembali berbicara.


"Apa?" Rama menyeka mulutnya yang basah.


"Aku kok tidak mengalami gejala seperti yang di alami oleh perempuan hamil pada umumnya ya?"


"Benarkah?"


"Hu'um." Kaysa mengangguk.


"Memang biasanya apa?"


"Pusing, mual-mual dan tidak nafsu makan. Bahkan terkadang ada beberapa perempuan hamil yang menolak makanan tertentu. Biasanya karena jijik atau benci."


"Dan kamu?"


"Tidak sama sekali. Nafsu makanku malah bertambah berkali-kali lipat setelah tahu sedang hamil. Lihat?" Dia menunjukkan lengan dan perutnya yang sekarang memang tampak lebih berisi. Padahal usia kehamilannya baru menginjak minggu ke tiga.


"Apa bahaya?"


"Tidak juga sih."


"Sudah kamu tanya kepada Dokter Dinda?"


"Sudah."


"Dan apa jawabannya."


"Normal. Karena memang ada ibu hamil yang tidak mengalami gejalanya. Tapi malah seperti aku."


"Ya sudah, berarti tidak ada yang harus di khawatirkan." Rama kembali menenggak air putihnya.


"Hanya aneh saja."


"Kalau dokter bilang tidak apa-apa berati kamu baik-baik saja. Memangnya waktu mengandung Aslan bagaimana?"


"Aku mengalami gejala umum. Kamu tahu, pusing, muntah dan waktu itu malah sangat parah. Aku sampai harus tetap di tempat tidur karena tidak bisa bangun begitu tahu sedang mengandung Aslan. Huh, rasanya melelahkan."


"Parah juga ya?"


"Memang. Tapi mungkin karena keadaannya waktu itu sangat tidak kondusif jadi ya, ... berpengaruh pada kehamilannya."


"Bisa juga begitu ya?"


"Tentu saja. Faktor lingkungan juga bisa mempengaruhi kondisi psikis yang menyebabkan aku mengalami hal sulit. Kamu tahu sendirilah ..."


Rama mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Dan apa sekarang kondisinya sudah kondusif?" Rama berujar.


"Aku rasa iya."


"Bagus, berarti kamu aman."


"Tapi rasanya sulit untuk mengendalikan keinginan makan."


"Memangnya kenapa? kalau ada ya makan, kalau tidak ada kamu bisa beli, atau membuat sendiri. Kan bisa?" Rama tertawa.


"Tapi jadinya aku termakan ucapanku sendiri kan?"


"Ucapan yang mana?"


"Yang menyebut Aslan gembul."


Pria itu tertawa lagi.


"Tidak apa-apa Mama, gembul-gembul begini juga aku tetap sayang." Rama maju dua langkah sehingga jarak mereka hanya tersisa sedikit saja.


"Mulai, ...


"Dan lagi, kamu jadi semakin seksi." lanjut Rama, yang membuat perempuan itu bergidik ngeri seolah telah menemukan hal menakutkan.


Padahal suaminya itu tidak pernah bersikap demikian kepadanya, dan ini menggelikan.


Rama kembali tertawa, namun kali ini lebih keras.


"Mama, hari ini aku bisa minta bekalnya lebih nggak?" Aslan muncul dalam keadaan sudah rapi. Seragam olah raga dan rambutnya yang klimis. Namun tidak dengan wangi minyak telonnya yang biasa dia gunakan. Anak itu berdalih jika sekarang dirinya sudah besar dan akan menjadi kakak, jadi tidak usah menggunakan cairan wangi rempah penghangat tubuh bayi itu.


"Bekal lebih? yang mama bekalkan masih kurang ya?"


"Nggak sih."


"Terus?"


"Maksud aku bawa bekalnya jadi dua."


"Dua? untuk siapa?"


"Buat Maira."


"Maira lagi?"


Aslan menganggukkan kepala.


"Perhatian sekali sih kamu kepada Maira?"


"Kasihan Mama, kemarin aja bekalnya aku bagi dua sama Maira, soalnya dia nggak bawa."


Rama dan Kaysa saling pandang.


"Kalau hari ini dia nggak bawa lagi gimana? kan nanti harus aku bagi dua lagi. Nggak kenyang deh?"


"Kenapa juga harus di bagi dua? Memangnya dia minta ya?"


"Nggak juga, kan udah aku bilang kasihan. Mana dia nggak bawa uang jajan lagi, kalau lapar gimana coba?"


"Sampai segitunya kamu memikirkan Maira ya?"


"Kan temen aku?"


"Oh iya, lupa. Sekarang kan kamu sudah punya teman." Rama tertawa.


"Ayolah Mama, dengarkan kata Aslan, dan buatkan satu lagi bekal untuk Maira." Pria itu melenggang keluar dari dapur menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


"Huh, ayah dan anak sama saja, sering memikirkan orang lain." Kaysa menggerutu.


"Mama jangan ngomel, kita kan punya banyak makanan sekarang, nggak kayak dulu. Mungkin Maira nggak punya makanan di rumahnya, makanya dia nggak bawa."


"Umm, ...


"Ayo Mama, aku makan dulu."


"Ah, baiklah baik. Kadang omonganmu ada benarnya juga. Kasihan juga Maira ya kalau begitu?"


"Makanya." Aslan mengangkat piring miliknya sambil tersenyum. Memberi isyarat kepada ibunya untuk mengambilkan makanan untuknya.


***


"Udah, nggak usah di antar sampai ke dalam." Aslan menghentikan langkah Rama, kemudian meraih bungkusan di tangan ayah sambungnya itu.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, aku kan sebentar lagi jadi kakak, masa di antar terus?"


"Kata-katamu itu ...


"Lagian juga malu, yang lain nggak di antar sampai kelas." Anak itu melihat sekelilingnya. Tampak teman-temannya mulai berdatangan, dan dia tersenyum ketika melihat wajah yang begitu di kenalnya.


"Aslan, sampainya kita barengan." Seorang anak perempuan berkuncir dua yang duduk satu bangku dengannya berlari menghampiri.


Bocah itu mengangguk.


"Papa, aku masuk dulu. Sana kalau mau pulang buruan. Nanti mama nungguin." ucap Aslan yang setelah itu bergegas masuk ke dalam kelasnya. Sedangkan Rama hanya memperhatikan dengan kening agak berkerut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rama membelokkan mobilnya ke area kantor polisi tempatnya bertugas. Kemudian segera masuk begitu dia sampai.


Beberapa orang menyambutnya dengan gembira, dan sebagian menyampaikan keprihatinan atas kasus yang kini telah terungkap. Namun tak ada seorang pun di antara mereka yang bisa membantu.


"Tidak apa-apa, aku mengerti." jawabnya.


"Saya mengantarkan surat pengunduran diri dari kesatuan Pak," katanya, setelah meletakan tas berisi segala perlengkapan tugas dan sebuah kotak berisi piagam penghargaan, medali dan bintang jasa juga tanda kenaikan pangkat.


"Keluar dari kesatuan?" Pria bernama Bagas itu balik bertanya.


"Betul Pak."


"Sudah kau pikirkan matang-matang?" tanya nya lagi.


"Sudah pak."


Bagas terdiam sebentar. Dia memang telah mengetahui soal peristiwa yang terjadi di lembaga yang telah di pimpinnya dalam dua minggu belakangan. Juga membaca profil perwira di depannya. Segala hal menarik minatnya untuk menerima tawaran dari pimpinan tertinggi mereka untuk menduduki posisi itu meski dia harus melepaskan karir awalnya sebagai seorang penyidik.


"Kau tahu, Rama? kau akan kehilangan hak-hak istimewamu sebagai abdi negara jika kau keluar dari kesatuan tanpa sebab yang jelas." Bagas bangkit dari kursinya.


"Saya memiliki alasan yang jelas Pak."


"Kasus adikmu?"


"Salah satunya itu. Banyak yang harus saya urus, dan itu menjadikan saya tidak bisa fokus menjalankan tugas."


"Kenapa tidak mengambil cuti panjang saja? itu lebih baik ketimbang kau harus mengundurkan diri."


Rama terdiam.


"Pikirkan lagi. Karena kesatuan membutuhkan perwira sepertimu, yang berani menentang kesalahan, dan bertindak berani seperti itu."


Rama tidak menjawab ucapannya.


"Atau begini saja, ajukan cuti panjang, selama yang kau butuhkan hingga proses hukumnya selesai. Dan negara akan memberikan pengecualian untukmu. Setelah itu kembalilah bertugas." katanya, membuat penawaran.


Rama berpikir.


"Negara akan menfasilitasi semua yang kau butuhkan. Ingat, jasamu tidak bisa di lupakan begitu saja, dan sudah sepantasnya kau mendapatkannya."


"Jadi, tunda dulu semua rencana pengunduran dirimu, setidaknya sampai kasusnya selesai. Setelah itu, kau bisa memutuskan."


"Pak?"


"Sayang sekali dedikasimu harus terhenti hanya karena segelintir orang berbuat keculasan, sementara di luaran sana masih banyak perwira sepertimu yang juga memperjuangkan idealisme yang sama, atau mungkin juga mereka mengalami apa yang kau alami. Hanya saja kita tidak tahu."


Rama pun berpikir ulang.


"Sekarang pulanglah, kembali kepada keluargamu dan selesaikan semuanya. Kami bisa menunggu."


***


Rama memutuskan untuk pergi begitu percakapannya dengan atasan selesai. Namun dia berpapasan dengan sekumpulan orang yang hendak memasuki kantor polisi tersebut.


Alan bersama tim pengacaranya yang akan menjalani pemeriksaan lanjutan.


Mereka sama-sama berhenti dan saling tatap. Dua sahabat yang kini di pisahkan jurang kebencian yang dalam, terutama Rama yang menatap wajah pria itu dengan tajam.


Rama memilih untuk bergeser ke pinggir, kemudian melanjutkan langkahnya dari pada harus berhadapan dengan teman masa pendidikannya di akademi kepolisian itu. Karena sudah bisa di pastikan jika dirinya akan meradang.


"Ram?" Alan memanggil, yang seketika menghentikan langkah pria itu.


"Aku ...


"Jangan katakan apa pun, aku tidak butuh." Rama segera menjawab.


"Dan jangan jelaskan apa pun kepadaku, karena itu semua tidak akan ada artinya." Pria itu memutar tubuh sehingga kini mereka berhadapan.


"Kau tetap membunuh adikku, dan merenggut segalanya dari kami. Tidak akan ada yang merubah itu, meski sekumpulan orang pintar ini mengelilingimu." Dia menatap empat pria di sekitar Alan satu persatu.


"Perbuatanmu tidak akan pernah bisa di maafkan." dia mendekat satu langkah, dan segera membuat pria-pria di sekelilingnya merapatkan barisan.


Rama menarik satu sudut bibirnya sehingga membentuk sebuah seringaian.


"Keluargamu mungkin bisa menyewa pengacara terbaik di seluruh dunia, begitu juga sepupumu. Dan kalian bisa menggunakan uang untuk meringankan hukuman, atau menghindar sekalipun. Tapi satu hal yang tidak bisa kalian lakukan." Rama menegakkan kepalanya tanpa raut gentar sedikit pun.


"Menutupi kebohongan itu dari mata dunia."


"Kalian membuat polisi seperti aku malu mengabdi di tempat yang sama." Rama melirik ketika beberapa orang keluar dari satu ruangan. Fandi yang begitu di kenalnya tampak tidak terlalu baik.


"Dan kau membuat lembaga tempatmu bernaung kehilangan wibawa. Nama baik polisi tercoreng, dan di pandang sebelah mata, seolah-olah kesatuan ini merupakan sarangnya koruptor dan orang-orang bejat!" Pria itu mundur, kemudian berbalik. Dia melanjutkan langkahnya dan tidak berhenti meski berpapasan dengan Frans dan para pengacaranya di pelataran luar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kaysa bermaksud menyambut kedatangam suaminya ke ruang depan, namun dahinya berkerut setibanya pria itu di depan pintu. Dia pulang tanpa membawa mobil yang di pakainya tadi pagi.


"Mobilmu di mana?" tanya nya, saat Rama masuk.


"Tidak ada."


"Kenapa tidak ada?"


"Aku kembalikan ke tempat yang seharusnya." mereka masuk ke dalam rumah.


"Apa?"


Rama duduk di sofa dengan televisi yang menyala, menayangkan berita harian.


"Mobil itu kan bukan milikku, tapi milik negara. Hanya sebagai kendaraan dinas yang di berikan untuk di gunakan selama aku menjalankan tugas."


"Ooo, ..." Kaysa membulatkan mulutnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Jadi kita tidak punya apa-apa sebenarnya." Rama terkekeh, kemudian menyapu wajahnya. Setelah itu merebahkan kepalanya di sandaran sofa.


"Aaa, ... tidak apa-apa, untung sekolahnya Aslan tidak terlalu jauh. Kita bisa jalan kaki untuk mengantarkannya."


"Benar, ...hahaha. Atau gunakan jasa tukang ojek juga bisa."


"Jadi, kamu sudah resmi mengundurkan diri?" Kaysa kemudian bertanya.


"Seharusnya sudah."


"Terus?"


"Aku malah di tawari cuti panjang sampai semua masalah selesai."


"Wah?" Kaysa ikut duduk di sampingnya.


"Sepertinya akan sulit keluar dari kesatuan." Pria itu menatap layar televisi.


"Aku rasa begitu." Kaysa mengamini.


"Hum?"


"Mereka yang otaknya waras akan menahanmu untuk berhenti. Kamu tahu kenapa? karena mereka juga tahu mana orang yang berpotensi, mana yang tidak. Jadi ya jelas akan di persulit."


Rama memutar bola matanya sambil tertawa.


"Sudahlah, jalani saja dulu semuanya seperti ini. Kalau mereka menyarankanmu untuk mengajukan cuti, ya ambil saja dulu. Nanti setelah semuanya selesai baru kita pikirkan lagi."


"Begitu?"


"Ya Pak. Keuntungan juga, kamu tidak terlalu di sibukkan oleh tugas kan? jadi bisa fokus dulu untuk menghadapi persidangan seandainya semua penyelidikan sudah selesai."


"Hmm ... kamu benar."


"Mau makan? tadi pagi kamu belum sarapan, malah buru-buru mengantarkan Aslan." tawar Kaysa kemudian.


"Aslan tidak sabaran ingin memberikan bekalnya kepada Maira."


"Sudah ketemu dengan Maira?'


"Sudah. Dan mereka memang se akrab itu."


"Haih, anak-anaj jaman sekarang? masih kecil sudah dekat-dekatan dengan lawan jenis."


"Ya bagus, itu artinya mereka normal."


"Hum?"


"Bagus juga, itu artinya Aslan memiliki rasa empati yang tinggi. Dia merasa harus menolong temannya yang mungkin mengalami kesulitan."


"Hmmm ...


"Dan hal itu lebih baik dari prestasi akademis."


"Benar juga."


"Kamu sudah makan?" Rama balik bertanya.


"Sudah tadi begitu kalian pergi. Habisnya aku lapar sekali, anakmu ini membuatku mudah merasa lapar, ingat?" Kaysa mengusap-usap perutnya yang masih rata.


"Tapi kalau kamu mengajak makan lagi, ayo aku temani? sepertinya masih ada satu ruanga di dalam sini." Dia kemudian tertawa.


"Hmm ...


"Makan dulu yang lain boleh?" Rama menatapnya dengan satu ide gila di kepalanya.


"Makan apa?"


Pria itu bangkit, kemudian meraih tangan Kaysa dan menariknya ke arah kamar mereka.


"Duh? masih pagi Pak?" Kaysa sudah menduga suaminya menginginkan hal lain.


"Memangnya selama ini kita melakukannya kapan?" Rama menoleh sekilas, kemudian menyeringai. "Cepatlah, mumpung Aslan masih di sekolah." katanya, yang segera masuk dan menutup pintu.


*


*


*


Bersambung ...


Mmm ... anu 😂😂😂


kalo votenya nggak bisa maksimal, nggak apa-apa, hadiah juga yang di kencengin sebagai dukungan untuk kang korma 😉😉


lope lope sekebon korma 😘😘