
*
*
"Pergi dulu ya?" Kaysa memastikan segala yang dia butuhkan untuk bekerja siap di tasnya.
"Iya." Sedangkan Rama duduk di sofa dengan televisi menyala menayangkan berita pagi.
"Makanan sudah aku siapkan di meja, jadi kamu tinggal ambil saja kalau mau makan."
"Oke."
"Jangan dulu olah raga ya? Ingat kata dokter, lukamu belum sepenuhnya pulih." Perempuan itu mengingatkan.
"Hmm ...
"Aku serius lho."
"Iya iya, aku mengerti."
"Kamu kan kadang tidak mendengar?"
"Siapa? Aku?" Rama menunjuk dirinya sendiri.
"Siapa lagi?"
"Sepertinya kamu keliru ya?" Pria itu menegakkan tubuhnya. "Bukannya kamu yang sering tidak mendengarkan aku?"
"Umm ...
"Atau harus aku ingatkan?"
"Tidak tidak." Kaysa tertawa ketika dia mengingat banyak hal.
"Awas saja kalau misalnya ...
Kaysa membingkai wajah pria itu, kemudian membungkamnya dengan kecupan bertubi-tubi.
"Pergi dulu Papa!" ucap Kaysa yang dengan cepat melepaskannya ketika sekilas melihat bayangan Aslan yang berlari dari luar.
"Mama ih lama amat? Nanti aku kesiangan!" protes anak itu, yang telah mengenakan sepatunya di luar.
"Iya, ini juga mau berangkat!" Kaysa meraih tasnya.
"Tapi dari tadi nggak pergi-pergi?"
"Iya, ini mau Kak."
"Cepetan dong? Hari ini aku kan upacara." Aslan membenahi letak topinya.
"Udah rapi belum?" Dia mendongak ke arah ibunya.
"Sudah ganteng."
"Oke."
"Apalagi kalau tidak marah-marah terus pasti lebih ganteng. Sudah kelas dua kok marah-marah terus?"
"Aku nggak marah-marah lho."
"Cara bicaramu seperti orang marah-marah. Mengomel terus."
"Cuma ngomong, Mama."
"Ada saja jawabanmu."
Lalu terdengar suara mobil berhenti di depan pagar.
"Itu pasti mereka?" Kaysa mengalihkan pandangan.
"Siapa?" Aslan melakuka hal yang sama.
"Teman kerja Mama."
"Emangnya Papa nggak anter kita ya?" Bocah itu beralih kepada ayah sambungnya.
"Belum bisa." Kaysa menjawab.
"Yah, nanti siang aku nggak di jemput pakai motor lagi dong? Padahal seru bisa jalan-jalan keliling dulu."
"Kan masih sakit? Tidak bisa di paksa."
Aslan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Nanti ya, kalau Papa sudah sembuh, dan semua masalah sudah selesai, kita bisa keliling Jakarta lagi." Rama menyahut.
"Janji ya? Awas kalau bohong?" Anak itu mengacungkan jari telunjuknya.
"Memangnya kapan Papa bohong kepadamu?"
Aslan terdiam untuk mengingat.
"Nggak pernah, hehe ..." Lalu dia terkekeh.
"Makanya."
Kemudian suara klakson terdengar, tanda si pengemudi di depan pagar meminta Kaysa untuk cepat pergi bersama mereka.
"Sudah waktunya pergi, Aslan." Kaysa pun mengingatkan.
"Iya kan ini juga mau pergi. Tapi mama yang lambat." Bocah itu menggerutu, namun membuat dua orang dewasa di dekatnya tertawa.
"Baik, aku pergi ya?" pamitnya lagi, kepada Rama.
"Hmm ..." Pria itu mengangguk.
"Oh iya, ..." Kaysa menghentikan langkahnya di ambang pintu.
"Hari ini aku ada wawancara dengan Alan dan Frans. Doakan semuanya lancar ya?" Katanya, lantas segera berlari keluar dari rumah tersebut.
"Apa Kay?" Rama bereaksi, namun dia terlambat karena perempuan itu sudah melesat ke ara mobil sambil menarik Aslan.
***
"Ingat ya, tidak boleh pergi sebelum Mama jemput!" Kaysa mengantarkannya hingga ke depan gerbang sekolah.
"Oke."
"Tidak boleh menerima apa pun, atau ikut dengan orang asing."
"Udah tahu."
"Takutnya kamu lupa."
"Nggak akan. Udah, sana Mama kalau mau kerja!" Aslan berujar.
"Kamu mengusir Mama?"
Bersamaan dengan itu, seorang anak perempuan muncul dan berlari ke arahnya.
"Aslan, ayo barengan?" sapanya, yang kemudian menoleh ke arah Kaysa, kemudian tersenyum.
"Ayo." Dan tanpa mengatakan apa pun lagi, mereka pun berlari masuk ke dalam area sekolah.
"Duh? Anak-anak!" Kaysa bergumam seraya memutar tubuhnya. Lalu dia teryegun saat mendapati seorang perempuan yang berdiri di samping motor maticnya
Kaysa tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Mamanya Aslan?" Perempuan itu bertanya.
"Iya."
"Saya Andini, mamanya Maira." Dia mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Oh, ... saya Kaysa."
"Saya tahu, anda reporter CTNEWS."
Kaysa menganggukkan kepala.
"Terima kasih." Katanya kemudian.
"Untuk apa?"
"Karena Aslan sering membawakannya makanan untuk Maira."
"Soal itu? Bukan apa-apa, hanya sedikit makanan."
"Tidak, terima kasih. Itu bukan sekedar makanan, tapi ada hal yang lebih berarti."
"Aslan hanya ingat waktu kami sedang dalam masa sulit. Jadinya dia meminta saya membawakan bekal lebih untuknya."
"Tetap saja itu sangat berarti."
Kaysa hanya tersenyum, sementara perempuan itu menatapnya untuk waktu yang cukup lama.
"Umm ... maaf, saya harus segera pergi." Kaysa yag mulai merasa keadaan ini cukup membuat canggung.
"Ah, iya. Saya juga. Sekali lagi terima kasih." Andini mengenakan helmnya kembali, kemudian mereka sama-sama meninggalkan tempat itu.
***
"Bagaimana persiapan Anda menghadapi sidang keputusan dalam beberapa hari ke depan?" Kaysa bersama Manda juga Bram berada di ruang tahanan. Melakukan wawancara dengan kedua terdakwa di bawah pengawasan ketat petugas.
"Tidak ada persiapan." Keduanya menjawab hampir bersamaan.
"Bagaimana komentar Anda tentang pengunduran diri dari tim pengacara? Apa sudah mendapatkan gantinya?"
Frans dan Alan saling pandang.
"No koment." Fran yang menjawab.
"Sejauh ini apa saja upaya Anda untuk mempersiapkan keputusan yang mungkin tidak berpihak kepada Anda berdua?"
"Tidak ada. Hanya membiarkannya agar cepat selesai saja." Frans kembali menjawab.
"Bagaimana dengan isyu naik banding yang kemungkinan anda ajukan di persidangan nanti?"
"Pembelaan seperti apa yang akan anda layangkan?"
Tak ada yang berniat menjawab.
"Bagaimana komentar Anda tentang bukti di persidangan terakhir?" Kaysa kembali melontarkan pertanyaan.
"Apa Anda memiliki sanggahan?"
Alan mengerutkan dahi.
"Dan penjelasan mengenai keberadaan Anda di luar tahanan sementara persidangan sedang berlangsung, dan Anda berdua sebagai tersangka?"
Dua pria di depannya kembali saling pandang, saat Kaysa tidak dapat di hentikan dengan semua pertanyaan-pertanyaannya.
"Kau mencoba mengintimidasi dengan semua pertanyaan itu?" Frans bereaksi.
"Tidak Pak, saya hanya bertanya." Dan Kaysa menjawab.
"Tapi pertanyaanmu mengandung maksud tertentu."
"Benar, untuk mendapatkan berita. Ingat?" Perempuan itu menunjuk tanda pengenal yang menggantung di lehernya.
"Anda tidak memiliki jawaban atas semua pertanyaan saya?"
"Berarti Anda mengakui semua perbuatan dan menerima dakwaan?"
"Sebenarnya mudah saja Pak. Jika Anda mengaku bersalah, setidaknya pengampunan akan sedikit meringankan beban mental dari pada terus mengelak seperti ini. Hanya jawab ya, atau tidak."
"Kay ..." Bram memperingatkan ketika dia melihat dua pria di depan mereka mulai bereaksi.
"Baik, terima kasih atas waktunya." Perempuan itu mengakhiri sesi wawancara, lalu membereskan barang-barangnya setelah memerintahkan kepada Bram untuk menghentikan peliputan.
Kemudian dia bangkit dan memberi isyarat kepada petugas yang berjaga di depan ruang tahanan.
"Kau ... orang itu." Alan buka suara.
"Maaf?" Kaysa hampir saja meninggalkan tempat tersebut.
"Kau yang masuk ke dalam apartemenku dan mengambil ponsel ...
Kaysa terdiam menatap wajah-wajah pria di depannya tanpa rasa gentar sedikitpun.
"Kau penyusup itu." ulang Alan, dan dia terus menatap Kaysa seiring ingatannya yang kembali pada saat-saat terakhir ketika dirinya memergoki seseorang yang berada di apartemennya pagi itu. Dan dia tidak akan pernah lupa dengan gestur tubuh dari sosok yang diingatnya.
"Kenapa? Anda terkejut?"
"Benar kau?" Pria itu bangkit.
"Haruskan saya jawab iya, untuk memuaskan Anda?" Kaysa membalikkan pertanyaan, namun hal itu memberikan jawaban kepada mereka berdua.
Lalu Alan menatap tajam ke arahnya.
"Tidak usah mengalihkan topik, karena pada kenyataannya anda sudah tiba di akhir. Kejahatan ini tidak lagi dapat di sembunyikan, dan Anda tahu ..." Kaysa menggantung kata-katanya.
Sekejap dia menahan napas manakala pria itu melesat menghampirinya, dan bermaksud menyerangnya. Namun hal itu urung dilakukan ketika tiba-tiba saja dia ambruk di lantai dengan tubuhnya yang mengejang, ketika di saat yang bersamaan petugas di depan ruang tahanan menekan tombol alat kejut listrik yang tersambung pada borgol.
Sementara Kaysa membeku menatap kejadian tersebut. Hingga akhirnya Bram menyadarkannya, dan Manda menariknya keluar dari ruangan tersebut.
*
*
*
Bersambung ...