
*
*
"Kakak, tolong!" sayup-sayup terdengar suara perempuan memanggil, dan merebut perhatian Rama yang tengah berjalan di tempat gelap, entah di mana.
Tak ada apa pun yang dia lihat selain kegelapan sejauh mata memandang.
Suasana begitu sepi, dan auranya begitu menyesakkan dada.
"Kakak, tolong!" rintihan itu terdengar lagi, dan Rama segera berusaha mencari asal suara. Walau dia tak tahu langkah kakinya menuju ke mana.
Pria itu bahkan tidak mampu melihat jalan yang di injaknya, karena saking gelapnya. Dan yang ada hanyalah suara tangis dan rintihan kesakitan.
"Kakak!" suara itu terdengar lagi, dan kini lebih jelas.
Rama hafal siapa pemiliknya. Tentu saja, mereka tumbuh bersama sejak kecil, dan anak itu dekat dengannya sejak bayi, sepeninggal ibu mereka. Dia yang mengasuhnya setiap pulang sekolah, dan tak pernah meninggalkannya walau hanya sedetik.
"Livia?" Rama menyahut, dia yakin itu suara adik perempuannya.
"Livia, kamu di mana?" panggilnya lagi.
"Kakak!" lalu isakan itu terdengar lagi.
"Livia?" Rama berhenti berjalan saat menemukan seseorang meringkuk di kegelapan. Hanya kulit putihnya yang menjadi penanda bahwa ada seseorang di sana.
Tunggu!
"Livia?"
Sosok itu menoleh, dan wajah yang begitu dia kenal langsung mendominasi pandangan.
Rama berlari mendekat dengan dada berdebar begitu kencang.
"Livia, di mana pakaianmu? kenapa kamu tidak berpakaian?" tanya nya, saat mendapati gadis itu dalam keadaan tanpa sehelai benangpun. Kulitnya yang begitu pucat mendominasi satu sudut di kegelapan sehingga dia dapat melihatnya dengan jelas.
"Kakak, tolong aku. Dingin!" rintih Livia dengan tangisan yang terdengar semakin lirih.
"Di mana pakaianmu, Liv?" pria itu semakin mendekati adiknya yang kini duduk menekuk lututnya hingga merapat ke dada.
"Tolong kak, sakit." katanya lagi, dan Rama berusaha meraih pundak telanjangnya.
Dingin.
Livia tampak mendongak, dan menatap wajah kakaknya.
"Tolong." ucapnya, dengan tatapan kosong dan bola matanya terlihat menghitam seluruhnya.
"Tolong." katanya lagi, dan dia hampir saja bangkit.
"Tolong!" Livia menggeram, dan di detik berikutnya dia menerjang Rama dengan kedua tangan yang mencekik leher pria itu dengan kencang.
"Livia!" Rama berteriak.
***
Rama terbangun dengan keringat bercucuran di seluruh tubuh. Napasnya tersengal-sengal dan dia masih merasa begitu sesak. Dia bahkan terbatuk dengan keras seolah sempat kehilangan napasnya beberapa saat yang lalu, hingga akhirnya berhenti dengan sendirinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, dan belum ada panggilan darurat untuk tugasnya. Sepertinya mereka bisa menanganinya sendiri kali ini. Namun Rama belum bisa memejamkan matanya kembali setelah mengalami mimpi yang sangat menakutkan itu.
"Jika memang harus terungkap, maka beri kakak petunjuk Liv!" gumam Rama yang merebahkan tubuh sambil menyugar rambutnya yang sudah menebal.
"Kakak sendirian." ucapnya, frustasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tunggu Aslan," Kaysa menahan langkah putranya ketika mereka hampir saja keluar dari unit apartemennya.
"Apa?"
"Kok kemejanya kelihatan beda ya? atau mama yang salah lihat?" Kaysa menarik kerah seragam sekolan putranya tersebut.
"Kenapa emangnya?"
"Seperti baru ya?"
"Kan yang papa beliin waktu itu? mama lupa ya?" bocah itu segera bereaksi, ingat pesan Rama padanya kemarin sebelum pria itu pergi.
"Iya kah? kok seperti masih baru ya?"
"Iya dong, kan emang baru."
"Begitu ya?"
"Iyalah." anak itu melenggang ke luar sementara ibunya mengunci pintu unit mereka.
"Nasinya kamu tidak lupa kan?" mereka berjalan bergandengan keluar dari gedung tersebut.
"Nggak."
"Makanannya?"
"Aman." Aslan menepuk bagian bawah tas bermotif robot tersebut.
"Baiklah, jadi mama tidak akan memberi kamu uang jajan ya? kan sudah bekal makanan?"
"Umm, ..." Aslan menghentikan langkahnya sejenak.
"Kenapa?"
"Minta dua ribu aja boleh nggak?"
"Dua ribu?"
Aslan menganggukkan kepala.
"Untuk apa?"
"Mau beli minuman."
"Kan mama juga membekali kamu air minum?"
Aslan terdiam.
"Mau beli minuman yang ada rasa-rasanya itu ya?"
"I-iya." jawab anak itu, ragu.
"Baiklah." Kaysa menarik satu lembar uang pecahan lima ribu dari tas selempangnya.
"Nggak usah gede-gede, dua ribu aja."
"Dua ribu mana cukup?"
"Umm ...
"Tidak apa-apa, mama ada kok kalau cuma lima ribu. Setiap hari mama kan dapat uang tip dari tamu."
"Beneran?"
"Iya." mereka meneruskan langkah. "Tapi janji, nggak boleh di pakai beli selain makanan ya?"
"Hu'um." Aslan tampak mengangguk.
...
"Nah, mama antarnya sampai sini saja ya? hari ini harus masuk pagi soalnya ada event." mereka tiba di depan gerbang sekolah, dan Kaysa membenahi pakaian putranya.
"Oke mama."
"Tidak apa-apa kan? Aslan sudah bisa?"
"Bisa dong."
"Oke, kalau begitu mama pergi." perempuan itu mencium puncak kepala putranya.
"Jangan nakal, belajar yang rajin biar Aslan pinter. Dengar apa kata ibu guru, Oke?" pesan yang sama yang setiap hari Kaysa ucapkan kepada anak itu.
"Oke mama." kemudian perempuan itu pun pergi.
Sebenarnya Aslan merasa enggan untuk pergi ke sekolah, tapi dia takut akan mengecewakan ibunya. Perempuan itu telah melakukan banyak hal untuknya, dan dia tahu jika ibunya akan merasa sangat bahagia jika dirinya pergi sekolah setiap hari walaupun tidak bisa menonjolkan diri seperti juara kelas atau yang lainnya. Hanya pergi, dan menjalani proses belajarnya setiap hari akan membuat senyumnya mengembang dan dia terlihat bahagia.
Kaysa bangun setiap pagi untuk menyiapkan segala keperluannya, membuatkan bekal makanan untuknya. Dia bahkan memilih hanya makan di tempat kerjanya saja agar di rumah selalu tersedia makanan untuknya. Minggu-minggu awal bekerja memang terasa sulit bagi mereka, tapi Kaysa menjalaninya dengan tegar. Dan itulah yang Aslan lihat dan menjadi alasannya walau terasa berat.
"Hey!" terdengar teriakan di sisi lain bangunan sekolah ketika banyak siswa telah tiba.
Tiga orang anak yang lebih besar tampak menghadang anak-anak yang lebih kecil dan berusaha merampas apa yang ada dalam saku seragam mereka.
Aslan mundur dua langkah dan dia meremat saku celananya. Rasa takut jelas menguasai bocah itu, apa lagi ketika salah satu di antara mereka menyadari keberadaannya.
Anak itu semakin mundur saat ketiganya berjalan mendekat sambil menyeringai.
"Hari ini bawa uang jajan kan? jangan bilang nggak bawa ya, atau aku hajar kamu!" ancam salah satu dari mereka.
Aslan tampak mengkeret di tempatnya berdiri.
"Mana sini!" ucap yang lainnya sambil menarik kerah kemeja anak itu dengan keras, lalu memeriksa saku kemejanya.
"Nggak ada, udah aku bilangin bawa uang jajan juga!" katanya saat tak menemukan uang selembar pun di saku kemeja Aslan.
"Mungkin di sini?" anak yang satunya lagi memeriksa saku celana Aslan.
"Nah kan, ada. Kamu umpetin ya? berani-beraninya!" kemudian dia mendorong Aslan hingga bocah itu hampir saja terjengkang, namun seseorang menahannya dari belakang.
"Masih kecil sudah berani jadi preman ya?" Rama dengan rahang yang mengeras dan matanya memicing. Merasa kesal setelah menyimak adegan tersebut sejak Aslan ditinggalkan ibunya dan memasuki area sekolah.
Setelah secara diam-diam dirinya mengikuti mereka dari gedung apartemen dan membiarkan semuanya terjadi begitu saja untuk membuktikan bahwa ucapan anak itu benar. Dan amarahnya menguar begitu saja ketika hal itu benar-benar terjadi.
Rama menatap tajam ke tiga anak tersebut, dan membuat mereka semua lari terbirit-birit.
"Kamu tidak apa-apa?" dia memeriksa keadaan Aslan.
Anak itu menggelengkan kepala.
"Jadi begitu setiap hari ya? kalau tidak ada uang, makanan kamu mereka ambil?" tanya nya.
"Setiap hari?"
Aslan terdiam, karena sepanjang ingatannya hal itu terjadi sejak Radit datang menjemputnya dengan menggunakan mobil mewah dan berpenampilan rapi. Yang anak-anak itu sebut sebagai orang kaya, yang pasti membekalinya dengan banyak uang seperti anak-anak lainnya.
Sebelumnya hidupnya aman-aman saja, selain hanya ejekan karena penampilannya yang tak se gaya anak lainnya, namun hal itu berubah setelah Radit menemukannya.
"Ayo, om antar ke dalam?" Rama menggandeng tangannya, namun Aslan malah terdiam.
"Kenapa?" pria itu kembali.
"Besok mereka pasti mukulin aku."
"Kenapa mereka melakukan itu?" Rama berjongkok di depannya.
"Mereka akan ngira aku ngadu sama om."
"Maka kita akan melaporkannya kepada guru dan kepala sekolah." pria itu bangkit kemudian menarik Aslan ke ruang kepala sekolah.
***
"Kami minta maaf pak, ini di luar kendali kami. Tapi kami berusaha untuk menindak lanjuti kejadian ini." ucap kepala sekolah setelah melihat rekaman kejadian tersebut.
"Saya pegang janji anda Bu, sebelum nantinya saya yang turun tangan sendiri. Karena hal ini bukan terjadi satu dua kali, tapi sudah berkali-kali." Rama menjawab.
"Benar itu Aslan?" kepala sekolah beralih kepada Aslan.
"Ayo, jawab. Tidak apa-apa, ibu kepala sekolah akan melakukan sesuatu. Iya kan Bu?"
Aslan terdiam.
"Aslan, tidak apa-apa, katakan saja." sambung Rama.
"I-iya."
Sang kepala sekolah menghela napas pelan.
"Maafkan kami sekali lagi pak."
"Seperti yang saya katakan tadi, semoga ibu mengambil tindakan tegas agar hal ini tidak terulang. Saya yakin korbannya bukan hanya Aslan."
"Baik pak, kami akan memanggil orang tua siswa."
"Jangan bilang mama!" Aslan bereaksi.
"Lho? kenapa?" kepala sekolah bertanya.
"Pokoknya jangan bilang mama!"
"Tidak, ibu hanya akan memanggil orang tua kakak kelasnya Aslan."
"Nggak panggil mama?"
"Sementara tidak perlu. Ataukah saya perlur memanggil Bu Kaysa, pak?"
"Mmm ... sepertinya tidak usah. Kalau ada apa-apa ibu bisa menghubungi saya." dia memberikan nomor ponsel kepadanya.
"Boleh tahu pak Rama ini hubunganya apa dengan Aslan?"
"Eee ...
"Papa." Aslan tiba-tiba saja menyela, membuat Rama menoleh seketika.
"Ya, nggak usah bilang mama kan pah? nanti mama khawatir." Aslan balik menatapnya.
"Ummm ... begitulah, hehe ..." pria itu terkekeh canggung.
Apa-apaan ini? batinnya bergumam. Namun terlanjur juga. Malah nantinya akan terasa aneh jika dia meralat ucapan bocah itu. Lalu dirinya harus menjawab apa?
"Bukannya papa Aslan yang menjemput waktu itu ya?" perempuan itu mengingat sesuatu.
"Eee ... iya. Itu papa, ini juga papa." Aslan menepuk lengan Rama. Sungguh akting yang luar biasa sedang di perankan oleh anak itu demi menutupi masalah ini dari ibunya.
Sementara kepala sekolah mengerutkan dahi.
"Ini rumit bu." pria itu terkekeh lagi. "Mereka bercerai, kemudian kami bertemu, dan saya yakin seterusnya ibu mengerti?" Rama mencoba menjelaskan.
"Oh, ... iya iya iya, saya mengerti pak." perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Nah begitu."
"Baik."
***
Rama memutuskan untuk tetap tinggal di sekolah, ingin tahu apa saja yang terjadi setelahnya. Dia bahkan terus mengawasi di sekitar tempat itu ketika jam istirahat tiba dan Aslan mengambil waktu istirahatnya untuk makan di halaman samping dengan teman-temannya, yang Rama yakini sebagai hari pertama anak itu tak mendapat gangguan.
Hingga jam pulang pun tiba dan dia melihat ke tiga anak yang sebelumnya mengganggu Aslan pulang dengan orang tua mereka. Yang membuatnya merasa cukup lega.
"Kok om masih di sini?" Aslan terheran-heran mendapati pria itu yang bersandar pada body mobilnya.
"Ya, om kebetulan lewat tadi."
"Emangnya habis dari mana?"
"Ada sedikit pekerjaan."
"Oh, ..."
"Ayo kita ke tempat kerja mama mu?" pria itu membuka pintu mobilnya.
"Kenapa?"
"Kita beri kejutan, mama mu pasti senang kamu datang."
"Gitu ya? nggak akan marah?"
"Tidak."
"Ya udah kalau begitu." Aslan segera masuk dan duduk di kursi penumpang.
***
"Aku pikir kamu tidak serius waktu mengatakan akan menjemput Aslan terlebih dahulu." Kaysa memeluk anaknya begitu mereka tiba di kafe.
"Aku jarang bercanda tahu?" Rama duduk di tempat biasa.
"Kelihatan." perempuan itu bergumam.
"Apa?" Rama mendongak.
"Tidak ada." Kaysa menggelengkan kepala.
"Aku dengar apa yang kamu katakan tadi. Tidak tahu ya pendengaranku ini tajam?" Rama menunjuk telinganya sendiri.
"Terus kenapa kamu tanya?"
"Biar ada bahan pembicaraan."
"Ish, ...
"Aku mau makan, lapar." pria itu berucap.
"Salah sendiri, padahal biasanya kan makan dulu, baru menjemput Aslan. Kenapa hari ini tidak begitu?"
"Tanggung, kebetulan tadi aku ada pekerjaan di daerah itu, sekalian saja sambil lewat."
"Lagian om kerjanya kok nggak di kantor polisi sih? nggak pakai seragam polisi juga?" Aslan menyela percakapan.
"Iya juga. Kenapa pekerjaan kamu sepertinya santai sekali ya?" Kaysa berdedekap, dan dia mulai curiga.
"Soal itu ... eee ... aku kerjanya di lapangan."
"Lapangan?" Aslan mendongak.
"Di luar kantor maksudnya."
"Malam hari? karena kalau siang sepertinya kamu jarang bertugas?"
"Begitulah, ... kadang-kadang, hehe ..." Rama mengusap tengkuknya sendiri.
"Kamu intel ya?" Kaysa kembali bertanya.
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Yang aku tahu, kerjaannya di luar kantor ya intel. Pekerjaannya selidik-menyelidiki."
"Umm, ... begitulah kira-kira." pria itu mengiyakannya saja agar mereka tak lagi banyak bertanya.
"Baiklah pak intel, ...
"Please Kay, aku sudah lapar. Bisa kamu bawakan aku makanan sekarang?" Rama memegangi perutnya.
"Oh astaga, aku jadi lupa. Tunggu sebentar."
"Oke, benar sebentar ya? jangan lama-lama."
"Siap pak."
*
*
*
Bersambung ...
Cieeeeee .... tiba-tiba jadi papanya Aslan 🤣🤣🤣
cus like komen sama hadiahnya kirim lagi.
lope lope sekebon korma😘😘