
*
*
Aslan berlari begitu melihat ibu dan ayah sambungnya turun dari mobil. Mereka kembali bertemu di sekitar stadion pada sore hari.
"Kenapa sih kita harus bertemu di sini? Rasanya seperti sedang barter barang terlarang saja." Radit dengan menenteng tas kain di tangannya.
"Kebetulan saja, kami sedang jalan-jalan di sekitar sini." Rama menjawab seraya menyambut Aslan yang menghambur kepadanya.
"Terus, lain kali jika aku ingin bertemu Aslan lagi, kita tetap seperti ini?" Pria itu bertanya.
"Begitulah."
"Huh, seperti buronan saja kau ini?" Radit menggerutu sambil menyerahkan tas kain tersebut kepada Rama.
"Kamu beli mainan lagi, Aslan?" Kaysa bersuara setelah beberapa saat.
"Nggak, itu bukan mainan." Sang anak menjawab.
"Terus apa? masa beli tas lagi?"
"Cuma alat tinju."
"Hah?"
"Tadi dia merengek waktu melewati toko alat olah raga. Aku pikir mau membeli sepatu bola, atau alat badminton. Taunya mau beli peralatan tinju." Radit menjawab.
"Kamu mau ikut latihan juga?" Rama bertanya kepada anak sambungnya.
Aslan mendongak kemudian mengangguk sebagai jawabannya.
"Keren sekali kamu ini ya?" lalu pria itu mengacak puncak kepalanya.
"Kan nanti bisa bantuin mama kalau ada orang jahat yang pukulin Om." ucap Asla dengan polosnya.
"Apa?" Rama tertawa karenanya.
Sementara Radit memutar bola matanya, merasa jengah dengan obrolan keluarga kecil ini.
"Kenapa sih kalian ini mengajari putraku berkelahi. Mau jadi apa dia nanti?" akhirnya dia ikut berbicara.
"Apa katamu? mengajari dia berkelahi?" Rama mengerutkan dahi.
"Iya, untuk apa? kenapa tidak fokus mengembalikan semangatnya untuk sekolah lagi? malah mau di ajari tinju seperti ini?"
"Hey pak, tinju itu bukan untuk berkelahi. Tapi untuk melatih tubuhmu agar kuat dan sehat seperti juga olah raga lainnya. Lagi pula aku tidak mengajarinya."
Radit membuka mulutnya untuk menjawab.
"Dan ya, aku memang melatih diriku dengan itu karena aku memang membutuhkannya. Kalau misalnya Aslan punya keinginan untuk melakukan apa yang aku lakukan, itu karena dia sering melihatku berlatih."
"Bagus juga kan untuknya? dia akan lebih sehat dan mentalnya juga lebih kuat. Mungkin dengan begitu kepercayaan dirinya akan kembali. Kalaupun nantinya dia jadi pandai berkelahi ya bagus juga, setidaknya dia bisa mempertahankan diri jika suatu hari ada yang mengganggunya. Tidak akan ada yang menindasnya lagi." Rama tanpa segan menjawab ucapan Radit dengan begitu lugas.
"Jadi bisakah jika kita hanya mendukungnya saja? apa pun yang Aslan lakukan, asal itu masih hal baik dan tidak merugikan orang lain apa salahnya? lagi pula tidak baik juga terus-terusan di dalam rumah hanya dengan buku gambar dan pinsil warna. Dia juga harus menyeimbangkan fisik dan mentalnya. Karena dalam hal melukis dia memang sudah pandai."
Radit rerdiam.
"Kau tidak tahu ya, jika anakmu ini pandai dalam segala hal? dia pintar dalam mata pelajaran, juga pandai melukis. Pikirannya juga kritis, jauh dari anak-anak seusianya. Tapi kekurangannya hanya satu, kepercayaan dirinya kurang karena traumanya belum sepenuhnya pulih. Itu sebabnya dia tidak suka keluar rumah."
"Apakah untuk hal itu kau juga akan menyalahkan kami?" Rama melipat kedua tangannya di dada.
Radit mendengus keras karenanya.
"Terserah kau saja lah." katanya, kemudian.
"Aslan, Papa pulang ya? nanti kita ketemu lagi." Radit beralih kepada putranya.
"Oke, tapi nggak usah kalau Papa lagi sibuk. Aku nggak apa-apa." Aslan menjawab.
"Tidak, Papa akan sering-sering menemuimu."
"Tidak usah berjanji, Mas." Kaysa memperingatkan.
"Tidak, aku tidak sedang berjanji. Tapi aku meminta jadwal pertemuan rutin setidaknya di akhir pekan dengan Aslan. Aku ingin menghabiskan lebih lama waktu dengannya. Bukan hanya jalan-jalan keluar seperti ini."
Pasangan di depannya saling pandang.
"Soal itu ... akan kami bicarakan nanti." Rama memberikan jawaban.
"Seharusnya memang begitu kan? Aku pergi." Radit berucap seraya memutar tubuh.
"Oh iya, ..." namun dia berhenti sebentar.
"Aku sudah mengirim uang ke rekeningmu, untuk kebutuhannya Aslan." katanya lagi, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rama mengerutkan dahi ketika dia melihat sosok yang di kenalnyan berbelok ke arah area pemakaman yang biasa mereka lewati. Lagi-lagi Alan yang mengendarai motornya masuk ke area itu dengan cepat.
"Berhenti!" Pria itu agak berteriak, lalu dia menoleh ke belakang di mana Alan yang di kenalinya sudah menghilang.
"Ada apa?"
"Aku melihat Alan."
"Alan? Mana?" Kaysa pun melakukan hal yang sama ketika mobilnya berhenti.
"Tapi mungkin aku salah lihat." Rama meralat ucapannya.
"Tadi kamu lihat Alan ke mana?" Kaysa bertanya.
"Ke sana." Rama menunjuk belokan ke arah pemakaman umum yang mereka lewati tadi.
Kaysa menatap wajah suaminya lekat-lekat.
"Kita ke sana!" ucap Kaysa kepada sopir di balik kemudi.
"Untuk melihat apa itu Alan atau bukan."
"Lalu?"
"Mungkin kita bisa tahu sesuatu?"
Rama mengerutkan dahi.
"Mungkin aku hanya salah lihat, Kay." pria itu menyangkal. "Lagi pula ini sudah sore, bisa saja kan ...
"Kamu ini anggota pasukan hantu atau apa? bukankah pandanganmu sangat bisa di andalkan? kamu sekelas sniper profesional dan tidak mungkin salah lihat sekalipun dalam kegelapan? jadi hanya keremangan sore seharusnya tidak terlalu menjadi masalah untukmu."
"Kamu sedang dalam penyangkalan, Ram. Kamu ketakutan!"
"Kaysa, aku tidak ...
"Kamu ketakutan. Alam bawah sadarmu takut mengetahui kenyataan yang sebenarnya, jika Livia mungkin saja meninggal karena di celakai orang terdekat."
"Kamu ini anggota pasukan elit, seharusnya instingmu yang sudah terasah itu juga mencurigai orang-orang di sekelilingmu. Bukannya menyangkal seperti ini."
"Aku tidak sedang menyangkal. Aku hanya tidak ingin mencurigai orang yang tidak mungkin melakukannya kepada Livia. Tidak mungkin! Mereka sangat dekat, dan ..." Rama menggantung kata-katanya ketika pikirannya mengingat banyak hal.
"Mereka sangat dekat?" Kaysa mengulang kata-katanya.
Rama terdiam.
"Bukankah itu bisa jadi petunjuk?" Kaysa kembali berbicara. Banyak hal bermunculan di kepalanya saat ini, terutama kecurigaannya kepada Alan.
"Alan memperlakukannya seperti aku, dan dia bahkan begitu terpukul ketika mengetahui apa yang menimpa Livia. Jadi, ... tidak mungkin Alan pelakunya."
"Tidak mungkin tapi bisa jadi dia mengetahui sesuatu. Ingat-ingat lagi."
Rama kembali terdiam.
"Kita ke pemakaman Pak," ucap Kaysa kepada sopir.
Dan mobil tersebut berputar kemudian berbelok ke arah pemakaman umum. Melewati jalan sepi yang sudah terasa hening pada jam-jam seperti itu.
"Aslan tunggu di sini ya? mama cuma sebentar." ucap Kaysa kepada putranya ketika dia turun dari mobilnya, diikuti Rama di belakang.
Mereka segera menuju ke sebuah area di mana makam keluarga Rama berada. Dan bersamaan dengan itu Alan pun muncul tanpa di duga. Mereka bertiga sama-sama terkejut karena tidak menyangka akan pertemuan tersebut.
"Sedang apa kalian di sini?" Alan bereaksi.
"Kau sendiri sedang apa di sini?" Rama balik bertanya.
"Aku ...
"Sudah mengunjungi makam siapa?" Kaysa langsung pada maksudnya.
"Aku ...
"Tidak mungkin kamu hanya iseng kan? kami tidak akan percaya kepadamu." Perempuan itu dengan kecurigaannya.
Alan terdiam.
"Makam siapa yang kau kunjungi?" Rama maju dua langkah dengan tatapan curiga kepada rekannya di kesatuan itu.
"Aku hanya ...
Rama melirik pusara adik perempuannya yang lagi-lagi terdapat bunga mawar yang masih segar. Seperti baru saja di letakan di sana, sementara bunga yang awalnya sudah lebih dulu di letakkan malah tidak ada.
"Kau mengunjungi makam Livia?" dia bertanya lagi.
"Umm, ... aku ...
"Jadi kau yang selama ini meletakkan bunga di makam adikku?"
Alan belum menjawab.
"Kau yang melakukannya?" katanya lagi.
"Secara tidak langsung iya, tapi ...
"Benar kan apa yang aku bilang? dia mengunjungi makam Livia!" tunjuk Kaysa kepadanya.
"Iya, tapi aku ...
"Ada hubungan apa kau dengan adikku?" geram Rama seraya mencengkeram kemeja seragam rekannya itu.
"Ti-tidak ada, Ram. Dengarkan aku!"
"Kau yang dengarkan aku! katakan ada hubungan apa kau dengan Livia?" ulang Rama yang mulai merasakan kecurigaan kepada pria di depannya.
"Aku ... baru saja mengunjungi dia ..." Alan menunjuk sebuah makam di sisi kanannya.
Dua orang di depannya menoleh bersamaan pada makam dengan batu nisan terbuat dari marmer bertuliskan nama Aline tersebut.
"Dia kembaranku, perempuan. Dan meninggal di usia 18 tahun, seperti Livia. Karena kanker hati sejak kecil, dan dia tak bisa bertahan karena ayahku menolak mencarikan donor hati untuknya."
Rama mengendurkan cengkeraman tangannya dari kemeja Alan.
"Dan ya, aku yang setiap satu minggu sekali meletakkan mawar itu di makam Livia, sama seperti yang aku letakkan untuk Aline." dia menunjuk bunga yang sama yang terdapat di makam adiknya.
*
*
*
Bersambung ...
like komen dan hadiahnya dong ...
😋😋