Kopassus And Me

Kopassus And Me
Percakapan Larut Malam



*


*


Kaysa merangkul pundak Rama dari belakang, setelah dia menemukannya masih duduk-duduk di teras belakang padahal malam sudah semakin larut. Pria itu betah menikmati suasana sepi yang tak akan mereka temukan di tempat lain.


"Aku kira kamu sudah tidur?" Kaysa menundukkan wajahnya.


"Belum ngantuk." Pria itu menarik lengannya sehingga Kaysa beralih ke depan.


"Tapi sudah malam, Pak?" kemudian Kaysa duduk di atas pahanya.


"Aku tahu."


"Terus kenapa masih di luar?"


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang berpikir."


"Berpikir soal apa?"


"Soal Livia."


"Benar kan apa yang aku bilang? kamu tidak bisa berhenti memikirkannya, seperti halnya aku. Apa lagi setelah menemukan banyak kejanggalan dalam kasus ini."


"Hmm ..


"Jadi apa kamu akan membiarkan aku menyelidiki beberapa hal mulai sekarang?" Kaysa memiringkan kepalanya.


"Belum tentu, Bu."


"Kenapa?"


"Sudah aku katakan ini ada hubungannya dengan keselamatanmu. Selama belum ada perkembanga dari kasusnya Anna, aku tidak akan membiarkamu melakukan apa pun."


"Anna?" Kaysa mengerutkan dahi.


"Tahanan khusus yang aku antar ke Australia, adiknya Alvaro."


"Perempuan?"


"Tentu saja. Memangnya kamu pernah menemukan laki-laki bernama Anna?" Rama tergelak.


"Maksudku, ... bisa-bisanya kamu tahu nama tahanannya?"


"Aku memang harus tahu, untuk mengantisispasi banyak hal. Semua informasi mengenai kasus yang kami tangani ya aku dan tim harus tahu.."


"Semua tahanan kamu tahu?"


"Tidak juga, hanya beberapa tahanan khusus."


"Seperti Anna?"


"Kira-kira begitulah."


"Semua tahanan yang kamu tangani perempuan?"


"Tidak juga, kebanyakan laki-laki. Jadi Anna hanya salah satu di antara mereka."


"Dan dia tahanan khusus?"


"Ya."


"Se khusus apa?"


"Sangat khusus. Sampai-sampai harus kami yang menanganinya."


"Hmm ...


"Apa?"


"Dia cantik?"


Rama terdiam sebentar. Dia berpikir sejenak untuk memilih jawaban mana yang paling benar, yang tak akan menyebabkan sesuatu terjadi di antara mereka.


"Ini pertanyaan atau jebakan?" Rama balik bertanya.


"Aku cuma tanya, apa dia cantik?" Kaysa mengulangi pertanyaannya.


Rama menatap wajahnya lekat-lekat.


"Jawab, aku ingin tahu bagaimana penjahat wanita paling di cari oleh interpol itu." Kaysa menarik ujung krah kemeja suaminya.


"Untuk ukuran perempuan dia ... cantik." Rama ragu-ragu. Takut kalau-kalau perempuan ini sedang mencari perhatian dengan cara mengungkit masalah yang sebenarnya tidaklah penting.


Perempuan kan biasanya begitu.


Mimik wajah Kaysa mulai berubah.


"Sayang sekali dia adik dari gembong narkoba internasional, sehingga membuatnya terjerumus di dunia itu. Padahal kalau seandainya dia jadi model atau pemaim film pun aku yakin akan laris di Hollywood. Dia kan ...


"Ssstt!" Kaysa menutup mulut Rama dengan tangannya. "Kenapa jadi ke mana-mana? aku kan cuma tanya apa dia cantik atau tidak?"


"Aku hanya ...


"Sssttt! jangan bicarakan dia lagi. Membuatku kesal saja!"


"Kan kamu tadi tanya?"


Kaysa mendengus kasar.


"Aneh sekali kamu ini."


"Ah, ... menyebalkan!" Perempuan itu menarik tangannya dari pundak Rama, tapi suaminya itu segera menahannya.


"Apa kasus yang kamu tangani semuanya begitu?" Namun Kaysa kembali bertanya.


"Tidak, itu hanya salah satunya."


"Yang lainnya seperti apa?"


"Sudah aku katakan jangan terlalu banyak bertanya kan?"


"Aku hanya ingin tahu, seperti apa pekerjaan suamiku ini?"


"Kamu menanyakan ini sebagai istriku atau sebagai wartawan?"


"Kenapa kamu selalu bertanya begitu setiap aku menanyakan soal pekerjaanmu?"


"Karena akan sangat berbahaya jika kamu bertanya sebagai wartawan. Kamu akan menulisnya di catatan dan membuatnya menjadi sebuah berita."


Kaysa tertawa cukup keras. "Kamu konyol!"


"Dan kamu akan mengirimkannya ke kantor berita suatu hari nanti, ... lalu itu akan membuat karirku berakhir dengan cepat. Timku akan di bubarkan, dan pasukan hantu akan di hilangkan."


"Se fatal itukah?"


"Ya, karena secara formal kami tidak ada. Jadi, jika ada pemberitaan yang mengungkap keberadaan kami, maka itu di anggap sebagai pembongkaran secara masif. Dan itu di larang. Kamu akan mendapat masalah besar."


"Uuhh, ... berbahaya sekali ya?"


"Hu'um, ... makanya, ...


Kaysa tertawa lagi.


"Jadi apa kamu bertanya sebagai istriku, atau sebagai wartawan?" Rama mengulangi pertanyaannya.


"Sebagai istrimu lah, ... aku kan sedang tidak bekerja, sayang!"


"Baik akan aku ceritakan. Tapi, ..." pria itu menoleh ke belakang. Melihat ke dalam ruangan yang sepi.


"Aslan di mana?" dia kemudian bertanya.


"Sudah tidur dari tadi. Ini sudah malam tahu?" jawab Kaysa.


"Baiklah, ..." pria itu bangkit, dan dengan mudah mengangkat tubuh Kaysa dalam gendongan.


"Eh? ...


"Tapi sebelumnya biarkan aku melakukan sesuatu dulu."


"Apa?" Kaysa mengeratkan pelukannya di pundak Rama ketika pria itu berjalan tergesa melewati tangga.


Dan dalam sekejap saja mereka sudah tiba di kamar. Dia kemudian menurunkan Kaysa di atas tempat tidur lalu melucuti pakaian mereka berdua.


"Modusmu Ram!" Kaysa kembali tertawa, saat Rama dengan tergesa mencumbuinya. Namun dia segera menyambut cumbuan itu dan membalasnya dengan sama bersemangatnya.


Dua tubuh polos itu saling menempel satu sama lain. Kulit telanjang mereka terus bergesekan sehingga membuat suhu tubuh keduanya meningkat dengn cepat, seperti halnya hasrat yang langsung menanjak begitu mereka memasuki peraduan.


Rama menyentuh setiap bagian tubuh Kaysa hingga di bagian yang paling sensitif. Membuat perempuan itu menggeliat, dengan ******* yang di tahannya mati-matian.


Dadanya naik turun dengan cepat, dan gundukan indah itu membusung dengan puncaknya yang begitu menantang. Menarik keinginan pria itu untuk menyentuh dan mempermainkannya seperti yang selalu di lakukannya setiap kali mereka bergumul. Dan dia sangat menyukainya.


"Ah!" Kaysa memejamkan mata dengan kening yang berkerut tajam ketika Rama membenamkan miliknya pada pusat tubuhnya. Yang segera di lanjutkan dengan hentakan pelan pada awalnya.


Kemudian pria itu meneruskan cumbuan, mengecupi wajah, menyusuri leher, lalu menciumi dadanya. Lalu dia menyesap puncaknya yang telah mencuat, mempermainkannya di dalam mulutnya dengan perasaan gemas yang tak tertahankan.


"Uuuhh, ..." Kaysa menelusupkan jari-jari di sela rambut Rama yang mulai menebal, lalu merematnya dengan keras untuk menyalurkan perasaannya yang tak dapat dia jabarkan dengan kata-kata.


Seluruh tubuhnya meremang, jantungnya berdebar kencang, dan inti tubuhnya berdenyut keras. Seluruhnya seolah merespon setiap sentuhan dan hentakan yang Rama lakukan secara bersamaan. Apa lagi ketika bulu halus di rahang pria itu bersentuhan dengan kulitnya, membuatnya merasa semakin gila saja.


"Ah, ... Rama!" erangnya, dan dia mengangkat kepala, kemudian kedua matanya terbuka menatap wajah pria yang tengah berpacu di atas tubuhnya.


Rahangnya terlihat mengetat dengan giginya yang merapat. Tampak sekali dia berusaha keras menahan geraman.


Otot-otot di tubuhnya terlihat semakin mengencang seiring dengan hentakan yang semakin cepat. Dan keringat mulai membasahi seluruh tubuh mereka.


Rama menunduk dan bibir mereka segera kembali mencumbu, tanpa menghentikan hentakan yang semakin lama semakin menggila.


Kedua tangan Kaysa menggapai tubuh di atasnya, kemudian dia menyusurinya untuk merasakan segala yang dia lakukan kepadanya. Otot-ototnya yang semakin keras, semakin liat, dan semakin kuat. Rama bahkan menyeringai ketika perempuan itu menyentuh beberapa bekas luka di tubuhnya. Rasanya seperti ... ada sesuatu yang lebih yang dia rasakan setelahnya.


"Uuuhh, ... " Rama menempelkan kening mereka berdua. Sementara Kaysa meremat pinggulnya dengan keras.


"Ah, ... lebih cepat!" Kaysa menjatuhkan kepalanya ke atas tempat tidur, kemudian mendongak. Sementara pria di atasnya kembali menciumi lehernya.


Tubuhnya sudah merasa tidak kuat lagi menahan perasaan yang semakin lama semakin tak terkendali ini. Sesuatu di bawah sana bahkan semakin mengetat dengan sendirinya.


"Lebih cepat sayang, ah!!" racauannya semakin tak karuan, dengan des*han dan erangan yang tak mampu lagi dia tahan. Yang membuat Rama mulai merasa tidak sabar. Merasakam denyutan yang semakin hebat di bawah sana.


"Lebih, ... ahh ... cepat!" dia meremat pinggul pria itu lebih kencang kala pelepasan menghantamnya dengan keras. Menggulung kesadaran yang memang sudah tenggelam sejak beberapa saat yang lalu.


Dan di saat yang bersamaan Rama pun menghentak lebih keras dan lebih cepat sehingga dia juga menemukan ujung dari percintaan ini. Hingga akhirnya dia segera membenamkan miliknya lebih dalam, dan menekannya begitu keras seiring sesuatu dari dalam tubuhnya yang memancar begitu kuat. Diakhiri dengan lenguhannya yang tertahan.


*


*


*


Bersambung ...


Anu, ah ... sudahlah ...🤣🤣


like komen hadianya jan lupa ya


bye