
*
*
Kaysa perlahan menarik kain verban yang menempel di tubuh Rama. Melepaskannya satu persatu dari luka yang mulai pulih. Perasaannya tentu tidak baik-baik saja menatap tubuh suaminya yang seperti itu.
Goresan-goresan bertebaran dengan ukuran yang tidak beraturan, dan sebagian besar hampir mengering.
Kemudian Kisya membersihkannya dengan handuk kecil dan air hangat secara perlahan. Setelah itu menggantinya dengan verban yang baru.
"Jangan terlalu banyak Kay." Rama berujar. Dia duduk di tepi ranjang, pasrah dalam perawatan istrinya.
"Biasanya juga segini." Kaysa menambah lilitan verban pada luka yang telah di beri cairan obat sebelumnya.
"Karena kemarin-kemarin lukanya masih basah. Sekarang sudah membaik, jadi tidak perlu banyak-banyak."
Kaysa tak menjawab.
"Nanti rasanya kaku, dan aku tidak leluasa bergerak. Aku seperti menjadi mumi." Pria itu terkekeh.
Kedua bibir Kaysa tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Aslan di mana?" Dia menatap arah pintu yang tertutup rapat.
"Nonton tv."
"Bagaimana sekolahnya?"
"Dia kan tidak sekolah, masih mendapatkan tugasnya secara online."
"Tidak mau di pindahkan?"
"Aku belum mencari tahu, apa bisa sekolah di sini seperti sekolah sebelumnya? masalahnya Aslan tidak mau jauh-jauh dari rumah. Main saja dia baru berani hanya di depan teras."
"Sulit untuk menghilangkan rasa takutnya ya?"
"Ya, dokter bilang ini berkaita dengan kepercayaan dirinya yang belum sepenuhnya pulih. Dia mengalami semacam perasaan minder dan rendah diri, apa lagi di depan orang yang tidak di kenal."
"Malah bertambah lagi?"
"Iya, efeknya ternyata lebih parah dari yang kita kira." Kaysa sedikit menggeleng.
"Selesai." Dia menempelkan plester terakhir di ujung lilitan verban.
"Terus?"
"Tidak ada terusannya. Selain kita yang harus berusaha agar kepercayaan dirinya kembali, ya tidak ada lagi."
"Bukan itu, maksudku ...
Rama mengulurkan kedua tangannya pada oinggang Kaysa, kemudian menariknya agar mendekat.
"Jangan dulu Pak, kamu masih belum pulih." Perempuan itu tertawa pelan.
Rama meresponnya dengan senyuman, namun dia tak melepaskan tangannya. Dia menarik Kaysa hingga wajahnya merapat pada perut kemudian memeluknya dengan erat.
"Mama!" Aslan mendorong pintu dengan keras kemudian menerobos kedalam kamar.
Ke dua orang dewasa itu tak sempat menjauh meski mereka sedikit terkejut.
"Mana makanannya, aku nungguin dari tadi?" anak itu berjalan cepat ke arah ibunya.
"Astaga! Mama lupa." Kaysa menepuk kepalanya sendiri.
"Ya sudah, sebentar ..." Dia mencoba melepaskan tangan Rama yang masih melilit pinggangnya.
"Lepas."
"Tidak mau."
"Ram, aku harus ...
"Tidak mau, biarkan Aslan mengambil makanannya sendiri." Pria itu malah mengeratkan pelukannya.
"Om ih kayak bayi peluk-peluk mama terus?" Aslan mencibir, namun Rama hanya terkekeh.
"Mama, cepetan! Nanti acaranya keburu udahan!" protes Aslan, dan dia menarik tangan ibunya.
"Ambil sendiri Aslan, mama sedang merawat Om." Rama menyingkirkan tangan anak itu.
"Udah beres! Lagian Om kan udah gede, masa mau di rawat terus sama mama? rawat diri sendiri lah," ucap Aslan sekenanya.
"Apa?"
"Sana, mama kan juga harus urus aku, masa urus Om terus?"
"Tidak, kamu yang harus urus diri sendiri. Sebentar lagi delapan tahun, kamu sudah besar." Rama sambil tertawa.
"Nggak Om ih, ..." Aslan dengan kesal menyingkirkan tangan pria itu dari ibunya. Dia bahkan sempat mendorongnya, dan terjadilah pergulatan di antara dua pria beda usia itu.
"Kalau mau mama, kamu harus kalahkan Om dulu!"
"Bisa, cuma Om ini kok!" bocah itu naik ke tempat tidur lalu menduduki tubuh Rama, kemudian memukuli tubuh pria itu dengan tangan kecilnya.
"Hah, anak kecil!"
"Sebentar lagi udah besar, tahu!"
"Kamu ini, ... ugh!! aduh! sakit Aslan! badan Om masih sakit!" Rama berteriak sambil tertawa.
Sedangkan Aslan terus memukulinya.
"Ampuun!! ini masih sakit!"
"Udah aku bilang, mama juga harus urusin aku, bukan cuma Om!"
"Tidak!"
"Om!!"
"Sudah sudah! kenapa ini malah jadi ribut?" Kaysa ikut berteriak sambil memisahkan mereka.
"Om Rama nya rese Ma!"
"Om kan hanya mengatakan apa yang harus om katakan."
"Apa?"
"Kamu harus mengerjakan semuanya sendiri, karena mama harus mengurus Om."
"Sama aja!" Aslan hampir kembali menyerangnya.
"Eh, ..." Namun Kaysa menahannya.
"Ini lagi?" Dia lantas menepuk pundak Rama yang membuat pria itu benar-benar mengaduh.
"Ampun Mama," ucapnya, lalu dia tertawa lagi.
"Ayo berpakaian, terus kita makan." Perempuan itu berujar.
"Kerjakan sendiri!" Kaysa menarik Aslan keluar, sedangkan anak itu menyeringai mengejek ayah sambungnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa yang sedang kamu tonton?" Rama menghampirinya di sela kegiatan Kaysa mendampingi Aslan mengerjakan tugasnya.
"Bukan, hanya sedang mencari berita." Kaysa tanpa memalingkan pandangan dari layar laptopnya yang baru dia buka lagi setelah beberapa lama.
"Berita apa?"
Kemudian Kaysa menunjukkan apa yang tengah dia lihat. Beberapa berita kematian Livia di sebuah kanal berita online.
"Untuk apa kamu membuka berita ini lagi?" Pria itu duduk di sampingnya.
"Aku hanya penasaran. Kenapa kematian Livia tidak di usut tuntas, padahal menurutku ini merupakan kejadian luar biasa. Apa kamu tidak berpikir seperti itu?"
"Aku sudah berhenti berpikir begitu sejak menemukan kebuntuan dalam kasus ini. Terlebih aku sendirian."
"Kenapa tidak ada yang membantumu? kamu ini polisi, yang seharusnya mendapat keistimewaan untuk pengungkapan dan penyelesaian kasusnya. Apa lagi ini kasus pembunuhan anggota keluargamu. Satu nyawa melayang sia-sia, Ram."
"Tidak ada petunjuk sama-sekali, Kay."
"Mustahil. Tidak ada kejahatan yang sempurna, dan petunjuk apa pun bisa di temukan jika kita jeli."
"Hanya di temukan bekas cekikan, dan organ vitalnya yang rusak. Selebihnya tidak ada selain ponsel dan pakaian seragamnya yang hilang."
"Hhh ... dia kedinginan bahkan setelah kematiannya." Kaysa dengan hati ngilu.
"Siapa pun pelakunya dia pasti seseorang yang profesional. Faham soal masalah seperti ini dan sangat teliti. Tidak mungkin orang sembarangan."
Rama terdiam. Memang dia juga berpikir seperti itu. Tapi sekali lagi, tidak adanya petunjuk membuatnya menemui jalan buntu.
"Apa waktu itu kamu tidak meminta bantuan orang lain?"
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku orang baru dan tidak memiliki koneksi."
"Komandanmu bahkan tidak membantu?"
"Aku melarangnya setelah enam bulan penyelidikan dan tidak membuahkan hasil. Semua orang di repotkan karena kasus ini."
"Bukan di repotkan, tapi ada kejahatan yang harus di ungkap, dan keadilan yang harus di tegakkan. Agar korban mendapatkan apa yang layak."
Rama berpikir.
"Aku tidak bisa melupakan kasus ini begitu tahu korbannya adalah adikmu." Dia menutup laptopnya, kemudian berbalik sehingga kini mereka berhadapan.
"Jadi aku putuskan akan menyelidiki ini sendirian."
"Apa?"
"Baguskan? pekerjaan pertamaku akan mengungkap kasus ini, setidaknya untuk mencari petunjuk dan bukti baru agar mereka mau membuka lagi kasusnya."
"Entahlah Kay, ...
"Percayalah, aku akan melakukannya."
"Tapi ...
"Aku akan melakukannya dari sini, mungkin sesekali keluar jika di perlukan tapi itu tidak akan lama."
"Baru saja aku mengalami hal buruk, dan menyebabkan keselamatanmu dan Aslan terancam, lalu aku harus membiarkan kamu menyelidiki kasus ini?"
"Memangnya kenapa?"
"Jika yang kamu katakan itu benar, bahwa dalang di balik pembunuhan Livia adalah seseorang yang profesional dan bukan orang sembarangan, maka aku harus membiarkanmu menghadapi bahaya."
"Begitukah?"
"Kamu tahu, bahwa aku juga berpikran sama, tapi aku memilih untuk menepi sebentar. Berusaha mencari awal dari semua ini dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk."
"Kemungkinan terburuk apa?"
"Bahwa nanti aku akan menemukan hal tidak terduga lainnya."
"Misalnya?"
Rama kembali terdiam.
"Apa kamu mencurigai sesuatu? atau seseorang? mungkin orang terdekatmu?"
"Orang tedekat siapa? aku tidak punya orang dekat yang berpotensi melakukan kejahatan kepadaku apa lagi Livia. Kami di kelilingi orang-orang baik sejak kecil. Tetangga bahkan sangat menyayanginya sehingga aku percaya untuk menitipkannya kepada mereka."
"Tapi kita tidak tahu yang sebenarnya."
"Maksudmu?"
"Kamu tahu, terkadang kejahatan bisa di lakukan oleh orang terdekat yang tidak kita duga. Sebagai polisi seharusnya kamu berpikir ke arah sana."
"Kamu ini penegak hukum, sudah semestinya instingmu bekerja untuk hal-hal seperti ini. Bukan hanya untuk menyelesaikan misi berbahaya saja. Tapi juga untuk keluargamu."
"Atau, ... karena ini kasus keluargamu jadi kamu tidak berniat mengungkapnya hanya karena pekerjaan?"
"Apa lagi itu Kay?"
"Kamu lebih mengedepankan tugas negara, di bandingkan keluargamu?"
"Kamu tahu bukan itu alasannya!" Rama menyanggah perkataannya.
"Lantas apa? atau kamu takut?" Kaysa mencondongkan tubuhnya.
"Takut apa? aku ini di latih untuk tidak merasa takut terhadap apa pun. Bahkan menghadapi kematian sekalipun."
"Benarkah?"
"Ya."
"Maka biarkan aku mencari bukti agar kematian Livia terungkap. Sehingga kasusnya di buka lagi dan mereka memulai penyekidikannya kembali."
"Kamu gigih juga ya?" Pria itu terkekeh.
"Sudah tahu kan?"
Rama menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kalau sudah begini, dia bisa apa? Karena perempuan itu sepertinya tidak akan berhenti sekalipun dia melarangnya.
*
*
*
Bersambung ...
like komen sama hadiahnya masih selalu di tunggu.
lope lope sekebon Korma.😘😘