
*
*
Rama mengenakan handwrapnya yang sudah cukup lama dia abaikan. Telah dua minggu berlalu sejak kepulangannya dari Australia dan dia memulihkan cedera di tubuhnya. Dan kini saatnya kembali pada rutinitas yang setiap hari dia jalani.
Kebiasaannya melakukan olah raga membuatnya merasa jengah ketika harus berhenti sementara karena cedera tersebut.
"Sudah mau latihan lagi?" Kaysa muncul setelah selesai menyiapkan sarapan mereka.
"Ya, sepertinya aku terlalu lama istirahat." Rama menjawab pertanyaannya.
"Tidak mau sarapan dulu?" tawarnya kepada Rama.
"Nanti saja, tanggung. Lagi pula aku sudah minum susu tadi." pria itu tergelak, mengingat kejahilannya yang dia lakukan kepada Kaysa untuk melampiaskan kekesalannya.
"Memangnya tubuhmu sudah tidak sakit?" perempuan itu bertanya sambil memutar bola matanya.
"Sedikit."
"Terus kenapa bukannya diam dulu? sebentar lagi saja."
"Rasanya tidak enak, mungkin karena terbiasa di gerakkan sedangkan beberapa minggu ini aku diam saja." Rama kini menahan senyum, tampak sekali jika dia sedang meratapi keadannya sendiri yang tidak bisa melakuakn banyak hal.
"Hmm ...
"Lagi pula aku tidak punya kegiatan selain duduk menemani Aslan belajar, dan itu membosankan. Sekarang aku tahu rasanya jadi dia." Rama bangkit dari kursinya.
"Mau latihan bersama? Aku perhatikan kamu juga tidak latihan sejak aku pulang." ajaknya kepada Kaysa.
"Entahlah, ... pekerjaanku banyak. Dan lagi aku kan harus ...
"Ayo, agar kamu kuat. Bukannya mau menyelidiki kasusnya Livia?" Rama mengenakan sarung tinjunya.
"Apa hubungannya?"
"Mungkin kamu akan membutuhkannya nanti."
"Memangnya apa yang akan aku hadapi?"
"Tidak tahu, tapi seperti yang aku katakan tadi, mungkin kamu akan membutuhkannya."
"Umm, ... tapi aku kan belum makan ..." Kaysa hampir saja menghindar.
"Tadi segelas kopi dan satu potong roti itu apa?" Rama mengingatkan apa yang di lihatnya ketika bangun tidur dan menemukan perempuan itu baru saja menghabiskan rotinya di ruang makan.
"Hah, apa? itu, umm ... hanya pengganjal perut. Kamu tahu, kalau bangun tidur kan suka lapar, jadi harus di isi dulu."
"Oh ya?" Rama tertawa. "Lalu sarapannya?"
"Ya sekarang ini baru mau." Kaysa hampir saja beranjak.
"Baiklah kalau begitu." pria itu melenggang ke halaman belakang di mana tempat latihannya kini berada dan alat kebugarannya yang siap untuk di gunakan.
"Tapi mencari beritanya tidak usah di lanjutkan ya? aku khawatir kalau nantinya kamu akan menghadapi hal berbahaya, dan aku tidak ada di sana untuk membantu." Rama pun keluar dari dalam rumahnya.
"Baiklah baik!" namun Kaysa ternyata menyusulnya ke belakang.
"Ganti bajumu dulu Kay," ucap Rama sambil menahan senyum. Dia kini faham jika perempuan itu harus di beri motivasi terlebih dahulu.
"Memangnya kenapa? kita sama-sama memakai kaus dan celana pendek." Kaysa memeriksa penempilannya sendiri yang mengenakan kaus kedororan dan celana pendek milik suaminya.
"Hanya saja ...
"Jangan membuatku merasa malas lagi! yang penting aku tidak memakai jeans untuk olah raga!"
"Ya baiklah, terserah padamu." Rama menahan tawa.
Mereka berlatih bersama setelah beberapa lama. Kemudian saling berhadapan untuk melatih kemampuan masing-masing.
"Pukulanmu melemah, Kay." Rama menangkis serangan Kaysa.
"Karena aku belum makan." Perempuan itu menjawab.
"Aku juga belum makan." dia balas menyerang.
"Kamu terbiasa, sedangkan aku tidak." Kaysa balik menahan.
Tendangan dia layangkan ke arah pundak, dan Rama kembali menangkis. Hal itu terjadi untuk beberapa kali. Saling menyerang dengan pukulan dan tendangan, membungkuk untuk kenghindar, bergeser untuk mengelak, kemudian sesekali melawan.
Terkadang Rama melangkah mundur untuk mengalah, membiarkan perempuan itu mengerahkan segenap kemampuannya, dan sesekali dia berbicara untuk menyemangatinya.
Sementara Kaysa bertahan untuk tidak segera tumbang karenanya.
"Masih kuat?" Rama dengan keringat yang sudah bercucuran, tapi dia belum akan menyudahi sesi latihan hari ini.
"Kuat, hanya begini saja." Kaysa pun dalam keadaan yang sama.
Rama tertawa di sela napasnya yang terengah-engah.
"Kalau hanya ... memukul ..." Kaysa mendaratkan pukulan ke arah wajah, namun kembali di tangkis oleh Rama.
"Dan menendang seperti ini ..." dia lanjutkan dengan menendang, dan kembali pria itu dapat menahannya.
"Aku masih bisa!" Kaysa berucap. Yang kemudian berusaha menarik kakinya yang Rama cengkeram dengan erat.
Napasnya pun sama terengahnya, dan Kaysa berhenti sejenak.
"Benar masih kuat?" muncul seringaian di wajah Rama. Melihat perempuan itu yang sudah kepayahan tapi dia berusaha tetap bertahan.
Kaysa tak menjawab, namun terus berusaha melepaskan kakinya yang ada dalam cengkeraman suaminya.
"Kalau latihannya di lanjutkan ke yang lain masih bisa?" katanya, dan dia berjalan mendekat.
"Umm, ...
"Umm, ... papa nelefon." Aslan muncul dengan ponsel Rama di tangannya yang berdering nyaring. Dan kontak Radit yang masih terus memanggil.
"Ya?" dua orang dewasa itu segera menjauh.
"Iya, dari tadi bunyi terus." ucap Aslan yang memberikan benda pipih tersebut kepada Rama yang segera di terima oleh ayah sambungnya itu.
"Ya, halo?" Rama menjawab panggilan.
"Apa kalian sudah pulang? bisakah aku menjemput Aslan sekarang?" suara Radit terdengar keras di seberang sana.
Rama tampak memutar bola matanya.
"Sebentar lagi aku lewat tempat tinggal kalian, sekalian aku ke sana ya?" katanya lagi.
Rama tidak langsung menjawab.
"Hanya satu hari, nanti sore aku kembalikan."
"Memangnya dia itu barang ya?" pria itu bereaksi.
"Habisnya kau tak menjawab."
"Aku hanya sedang berpikir tahu!"
"Apa lagi yang kau pikirkan? bukannya kau sudah janji jika kalian sudah kembali kau sendiri yang akan mengantarkannya kepadaku?" Radit mengingatkan percakapan mereka terakhir kali.
Rama menghela napa keras.
"Tunggu di sekitar GBK, kita bertemu di sana." ucap Rama kemudian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau ini kenapa?" Radit mengerutkan dahi begitu mereka bertemu. Melihat wajah Rama yang masih terdapat bekas luka dan lebam.
"Kecelakaan di tempat liburan ya?"
"Bukan urusanmu." pria di depannya menjawab.
"Atau bertengkar dengan Kaysa? wah, ... dia galak juga rupanya?" Radit tertawa karena pikirannya sendiri. Membayangkan pria kekar di hadapannya yang kalah oleh perempuan dengan tubuh mungil seperti mantan istrinya itu.
"Apa yang kau lakukan sehingga dia membuatmu babak belur seperti ini?" tanyanya lagi.
"Sudah aku katakan itu bukan urusanmu." Rama menjawab lagi
"Baiklah, seperti janjiku untuk mengantarkan Aslan kepadamu, dan ingat juga janjimu untuk mengembalikannya sore nanti." Rama menyerahkan tangan Aslan kepada Radit, yang segera pria itu terima dengan suka cita.
"Sebenarnya terserah aku, kan dia anakku." Radit bergumam.
"Bukan aku yang menjanjikannya, tapi kau ingat?"
Pria itu malah mendenguskan napasnya agak keras.
"Sudahlah, aku pergi. Nanti telefon lagi saja, aku yang akan menjemputnya." Rama mengusap puncak kepala anak sambungnya itu untuk berpamitan.
"Dah Aslan, jangan nakal ya? nanti mama jemput." Kaysa yang melambai dari dalam mobil.
"Kalian punya sopir ya sekarang? Huh, hebat sekali ayah tirimu itu ya? baru segitu pekerjaannya sudah pakai sopir? memang sebesar apa gajinya di kepolisian? paling standar ASN." Radit masih memperhatikan hingga Rama masuk ke bagian belakang mobilnya.
"ASN itu apa Papa?" Aslan yang sejak tadi mendengarkan ayahnya mengoceh.
"Aparat Sipil Negara." Radit menjawab.
"Om Rama kan polisi, bukan ASN."
"Sama saja." dia menarik putranya ke arah mobil miliknya.
"Emang ASN itu kerjaannya sama kayak om Rama ya?"
"Memangnya pekerjaan ayah tirimu itu apa? paling bertugas di kantor atau menerima laporan masyarakat." mereka masuk ke dalam mobil.
"Nggak ih, om Rama kerjaannya kan menangkap penjahat." Aslan menjawab.
"Ya ya ya, ..." Radit menanggapinya dengan tawa.
"Kemarin aja sampai naik-naik pesawat terbang gara-gara om Ramanya kecelakaan."
"Hah? naik pesawat? maksud kamu liburan?"
"Nggak, ke rumah sakit. Naik pesawatnya lamaaaaaaa banget, terus di sana om Rama di bikin kayak mumi."
"Apa lagi itu?"
"Badannya, berdarah-darah ... luka." anak itu terus mengoceh.
Sedangkan Radit hanya mengerutkan dahi, antara bingung heran dan sedikit tidak percaya.
"Memangnya apa yang dia lakukan?"
*
*
*
Bersambung ...
biasa atuh genks, ... like komen sama kirim hadiah yang banyak.
lope lope sekebon korma 😘😘