
*
*
"Radit masih belum sadarkan diri, dia mengalami gegar otak parah, dan beberapa bagian tubuhnya terluka." Adam keluar dari kamar rawat setelah penanganan khusus pada Radit.
"Bawahanmu?" Rama melirik keadaan pria itu yang tak berdaya di dalam sana.
Adam menggelengkan kepala. "Mereka tak bisa bertahan. Benturan itu terjadi sangat keras dan keduanya mengalami luka yang terlalu parah. Terlebih mereka melindungi Radit dan Aslan sebelum akhirnya mereka di tembak di bagian kepala."
Tangis Kaysa langsung saja pecah. Kepalanya di penuhi tentang putranya yang belum di ketahui berada di mana. Apa lagi mengingat keadaan Radit yang seperti itu, bisa di pastikan Aslan juga mengalami hal yang sama.
"Kaysa!" mantan mertuanya tiba setelah beberapa saat.
"Bu? Ayah?"
"Kenapa bisa terjadi seperti ini?"
Rama maju untuk mengantisipsi hal terburuk, melindungi Kaysa dari kemungkinan di persalahkan atas apa yang telah terjadi. Kemudian dia bersama Adam menjelaskan kepada pasangan ini dengan detil dan sejelas-jelasnya, agar tak terjadi kesalah fahaman di antara mereka.
"Maaf Bu." Kaysa menyela setelah dua pria itu menjelaskan, dan kedua mantan mertuanya tidak mampu berkata-kata.
"Kami pastikan Radit dijaga dengan baik, pasukan sudah berjaga di sekitar rumah sakit dan Anda berdua tidak perlu khawatir." Adam menunjuk ke luar jendela, di mana sebuah panser siaga dengan beberapa pertugas. Seperti halnya dua anggota di depan pintu.
"Katakan saja kepada mereka apa yang anda perlukan, semuanya aka mereka siapkan." lanjutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dikka menurunkan tas berisi pakaian Kaysa lalu meletakannya di sebuah ruangan menyerupai kamar di sebuah markas yang tak dia ketahui kini dirinya berada di mana. Dua pria itu membawanya ke tempat yang tak pernah dia kunjungi sebelumnya.
"Di sana sudah tidak aman. Kita tidak bisa mempercayai siapa pun lagi." Rama mengerti ekspresi wajah istrinya yang tampak bertanya-tanya.
"Hanya di sini, tempat yang bisa aku percayai untuk meninggalkanmu." katanya, dengan banyak pertimbangan sebelumnya.
Kemudian perhatian mereka teralihkan ketika beberapa pria berpakaian hitam masuk. Dengan senjata lengkap seperti pasukan yang siap bertempur.
"Kami siap." Garin, yang di kenali oleh Kaysa sebagai rekan suaminya di kesatuan.
"Dia pasukan hantu, tidak akan berkhianat kepada tempatnya bernaung." Rama berujar, yang melihat raut curiga di mata Kaysa.
"Kalian tahu resikonya? mungkin setelah ini kita akan kehilangan pekerjaan. Fasilitas negara, dan juga hak-hak kita." Rama menatap rekan-rekannya. Satu-satunya hal yang masih bisa dia percayai untuk menaruh harapan.
Meski dalam kegamangan dan kewaspadaannya akan kemungkinan di khianati seperti halnya oleh beberapa orang yang sebelumnya dia percayai. Mereka berunding dan membicarakan banyak hal sebelumnya, termasuk kasus yang tengah mereka selidiki.
"Jadi aku mempersilahkan jika kalian akan mundur," katanya, kepada ke enam rekannya.
Mereka terdiam.
Kemudian orang terakhir berlari masuk di antara barisan dan meyerahkan beberapa file kepada Adam.
"Kalian tidak akan meninggalkan aku kan?" Junno yang baru saja pulih dari cederanya datang membawa informasi yang dia dapat.
"Kau akan dapat masalah besar karena membantuku, Jun." Rama bereaksi.
"Bahkan komandan tertinggi pun tidak akan bisa menghentikan aku, Ram. Kami tahu keadaannya seperti apa, dan kau tak bisa melakukannya sendirian." jawab Junno dengan bersemangat.
"Sudah kuduga." Adam memberikan data yang Junno bawa kepada Rama.
"Orang-orang suruhan Alvaro yang melakukannya," katanya.
"Apa?"
"Lihat tanda di tangan mereka?" Pria itu menunjuk sebuah tato khas di punggung tangan pria-pria pada gambar yang di tangkap kewat satelit pada kejadian sore tadi.
"Tato yang sama, yang ada pada anak buahnya Alvaro yang kita tangkap waktu itu." Dia mengingatkan kejadian terakhir sebelum mereka di bebas tugaskan.
"Kenapa mereka? aku kira suruhan Alan?" Kaysa maju beberapa langkah, setelah beberapa saat mendengar percakapan tersebut. Mengingat apa yang dia lakukan sebelumnya kemungkinan di ketahui oleh pria itu.
"Ta-tadi aku ... melihat Alan di jalan, dan sempat mengikutinya ke sebuah tempat. Aku kira itu yang menyebabkan Aslan ...
Kemudian Dikka berlari masuk setelah beberapa saat dia berada di pos penjagaan.
"Nyalakan televisinya Pak." katanya dengan raut panik.
"Ada apa?"
"Hanya nyalakan saja," ulangnya, dan Kaysa segera melakukan apa yang di katakan oleh pria itu.
Sebuah acara berita tengah berlangsung, dan secara kebetulan membahas kejadian tadi sore. Sebuah tabrakan di jalanan kota yang melibatkan dua mobil. Kemudian si pembawa berita berbicara jika mereka mendapat panggilan lewat satelit dari satu kawasan.
Panggilan tersebut segera menayangkan rekaman video bernada ancaman secara terang-terangan. Dan seorang pria dengan penutup wajah berwarna hitam berbicara dalam bahasa Inggris.
"Kami mengaku bertanggung jawab atas insiden tabrakan yang terjadi sore ini. Sebagai peringatan keras terhadap pemerintah Indonesia yang telah bersekutu dengan Australia atas penangkapan saudari kami." Semua orang menyimak dengan serius.
"Dan kami menyerukan untuk sebuah pertukaran." kemudian mereka menampilkan cuplikan sebuah video, di mana seorang anak laki-laki tengah di ikat dengan mata tertutup di sebuah ruangan.
"Aslan!" Dan Kaysa segera mengenalinya.
"Kami menginginkan Anna, untuk ditukar dengan anak ini."
Kaysa limbung, dan dia hampir tak mampu menguasai dirinya sendiri.
"Berikan kami juga seorang petugas bernama Rama untuk mengantarkannya, maka kami pastikan anak ini baik-baik saja."
Jagat maya tentu saja segera di kuasai oleh pembahasan dengan tanda pagar penculikan seorang anak. Yang segera menjadi trending topik hampir di seluruh dunia.
Mereka terdiam untuk beberapa saat.
"Dan kami peringatkan untuk tidak mengerahkan kekuatan militer apa pun, atau anak ini tidak akan kembali dengan selamat." katanya, dan setelah itu sambungan pun terputus.
Kaysa kembali histeris, dan Rama berusaha menenangkannya.
"Kita harus bergerak cepat, Ram." Adam mengingatkan.
"Mereka berbuat secara terang-terangan sekarang, dan ini bukan hanya tentang kau dan Aslan."
"Tapi negara diam saja." Rama belum melepaskan Kaysa dari pelukannya.
"Maka kita akan bergerak sendiri." Suara yang sangat mereka kenal muncul dari belakang. Membuat mereka segera memalingkan perhatian.
Bimasakti bersama dua ajudannya tiba tak lama setelah siaran dengan nada ancaman tersebut berakhir.
"Mereka ingin balas dendam." pria itu berjalan masuk.
Tak ada yang berbicara, mereka berkutat dengan pikirannya masing-masing tentang pria ini. Seperti yang semua orang ketahui bahwa dia sebagai petinggi sebuah kesatuan elit yang memiliki pengaruh cukup besar dalam dunia militer. Dan tidak menutup kemungkinan jika pria ini mengetahui sesuatu.
"Kau tahu, adalah sebuah pelanggaran berat jika mereka melibatkan rakyat sipil dalam urusan negara. Apa lagi anak-anak," ucapnya di depan Rama.
"Tapi mereka tidak tahu siapa yang sedang mereka libatkan," lanjutnya, kemudian dia berbalik, lalu menatap wajah-wajah tegang anak buahnya.
"Lupakan masalah lain, kita tangani dulu yang satu ini," katanya lagi, begitu melihat salah satu ajudannya menganggukkan kepala.
*
*
*
Bersambung ...
like komen dan hadiahnya jangan lupa kirim ya gaess😉😉