
*
*
Rama menemukam sebuah lorong kecil dibalik tembok. Jalan menuju sebuh pintu di permukaan dengan tangga terbuat dari besi. Dia segera berlari ke sana dan menemukan jalan keluar di sisi lain pulau.
Alvaro dan Anna sudah berhasil keluar dan mereka tengah menuju ke sebuah heli kopter di sebuah landasan. Dan seperti yang sudah dia duga, hal ini sudah diatur sedemikian rupa sehingga tampak seperti pertikaian serius antara satu gerombolan penjahat melawan satu pasukan aparat. Dan dirinya, mungkin juga bersama timnya telah di jadikan boneka.
"Ram!" Garin pun tiba beberapa saat kemudian.
"Apa yang kau lakukan di sini? bukankah aku memerintahkanmu untuk pergi?" Rama bereaksi.
"Cepatlah kembali, dan selamatkan Aslan!" perintahnya kepada Garin.
"Aslan sudah di selamatkan, aku yakin Adam akan melakukan apa yang di perlukan, jadi ...
"Omong kosong! kau membahayakan dirimu sendiri dan juga karirmu dengan mengikuti aku."
"Dan kau akan membiarkan aku hanya menjadi penonton, sementara kau menjadi pahlawannya?" tukas Garin.
"Pahlawan apa? aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."
"Begitupun aku." Garin mengokang senapannya.
"Heli kopter?" dia menatap wajah Rama ketika dua orang di depan sana sudah mencapai landasan heli, dengan bantuan dan penjagaan dari beberapa pria berseragam tentara.
"Kau tahu, Alvaro benar. Kita telah menjadi boneka dari satu pihak yang mengambil keuntungan dari kericuhan ini. Dan segala hal memang berkaitan. Perampokan itu, ledakan di kafe, juga segala penggerebekan yang kita lakukan."
Rahang Garin mengetat.
"Dan yang paling fatal adalah kematian Livia juga ada kaitannya dengan mereka. Padahal dia tidak sengaja berada di tempat itu saat mereka tengah berunding dan membagi-bagikan uang sogokan."
"Kurang ajar! mereka iblis."
"Bahkan derajat iblis pun masih lebih tinggi dari mereka. Dan aku tidak akan membiarkan iblis-iblis ini berkeliaran di muka bumi." Rama merebut senjata dari tangan Garin, kemudian memposisikannya untuk menembak.
Dia memicingkan mata, kemudian menarik pelatuk pada senapan sehingga benda itu memuntahkan pelurunya yang dalam sekejap menumbangkan satu persatu pria-pria penjaga itu.
Anna terlihat bersusah payah menarik kakaknya menuju heli kopter. Belum lagi dengan keadaan tangannya yang cedera akibat tindakan Rama, membuatnya semakin bertambah payah saja.
Dan kini, dia menjadi semakin sulit karena pria itu sudah mengetahui keberadaannya. Para penjaga yang sudah Alvaro bayar pun telah tewas terkena tembakan dari atas bukit. Dan dia yakin itu adalah perbuatan Rama.
Anna tidak ingin melihat ke belakang, dan dia mempercepat langkahnya ke arah heli yang sudah siap terbang. Bahkan Alvaro yang terjatuh pun tak dia hiarukan. Meskipun kakak laki-lakinya itu terus berteriak dan memintanya kembali, namun Anna tak peduli.
Baling-baling berputar cepat dan heli pun bergerak naik. Di sela tembakan bertubi-tubi dari senapan di tangan Rama, benda tersebut tetap melayang di udara.
Dua pria itu keluar dari dalam bunker dan berlari ke arah landasan, dengan tetap menembakan senapan mereka.
"Sial!" Tetesan darah dari kepala menghalangi pandangan Rama sehingga tidak mampu membidik sasaran dengan tepat.
"Apa lagi yang kau bawa di sini?" Pria itu menarik tas yang Garin bawa, kemudian menjatuhkannya ke tanah.
Dia membukanya dengan cepat dan bermacam-macam senjata ditemukannya di dalam sana.
Sebuah senjata asing menarik perhatiannya. Berbentuk sepeti paralon pendek berukuran tiga inci. Rama menariknya dari tumpukan dan melihatnya dengan teliti.
"Aku mendapatkannya di markas." Garin merebutnya, kemudian menekan satu tombol di ujung, yang membuat benda tersebut berubah ukuran menjadi lebih panjang.
"Kau mau menggunakan ini?" katanya, dan dia menarik hal lainnya dari dslam tas.
Benda berbentuk peluru namun dalan ukuran lebih besar, kemudian memasukkannya kedalam senjata itu.
"Tekan tombol merah. dan pelurunya akan meluncur ke sasaran yang kau bidik, kemudian meledakan apa pun dengan mudah." jelasnya, yang kemudian menyerahkannya kembali kepada Rama.
"Basoka?" rekannya itu mengerutkam dahi.
"Kau pintar." Garin menyeringai.
Kemudian perhatian mereka beralih pada heli kopter yang melintas di atas kepala.
"Cepat, sebelum helinya menjauh!" Garin berucap.
Dan setelah itu, Rama meletakan benda tersebut di pundak, membidik lewat teropong digital di sisinya, lalu mengunci sasaran yang bergerak di atas mereka.
Sedetik kemudian dia segera menekan tombol peluncur sehingga peluru yang sebelumnya Garin masukkan melesat menuju sasaran, dan
BOOM!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kaysa mendengarkan penjelasan Junno dengan napas yang dia rasakan hampir habis. Putranya sudah di selamatkan dan kini tengah dalam perjalanan ke tempat aman. Namun suaminya tidak di ketahui keadaannya setelah memutuskan untuk mengejar dua penjahat paling di cari di dunia.
"Mungkin dia tidak selamat," ucap Junno.
"Tidak!" Kaysa menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Kau ingat bukan, apa yang suamimu perintahkan?"
Kaysa menggelengkan kepala tanda penolakan.
"Kita harus melakukannya sekarang."
"Dia pasti kembali, aku yakin!" Kaysa dengan isakannya.
"Tapi kita sudah mendapatkan perintahnya." ucap Junno lagi.
"Kita tunggu sampai Rama kembali."
"Tapi terlalu lama, sementara ..." ponsel Junno berdering lagi.
Sebuah panggilan video dari Adam dan dia segera menjawabnya.
"Lakukan siaran sekarang. Ada ledakan di sisi lain pulau dan aku yakin itu perbuatan Rama." katanya, yang segera mengalihkan kamera ponselnya ke arah kepulan asap di kejauhan.
"Baik." Junno menjawab.
"Kau dengar Kay? ayo kita lakukan."
Mereka segera bersiap.
Junno mengetikkan sesuatu pada laptopnya, semacam angka-angka dan rumus yang hanya dia saja yang tahu. Sementara Kaysa menyiapkan diri di depan kamera kecil miliknya yang sudah dalam mode rekam.
Flashdisk Junno pasangkan di laptop, kemudian dia menekan satu tombol yang segera membuatnya tersambung pada server jaringan siaran beberapa stasiun televisi nasional.
Dan secara serentak rekaman di kantor polisi yang di temukannya tempo hari segera tersiar. Dalam waktu beberapa menit dunia siaran di kuasai oleh rekaman cctv dua tahun yang lalu. Di mana dua orang paling berpengaruh di Jakarta terlibat kasus suap atas sebuah tindakan melanggar hukum. Yang tentu saja membuat suasana menjadi gempar.
Tak ada seorang pun yang mampu menghentikan siaran tersebut, dan Junno memang melakukannya dengan sangat baik. Dia mengantisiapasi segala kemungkinan perestasan kembali oleh pihak stasiun tivi yang siarannya dia kuasai.
Rekaman berakhir, dan Junno mengisyaratkan kepada Kaysa untuk segera berbicara di depan kamera yang menyala.
Perempuan itu berdeham untuk menetralisir kegugupannya. Namun dia tetap bersikap tenang. Hal ini memang harus mereka lakukan, terlepas dari resiko besar yang menanti setelah ini.
"Selamat sore. Rekaman di atas adalah merupakan sebuah bukti dari kasus suap yang melibatkan petinggi kepolisian di Jakarta, dengan seorang editor sekaligus pemilik stasiun televisi di Indonesia." Suara Kaysa terdengar bergetar.
"Seperti yang sudah di ketahui, jika Frans pernah terlibat kasus pelecehan dengan seorang reporter lepas, namun kasus itu menghilang begitu saja setelah reporter melakukan klarifikasi." Kaysa menghirup napasnya sebentar sebelum kemudian rekaman beralih pada video lain, di mana gadis berseragam SMA yang dia kenali sebagai Livia berlari setelah di ketahui memergoki pertemuan tersebut.
"Seorang gadis yang di ketahui bernama Livia Hadinata menjadi saksi dalam peristiwa tersebut, namun sayang nyawanya segera di lenyapkan untuk menghilangkan barang bukti." Dia merasakan tenggorokkannya seperti tercekat.
"Yang tiga hari kemudian mayatnya di temukan di pinggiran kota Jakarta dalam keadaan telanjang dan kegadisannya sudah terenggut." cuplikan sebuah berita kematian pada dua tahun yang lalu pun di masukkan dalam siaran tersebut.
"Dan hari ini, setelah dua tahun lebih peristiwa tersebut terjadi, semua misteri mulai terpecahkan ketika satu pasukan berjuang menyelamatkan seorang anak laki-laki dari penculikan." Cuplikan lain Junno masukkan.
Di mana rekaman penculikan yang menjadikan Aslan sebagai korban, kemudian rekaman pada saat penyelamatannya beberapa saat yang lalu yang Adam kirimkan kepadanya.
"Dan kami menemukan segalanya saling berkaitan. Antara kasus pelecehan sek*ual, kasus suap, juga kasus narkoba yang melibatkan jaringan internasional. Juga kasus penculikan ini yang menjadi pengalihan perhatian atas kasus lainnya. Dan satu hal yang pasti, dunia telah di bohongi oleh mereka yang meletakkan kepentingan pribadi di atas segalanya." Perempuan itu hampir menyudahi siarannya.
"Saya Kaysa Mella, meliput untuk kebenaran yang telah di bungkam selama ini." katanya, kemudian siaran tersebut di putuskan oleh Junno.
Dunia maya segera ramai oleh perbincangan setelah siaran tersebut berakhir. Nama Kaysa Mella, Livia Hadinata, dan Aslan muncul menjadi trending bahasan utama hari itu. Di susul oleh kepolisan dan kasus suap yang melibatkan Frans juga beberapa orang lainnya.
Dan tanda pagar save Livia, save Aslan, juga Rip kebenaran segera bertebaran menguasai jagat online untuk beberapa saat ke depan.
*
*
*
Bersambung ...
like komen dan hadiahnya jangan lupa ya? kalau nt lancar hari ini crazy up.