
*
*
Rama tidak mau menunda kepulangan. Begitu bantuan tiba untuk menjemput, dia memutuskan untuk segera bertolak ke tanah air. Pun dengan Aslan dan semua rekan-rekannya.
Mereka bahkan merawat lukanya dalam perjalanan pulang di pesawat Herculles, juga berusaha menyadarkan Aslan dari pingsannya.
"Bagaimana keadaannya?" Rama tak bisa melepaskan pandangan darinya.
"Dia tidak apa-apa, hanya luka memar di punggung akibat benturan." Seorang dokter khusus yang memang sudah di persiapkan oleh pasukan menjelaskan.
"Kau yakin?"
"Yakin. Aku sudah memeriksanya dengan teliti. Ketidak sadarannya hanya karena dia terlalu shock."
Rama mengangguk-anggukkan kepala.
Bimasakti muncul setelah beberapa saat, dan dia langsung duduk di depan Rama.
"Bagaimana denganmu?" dia segera bertanya.
"Saya baik-baik saja, luka seperti ini tidaklah seberapa." Rama menjawab.
"Syukurlah."
"Anda tahu soal ini?" Rama mengalihkan pandangan kepada komandannya itu.
Bimasakti tak langsung menjawab.
"Anda tahu tentang semua konspirasi ini, tapi anda diam? anda terlibat?" tanya nya dengan suara dingin dan rendah. Dia tak merasa gentar meski yang di hadapinya adalah arasannya sendiri.
"Aku tahu," jawab Bimasakti, dan ucapannya itu sukses membuat Rama mengetatkan rahangnya dengan keras.
"Tapi tidak punya bukti." lanjutnya, seiring dengan enam anggota pasukan hantu lainnya yang mucul di sekitar mereka.
"Maka dari itu aku mengajukan kepada negara untuk membentuk pasukan hantu ini."
Semua orang terperangah.
"Kau tahu, mereka sangat licik sehingga menghalalkan segala cara untuk menghilangkan barang bukti, bahkan sebuah nyawa tidak lagi berharga jika itu memang perlu dihilangkan."
"Negara tidak diam, tapi setiap prajurit hanya menjadi korban sia-sia ketika mereka mendapatkan bukti, dan kau tahu apa yang terjadi setelahnya? mereka di singkirkan."
Bimasakti menatap ke tujuh anak buahnya satu persatu.
"Orang-orang seperti kita, akan mendapatkan musuh yang sangat banyak begitu mengungkap sebuah kasus. Karena apa yang kau lakuakan telah membuat kasus lainnya terangkat ke permukaan. Dan mungkin itulah yang akan kau hadapi nanti."
"Aku tidak takut." Rama menggeram.
"Pertahankan keberanianmu, karena hanya itu yang bisa membuatmu tetap kuat di tengah tempaan masalah yang bertubi-tubi nanti."
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Adam bertanya, bermaksud mengantisispasi hal yang akan terjadi selanjutnya. Karena dia tahu, akan segila apa rekan sekaligus atasannya itu jika dia tiba di Jakarta nanti.
"Kau pikir apa yang akan aku lakukan?" Rama balik bertanya.
"Aku hanya ...
"Membuat perhitunganlah, apa lagi?" sambung Rama, yang sukses membuat semua rekannya menahan napas.
"Mereka sudah ditahan." Garin memberitahukan setelah mendapat berita dari tanah air.
"Di tahan saja tidak cukup." Rama berujar. "Mereka akan tetap menggunakan uang dan pengaruh untuk melepaskan diri dari tanggung jawab dan hukuman."
"Kau akan balas dendam?" Garin bertanya.
"Biarkanlah hukum yang melakukan."
"Hukum omong kosong. Aku saja sebagai aparat tidak bisa berbuat apa-apa ketika adikku di perlakukan seperti binatang." suara Rama terdengar bergetar.
"Orang seperti mereka bahkan tidak tidak pantas mendapatkan hukuman biasa. Dan adikku harus mendapatkan keadilan."
Satu orang sudah mendapatkan akibatnya.
~Flashback On~
Rama berlari menghampiri pria yang masih bernapas di antara rerumputan di bawah bukit. Alvaro masih menggapai-gapai di udara, berharap adiknya kembali, padahal perempuan itu sudah tak lagi bernyawa dengan bagian tubuhnya yang berhamburan di antara puing-puing heli kopter yang meledak.
Namun Alvaro tampaknya sedang berhalusinasi. Terlihat dari racauannya yang terus memanggil-manggil Anna.
Pria itu tampak sangat tersiksa. Dia sepertinya kehilangan banyak darah akibat luka tembak yang cukup parah di kaki dan dadanya.
Wajahnya semakin memucat, dan napasnya putus-putus, dia seperti sedang menyongsong ajalnya.
"A-anna!" katanya dan matanya terus tertuju ke langit.
"Di saat terlemah pun ternyata adikmu tak ingin membawamu. Padahal kau mengerahkan kekuatan besar untuk membawanya pulang." Rama menatapnya untuk beberapa saat hingga akhirnya Alvaro berhenti bernapas dengan mata terbelalak. Padahal tadinya dia akan menembak kepalanya untuk mempermudah kematiannya.
~ Flashback Off ~
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka telah tiba di tanah air setelah beberapa jam mengudara. Beberapa mobil telah menunggu untuk membawa mereka ke tempat khusus untuk di lakukan beberapa prosedur pemeriksaan lanjutan sebelum nantinya menjalani serangkaian interogasi atas kasus yang telah di hadapi.
Wartawan sudah berjajar siap dengan kamera dan mikrofon, menanti berita yang sebelumnya telah tersiar dari liputan yang di lakukan oleh Kaysa.
"Mereka sudah tahu?" Rama bergumam.
"Berita begitu cepat menyebar." jawab Bimasakti.
Namun tak ada siapa pun yang mampu mendekat. Keamanan di perketat begitu kabar kepulangan Rama dan anggotanya tersebar di kalangan jurnalis.
Mereka segera menuju mobil yang sudah menunggu di depan pangkalan udara.
Rama tertegun sebentar. Dia yakin mereka tidak akan di bawa ke markas pasukan hantu, apa lagi pulang ke rumah. Dan itu akan membuat masalah menjadi semakin berlarut-larut.
Sebuah ide muncul di kepalanya ketika seorang sopir dari salah satu mobil turun untuk membuka pintu.
"Apa?"
"Pastikan dia berada dengan Kaysa." rekannya itu berjalan menjauh.
"Kau mau ...
"Ada yang harus aku selesaikan sendiri." katanya, yang segera menyelinap di balik kemudi, lalu menyalakan mesin.
Dan tanpa menunggu lama dia menginjak pedal gas sekeras mungkin untuk membawa mobil itu keluar dari pangkalan udara militer tersebut.
"Apa yang ...
Rama melajukan mobil yang di kendarainya dengan kencang. Penjaga di depan gerbang bahkan tak dia hiraukan, sehingga membuat mereka menyingkir untuk menyelamatkan diri.
Pria itu membelah jalanan ibu kota yang padat. Menerobos lampu lalu lintas dan mengabaikan kemacetan. Dia bahkan berani melawan arus dan tidak mempedulikan keadaan di sekitar hanya karena satu tujuan.
Yakni menuntaskan pembalasan atas kematian adiknya yang kasusnya di tutup secara paksa.
Dadanya terus bergemuruh, dan kepalanya di penuhi amarah yang semakin menggelegak, setiap kali dia mengingat wajah Livia. Apa lagi mengingat wajah Alan yang dinyatakan terlibat atas kematiannya.
Rama terus menambah kecepatan ketika menyadari ada beberapa mobil mengejar di belakang. Dan dia mencari jalan keluar yang aman untuk menghindar. Namun kemacetan Jakarta memang agak menghambatnya sehingga mereka mampu mengejarnya.
"Hentikan Ram!" Adam berteriak dari sebelah kanannya.
"Pergilah, ini urusanku."
"Kita bisa melakukannya, tapi tidak begini."
"Menyingkirlah, kau tidak akan mengerti!"
"Ram!"
Rama kembali menekan pedal gas, dan tanpa ragu dia menerobos lampu merah yang sudah menyala. Membuat mobil-mobil yang sedang melaju di arah berlawanan mendadak berhenti. Tak ada yang mampu menghentikannya apa pun yang terjadi, dan tak aka ada yang mampu menghalanginya. Kemarahan ini jelas tengah menguasai seluruh jiwa dan raganya.
Dan disinilah dia, setelah memacu kendaraannnya tak lebih dari setengah jam saja. Rama tiba di depan kantor polisi pusat di Jakarta, melewati penjagaan yang sudah siaga begitu mendapat laporan jika dirinya mungkin akan mendatangi tempat tersebut.
Semua orang telah bersiap, dan mereka mengantisipasi kekacauan yang mungkin akan terjadi atas kedatangan pria itu.
"Ram?" salah satu rekannya di kesatuan maju untuk menghadangnya.
"Di mana mereka?" Rama segers bertanya.
"Sudah di tempat aman."
Rama melanjutkan langkahnya ke tempat yang dia tahu.
"Stop Ram." pria itu memcoba menghentikannya.
"Tidak akan."
"Kau akan melakukan kesalaha besar jika tetap masuk."
"Terserah padaku."
"Kau akan membuat kakirmu berakhir jika benar-benar melakukannya."
"Aku tidak peduli." mereka berhenti di jarak lima meter di depan sebuah ruangan, yag di jaga oleh empat orang petugas.
"Mereka tidak akan membiarkanmu masuk."
Rama terdiam. Otaknya berputar cepat mencari cara. Kemudian dia melirik rekan satu kesatuannya itu dan menatapnya dari atas ke bawah. Kemudian pandangannya tertuju pada pistol di pinggangnya.
Lalu dalam sekejap mata, Rama sudah merebut benda tersebut dan mencengkeramnya denga erat. Dia menempelkan moncong senjata itu di pelipisnya. Membuat pria-pria yang berjaga di depan bersiaga.
"Satu gerakan saja, peluru dari pistol ini akan menembus kepalanya." ancamnya, dan dia maju perlahan.
Empat pria itu saling pandang.
"Maju, dan menyingkirlah." katanya seraya menyentakkan kepala, namun mereka masih terdiam.
"Ram, kau tak tahu apa yang kau lakukan. Ini akan merugikan dirimu sendiri." pria dalam cengkeramannya mencoba mengalihkan perhatian.
"Aku tahu."
"Jadi mengapa kau melalukan ini? ayo kita bicara baik-baik."
"Bicara baik-baik katamu? sementara mereka telah menghancurkan seseorang dan menyerahkan negaramu pada seorang baj*ngan." Rama menariknya ke arah pintu.
"Ram."
"Menyingkir!" Pria itu berteriak, dan hampir menarik pelatuk dari pistol di tangannya. Membuat ke empat penjaga itu menuruti perkataannya.
Rama berputar, kemudian berjala mundur ke arah pintu.
"Buka pintunya." dia melepaskan cengkeraman, namun tak menjauhkan pistol dari kepala rekannya.
Pria itu menurut, dia membuka kunci pintu di mana tiga orang pria yang terlibat kematian Livia berada.
"Mundur," ucap Rama setelah kunci terbuka.
"Ram, pikirkan lagi. Jangan biarkan dendam menguasaimu." Pria itu mengungatkan.
"Yeah, coba saja kau ada di posisiku." Rama kemudian segera masuk.
*
*
*
Bersambung ...
like komen sama hadiahnya dulu dong😉