Kopassus And Me

Kopassus And Me
Livia



*


*


Rama berdiri menyandarkan punggungnya di belakang pintu. Menatap ketiga pria dengan tangan terborgol itu satu persatu. Yang dua di antaranya merupakan orang terdekat baginya.


Mereka semua terdiam dengan pikiran berkecamuk. Terutama, Rama. Tentu saja. sahabat yang di kenalnya sejak lama, juga pria yang merupakan orang terdekat dari orang tuanya tega menghianatinya.


Pria itu menarik kursi di sebelah, kemudian mendudukinya. Dengan pistol yang sudah dia buka penguncinya.


"Bicaralah baj*ngan, sebelum peluru-peluru ini bersarang di kepala kalian." geramnya, dan dia tak lagi dapat menyembunyikan amarahnya. Rasanya dia sudah tak sabar ingin menembakkan senjata dalam genggamannya pada wajah-wajah yang tampak mulia ini.


"Bicaralah! Katakan mengapa harus adikku? mengapa harus Livia?" Rama berteriak.


"Aku ... tidak sengaja membunuhnya." Alan dengan suara tenang.


"Tidak sengaja katamu?" Rama bangkit kemudian melesat ke arah teman satu akademinya itu. Dan dia segera melayangkan tendangan di wajahnya sehingga pria itu terjungkal bersama kursinya.


"Tidak sengaja karena dia memergoki kejahatanmu, hah?" Rama meremat wajahnya, kemudian menariknya kembali pada posisinya semula.


"Lalu apa yang kau lakukan pada tubuhnya? siapa di antara kalian yang merenggut kegadisannya?"


Namun suara kekehan Frans menginterupsi perhatiannya, dan dia berhasil membuat Rama berpaling.


"Suara tawamu itu menjijikan!" Rama berujar.


"Lebih menjijikan lagi suara rintihan adikmu di bawah kendaliku." Frans menjawab.


Wajah Rama memerah dengan rahangnya yang mengeras.


~ Flashback On ~


Livia turun di depan kantor polisi tempat sang kakak bertugas. Sengaja, dia ingin memberikan kejutan kepada pria itu meski ini masih di jam kerjanya.


Dengan menggenggam surat kelulusan di tangan, Livia mengayun langkahnya yang ringan menuju ke dalam bangunan tersebut. Dia ingin berbagi kebahagiaan karena mendapatkan nilai terbaik, dan telah menjadi salah satu dari siswa yang yang mendapatkan keistimewaan untuk masuk ke kampus mana saja.


"Selamat siang kak?" sapanya kepada petugas jaga di depan.


"Siang Liv? dari mana kamu?" jawab si petugas yang merupakan rekan kerja sang kakak.


"Dari sekolah Kak. Hari ini aku lulus." dia menunjukkan surat kelulusannya.


"Benarkah?"


Livia menganggukkan kepala, dan wajahnya tampak ceria, seperti biasa.


"Terus kenapa kamu malah ke sini? memangnya tidak ada acara di sekolah?"


"Nggak ada Kak, kan sekarang udah nggak boleh."


"Oh ya?"


"Hu'um." Livia mengangguk lagi.


"Terus mau apa?"


"Mau kasih surprise buat Kak Rama."


"Surprise? ah, romantis sekali kamu ini." si petugas mencubit pipi Livia dengan gemas. "Seandainya kamu bukan adiknya Rama, sudah kakak pacarin kamu."


"Hmm, ... gombal. Awas loh, nanti di marahin Kak Rama." Livia memperingatkan.


"Jistru itu, kakak tidak berani." kemudian mereka tertawa.


"Oh iya, Kak Rama lagi sibuk nggak ya? lagi ada kerjaan apa ya? aku lupa tadi pagi Kak Rama bilang apa?" Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Nah kan?" Pria itu kembali tertawa. "Kakakmu sedang ke gedung BNN. Harus mengawal penyitaan barang bukti narkoba."


"Oh iya, aku lupa." Livia menepuk keningnya sendiri.


"Tunggu saja, mungkin sebentar lagi datang."


"Beneran?"


"Iya, atau kamu telefon dulu biar pasti."


"Ish, kalau di telefon dulu bukan surprise namanya."


"Hahaha, ... benar juga ya?"


"Mmm ... kalau Kak Alan ada?" gadis itu kemudian bertanya lagi.


"Ada. Tadi sih di dalam, sedang menerima tamu di ruangannya Pak Fandi."


"Aku ganggu nggak kalau masuk?"


"Tidak, tunggu saja di dalam."


"Oke kalau gitu."


Dan gadis itu pun segera masuk. Dia memutuskan untuk naik ke lantai dua di mana ruangan Fandi berada. Kehadirannya di tempat itu sudah tidak asing bagi para penghuninya karena memang dia sudah biasa Rama bawa ketika ada kesempatan.


"Kak Alan ada?" Livia bertanya kepada petugas yang berpapasan dengannya.


"Di ruangan Pak Fandi, sedang ada tamu."


"Oh, oke." katanya, kemudian Livia duduk di kursi yang tersedia.


Beberapa orang pria masuk ke dalam sana, di susul oleh seorang pria berstelan jas, yang sejenak menghentikan langkahnya, kemudian menoleh kepadanya sebelum akhirnya dia juga masuk.


Tiga puluh menit.


Satu jam.


Bahkan hingga dua jam lamanya Livia menunggu. Dan entah mengapa dia bersedia menunggu pria itu. Matanya menoleh pada pintu ruangan yang tertutup rapat tersebut, yang sesekali terdengar suara gelak tawa para pria yang tengah bercakap-cakap, yang sebagian dari mereka berbicara dalam bahasa Inggris.


Livia kemudian bangkit, dan dia berjalan ke arah sana. Sambil berharap semoga percakapan tersebut berakhir dan dirinya bisa menemui Alan sebelum nanti mereka tidak lagi memiliki waktu untuk bersama.


Mengingat dirinya yang aka menempuh pendidikan kedokteran di Bandung, yang tidak memungkinkan untuk bisa menemui pria itu seperti biasanya.


Ya, sejak tiga bulan belakangan mereka memang menjalin hubungan rahasia, tanpa di ketahui oleh siapa pun. Bukan apa-apa, keadaannya yang membuat mereka harus begitu.


Sikap Rama yang sangat ketat soal hubungan dengan lawan jenis memang menjadi penyebabnya. Apa lagi karena Alan yang juga merupakan teman sang kakak sejak di akademi kepolisian membuat keadaan menjadi semakin rumit. Setidaknya begitu bagi Livia. Dia takut membuat sang kakak merasa kecewa.


Namun peraasaannya yang sudah tertaut kepada pria itu sejak awal mereka bertemu di kantor tersebut membuatnya tak bisa menahan diri. Pesona Alan sebagai pria dewasa selain kakaknya membuatnya tak bisa berpaling. Hingga akhirnya pria itu pun mengutarakan perasaan yang sama kepadanya.


Gayung pun bersambut dan keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan rahasia.


"Tidak, ini hanya hadiah, seperti halnya yang anda dapatkan dari Alvaro. Tahu sendiri lah bagaimana keadaannya sekarang." tanpa sengaja Livia mendengarkan percakapan di dalam ruangan itu.


"Pak Frans mengerti." Suara Fandi yang sangat dia hafal menjawab.


"Ya, dan tolong segera di urus masalah yang baru itu. Anda tahu, kelakuan reporter itu mulai mengganggu." ucap Frans lagi.


"Oh, itu urusannya Alan. Jangan khawatir." Fandi terkekeh. "Dia akan menanganinya dengan baik, tenang saja. Iya kan Alan?"


"Ya, itu bisa di atur." Alan pun menjawab.


Livia tanpa sadar mendekatkan tubuhnya ke pintu sehingga dapat mendengar percakapan tersebut dengan jelas. Dan kedua bola matanya membelalak ketika dia mengerti maksudnya. Namun kedua tangannya yang bertumpu pada daun pintu membuat benda itu terdorong, dan terbukalah secara perlahan. Menjeda percakapan yang tengah berlangsung, dan mengalihkan perhatian mereka semua.


"Livia?" Alan bereaksi.


"Umm, ... maaf. Aku ... nggak denger." Gadis itu mundur dua langkah ke belakang. Lalu segera berlari meninggalkan tempat itu.


"Livia!" Namun Alan segera mengejarnya. Dan dengan langkah lebarnya pria itu mampu mengejar Livia hingga dia berhasil mendapatkannya.


Alan menariknya ke sebuah ruangan terdekat dan menyekapnya di sana.


"Livia!"


"Lepas! aku mau pergi! aku nggak tahu, nggak denger apa yang kalian bicarakan." Gadis itu meracau seraya berusaha melepaskan diri.


"Livia dengar!" Alan menahan kedua tangannya.


"Nggak mau, aku mau pergi!" Livia mendorong dadanya yang hanya berjarak beberapa senti saja dari tubuhnya.


"Livia!"


"Aku baru tahu kalau ternyata kerjaan kakak kayak gitu. Kakak terima suap?" Sekilas saja dia mengerti keadaannya.


Alan membekap mulutnya.


"Tidak! kakak hanya melakukan kepekerjaan kakak." Alan menjawab.


"Kerjaan kakak tuh menegakkan hukum, bukan memperjual belikan hukum kayak gini. Dan lagi tadi itu apa?"


"Livia, kamu tidak mengerti."


"Aku ngerti, semuanya aku dengar dengan jelas."


"Kamu dengar semuanya?" Alan mencengkeram wajahnya.


Livia tak menjawab, namun dia segera menepis tangan Alan dari wajahnya, kemudian kembali mendorongnya lalu bergegas menuju pintu.


Dia hampir saja membuka benda tersebut sebelum akhirnya Alan menariknya, dan mengungkung tubuh kecilnya di belakang pintu. Tanpa aba-aba Alan menciumi wajahnya, dan dengan ganasnya menyesap bibir kemerahan milik Livia.


Gadis itu merintih kesakitan, dan dia kembali berusaha melepaskan diri. Sekuat tenaga Livia mendorong tubuh Alan yang dikuasai kemarahan dan nafsu. Namun tangan kecilnya tak memiliki cukup tenaga untuk itu.


Alan mencebgkeramnya dengan keras sehingga dia terdengar merintih.


Sejenak dia melepaskan cumbuannya, kemudian menempelkan kening mereka berdua.


"Kakak mohon, jangan bicarakan ini kepada siapa pun. Kalau tidak kamu dalam bahaya." Dia berbisik.


"Tapi ini salah."


"Kakak tahu."


"Terus kenapa kakak melakukannya?"


Alan tak menjawab.


"Kenapa kakak melakukannya?" Livia mengulang pertanyaan.


"Salah tetap salah, tidak ada alasan." Dia mendorong tubuh pria itu dengan keras kemudian berbalik ke arah pintu.


Namun Alan secara refleks memukul tengkuknya dengan keras sehingga Livia terhuyung dan segera tak sadarkan diri.


***


Orang-orang hilir mudik di dalam gedung tersebut, dan Alan dengan ketenangannya mendorong sebuah kotak besar dari ruangan barusan. Dia bahkan menolak ketika beberapa orang menawarkan bantuan tanpa kecurigaan.


Mobil milik Fandi sudah siap di depan kantor, dan Alan dengan mudah memasukkan kotak tersebut ke dalam. Setelah mereka berbicara sebelumnya, dan Fandi yang menyerahkan mobilnya untuk dia bawa.


Kemudian dia mengendarai mesin beroda empat tersebut ke sebuah kawasan di pinggiran Jakarta. Area yang di penuhi bangunan-bangunan usang, yang sebagian besarnya sudah tak terpakai. Suasananya pun terasa sepi seakan tak berpenghuni.


Dia berhenti di depan gerbang besar, dan seorang pria membukakan pintu. Kemudian mobil yang di kendarainya segera masuk ke area parkir. Mereka mengeluarkan kotak dari mobil, lalu membawanya masuk ke dalam gedung.


Dan di sanalah dia sekarang, di dalam sebuah ruangan semacam kamar yang begitu tertutup. Yang dindingnya di lapisi peredam yang cukup tebal untuk mencegah suara apa pun dari ruangan tersebut tembus keluar.


Livia tampak meringkuk seperti bayi, dia bahkan belum sadarkan diri sejak siang setelah dia memukul tengkuknya.


Alan memeriksa napasnya yang masih berhembus. Dadanya masih bergerak pelan tanda dia masih hidup.


"Livia, ..." pria itu menyentuh wajah Livia dengan punggung tangannya. Merasakan lembut dan halusnya kulit gadis itu yang belum pernah dia sentuh sedikitpun.


Dia mengungkung tubuh gadis itu di antara tubuh dan kedua tangannya. Menghirup aromanya yang lembut memabukkan.


Dirinya memang segila itu setiap kali mereka berdekatan. Namun karena keadaan, dan pendirian Livia yang teguh menjadikam dirinya tak bisa dengan seenaknya menyentuh gadis itu. Tidak seperti dengan gadis-gadis sebelumnya yang bisa dengan mudah menyerahkan diri.


Tapi di situlah tantangannya. Semakin hari dirinya malah semakin merasa gemas, dan lagi tidak bisa memalingkan perhatian dari Livia. Adik dari temannya sejak di akademi kepolisian yang ternyata memiliki perasaan yang sama kepadanya sejak awal mereka bertemu di acara pelantikan sebelum akhirnya masuk di kepolisian setempat.


"Kenapa harus dengan cara seperti ini?" bisiknya di dekat telinga Livia.


"Kenapa kau harus mendengar semuanya? kalau sudah begini aku jadi serba salah." dia menyusuri area telinga hingga leher gadis itu dengan ujung hidungnya.


"Mempertahankanmu, atau melenyapkanmu? kau membuatku bingung." katanya lagi, kemudian dia merenggangkan tubuhnya. Melihat wajah gadis itu yang tampak damai.


"Atau ...


Alan kembali menyentuh wajahnya, menuruni leher, kemudian menyentuh dada. Dia bahkan melepaskan kancing seragamnya satu persatu.


Sudut bibirnya tertarik membentuk seringaian ketika kulit mulus dan dada ranum di balik kemeja itu terpampang nyata. Dan dia merasa tak sabar untuk segera menyentuhnya.


Kening Livia menjengit, kedua matanya mengerjap pelan ketika dalam ketidak sadarannya dia merasakan seseorang menyentuh bagian tubuhnya.


Livia bahkan mengerang ketika dia merasakan dadanya di sesap dengan keras. Kemudian dia tersentak saat menyadari sesuatu.


Seorang pria tengah menyentuhnya yang kini tak mengenakan sehelai benang pun. Dia segera mendorong pria di atasnya yang ternyata juga tak berpakaian.


"Kakak!" pekik Livia, dan dia segera mundur ke ujung. Menarik apa pun yang dapat dia capai untuk menutupi tubuh telanjangnya.


Alan terlihat mengetatkan rahangnya, dan pandangannya telah berkabut.


"Apa yang kakak lakukan kepadaku?" gadis itu setengah berteriak. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan temaram itu.


Dia kemudian turun dari tempat tidur, namun lagi-lagi Alan menahannya.


"Sudah telanjur Liv." katanya, dan dia menarik Livia kembali.


"Nggak! aku nggak mau!" Livia memberontak.


"Livia! ayolah, ...


"Lepas kak! ini salah."


"Jangan memberontak Liv, kalau tidak ...


PLAAKK!!


Sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya, dan itu membangkitkan sesuatu yang menakutkan di dalam dirinya.


Emosi segera menguasainya, dan pandangannya seolah menggelap. Dia mencengkeram leher Livia dengan keras.


"Kakak!" gadis itu berusaha melepaskan tangan Alan dari lehernya.


Dan tanpa aba-aba, dirinya menerobos pusat tubuh gadis itu sekaligus. Merobek penghalang di dalam sana dengan keras dan tanpa ampun. Membuat Livia hampir menjerit karenanya.


Cekikan di lehernya tak dia lepaskan, namun malah semakin Alan eratkan. Sementara bagian bawah tubuhnya menghentak dengan brutal.


Tubuh Livia mengejang seiring dengan hentakan yang semakin keras tanpa mempedulikan keadaannya. Hingga setelah beberapa saat, gadis itu tak bereaksi lagi, sementara Alan menuntaskan hasratnya. Dia menekan pinggulnya dengan keras ketika pelepasan menghantam kesadarannya dengan tak kalah kerasnya. Seiring dengan cengkeraman tangannya di leher Livia yang semakin kuat.


Alan melepaskannya setelah beberapa saat, kemudian memeriksa keadaan Livia yang kembali tak sadarkan diri.


***


Gedoran di pintu membuyarkan lamunannya ketika lagi-lagi dia membuat kesalahan. Yakni hampir menghabisi nyawa seorang gadis yang melawan ketika tengah dia setubuhi, yang membuat emosinya meledak seketika.


"Ya?" Alan membuka pintu, dan wajah sepupunya mendominasi pandangan.


"Sudah kau bereskan gadis itu?" Frans mendorong pintu kamar khusus sepupunya itu.


Alan tak langsung menjawab, namun dia malah mundur. Dan terpampanglah di depan sana, tubuh Livia yang tak bergerak.


Frans masuk ke ruangan tersebut, dengan pandangan yang tak dia alihkan dari tubuh gadis itu.


"Kau berpesta tanpa aku, sepupu?" pria itu berujar.


"Jangan dia Frans." Alan menggelengkan kepala.


"Oh ya? kenapa? bukankah kita selalu berbagi?" Frans menoleh dengan seringaian di wajahnya.


"Tapi dia ...


"Apa? kau mau menonton pertunjukan kami?" pria itu melepaskan pakaiannya, kemudian mengisyaratkan kepada Alan untuk keluar.


~ Flashback Off ~


Rama berteriak sekencang yang dia bisa, lalu menembakkan pistolnya bebeapa kali ke sembarang arah.


*


*


*


Bersambung ...


Livia sayang!!! 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭