Kopassus And Me

Kopassus And Me
Psycho Thing



*


*


"Aku tidak pernah tahu jika kau punya kembaran." mereka kini berada di sebuah kafe yang berjarak beberapa blok dari area itu. Rama bersedekap seraya menatap wajah rekan yang di kenalnya sejak awal mereka masuk akademi kepolisian.


"Aku memang tidak pernah bercerita tentang itu." Alan menjawab dengan tenang.


"Tapi kita bersama-sama sejak masuk di akademi kepolisian. Dan kau selalu mengikuti apa pun yang aku lakukan." Rama menyelidik.


Alan mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Namun dia segera merogoh dompetnya di saku celana, kemudian mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam sana.


"Ini aku dan Aline saat masih empat tahun." pria itu menggeser foto-foto tersebut ke depan Rama.


Tampak gambar dua anak kecil seumuran berlainan jenis, tapi mereka terlihat mirip. Jika bukan pakaian yang di bedakan dan gaya rambut yang tidak sama, pastilah orang-orang mengira mereka berdua adalah anak laki-laki.


"Ini waktu kami akan masuk SMP." Alan menunjukkan foto lainnya.


Sudah terlihat jelas jika mereka memang berbeda. Dirinya bercelana biru, sedangkan gadis itu mengenakan rok panjang.


"Kami terlahir normal, tapi Aline mengidap kelainan hati. Yang kemudian berubah menjadi kanker yang hanya bisa di sembuhkan dengan transplantasi hati. Tapi mencari donor itu sulit, dan harganya sangat mahal. Ayah kami tidak mau melakukannya, padahal dia sangat mampu." Alan menerangkan.


"Aline meninggal tepat satu minggu sebelum ujian SMA di mulai, hampir seumuran Livia."


Dan Rama masih mendengarkan.


"Kau tahu, setiap kali aku melihat Livia, aku seperti melihat Aline. Mereka sama-sama pintar dan memiliki mimpi yang tinggi. Kalau saja Aline masih ada, mungkin hari ini dia seperti kita. Menjadi polwan, dan aku tak harus mengubur mimpiku dalam-dalam karena harus menuruti keinginan ayahku. Dia akan sibuk memuji Aline yang bisa mewujudkan mimpinya yang gagal diraih, sementara aku bebas mengejar apa yang aku inginkan." Alan terkekeh getir mengingat segala yang dia rasakan sejak kecil.


"Tapi untukku, bahkan dia tak merasa bangga sedikitpun." pria itu menarik satu sudut bibirnya ke atas.


"Kau tahu, aku kehilangan Livia seperti merasakan kehilangan atas adikku. Rasanya sama-sama perih. Terlebih, dia adalah satu-satunya teman yang aku punya. Seperti halnya juga kau yang hanya memiliki Livia."


Masuk akal, tapi ...


"Aku tahu, kehilangan itu berat untukmu. Terlebih caranya yang tidak manusiawi. Percayalah, aku pun merasakannya. Di tambah ketidak berdayaanmu untuk mengungkapnya, membuat segala menjadi lebih menyakitkan lagi. Tapi aku ...


"Maaf." Rama baru buka suara. "Jika apa yang aku pikirkan ternyata salah."


Alan sedikit terkekeh.


"Aku faham, karena segala kemungkinan itu ada, bukan?" pria itu melirik ke arah Kaysa yang menyimak percakapan dari meja di sebelahnya. Bersama Aslan yang asyik dengan makanannya.


"Tapi pada kenyataannya perhatianku hanyalah sebatas itu."


Rama tampak mengangguk-anggukkan kepala.


"Aku harus pergi, Ram. Harus mengunjungi ibuku sebentar lagi. Kau tahu, akhir-akhir ini dia berusaha menjodohkanku dengan seorang gadis." Alan kini tergelak.


"Benarkah?"


"Ya, setelah terakhir kali kami bertemu dan aku bercerita jika kau sudah menikah, ibuku seolah ingin aku juga melakukannya. Dia mempertemukan aku dengan beberapa gadis, dan ya ... begitulah semuanya berawal."


Rama kembalinmengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku pergi Ram." Alan pun berpamitan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Aku masih tidak percaya soal ini. Hatiku masih mengatakan jika da sesuatu yang dia simpan. Kamu tahu, mulut bisa saja berbohong, tapi mata tidak bisa berdusta." Kaysa masih mengoceh, merasa tidak puas dengan apa yang mereka dapatkan hari itu.


"Bicaramu itu sudah seperti penulis novel romantis yang tokohnya sedang galau." Rama bergumam. Pandangannya dia tujukan keluar mobil yang suasananya sudah remang-remang tanda malam mulai merayap naik.


"Ck! Aku serius."


"Dan apakah kamu pikir aku ini sedang bercanda?" Rama menoleh kepada Kaysa yang mulai merasa kesal.


"Kamu tahu, ini rasanya seperti di gantung saat kita lagi baper-bapernya, atau di tinggal pas lagi sayang-sayangnya. Sesak."


Tawa Rama pecah seketika.


"Ah, kamu menyebalkan." Kaysa menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.


"Sudahlah, ... jangan dulu terlalu di pikirkan. Saat ini yang paling penting mewaspadai hal lain dulu. Soal kasusnya Livia bisa di tunda dulu."


"Kamu begitu menyayangi Livia, tapi kamu tega menelantatkan adikmu seperti itu."


"Menelantarkan apanya?"


"Aku tahu, tapi seperti yang sudah aku katakan tadi, sekarang ini ada yang lebih penting dari pada itu."


"Apa?"


"Keselamatanmu dan Aslan." Rama meraih tangannya lalu menautkan jari mereka berdua.


"Kamu tahu, dan mungkin juga kamu sudah faham soal penyelidikan suatu masalah. Kamu harus pergi ke suatu tempat, mencari informasi dan bukti-bukti. Dan kamu tahu itu semua tidaklah mudah. Sementara keadaannya masih segenting ini, aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya. Setidaknya jangan sekarang."


"Lalu kapan?"


"Sampai aku mendapat informasi jika keadaannya sudah aman, apa lagi jika Alvaro sudah di tangkap."


"Ini sudah dua minggu, dan tidak ada yang terjadi."


"Ya, karena kita aman di dalam rumah dan banyak yang mengawasi."


Kaysa menghembuskan napas keras sambil mengerucutkan mulutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alan menyandarkan punggungnya di belakang pintu. Baru saja dia bisa bernapas lega karena bisa mengalihkan perhatian Rama dari segala penyelidikannya, setelah akhirya pria itu berhasil masuk pasukan khusus dan membuatnya tak memiliki banyak waktu. Tapi lagi-lagi dirinya harus memikirkan cara lain untuk membuat pria itu sangat sibuk. Padahal dengan membuatnya mengikuti pelatihan dan masuk pasukan khusus dia mengira akan menjauhkan rekan sejak di bangku akademi itu memalingkan perhatian dari kasus ini.


Tapi nyatanya ada saja yang bisa membuatnya kembali memikirkan adiknya yang sudah meninggal itu.


"Huh, ... sudah mati saja kau masih menyusahkanku, Livia." Alan bergumam.


Dia kemudian masuk ke ruang tengah dan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Tangannya merayap ke sudut dan mencari benda pipih yang disimpannya dua tahun belakangan.


Dia menekan tombol on-off, dan benda itu menyala seperti biasanya.


"Sayang sekali aku harus melenyapkanmu." dia menatap layar ponsel dengan wajah manis dari seorang gadis yang nyawanya dia habisi dua tahun yang lalu.


"Kau keras kepala, kenapa juga harus memberontak? padahal jika menurut dan jadi anak yang manis aku bisa saja menangani kakakmu." matanya berkilat penuh amarah.


"Kakakmu yang berprestasi dan sangat menyebalkan itu, ... membuatku tidak memiliki kesempatan untuk membuat kedua orang tuaku bangga." dia meremat ponsel di tangannya.


Alan terkekeh pelan.


"Sayang sekali kau yang harus aku korbankan, ... padahal aku mencintaimu ... seperti aku mencintai Aline ... dan diriku sendiri."


"Tapi dia menginginkanmu, Livia. Seandainya kau hanya menurut saja, kau pasti masih hidup sampai sekarang." dia terus bergumam, hingga tanpa di sadarinya seseorang keluar dari persembunyian dan berjalan mengendap ke arahnya.


Merentangkan tali kecil ditangannya, dan pada saat jaraknya sudah dekat, tali tersebut segera di lilitkan ke leher Alan. Yang membuat pria itu segera bereaksi, dan dia segera berusaha melepaskan diri.


Alan mencengkeram tangan yang menarik tali dari kedua sisi, berusaha mejauhkannya dari lehernya.


Napasnya hampir putus-putus dan dia sulit bernapas. Kedua kakinya bahkam menendang-nendang ke segala arah, dan dia berusaha berguling hingga akhirnya mereka berdua jatuh ke lantai.


Namun tali tersebut terikat semakin kencang dan menahan napasnya di tenggorokkan. Dan di detik berikutnya sosok itu menindih tubuhnya yang tertelungkup di lantai.


"Kau, sudah sangat ceroboh." pria itu berbisik.


"Kau membuat hal ini hampir terungkap dengan mudah."


Alan masih berusaha melepaskan lilitan tali di lehernya. Hingga akhirnya pria tersebut melepaskan cekikannya.


"Lakukan apa pun yang di perlukan untuk membuat kasus ini tetap tak terungkap." dia meremat rambut di kepala Alan dengan keras.


"Dan singkirkan perempuan itu," katanya, yang berbisik di telinga Alan.


"Jika tidak, maka nyawamu lah yang akan aku lenyapkan." kemudian dia menghempaskan kepala pria itu dengan keras hingga dia tak sadarkan diri.


*


*


*


Bersambung ...


Duh, misteri apa lagi ini?🙉🙉


like komen sama kirim hadiahnya dulu lah