Kopassus And Me

Kopassus And Me
Behind Enemy Lines



*


*


"Dua anggota bersama satu tahanan berhasil mencapai penjara dengan keamanan maksimun di kota Perth, dan empat lainnya berhasil di jemput dengan kapal layar milik Taman Nasional." Bimasakti kembali mengumpukkan anggota keluarga. Mereka yang sengaja tak di pulangkan ke rumah masing-masing untuk menghindari kegaduhan dan kondisi kacau karena peristiwa ini.


"Hanya enam anggota?" Kaysa selalu menjadi yang paling kritis menanggapi setiap kabar yag pria itu sampaikan.


"Dua anggota tak sempat mereka jemput, semuanya menghilang begitu tentara gabungan tiba di sana." jawab pria itu, lagi-lagi dirinya harus menyampaikan kabar tidak menyenangkan yang menimpa anak buahnya.


"Mereka bergerak begitu cepat, sehingga tim gabungan tak sempat membawa keduanya. Hanya ada jejak darah dan selongsong peluru, di perkirakan mereka mengalami baku tembak terlebih dahulu sebelum di bawa."


"Dua?" Kaysa kembali bereaksi. "Siapa?" dia kemudian bertanya.


Seorang ajudan menghampiri Bimasakti, kemudian membisikkan sesuatu kepadanya. Membuat raut wajah pria itu berubah seketika setelah mendapatkan kabar terbaru.


"Siapa?" Kaysa bangkit dari duduknya seraya menggebrak meja.


Bima terdiam sebentar.


"Junno dan Rama." katanya kemudian.


Kaysa menghempaskan bokongnya dengan keras di kursi yang semula dia duduki. Perassannya tentu saja tak tentu, mendapat kabar jika suaminya kini berada dalam sekapan anggota paling berbahaya di dunia. Entah dia bisa selamat atau tidak.


Beberapa orang di antara mereka menghampirinya untuk memberikan dukungan dan menguatkan. Mereka sangat tahu bagaimana perasaannya saat ini.


"Atas peristiwa ini, kami ssmpaikan beribu maaf karena ...


"Apa mereka bisa di selamatkan?" pria muda di belakang berdiri, dia merupakan perwakilan dari keluarga Junno yang di kirim untuk mencari tahu kabar tentang kakak laki-lakinya tersebut.


"Kami akan berusaha." jawab Bimasakti dengan meyakinkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Darah segar perlahan mengalir dari pelipis Rama yang wajahnya babak belur setelah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari pria di depannya. Dia di ikat dalam posisi di gantung terbalik pada sebuah tiang tanpa pakaian bagian atasnya, lalu di jadikan samsak hidup tanpa alasan yang cukup jelas selama beberapa jam.


Seseorang menyiramnya dengan air dingin ketika dia hampir tak sadarkan diri, dan membuatnya kembali terjaga.


Rama sudah hampir merasa tak tahan, apa lagi ketika mendengar teriakan keras di ruangan samping yang dia kenali sebagai suara Junno. Pasti hal sama juga di alami oleh rekannya itu.


Bukan hanya pukulan, tapi sayatan-sayatan kecil namun menyakitkan pada beberapa bagian tubuhnya membuat dia hampir kehilangan kesadaran. Apa lagi ketika mereka menyiraminya dengan entah cairan apa. Membuatnya merasa sakit dan perih yang tidak tertahankan.


Kemudian seseorang masuk dan mengisyaratkan sesuatu, menghentikan penyiksaan itu untuk beberapa saat.


Ikatan di kakinya kemudian di lepaskan, sehingga dia terjatuh di lantai dingin dan basah bercampur bau karat karena tetesan darahnya sendiri. Kemudian dia di tarik sekeras mungkin oleh dua orang pria berbadan besar yang membuatnya bangkit dengan terpaksa.


Mereka lantas menyeretnya ke ruangan lain yang sama gelapnya, yang kemudian sebuah lampu kecil di nyalakan di atas sebuah meja usang, lalu Rama di dudukkan secara paksa dengan kedua tangan masih terikat.


Beberapa orang pria tampak berdiri tak jauh dari meja, dengan senjata lengkap dan penampilan cukup berbahaya. Beberapa orang di antaranya bahkan menenteng magasin dan rangkaian pelurunya yang di sampirkan di pundak. Sekilas mereka tampak seperti anggota pasukan pemberontak yang dia tahu.


Sementara di sampingnya Junno sudah dalam keadaan yang sama dengan dirinya, namun dia tampak lebih parah.


"Rama Hadinata, ..." seorang pria muncul sambil menyesap cerutu. Asap dan bau tembakau yang menyengat menyeruak di udara.


"Your reputation is hard to forget ( reputasimu sulit untuk di lupakan.)" katanya, dengan logat Portugis yang kental.


"I got this far just to see, who the one that always had my way ( aku datang sejauh ini hanya demi melihat siapa orangnya yang selalu menghalangi jalanku.)" lanjutnya dengan suara rendah.


"And its you ...Is always you." dia duduk di pinggiran meja tepat di depan Rama.


Tanpa basa-basi dia mematikan cerutunya yang menyala pada pundak pria itu, menimbulkan asap yang mengepul diikuti bau daging terbakar.


Rama tentu saja bereaksi. Dia berteriak sekuat tenaga untuk melampiaskan rasa sakit dan panas pada pundaknya.


"Just scream as loud as you can, but no one would hear ( berteriaklah sekeras yang kau bisa, tapi tak akan ada yang bisa mendengarmu.)" katanya.


Lalu dia berbicara dalam bahasa Brazil, dan seorang pria datang mendekat.


"Biasanya kami membunuh siapa pun yang tertangkap, dan tak membiarkan mereka melihat kami, tapi kali ini ada pengecualian." pria itu menerjemahkan.


"But not for free, ..."


"Kami membutuhkanmu untuk membebaskan Anna, dan membiarkannya pulang ke rumah." si penerjemah kembali berbicara.


"Jangan! jangan lakukan!" Junno bergumam kepadanya.


"Kami menawarkan kebebasan untuk kalian." tawar si penerjemah lagi.


"Kehormatan negara ada di pundakmu, dan kau tidak berhak menukarnya dengan apa pun." ucap Junno lagi, dan dia tak terlihat gentar sedikitpun. Walau wajahnya sudah babak belur dan tubuhnya penuh luka, dia tetap berusaha untuk memberontak.


Pria di sampingnya memukulnya dengan keras, namun Junno bergeming.


"Atau, ... bagaimana jika kita menukarnya dengan nyawa temanmu ini?" pria barusan menghunuskan sebilah parang pada leher Junno.


"Aku tidak peduli, mereka bisa membunuhku. Tapi tidak akan aku biarkan kau menukar martabat bangsamu demi baj*ngan seperti mereka." Junno tak berhenti sampai di situ saja.


"Baik, akan kami kabulkan permintaannya." pria di depan berucap.


Pilihan yang sulit bagi Rama. Di sisi lain nyawa temannya terancam, tapi jika dia menuruti ke inginan baj*ngan ini, maka dirinya yang akan terjerumus. Dan nama baik negara di pertaruhkan."


"Atau kita tukar dengan yang lain?" pria di depan mengambil sesuatu di atas meja. Tampak seperti gambar atau selembar foto.


"Bagaimana jika kita tukar dengan yang ini?" dia memperlihatkan foto tersebut kepada Rama.


Tampak foto pernikahannya yang entah mereka dapat dari mana. Dia denga jas dinasnya, dan Kaysa dengan gaun putihnya yang mepesona.


"Bukankah dia cantik? kami bisa menggunakannya, lalu dia bisa di jual sehingga kita mendapat keuntungan."


Mereka semua tertawa.


Rama segera berdiri, tiba-tiba saja amarah menyeruak dari dalam dirinya.


"Dan anak ini juga." pria itu kemudian menunjukkan foto Aslan kepadanya.


"Akan ada banyak penawaran tinggi untuknya, dan dia akan menjadi anak yang paling di minati oleh komunitas pelanggan kami." katanya, kemudian dia terkekeh.


Namun hal tersebut membuat amarah Rama tersulut. Dia menggerakkan tangannya yang terikat ke atas, kemudian mengait leher pria di depannya.


Dia berputar sehingga membuat pria itu terpelintir dengan keras. Tubuhnya menggelepar berusaha untuk melepaskan diri, sementara pria-pria lainnya datang menghampiri.


Rama mencekiknya dengan keras, tanpa mempedulikan jika orang-orang itu memukulinya tanpa ampun. Sehingga dengan terpaksa mereka menembakkan obat bius kepadanya sebanyak dua kali, membuatnya ambruk tanpa menunggu lama.


*


*


*


Bersambung ...


anu ...


like komen hadiah dulu ya 😂😂