Kopassus And Me

Kopassus And Me
Heart Breaking



*


*


Kaysa menempelkan punggungnya pada sandaran kursi, begitu dia tiba di meja kerjanya. Sementara Bram dan Manda segera menghampiri.


"Bagaimana kamu bisa lolos? Kami hampir saja pergi ke sana karena kamu memutuskan sambungan." Bram memberondongnya dengan pertanyaan.


"Kay, apa yang terjadi?" sementara Manda menyentuh tangannya yang bergetar.


"Kay!" Bram setengah berteriak, membuat perhatian semua yang ada di ruang redaksi memalingkan perhatian.


"Kaysa sudah datang?" Willy pun tiba. "Apa yang kau dapatkan dengan melewatkan breefing pagi ini?"


Kaysa belum menjawab. Dia masih terguncang, dan lagi merasa tidak percaya dengan apa yang di alaminya beberapa saat yang lalu.


"Kaysa, apa terjadi sesuatu kepadamu?" Manda mengguncangkan tubuh rekan kerjanya.


Kaysa tampak menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya Bram menyodorkannya segelas air putih yang di bawakan seorang ofice boy. Yang kemudian diteguknya sekaligus hingga tandas.


Dia merasakan jiwanya seolah belum terkumpul sepenuhnya, ketika dia berlari memasuki lift setelah berhasil membuat pintunya terbuka dengan terus menekan tombol dengan keras seraya merapatkan kembali kerudung hoodienya yang sempat terlepas.


Kemudian dia kembali menekan tombol untuk menutup pintu ketika Alan hampir saja mencapainya.


Pria itu bahkan sempat masuk, namun Kaysa kembali menjejakkan kakinya dengan keras tepat mengenai dadanya.


"Ugh!!" Alan hampir terjengkang ke belakang.


"Yeah, dalam mimpimu saja, brengs*k!" Kaysa menggeram. Kemudian dia benar-benar menutup pintu liftnya, dan tak membiarkan Alan dapat mengejarnya.


"Aku ... berkelahi dengan psikopat." katanya, seraya menyeka mulutnya yag basah.


"Apa?"


"Aku ... memukuli pembunuh berdarah dingin." napasnya masih tersengal-sengal.


"Berkelahi? Memukuli? Kamu? Siapa yang kamu pukuli?"


"Alan." jawab Kaysa yang kemudian memalingkan pandangan kepada Manda.


"Apa?" Tidak ada yang tidak tetkejut.


"Aku menghajarnya karena dia memergokiku masuk ke dalam apartemennya."


"Kaysa!" Perempuan yang usianya lebih muda darinya itu memekik.


"Apa yang terjadi kepadamu? Apa kamu terluka? bagian mana?" Manda lantas memeriksa keadaannya.


"Ti-tidak. Aku ... tidak apa-apa." Kaysa dengan suara bergetar dan dia hampir menangis. Rasa takut jelas menguasainya begitu dia sadar dengan kecerobohannya masuk sendirian ke tempat di mana pembunuh itu berada. Beruntung ada taksi yang lewat sehingga dirinya bisa segera melarikan diri begitu bisa keluar dari gedung tersebut. Setelah berebut masuk ke dalam lift dengan Alan tentunya. Dan dia berhasih menahan pria itu agar tak bisa mengejarnya sampai ke luar.


"Ya Tuhan! Kamu bilang hanya untuk memastikan dia ada di sana atau tidak? Mangapa malah masuk? Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadamu?"


"Tapi ... tidak." Kaysa sedikit terkekeh.


"Bodoh! Kau membahayakan dirimu sendiri dengan pergi sendirian ke sana." Willy bereaksi.


"Kau sedang hamil pula? Bagaimana jika kau kenapa-kenapa?"


"Tapi ... aku menemukan ini." Kaysa mengeluarkan sebuah ponsel dari saku hoodie nya. Ponsel yang begitu dia yakini merupakan milik Livia.


"Ponsel siapa ini? Kamu mencuri ponselnya Alan?"


Kaysa menggelengkan kepala.


"Coba di periksa." Willy memerintahkan.


Lalu Bram menyalakan benda tersebut. Menyambungkannya ke laptop di meja, dan menekan beberapa tombol.


Tidak ada yang aneh, selain beberapa foto Livia dengan gaya dan penampilan yang berbeda. Gadis itu yang tersenyum ceria dengan seragam sekolahnya. Atau ketika memegang piala dan medali saat berhasil memenangkan kompetisi dan lomba ilmu pengetahuan. Atau foto dengan buku-buku dan hasil prakteknya. Hingga kemudian setelah ratusan foto lainnya mereka mulai menemukan foto Alan.


Pria itu dengan seragam polisinya, dan banyak lagi foto lain dalam penampilan yang berbeda.


"Benar mereka ada hubungan." Sebuah foto lainnya menunjukkan beberapa hal.


Foto Livia yang begitu dekat dengan Alan. Mereka bahkan saling merangkul dengan raut tawa yang ceria. Dan banyak lagi foto-foto semacam itu.


"Selama ini Rama tidak tahu." Kaysa bergumam.


"Hey, kenapa banyak video di sini?" Bram memeriksa begitu banyak folder di aplikasi lainnya.


"Video apa?" Kaysa terperangah.


"Mengapa kita tidak mencari tahu?" Pria itu membuka video paling atas.


Sebuah video di awali dengan wajah Livia yang mendominasi layar. Dia membicarakan banyak hal tentang sekolah dan cita-citanya. Livia bahkan seolah sedang memberikan pesan untuk kakak laki-lakinya di akhir video.


"Kalau kakak lihat video ini setelah aku berangkat kuliah ke Bandung, jangan marah ya? Apalagi sedih. Aku baik-baik aja, dan semoga akan lebih baik ke depannya. Lagian ada seseorang yang siap mendukung aku sepenuhnya selain kakak." Livia tampak tersenyum.


"Aku tahu kalau kakak udah larang aku untuk punya hubungan dengan siapa pun sebelum aku lulus kuliah. Tapi, apa kakak tahu kalau orang ini membuat aku lebih semangat?" Kemudian dia tertawa sambil menutup mulutnya.


"Maksud aku, kakak selalu membuatku ah, semangat, tapi dia juga memberi aku semangat tambahan. Dan kakak tahu, kalau itu baik untukku?" Gadis itu kembali fokus pada layar.


"Percayalah, nggak ada laki-laki sebaik kakak yang mendukung adiknya sepenuh hati, aku pastikan itu. Tapi dia juga baik, dalam segi lain tentunya."


"Aku sayang kakak melebihi apa pun di dunia ini, dan aku nggak akan pernah lupa dengan semua yang kakak lakukan untukku. Tapi orang ini ..." Livia kembali tersenyum dengan pipinya yang tampak merona.


"Aku harap kakak nggak marah, karena aku juga sayang dia. Aku harap kakak membiarkan aku memilih yang satu ini, oke? Aku akan selalu sayang kakak." Kemudian dia mundur, dan tampaklah pria itu yamg berdiri di belakanya. Dengan senyumnya yang begitu manis, lantas dia merangkul pundak Livia.


Kaysa tertegun.


"Kita lihat video lainnya?" tawar Bram seraya memilih satu folder di bawahnya.


Tampak Alan yang tengah membenahi letak ponsel. Lalu dia memastikan benda tersebut benar-benar menyala. Lalu dia mundur.


"Astaga!" Semua orang bereaksi sama.


Mereka menyimak video yang terus berputar dilayar. Menampilkan pria itu yang tengah melucuti pakaian seragam seorang gadis yang diyakini adalah Livia.


Semua orang menahan napas ketika Alan menyentuh tubuh gadis itu yang sepertinya dalam keadaan tidak sadar. Dan beberapa saat kemudian dia melepaskan pakaiannya sendiri.


"Tidak-tidak! Jangan lakukan itu. Livia sadarlah!" Kaysa menggelengkan kepala diikuti air matanya yang berderai membasahi pipinya.


"Tidak! Jangan lakukan itu!" Dia berteriak, seolah itu dapat menghentikan apa yang terjadi di dalam video tersebut.


"Livia!!" Kaysa menelungkupkan wajahnya di atas meja, tidak kuat melihat adegan selanjutnya yang bisa di pastikan merupakan detik-detik memilukan ketika kehormatan gadis itu di renggut secara keji, dan selanjutnya dia pun tahu apa yang terjadi.


Di saat yang bersamaan Bram menghentikan pemutaran video tersebut, dan hal sama pun tentu pria itu rasakan. Seperti halnya orang-orang di sekitar mereka.


*


*


*


Bersambung ...