
*
*
Frans tampak mondar-mandir di ruangan khusus tahanan, sementara Alan duduk termenung di kursinya.
Sejak pagi mereka telah tiba di pengadilan tinggi Jakarta untuk menghadiri sidang putusan terakhir. Yang akan menentukan bagaimana nasib mereka ke depannya.
Sementara beberapa orang telah bersiap untuk banyak kemungkinan. Dan petugas khusus pun telah bersiaga di sekitar pengadilan untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Mengingat semakin lama, semakin banyak orang yang berdatangan.
Entah itu hanya karena ingin melihat hasil akhir dari persidangan, memberikan dukungan, ataupun memenuhi rasa penasaran mereka, tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Mengingat kasus ini sebelumnya memang penuh intrik, rumit, dan berbelit-belit.
"Mengapa aku tidak takut dengan ini?" Alan menatap kedua tangannya yang terborgol.
"Takut apa? borgol? penjara? Kenapa kau harus takut?" Frans berbalik kepadanya.
"Bukan."
"Pengadilan?"
Alan menggelengkan kepala.
"Lantas apa?"
"Semuanya." Dia mendongak kepada sepupunya.
"Lagi pula tidak ada manfaatnya kalaupun kau merasa takut. Tak akan ada yang membelamu, apa lagi menolong. Kau sendirian." Frans mendekat.
"Ya, gara-gara kau." Alan dengan raut datar.
"Aku?" Frans menunjuk wajahnya sendiri. "Kau gila!" katanya, kemudian.
"Tidak, kau yang gila." Alan menggeleng lagi.
"Kau yang menunjukkan hal-hal seperti ini, ingat?"
Frans terlihat mendengus.
"Kau yang melakukannya kepada Aline di depanku. Dan itu pertama kalinya ...
"Pertama kalinya kau melakukan kepada hal nyata." Pria itu tertawa mengejek.
"Kau tahu, sebenarnya kita sama saja. Yang membedakannya hanya dalam hal pelampiasan. Aku memilih merealisasikan kesenanganku, sementara kau tidak. Seperti biasa, kau pengecut." Frans mencondongkan tubuhnya.
Alan terdiam.
"Tenang saja, orang tua kita tidak akan tinggal diam, mereka pasti akan mengusahakan apa pun demi mengeluarkan kita dari tempat ini."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Semuanya sudah siap. Apa kamu siap?" Kaysa seperti biasa, menemui Rama sebelum menjalankan tugasnya, dan pria itu yang masuk ke ruang sidang.
"Sudah."
"Sudahkah aku katakan, apa pun hasilnya nanti semoga yang terbaik?" Kaysa menatap wajah suaminya yang terlihat gundah.
Tentu saja, semua orang berharap mendengar keputusan yang di inginkan. Tapi segala hal bisa saja terjadi, bukan?
"Berkali-kali." Rama terkekeh.
"Itu bagus, jadi kamu akan tetap mengingatnya."
Pria itu lantas mengangguk.
"Aslan?"
"Aku titipkan kepada gurunya. Nanti mereka juga akan datang ke sini."
"Ya, bukankah aku juga sudah mengatakan jika dukungan untukmu dan Livia itu sangat besar? Lihat?" Perempuan itu menunjuk ke sekelilling mereka. Di mana begitu banyak orang yang hadir, dan mereka semua memiliki tujuan yang sama.
"Pengadilan pasti gila kalau mereka memutuskan hal yang tidak semestinya."
Rama melihat ke sekelilingnya. Dan ya, atmosfirnya memang sangat terasa. Di mana semua orang begitu antusias menunggu putusan pengadilan, sama seperti dirinya. Bahkan mungkin lebih.
Terlihat dari raut wajah setiap orang yang sebagian besar dari mereka adalah merupakan orang tua. Para ibu dan ayah yang ikut merasakan sakitnya kehilangan anggota keluarga mereka. Memposisikan diri mereka seperti Rama yang harus menghadapi hal seperti ini sendirian.
Iptu Rama, Anda tidak sendirian.
Kami mendukung Anda dan Livia.
Justice For Livia.
Beberapa spanduk dan poster dibentangkan untuk menunjukkan dukungan mereka. Dan apa pun yang berhubungan dengan sidang terakhir hari itu membuat siapa pun tak ingin kehilangan momen. Membuat Rama merasakan kelopak matanya memanas.
"Lihat? Mereka bahkan tidak mengenal kita, tapi dukungan tetap mengalir. Dan terus semakin bertambah besar setiap harinya." Kaysa mengembalikan perhatiannya, dan Rama pun mengangguk.
"Jadi tunggu apa lagi? Cepatlah masuk agar semuanya selesai hari ini!" Perempuan itu berujar.
Rama menyeka sudut matanya yang basah dengan ujung jarinya.
"Ayo, aku di depan seperti biasa." Kaysa meraih tangannya, lalu menautkan jari-jari mereka.
Dan keduanya berjalan memasuki ruang sidang bersamaan, kemudian berpisah. Rama ke tempat duduknya bersama Junno dan Adam, dan Kaysa di sisi kanan ruangan bersama kameraman dan rekan kerjanya. Juga bersama wartawan dari kantor berita lain.
Sementara pihak Alan dan Frans pun telah hadir lebih dulu, bersama tim pengacara baru yang di fasilitasi oleh negara, karena sudah tak ada yang bersedia mendampingi mereka.
Semua orang menanti sang hakim mengumumkan hasil akhir dari pertarungan pengadilan selama kurang lebih satu bulan terakhir. Dengan sama-sama berharap yang terbaik bagi mereka.
"Putusan sidang Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat Nomor 84/Pib/2022/PNJP.
Pada hari ini, tanggal 15 Agustus 2022.
Atas nama Iptu Alan Yanuar, bersama Saudara Frans."
Semua orang sama-sama menyiapkan diri.
"Menyatakan kedua terdakwa, Alan dan Frans terbukti secara sah dan meyakinkan, bersalah atas tindakan pidana pembunuhan berencana, yang dilakukan secara bersama-sama. Atas korban Livia Hadinata, 18 tahun. Sebagaimana yang telah dijatuhkan dalam dakwaan premier. Satu, menjatuhkan pidana kepada kedua terdakwa Alan dan Frans hukuman pidana seumur hidup, atau seberat-beratnya hukuman mati atas tindakan ca*ul, penyiksaan dan pelecehan hingga menyebabkan kematian. Dua, menjatuhkan pidana atas persekongkolan dan menghilangkan barang bukti, juga tindak pidana suap bersama terdakwa Fandi dengan hukuman lima belas tahun penjara. Tiga, tidak di mungkinkannya bagi kedua tersangka untuk dapat mengajukan banding atau mendapatkan kemungkinan peringanan hukuman dengan cara apa pun. Baik itu pembayaran denda atau remisi. Demikian keputusan ini kami sampaikan untuk memberikan keadilan bagi korban, dan sebagai peringatan kepada siapa saja." Sang hakim pun mengetukkan palunya sebanyak tiga kali ketukan dengan keras.
"Allohu Akbar!!" Terdengar gemuruh takbir di luar banguna pengadilan pada lewat tengah hari yang terik itu.
Semua orang merasakan seperti beban mereka di angkat seketika, membuat kelegaan melingkupi wajah-wajah para orang tua, aktifis, dan para pendukung yang telah menanti sejak lama.
Terutama Rama, yang seketika merasakan tubuhnya lemas seperti tak bertenaga. Pria itu bahkan menangis hingga jatuh berlutut di lantai karena tak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Namun dia merasakan dadanya tak sesak seperti sebelumnya. Dia juga merasakan kelegaan yang tak terkira, dan tentu saja bahagia. Mendengar dan menyimak segala yang telah di putuskan oleh hakim, dan yang terpenting adalah perjuangan untuk mendapatkan keadilan bagi adik perempuannya tidak berakhir sia-sia.
Sorakan dan tangisan bergema di area pengadilan. Menjadi saksi bahwa harapan itu masih ada. Meski sulit di capai, namun dengan perjuangan yang begitu keras, akhirnya mereka dapat mencapai tujuannya sendiri. Tentu, yang benar dan yang salah tidak akan tertukar. Meski seberapa keras di tutupi, maka kejahatan akan terbuka dengan sendirinya, dengan jalan yang sulit di mengerti dan tak pernah di duga.
Seperti halnya Rama, yang berputar-putar begitu lama, dengan berbagai drama untuk mencari keadilan bagi adiknya. Dibuat sibuk dengan begitu banyak sandiwara. Lalu dibuat tersesat oleh banyak kasus, dan sengaja dibuat lupa oleh banyaknya hambatan. Dan jangan lupa, begitu banyak kebohongan yang mengikutinya, sehingga dia bahkan sulit mempercai siapa pun.
"Terima kasih, terima kasih." Pria itu mengatupkan kedua tangannya di depan wajah, dengan tangis yang tak kunjung berhenti.
Sedangkan Kaysa memilih untuk menghampirinya. Dia juga berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuh mereka, lalu memeluknya dengan tangisan yang sama.
Tangis lega, dan bahagia.
*
*
*
Bersambung ...