Kopassus And Me

Kopassus And Me
Mood



*


*


"Kamu lapar tidak?" Kaysa tiba-tiba saja muncul setelah sempat merajuk gara-gara masalah pertestpackan.


"Hum?" Rama memalingkan wajah. Dia hampir saja memejamkan mata di sofa depan televisi. Memilih untuk menghindari perdebatan yang tak berfaedah.


"Lapar tidak?" ulang Kaysa, lalu dia naik dan menduduki perut pria itu dalam posisi mengangkang.


"Umm, ...


"Karena aku lapar," ucap perempuan itu sambil memegangi perutnya.


"Ya makan saja, bukannya tadi kamu sudah masak ya?" Rama menjawab, dan tangannya refleks memegang paha Kaysa.


"Aku mau makan yang lain."


"Makan apa?" Pikirannya mulai berkelana kemana-mana.


Sementara perempuan itu berpikir.


"Ayo, kita pergi ke jagonya ayam?" katanya, sambil tersenyum lebar memamerkan gigi pitihnya yang berjejer rapi.


"Jagonya ayam?" Rama mengerutkan dahi.


"Keefsiii."


"Oh, ... kenapa tidak dari tadi, kita sudah sampai rumah begini kamu baru bilang?"


"Tadi belum lapar, ... terasanya baru sekarang."


"Pesan saja lah, aku lelah ...


"Tidak mau! aku maunya makan di sana. Kan lebih enak, vibenya lebih terasa."


"Hah, ada-ada saja ... " keluh Rama.


"Ram, ayolah ... mumpung Aslan tidak ada."


"Apa hubungannya? selama ini dia kan yang selalu ingin makan di sana? kenapa kamu sekarang juga ikut-ikutan?"


"Tidak tahu, rasanya ingin saja." Kaysa membayangkan ayam goreng tepung renyah dan minuman segarnya. Rasanya seperti sudah ada di tenggorokkan.


"Aneh sekali kamu ini, makanan di rumah juga banyak. Kalau mau kamu tinggal membuat ayam goreng seperti itu sendiri juga bisa?"


"Ish, ... kamu tidak mengerti. Perempuan kalau mau sesuatu, walau bisa mengerjakannya sendiri kadang mau juga beli."


"Kenapa bisa begitu?"


"Tidak tahu, mungkin karena moodnya gampang naik turun."


"Apa hubungannya dengan mood? Dan kenapa juga moodnya perempuan gampang naik turun?"


"Mungkin karena hormon."


"Hormon perempuan itu aneh. Kadang naik kadang turun. Kadang bagus kadang buruk. Membuat bingung." Pria itu menggerutu.


Kaysa menatap wajah suaminya.


"Hehe, ... ayolah ... sekali-sekali makan berdua. Anggap kita ini sedang kencan."


"Tidak mau." Rama meletakan sebelah tangannya di wajah, kemudian memejamkan mata.


"Ayolah Ram, ..." Kaysa mencondongkan tubuhnya sehingga wajah mereka berdekatan.


"Hey, ... ayolah ..." katanya, dan napasnya berhembus hangat di depan wajah Rama. Membuat pria itu mengerjap dan menurunkan tangannya.


"Ayolah Papa, istrimu ini sedang ingin makan itu, masa kamu tidak mau memberikannya sih?"


"Umm, ...


"Ah, ... kamu tidak asik. Coba kalau Aslan yag minta, pasti langsung pergi. Kenapa kalau aku yang minta malah banyak alasan?" Kaysa bangkit, bermaksud turun dari tubuh suaminya.


Namun setelah acara rayu merayu di sertai rajukan, akhirnya mereka berada di gerai makanan cepat saji itu. Dengan beberapa macam makanan yang sudah di pesan oleh Kaysa.


Perempuan itu menepuk-nepukkan kedua tangannya kegirangan, seperti bocah yang mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Terima kasih, kamu memang yang terbaik." Kaysa menyentuh pipi Rama yang segera duduk di sampingnya.


"Kamu yakin bisa menghabiskan semua ini?" Rama menatap ngeri makanan yang sudah terhidang di meja.


Ayam goreng tepung bersama satu porsi nasinya, sebuah beefburger, kentang goreng dan sausnya, juga es krim dan satu cup minuman dingin yang kesemuanya pesanan Kaysa.


"Iya, aku mau semuanya. Sudah terbayang enaknya seperti apa." jawabya, seraya meraih minuman dingin berwarna kuning itu, kemudian menyesapnya pelan-pelan.


"Cuma makanan cepat saji." Rama menggumam.


"Ah, ... segarrr!!" Kaysa memejamkan mata, menikmati minuman berperasa mangga dengan sedikit sensasi soda itu di tenggorokkannya.


"Enak sekali, pantas Aslan sangat menyukainya." Ekspresinya memang sebegitu lucu.


"Aneh sekali sih kamu ini? padahal kita sering makan di sini?"


Namun Kaysa tak mendengarkannya berbicara. Dia sudah sibuk dengan makanan yang di pesannya barusan.


Sedangkan Rama menatapnya dengan takjub, perempuan itu seperti baru menemukan makanan setelah beberapa lama.


"Pelan-pelan Kay, caramu makan sangat mengkhawatirkan." Rama membersihkan serpihan makanan dari mulut perempuan itu dengan tisu.


Kaysa tertawa dengan mulut di penuhi ayam tepung renyah itu, lalu menelannya dengan cepat. Kemudian kembali menyesap minuman dinginnya.


Lalu dia beralih pada burger dan kentang goreng yang di makannya secara bersamaan. Membuat Rama menggelengkan kepala karenanya.


"Eh, kamu tidak pesan?" Perempuan itu baru ingat setelah makanan miliknya hampir habis.


Rama menggelengkan kepala, lalu menyesap minuman miliknya.


"Kenapa?"


"Lihat kamu makan sebanyak itu saja sudah membuatku kenyang." jawabnya, dan dia tak percaya perempuan ini sudah menghabiskan makanannya.


"Lebay." Kaysa menyesap habis minumannya, kemudian membersihkan mulutnya dengan tisu.


"Sudah, ayo kita pulang?" katanya, yang kemudian bangkit dari kursinya.


"Serius? tidak mau pesan lagi?"


"Perutku sudah kenyang. Cukup untuk mengisi tenaga hari ini." Kaysa mengusap perutnya yang sudah terisi penuh.


"Tenaga untuk apa?" Rama sambil tertawa. Pikirannya segera saja beralih pada hal lain.


"Ya siapa tahu hari ini harus melakukan sesuatu?" Dia mengambil es krim yang masih utuh, kemudian mereka keluar dari tempat itu.


***


"Kamu sudah mencoba testpacknya?" Rama memulai percakapan dalam perjalanan pulang mereka. Sementara Kaysa asyik menikmati es krim vanila dengan toping butiran coklat itu.


"Belum." Dia menggelengkan kepala.


"Kenapa belum? Padahal sudah menyuruhku buru-buru membelinya, sampai-sampai kita berdebat."


"Harus besok pagi, begitu bangun tidur."


"Kenapa besok pagi?"


"Biar hasilnya akurat."


"Memang harusnya begitu ya?"


"Sekarang juga bisa sih, tapi tidak terlalu meyakinkan."


"Oh, ...


Kemudian Kaysa tertawa.


"Apa yang kamu tertawakan?"


"Aku hanya membayangkan, bagaimana kalau misalnya aku hamil?" Dia berhenti sejenak dari kegiatannya.


"Tidak bagaimana-bagaimana, memangnya kenapa?"


"Hanya merasa lucu saja, hehehe ..." Dia tertawa lagi.


"Dasar, kamu tidak jelas. Padahal kan sudah pernah."


"Tapi sekarang keadaannya berbeda."


Kemudian posel Rama terdengar berdering, dan nama kontak Adam menghubungi.


"Ya?" Dia menjawab.


"Bisakah kau datang ke markas?"


"Kapan?"


"Terserah kau saja."


"Apa penting?"


"Tidak terlalu juga, tapi aku rasa ada yang harus kita rundingkan."


"Baik, nanti aku ke sana."


"Oke." kemudian percakapan berakhir.


"Siapa?" Kaysa bertanya.


"Adam."


"Ada apa?"


"Tidak tahu, dia mengajak bertemu di markas."


"Kapan?"


"Ada masalah? atau ada tugas lagi?"


"Tidak tahu, kan kami belum bertemu."


"Kok aku merasa khawatir ya?"


"Khawatir kenapa?"


"Takut kamu mendapat tugas berbahaya lagi."


"Sudah resiko, Kay."


"Aku tahu, tapi tetap saja aku khawatir."


"Tidak usah di pikirkan. Aku kan sedang bebas tugas, mungkin masih di rumah dalam waktu lama."


"Hmm ..."


Mereka tiba dalam waktu kurang dari setengah jam, meski lalu lintas cukup ramai tapi masih aman terkendali.


Kaysa merebahkan tubuhnya di sofa yang paling dekat dengannya. Rasanya tubuhnya lelah sekali, tidak seperti biasanya. Dia kemudian meletakan ponsel di meja setelah membalas beberapa pesan yang masuk. Sebagian besar berasal dari stasiun televisi yang bertanya soal tawaran mereka.


"Manurut kamu aku harus menerima salah satu tawaran mereka?" katanya ketika Rama duduk di ujung sofa. Mengangkat kedua kakinya, kemudian meletakannya di atas paha.


"Terserah kepadamu. Kalau masih mau bekerja ya terima saja. Memangnya posisi apa yang mereka tawarkan?"


"Ada pekerjaan untuk reporter tetap, ada juga sebagai pembaca berita."


"Pembaca berita ya? wow."


"Menurutmu mana yang harus aku pilih?"


"Reporter bekerjanya di lapangan kan? pergi ke luar, dan terkadang mencari informasi seperti yang sering kamu lakukan?"


"Iya."


"Kalau pembaca berita bekerjanya di gedung kan?"


"Seringnya begitu."


"Ya sudah, kalau bisa pilih pembaca berita saja, lebih aman. Aku rasa reporter terlalu beresiko untukmu sekarang ini."


"Begitu ya?"


"Dan bagaimana dengan gajinya?"


"Mereka memberikan penawaran tinggi untuk pembaca berita."


"Apa lagi itu. Lebih baik kan?" Rama terkekeh.


"Mata duitan!"


"Kita realistis saja." Rama tertawa.


"Baiklah Pak." Kaysa kembali meraih ponselnya di meja.


"Kamu mau menerimanya?"


"Tentu saja, kan kamu sudah mengijinkan."


"Baiklah, ... tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa."


"Ish, kamu plin plan deh?"


"Hanya menyarankan." Kemudian Rama tertawa lagi.


"Oh iya, kapan kamu pergi ke markas?" Kaysa kembali memulai percakapan.


"Tidak tahu, mungkin sebentar lagi."


"Apa lama?"


"Tidak tahu Kay, ... memangnya kenapa?" Rama menoleh kepadanya.


"Tidak apa-apa, hanya saja ...


"Apa?"


"Jangan terlalu lama ya? apa lagi sampai malam, nanti aku kesepian. Aslan kan hari ini menginap di tempat Mas Radit."


"Paling hanya berbicara. Adam mengajak berunding."


"Berunding soal apa?"


"Tidak tahu, kan aku baru mau pergi."


Kaysa terkekeh.


"Cerewet sekali sih kamu ini?" Rama merebahkan kepalanya pada sandaran sofa.


"Bukan aku yang cerewet, tapi kamu yang irit berbicara." Kaysa menjawab.


"Ada saja jawabanmu? sekarang aku mengerti dari mana sifat cerewetnya Aslan turun? Rupanya dari kamu."


"Iyalah, kan aku mamanya. Untung bukan sifat Mas Radit yang turun."


"Tidak bisa di bayangkan kalau sifat papanya yang turun." Kaysa bergidik, membuat Rama tergelak.


"Tapi pasti ada salah satu sifat Radit yang turun." Rama menyela.


"Aaa, ... tidak mungkin! Jangan sampai!" Kaysa bereaksi.


"Memangnya kenapa kalau iya? dia kan papanya." Pria itu tertawa.


"Tidak mau pokoknya!" Dia bangkit kemudian merangkul pundak suaminya.


"Kalau sifatmu yang turun kepadanya tidak apa-apa, katanya, dan dia bergelayut pada lengan Rama.


"Mana bisa? Aku kan cuma papa sambung bagi Aslan?"


"Tapi kalau sering bersamamu sepertinya bisa." Kaysa merebahkan wajahnya pada dada pria itu. "Kamu lihat, mudah sekali dia menurut kepadamu."


"Hanya kebetulan."


"Dan itu kebetulan yang baik." Dia mengeratkan rangkulan tangannya.


Mereka ada dalam posisi itu untuk waktu yang cukup lama.


"Ram?"


"Hum?"


"Kamu perginya kapan ke markas?"


"Tidak tahu. Kenapa?"


"Umm, ..." Kaysa kembali pada posisinya semula, merebahkan tubuhnya lagi di samping pria itu.


"Kamu tidak mau melakukan sesuatu dulu?" Dia bertanya, namun sesaat kemudian merasa jika pertanyaannya itu sangat konyol.


"Apa?" Rama pun menoleh.


"Mungkin kamu perginya lama, atau pulangnya malam, jadi ..." Kaysa menggerakkan kakinya di paha pria itu. Menyusuri dari lutut hingga ke pangkal pahanya pelan-pelan.


Sesuatu menggerakannya untuk berbuat seperti itu, dan rasanya lucu. Melihat ekspresi Rama yang sedikit terkejut.


Kaysa tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya dengan keras. Konyol sekali dia melakukan hal ini, tapi rasanya menyenangkan. Hingga akhirnya kakinya menyentuh senjata milik pria itu yang sudah mengeras di balik celana jeansnya.


"Jangan konyol Kay!" Rama menggumam.


"Tidak mau?" Dia kembali tersenyum, dan kali ini bermaksud menggodanya.


"Sebentar lagi aku mau pergi."


"Memangnya kenapa?"


"Nanti malah membuat Adam menunggu."


"Memangnya dia akan memecatmu kalau membuatnya menunggu?"


"Tidak, lagi pula aku kan pemimpinnya."


"Lalu kenapa kamu takut membuat dia menunggu?"


"Tidak takut, hanya saja ...


Kaysa kembali menyentuh alat tempur pria itu dengan ujung-ujung jarinya. Kemudian sedikit menggerakannya.


"Kay!!!" Rama kembali bereaksi, dan hal itu membuat Kaysa kembali tertawa.


"Kamu mulai berulah ya?" Dia bangkit kemudian menindih tubuh Kaysa, dengan dua tangannya yang menggelitik perempuan itu hingga dia menjerit-jerit tak karuan.


"Jangan salahkan aku ya, karena kamu sudah membangunkan macan tidur." katanya, yang kemudian menarik perempuan itu bangkit.


"Aku suka kalau macannya sudah bangun, lagi pula ..." Dan dengan mudah Rama mengangkatnya di bahu, memanggulnya seperti membawa barang berat saja.


"Aaaa, ... jangan begini! nanti aku jatuh." Kaysa berteriak. Merasa ngeri dengan pemandangannya dalam posisi seperti itu.


"Iya, nanti kamu aku jatuhkan di tempat tidur!" Rama bergegas menuju ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.


*


*


*


Bersambung ...


Dih, mau ngapain lagi??? mentang-mentang rumah sepi ya😂😂


like komen sama hadiahnya kirim terus ya


lope lope sekebon korma 😘😘