Kopassus And Me

Kopassus And Me
Tahanan Khusus



*


*


Hari masih sangat gelap, dan udara Jakarta pun terasa dingin. Jam baru menunjukkan pukul dua pagi namun Rama sudah siap dengan pakaian dinas khususnya. Seragam serba hitam di lapisi rompi anti peluru, dan beberapa senjata di tas seperti biasanya. Kain penutup wajah sudah melingkar di leher, dan pistol cadangan bahkan dia selipkan di pinggang untuk berjaga-jaga. Sepertinya misi kali ini tidak bisa di anggap enteng. Meski di misi sebelumnya juga tidak bisa di sebut mudah.


Dia memasukkan tas terakhir ke dalam mobilnya, yang berisi perlengkapan tambahan yang Kaysa paksakan untuk dia bawa. Walau nantinya entah akan terpakai atau tidak, tapi setidaknya dia menurutinya agar perempuan itu tak terus mengoceh.


Rama menutup pintu bagian belakang setelah memastikan semua perlengkapan aman di tempatnya.


"Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik, dan juga Aslan." Rama berucap.


Kaysa menganggukkan kepala. Mereka bertatapan untuk beberapa saat, namun kemudian Rama menariknya ke pelukan.


"Doakan saja aku agar selamat dan cepat pulang." bisiknya, dan Kaysa pun mengangguk lagi.


Dia melepaskan rangkulan, dan tampak kedua netra perempuan itu yang basah.


"Jangan membuatku merasa berat untuk meninggalkanmu, Kay." dia mengusap buliran bening yang menyeruak keluar dari sudut mata Kaysa.


"Maaf." perempuan itu pun melakukan hal yang sama.


"Pergilah, dan cepatlah pulang dengan selamat." katanya.


"Aku hanya memindahkan tahanan." Rama terkekeh.


"Aku tahu."


"Tidak usah khawatir, doakan saja aku."


Kaysa menganggukkan kepala.


"Cepatlah sana, pergi. Atau aku akan menahanmu selamanya di sini." dia mendorong suaminya untuk segera pergi.


"Baiklah bu, pelan-pelan." Rama tergelak. Dia tahu istrinya ini sangat bersedih, namun Kaysa menutupinya dengan sangat baik. Tahu dirinya akan merasa berat untuk meninggalkannya jika dia menunjukkan kesedihannya.


"Baik-baik di rumah, oke? ingat latihannya." Rama berpesan.


Kaysa menganggukkan kepala sambil merapatkan pintu mobil untuk suaminya.


"Aku sudah mengeluarkan beberapa video lama, kamu bisa menontonnya sebelum latihan." pria itu menghidupkan mesin.


"Iya. Aku akan menonton videonya sambil menemani Aslan mengerjakan pr." jawab Kaysa.


"Bagus sekali Kay." Rama mengusap pipinya yang kemerahan.


"Tentu saja, sekarang tugasku bertambah kan?"


"Tidak juga. Aku kan pergi, jadi bisa di sebut ganti tugas." pria itu berkelakar, kemudian tertawa.


"Hmm ... benar juga. Ayo cepat sana pergi, nanti kamu terlambat." Kaysa mengingatkan.


"Apa kamu tidak akan memberikan aku sesuatu?" Rama bersiap.


"Apa?"


"Entahlah." pria itu tersenyum.


"Umm, ... baiklah." Kaysa maju mendekati pintu mobil, kemudian membingkai wajah Rama. Menariknya sehingga dia dapat mendaratkan ciuman pada bibirnya yang tertarik membentuk senyuman.


Untuk beberapa saat mereka saling mencumbu, dan di hentikan oleh suara dering ponsel milik Rama.


911 memanggil.


Pria itu terkekeh, kemudian Kaysa melepaskannya.


"Pergi dulu Kay." katanya, seraya melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah mereka. Sementata Kaysa menatapnya hingga mobil itu menghilang di tikungan.


"Mas Rama sudah bertugas lagi Mbak?" suara dari samping membuat Kaysa terkejut. Dia mengedarkan pandangan namun tak menemukan siapa pun.


"Di atas sini mbak." suara itu kembali terdengar. Dan tampaklah Fatma yag berada di balkon rumahnya, mencari tahu setelah mendengar suara mobil menyala di samping rumah.


"Eee ... iya bu." Kaysa menjawab.


"Baiklah, ibu kira ada apa. Soalnya seminggu ini kan Mas Rama libur." perempuan itu berujar.


Duh dia lihat yang tadi tidak ya? batinnya.


"Ya sudah, ibu masuk dulu." ucap Fatma yang kemudian kembali ke dalam rumahnya.


"I-iya bu." Kaysa pun segera kembali ke dalam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Namanya Anna Belmira Beatricia Alvaro. Adik bungsu dari bandar narkoba keturunan Brazil-Argentina Matteo Trinidad Alvaro. Yang di kenal sebagai bandar paling kejam sepanjang sejarah dunia. Di beberapa negara dia memggunakan nama Anna, Beatrice, Maria dan banyak lagi pada pasportnya." Adam sebagai pusat informasi di diantara mereka membagikan file yang menunjukkan jati diri tahanan yag akan mereka kawal kepindahannya.


Perempuan berambut pirang dengan mata berwarna sebiru lautan. Bibir sensual nan menggoda dengan tubuh aduhai.


"Sekilas tidak akan ada yang menyangka sama sekali jika dia merupakan buronan paling di cari interpol di seluruh dunia, karena hubungan darah dengan Matteo, dan keterlibatannya secara langsung dalam bisinis gelap kakaknya ini."


"Bukan hanya perdagangan narkoba hampir sebagian besar duania yang dia kuasai, tapi mencakup bisnis ilegal lainnya. Prostitusi antar negara, penjualan organ manusia, juga senjata ilegal pada beberapa kelompok separatis di seluruh dunia. Termasuk pemberontak di ujung timur negara ini."


"Dan aku pastikan dia benar-benar sangat berbahaya." Adam mengakhiri penjelasannya.


"Dia akan membunuh siapa pun yang tertangkap, dan memastikan mereka pulang tinggal nama. Tanpa mayat ataupun barang yang di pakai terakhir kali. Kau akan benar-benar hilang tanpa jejak."


"Lalu dari mana kau tahu soal ini? bukankah tidak akan ada yang tahu jika itu di sebut menghilang tanpa jejak?" Garin seperti biasa, menginterupsi.


"Maksudnya keberadaanmu, bodoh!" Junno menepuk belakang kepala rekannya tersebut.


"Aku bersungguh-sungguh. Tidak ada yang pernah kembali setelah mereka menangkapnya. Sekalipun telah bernegosiasi dengan ahlinya." Adam melanjutkan keterangannya.


"Baik, sederhana saja. Tugas kita hanya mengawal perempuan ini sampai tiba di tempatnya dengan selamat, memastikan semuanya aman, lalu pulang." Rama meletakan file di sela rompi anti pelurunya, kemudian mengenakan helm baja khusus keselamatannya. Dia memastikan segalanya terpasang dengan benar, termasuk pelindung tangan dan kakinya. Diikuti ke tujuh rekan-rekan lainnya.


Mobil mereka tiba di depan sebuah rumah tahanan khusus dengan keamanan maksimum. Para penjaga sudah siaga di depan dengan pengamanan khusus pula seperti yang pasukan hantu kenakan. Bersiap untuk mengeluarkan tahanan yang sudah menunggu sejak semalam.


Setelah semua prosedur di jalani untuk memastikan tidak ada kekeliruan, mereka segera membuka pintu. Membiarkan Rama dan anggotanya untuk masuk menjemput tahanan mereka.


Seorang perempuan dengan pakaian berwarna oranye duduk dengan angkuh di kursinya. Kedua tangan dan kakinya di borgol, namun tak menghilangkan kesan garang padanya. Meski wajah cantiknya tetap mendominasi, namun dia tak terlihat lemah sama sekali.


Rasa takut dan gentar seperti tak di milikinya, dan dia menghadapi delapan pria dengan seragam khusus berpenutup wajah itu dengan tenang.


Junno menodongkan senjata kepadanya saat dia bangkit dari duduknya, diikuti yang lain. Mereka benar-benar bersiaga menghadapi perempuan ini.


Rama memasangkan rantai tambahan dengan alat kejut listrik pada tangannya, untuk memastikan jika dia tak akan melakukan sesuatu.


Setelah semuanya aman, mereka menggiringnya keluar menuju mobil tahanan yang sudah siap di depan pintu.


Perempuan itu naik, di ikuti Rama dan Adam di belakang. Sementara Junno, Garin dan ke empat anggota lainnya masing-masing masuk ke dua mobil pengawalan yang di tempatkan di depan dan di belakang. Mengapit mobil tahanan tersebut sehingga lebih aman.


"My brother is heading us now. ( kakakku sedang mengejar kita sekarang.)" perempuan itu bersuara, dengan logat potugis yang kental.


Rama dan Adam saling melirik.


"Nobody can arrested me. (Tidak ada yang bisa menangkapku)." katanya lagi.


"He will cath you as a prey, and nobody can hide over him. ( dia akan menangkapmu seperti mangsa, dan tak ada seorang pun yang bisa bersembunyi darinya)." perempuan itu terus berbicara, kemudian tertawa.


Tak ada yang menanggapi, karena mereka sudah tahu mengenai ini. Perempuan itu akan menggunakan tipu dayanya untuk melepaskan diri.


Anna perlahan bergerak, namun Junno kemudian merentangkan senapan di depan wajahnya.


"One step you move, and i'ii blowed you head. ( sekali saja kau bergerak, maka akan kuledakan kepalamu.)" katanya dengan nada mengancam.


Anna menatap tajam ke arahnya, namun dia berhenti. Melirik kepada petugas yang satunya lagi dan mencari kesempatan, seperti biasa.


"Don't even think about it! ( jangan pernah berpikir untuk melakukannya.)" Rama pun menodongkan senapannya, yang kemudian membuat Anna mengurungkan niatnya.


*


*


*


Bersambung ...


vote dulu, tapi like komen sama hadiahnya jangan lupa juga ya😉😉


lope lope sekebon korma