Kopassus And Me

Kopassus And Me
Antara Misi Dan Cari Jodoh



*


*


"Jangan biarkan dia lolos!" Rama berteriak ketika seorang tersangka berusaha kabur dari mereka. Malam itu mereka kembali menjalankan misi penggagalan penyelundupan narkoba secara besar-besaran dari luar negeri.


Barang-barang tersebut di selundupkan lewat jalur laut dengan kontainer berisi ratusan pot bunga langka dari Brazil. Yang setelah di selidiki pot di bawah tanaman tersebut berisi kristal paling terlarang di dunia.


"Jangan tembak!" Rama mengingatkan, namun Juno tak mendengar. Bersama Garin dia melepaskan tembakan sehingga mengenai beberapa tersangka lain yang tampak melindungi rekan mereka yang telah lebih dulu melarikan diri.


"Sial! Tahan tembakan!" teriak Rama lagi yang kemudian berlari mengejar orang tersebut yang berusaha keluar dari pelabuhan Merak.


Pria itu berlari kencang mengejar sosok berperawakan sedang tersebut. Tidak terlalu tinggi, tubuhnya bahkan cenderung kecil yang menyebabkannya bisa berlari begitu kencang menghindarinya.


"Berhenti sialan!" katanya, yang hampir mendapatkannya.


Rama mengulurkan tangannya, yang sedikit demi sedikit mampu meraihnya sehingga dia mendapatkannya. Dan dengan cepat pria itu menariknya sehingga dia dapat menghentikannya.


Dan di menit berikutnya mereka terlibat pergulatan sengit saat sosok berpenutup wajah itu dia dapatkan. Rama berusaha mengunci tubuh kecilnya, namun orang itu yak mudah di taklukan. Dia selalu bisa melepaskan diri setiap kali Rama berhasil menahannya.


"Sialan!" pria itu bergumam, dan setelah bergulat saling mengunci untuk beberapa lama, akhirnya dia mampu menaklukannya juga. Rama bahkan sampai harus mendudukinya dengan kedua tangan yang segera dia borgol, sehingga orang itu meyerah dan dia tidak dapat berkutik lagi.


Tanpa berbasa-basi Rama menarik penutup wajahnya, yang membuat dia tertegun setelahnya.


Pria itu menemukan wajah cantik bermata biru di balik kain hitam, yang tampak sangat marah karena dia tak mampu melepaskan dirinya.


"Ram, ..." empat teman lainnya mengejar, sementara tiga orang lainnya menjaga tersangka yang masih tersisa.


***


"Dia adik bungsu gembong mafia Brazil." Juno menyerahkan file kepada Rama dan teman lainnya saat perjalanan pulang mereka pada hampir dini hari.


"Adik?"


"Dari informasi yang di kirim oleh interpol dia menjadi pengalih perhatian di manapun barang-barang milik kakaknya tiba."


"Lalu bagaimana dia bisa lolos?"


"Permainan."


"Sogokan?"


Juno menganggukkan kepala.


"Mereka selalu mempunyai alibi dan bukti yang masuk akal sehingga bisa membebaskan gadis ini." sambung Garin dengan file di tangannya.


"Berarti itu juga yang akan terjadi sekarang?" Rama bereaksi.


"Bisa jadi."


Mereka terdiam untuk beberapa saat.


"Jutaan dolar bisa membeli siapa saja bukan? termasuk aparat penegak hukum sekalipun." Garin merebahkan punggungnya pada sandaran di belakang.


"Dan mereka akan membiarkannya bebas, kemudian dia mengulangi perbuatannya di tempat lain. Bayangkan berapa juta orang akan menjadi pecandu narkoba dan menghancurkan sebuah negara."


"Para pemuda menjadi lemah, para perempuan hancur, dan masa depan anak-anak musnah."


"Dan tanggung jawab kita hanya sampai di sini saja. Menggagalkan pekerjaan mereka, lalu menghilang." sahut pria bernama Adam di belakang, yang tidak biasanya ikut berbicara.


"Ya, benar. Tanggung jawab kita hanya menjalankan misi ini, selanjutnya mereka yang menyelesaikan." sahut Garin.


"Dan membuat usaha kita sia-sia ketika gadis itu akhirnya di lepaskan? kau tahu apa hukuman peyelundup narkoba kan?" Rama dengan suara lemah.


"Hukuman mati."


"Dan itu pun tidak cukup untuk membayar kesalahan mereka, karena korban yang di timbulkan jelas sangat banyak." sambung Rama, kemudian mereka terdiam.


*


*


Kaysa menepuk-nepuk kepalanya sendiri saat bayangan kejadian itu kembali melintas di kepalanya. Dia terkekeh dengan kedua pipinya yang merona, seraya menggelengkan kepala.


"Astaga, Tuhan!" dia bergumam, kemudian tertawa.


"Bisa-bisanya aku melakukan hal itu? apa yang akan di pikirkannya nanti tentang aku ya? huh, perempuan gampangan!" dia terus berbicara sendiri.


"Tapi dia membuatku merasa gemas! huffthh ..." dia mengusap wajahnya sendiri.


"Mama lagi apa sih ngomel-ngomel sendiri? aneh deh?" Aslan menyerahkan piring bekas sarapannya.


"Hah? apa? tidak ada apa-apa." perempuan itu tersadar.


"Tapi dari tadi ngomong sendiri terus? mencurigakan?"


"Eh?" Kaysa meneruskan acara cuci piringnya.


"Mm ... Aslan hari ini mau jalan-jalan keluar? dokter bilang kamu harus sering-sering keluar rumah."


"Nggak mau ah." anak itu mundur, kemudian kembali duduk di sofanya seperti yang selalu dia lakukan setiap hari sejak pulang dari rumah sakit.


"Hmmm ... terus sekolahnya gimana?"


"Aku ... nggak mau sekolah lagi."


"Nanti kamu ketinggalan."


"Biarin aja, dari pada ketemu mereka lagi?"


"Tidak akan." Kaysa menyelesaikan pekerjaannya, kemudian menghampiri putranya. "Mereka sudah tidak ada lagi di sana."


"Tetep aja."


Kaysa terdiam sebentar. Keadaan ini memang terlihat serius, dan dia tidak dapat membujuknya dengan cara apa-pun.


"Kalau sekolahnya pindah mau tidak?" tawarnya kemudian.


"Nggak mau."


"Begitu ya?"


Kemudian Aslan kembali dengan kertas dan pensil warnanya. Membuat gambar-gambar dan lukisan lain seperti yang sudah dia hasilkan selama tiga hari belakangan.


"Prnya bagaimana?" Kaysa kembali mengajaknya berbicara.


"Udah beres dong."


"Benarkah?"


"Iya lah. Mama periksa aja sendiri." kemudian Kaysa melakukan apa yang di ucapkan putranya.


Dan benar saja, anak itu telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya dengan benar.


"Kalau Aslan tidak masuk sekolah bagaimana nanti?" perempuan itu berujar.


"Nggak gimana-gimana." anak itu menggoreskan pensil warna pada kertas gambarnya.


"Ketinggalan pelajaran dong?"


"Ada hape. Tanya aja ke guru pakai hape."


"Nanti teman-teman Aslan bagaimana?"


Aslan berhenti sebentar, lalu menatap wajah ibunya lekat.


"Nggak gimana-gimana juga. Nggak punya temen juga nggak apa-apa." dia kembali pada lukisannya.


"Begitu?"


"Iya." Aslan menganggukkan kepala.


"Apa sih yang kamu gambar? serius sekali dari tadi?" sang ibu mencoba melihat hasil karyanya.


"Jangan lihat! ini belum selesai, sedikit lagi." anak itu menutupi gambar dengan kedua tangannya.


"Tapi mama mau lihat."


"Jangan dulu, nanti nunggu om Rama."


"Om Rama?"


"Iya."


"Kenapa harus menunggu Om Rama?"


"Pokoknya tunggu Om Rama dulu, siapa tahu selesai."


"Om Ramanya sedang sibuk."


"Sibuk apa?"


"Bertugas."


"Jam segini biasanya nggak." Aslan melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Dia sangat hafal waktu di mana pria itu selalu datang menjenguknya ketika di rumah sakit.


"Kerjaan om Rama kan beda?" Kaysa berujar.


"Bedanya apa?"


"Mmm ... apa ya?"


"Polisi itu ... kerjaannya nangkepin penjahat kan?" Aslan dengan pikiran polosnya.


"Ya, kira-kira begitulah."


"Jadi Om Rama itu kerjaannya nangkap penjahat?" lanjut Aslan.


"Mungkin."


"Melem-malem?"


"Sepertinya begitu."


Kemudian terdengar suara pintu di ketuk dari luar, menyita perhatian ibu dan anak ini dari percakapan mereka. Dan Kaysa bergegas untuk membukanya.


Wajah kelelahan Rama langsung mendominasi begitu pintunya terbuka, namun pria itu menyunggingkan senyumnya yang manis.


"Hey? baru pulang?" Kaysa menatapnya yang masih mengenakan pakaian dinasnya. Seragam hitam, celana dan sepatu pdl. Namun tanpa rompi anti peluru dan senjata yang pernah di lihatnya terakhir kali. Mungkin dia sudah melepaskannya sebelum masuk ke gedung itu.


"Ya, dan kebetulan aku lewat sini." Rama menjawab seraya mengangkat bungkusan di tangannya.


"Apa ini?"


"Apa Aslan sudah makan? aku barusan lewat keefsi juga." katanya, kemudian tersenyum lagi.


"Oh, ..." perempuan itu menerima apa yang di bawanya, kemudian mundur beberapa langkah. "Mau masuk?" tawarnya, yang tentu saja menjadi sebuah undangan bagi pria di depannya.


"Aku tahu," Kaysa mengangguk-anggukkan kepala.


"Baik, ehm." Rama berdeham pelan.


Kemudian Kaysa membiarkannya masuk ke dalam ruangan itu, di mana Aslan masih asyik dengan kegiatannya.


"Om Rama!" Aslan melonjak begitu dia menyadari kedatangannya.


"Hey? sudah baikan?" pria itu menyambutnya, dan mengusap kepalanya setelah jarak mereka cukup dekat.


"Udah." Aslan menjawab.


"Tapi dia tidak mau keluar, juga tidak mau pergi ke sekolah."


"Jangan memaksanya,"


"Tidak, aku hanya bertanya." mereka duduk di sofa depan televisi, seperti biasa.


"Kamu baru saja pulang?" Kaysa kemudian bertanya.


"Sebenarnya dari subuh tadi, hanya saja aku diam dulu di kantor."


"Oh, ... apa sih pekerjaanmu? masa jaga malam?" perempuan itu tertawa.


"Memangnya om satpam ya? bukanya polisi?" Aslan menyela.


"Apa?"


"Tadi mama bilangnya om jaga malam? kan yang kerjaannya jaga malam cuma satpam. Kayak di sekolah aku."


"Mama bercanda, Aslan?" Kaysa tertawa lagi.


"Senang sekali kamu aku di samakan dengan satpam?" Rama bergumam.


"Habisnya kamu misterius. Perkara pekerjaan saja sepertinya kamu tutupi?"


"Aku kan polisi."


"Ya, ya ... baiklah pak polisi." perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ini ... rahasai kesatuan tahu?"


"Apa itu artinya rakyat sipil sepertiku tidak boleh tahu?"


"Sebenarnya tidak boleh."


"Kalau keluargamu?"


"Aku kan tidak punya keluarga."


"Kalau, Ram. Kalau."


Pria itu terdiam.


"Bagaimana jika kamu punya istri dan anak? apa mereka juga tidak boleh tahu?"


Rama menghela napasnya, lalu menghembuskannya perlahan, sambil mengerucutkan mulutnya.


"Ish, ... aku lupa. Kamu kan jomblo." Kaysa menepuk kepalanya sambil tertawa.


"Jomblo katamu?"


Dia menganggukkan kepala.


"Lalu yang kemarin itu apa?" pria itu menatapnya dengan perasaan gemas. Bisa-bisanya perempuan ini mengatainya jomblo setelah apa yang mereka lakukan kemarin sore.


Amnesia ya?


"Yang mana?" Kaysa berlagak polos.


"Yang kemarin, waktu kamu menci ..." segera saja Kaysa menutup mulut pria itu dengan tangannya. Menghentikan dia dari apa yang akan diucapkannya.


"Jangan di bahas." katanya dengan wajah yang memerah menahan malu.


Sementara Rama berusaha untuk menurunkan tangannya.


"Apaan sih? mama sama Om Rama kayak anak kecil deh?" protes Aslan melihat tingkah dua orang dewasa di dekatnya.


Dan keduanya sama-sama menahan tawa. Rama bahkan menggaruk kepalanya yang tak gatal, tidak percaya dirinya mengalami hal seperti ini.


"Om, aku bikin gambar." Aslan menunjukkan hasil karyanya yang baru saja selesai.


"Oh ya? mana? gambar apa?"


"Ini." selembar kertas Aslan serahkan. Semacam lukisan yang dia warnai dengam pensil warna.


Gambar seperti perempuam dewasa yang menggandeng anak kecil bertuliskan Mama dan Aslan. Lalu di sisi lainnya seperti gambar seorang pria dewasa dengan pakaiam hitam membawa senjata api dengan tulisan Om Rama.


Pria itu terdiam, kemudian menoleh ke arah Kaysa yang kemudian tersenyum samar.


"Aku nggak butuh temen-temen di sekolah, karena aku udah punya temen. Om Rama." Aslan mendongak ke padanya."


Tidak ada yang berbicara, mereka hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.


"Jadi, kalau aku nggak sekolah lagi nggak apa-apa ya? mama nggak marah kan?" Aslan kembali bersuara.


"Aslan, kalau misalnya kamu tidak sekolah nanti ..." Rama meremat tangannya, menghentikan dia berbicara.


"Tidak apa-apa kalau kamu maunya begitu." Rama menyambung ucapan Kaysa.


"Beneran?" bocah itu antusias.


"Ram?"


Rama memberi isyarat dengan anggukkan, meyakinkan Kaysa untuk mempercayainya.


"Iya, tidak apa-apa." ulang Rama.


"Nah kan, ... kata om Rama juga nggak apa-apa." Aslan kini beralih kepada ibunya.


"Tapi ...


"Kita iyakan saja dulu, sampai dia punya niat sendiri."


"Rama, ...


"Ingat apa yang akan terjadi kalau kita memaksanya?"


Kaysa berpikir.


"Dia masih dalam masa pemulihan." Rama mengingatkan.


"Hmmm ... baiklah, terserah kamu saja." perempuan itu akhirnya mengalah.


"Duh, ... aku lapar. Makanya tadi beli itu waktu lewat keefsi. Selain ingat kepada Aslan." Rama memegangi perutnya.


"Memangnya kamu belum makan?"


"Belum. Setelah bertugas aku kembali ke markas, terus pulang. Tidak ingat mencari makanan dulu."


"Uuhh, ... kasihan. Pak polisi nggak ada yang ngasih makan?" Kaysa berkelakar.


"Iya, maklum polisinya jomblo." Rama memutar bola matanya.


"Jomblo ya? makanya cari jodoh pak." perempuan itu terkekeh sambil menutup mulutnya.


"Ini lagi usaha." Rama menanggapi candaan Kaysa.


"Usaha apa?"


"Cari jodoh, siapa tahu dapat?" pria itu mengulum senyum.


Ah, ... konyol sekali sih ini? batinnya bergumam.


Lalu Kaysa berhenti tertawa.


"Tidak tahu ya, akan berjodoh apa tidak?" lanjut Rama, lalu menggigit bibir bawahnya.


"Mudah-mudahan sih berjodoh." katanya lagi, yang kemudian tersenyum.


Sementara Kaysa masih terdiam dengan pikirannya yang menerka-nerka.


*Maksudnya apa ya? ucapannya itu untuk aku atau siapa?


jangan-jangan cuma bercanda?


ah, ... kan aku kegeeran jadinya*. Batin Kaysa bermonolog.


"Mama, ... om Rama bilang laper, nggak mau ngasih makan apa? udah bawain ayam krispi uga?" Aslan menginterupsi lamunannya.


"Hah? umm, ... iya. lupa." Kaysa menjawab.


"Ah, mama lupa terus." ucap anak itu.


"Aju jadi laper lagi, mau makan juga ya?" Aslan membuka bungkusan yang di bawa Rama untuk mereka.


"Kan barusan sudah makan?"


"Bukan ma, itu sarapan. Kan cuma bubur ayam?" jawab Aslan.


Rama tertawa.


"Aih, ....


"Cepetan mama!" ucap Aslan lagi, dan Kaysa kemudian menyiapkan semuanya, sehingga akhirnya mereka makan bersama.


*


*


*


Bersambung ...


Ehm ehm, ... udah bawain makanan, udah makan bersama, terus apa lagi ya?


bobo bersamanya belum 😂😂😂


Kuy kasih dulu like, komen sama hadiah biar tetep di ranking.


lope lope sekebon korma 😘😘