
*
*
Wajah Rama tampak merengut, sementara Kaysa mengunyah makannya dengan riang. Mereka berada di restoran sebuah hotel di mana Radit membawa Aslan menginap.
"Cemberut terus pak? lagi pms ya?" Kaysa menyesap jus jeruknya dengan tenang, kemudian kembali menyuapkan makanannya.
Dalam hati dia tertawa karena berhasil mengerjai suaminya, setelah memberinya sekotak cokelat yang di belinya dari swalayan.
"Aku tidak suka cokelat." Rama bergumam.
"Kenapa? cokelat itu enak tahu? manis lagi, sama seperti aku." perempuan itu tersenyum manis.
Rama mendengus keras, merasa menjadi pria paling konyol di dunia karena sudah berpikiran macam-macam. Mengira apa yang akan di berikan istrinya itu merupakan hal yang luar biasa. Ternyata hanya sekotak cokelat yang dibelinya dengan uangnya sendiri ketika Kaysa memaksa turun di rest area.
"Iya, manis tapi mengesalkan." Rama bergumam.
"Apa?" Kaysa mencondongkan tubuhnya.
"Tidak."
"Kamu kesal?"
"Tidak, siapa bilang?" Rama menyangkal.
"Itu tadi? tidak suka ya aku memberimu hadiah? padahal itu kan janjiku tadi. Kalau tidak, nantinya kamu menyebutku pembohong lagi?"
"Umm, ... itu cokelat yang aku bayar Kay, aku kira karena kamu mau? bukan malah kamu berikan kepadaku." Rama dengan suara pelan.
"Aku tidak bisa memberimu yang lain tahu, aku kan pengangguran." Kaysa kembali menyesap minumannya hingga hampir habis.
Rama terdiam, dan dia baru ingat belum memberi perempuan itu uang sepeser pun sejak mereka menikah.
"Sudah, sini kalau tidak mau biar aku buang saja!" Kaysa meraih kotak cokelat di dekat Rama, namun pria itu menahannya.
"Ya sudah, tidak apa-apa."
"Katanya tidak suka cokelat? percuma kamu bawa juga kalau tidak di makan kan? buang saja, atau kita berikan pada orang yang lewat di luar nanti." ucap Kaysa dengan nada ketus.
"Sudah, tidak apa." Rama mendekap kotak cokelat tersebut di dadanya.
"Tidak usah kalau tidak mau." ucap Kaysa lagi.
"Mau, aku mau ..." Rama membuka kotak tersebut, kemudia mengambil satu potongam coklat dan menjejalkan ke dalam mulutnya sendiri. "Enak, enak." dia mengunyahnya dengan cepat.
"Katanya tidak suka cokelat?" perempuan itu menggerutu.
Namun Rama hanya tertawa pelan.
"Eh, ... itu ada Aslan." Kaysa menunjuk ke sisi lain restoran tersebut.
Tampak anak itu yang berjalan di samping Radit dengan tangan mereka yang saling bergandengan.
"Jangan sampai mereka lihat!" Kaysa menarik Rama untuk menundukkan tubuh mereka. Bersembunyi dari ayah dan anak tersebut yang melintas jauh di belakang.
"Kenapa kita harus sembunyi? bukannya kamu mau melihat Aslan ya?" protes Rama, yang menoleh ke belakang.
"Mereka sudah keluar." ucapnya kemudian.
"Cepat bayar makanannya, terus kita ikuti mereka!" Kaysa menariknya keluar dari tempat tersebut.
***
"Sebenarnya mau pergi ke mana mereka ini?" Rama menjalankan mobilnya dalam kecepatan sedang. Arus lalu lintas menuju puncak cukup padat sore itu.
"Aku pikir mungkin ke villa keluarganya Mas Radit." Kaysa tak mengalihkan perhatiannya ke arah mobil Radit yang berjarak dua mobil di belakangnya. Mereka sengaja mengikutinya untuk mengetahui apa saja yang pria itu lakukan untuk membuat Aslan terkesan.
"Kamu tahu jalan ini?" Rama menoleh kepadanya.
"Sepertinya aku ingat. Dulu waktu Aslan bayi kami pernah di ajak ke sini, untuk acara syukuran yang di adakan orang tuanya Mas Radit."
"Sepertinya mantan mertuamu baik?"
"Lumayan."
"Tapi kenapa punya anak seperti Radit yang sikapnya seperti itu ya?" Rama tertawa.
"Kamu tahu peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kecuali buah itu jatuh ke sungai dan terbawa arus?" Kaysa pun menoleh kepada suaminya.
"Peribahasa dari mana itu? bukankah hanya sampai tak jauh dari pohonnya saja ya? kenapa ada kalimat tambahan di akhirnya?" Rama memutar bola matanya.
"Pokoknya begitulah."
"Aneh sekali kamu ini?"
"Ibunya Mas Radit pernah mengatakn jika dulu anaknya itu baik, tapi semenjak kuliah dia jadi berubah. Makanya mereka nikahkan dengan aku. Tapi setelah menikah kelakuannya malah semakin jadi. Mungkin aku yang tidak mampu merubahnya."
Rama menyemburkan tawanya dengan keras.
"Mereka pikir menikahkan anak yang begitu adalah solusi ya? kenapa tidak di didik dulu yang benar, malah di nikahkan?" katanya.
"Ya, namanya juga orang tua, kan tadinya merasa punya harapan."
"Tapi buktinya? gagal kan?" Rama tertawa lagi.
"Senang sekali kamu menertawakan aku ya? puas sekali kelihatannya?" Kaysa mengulurkan tangannya untuk mencubit pinggang pria itu.
"Aww, Kay!" Rama memekik ketika jari-jari milik Kaysa mencapit pinggangnya, kemudian memutarnya dengan keras.
"Ampun Kay! sakit!" dia berteriak tapi juga tertawa di saat yang bersamaan.
"Masih menertawakan aku ya?" Kaysa membuat cubitannya menjadi semakin keras di pinggang suaminya.
"Stop, stop. Ampun! baik-baik aku minta maaf."
"Apa?"
"Maaf aku telah menertawakanmu, maaf." Rama memelankan laju mobilnya, lalu sebelah tangannya mencoba untuk melepaskan tangan Kaysa dari pinggangnya.
Namun perempuan itu masih melakukan hal yang sama.
"Kay, lepaskan! pinggangku sakit!" Rama dengan raut memelas.
"Huuuh, anggota pasukan khusus tidak kuat kena cubitan." Kaysa mencibirnya, namun tak urung juga dia melepaskan tangannya setelah beberapa saat.
"Tidak ada hubungannya." Rama mengusap-usap pinggangnya yang terasa perih dan panas.
"Eh, belokkan mobilnya." perempuan itu menepuk lengan suaminya ketika melihat mobil Radit berbelok ke arah yang dia hafal.
Memang menuju ke villa yang dulu pernah mereka datangi ketika baru melahirkan Aslan, dan di pertemukan dengan seluruh keluarga besar mertuanya.
"Benarkan yang aku bilang tadi? Mas Radit membawa Aslan ke villa keluarganya." mereka masih membuntuti pria itu jauh di belakang.
"Lalu kamu mau kita terus mengikuti mereka sampai ke villa?" Rama memelankan laju mobilnya, menghindari kalau-kalau penumpang di depan menyadari jika dirinya membuntuti mereka.
"Tunggu sampai mereka masuk ya?" ucap Kaysa, dan mobil itu berhenti ketika mobil milik Radit masuk ke pekarangan sebuah bangunan besar berpagar rendah. Sehingga Kaysa dan Rama dapat melihat apa yang terjadi saat mereka turun.
Pasangan paruh baya menyambut kedatangan Aslan dengan riang. Si perempuan bahkan memeluk anak itu dengan erat sambil menangis.
"Itu ... mantan mertuamu?" Rama menoleh kepada Kaysa yang menatap interaksi itu dalam diam.
"Iya." perempuan itu mengangguk.
"Sepertinya mereka sangat menyayangi Aslan?"
"Memang, mereka sangat bahagia waktu Aslan lahir."
"Lalu mengapa tidak mencegahmu ketika akan bercerai dengan Radit?"
"Mereka menyerahkan segala keputusan kepadaku, tahu aku sudah tidak tahan dengan anaknya."
"Hmm ...
Mereka menatap keluarga itu untuk beberapa saat. Aslan yang berlarian di halaman luas villa tersebut, di temani oleh Radit yang membawa bola dari dalam mobilnya, kemudian diikuti oleh kedua mantan mertuanya.
Seketika Kaysa merasa hatinya menghangat karena melihat mantan suaminya menepati janjinya kali ini.
"Kamu mau ke sana Kay?" Rama menginterupsi lamunannya.
"Tidak."
"Yakin? siapa tahu kamu mau bertemu dengan mereka dan bergabung?"
"Aku bilang tidak, Ram. Jangan mengatakan sesuatu yang akan membuat kita bertengkar." Kaysa beralih kepada suaminya.
"Apa? aku hanya menawarkan. Kalau kamu mau kita akan kesana." Rama menahan tawa.
"Kan sudah aku jawab tidak? kenapa kamu malah memaksa?"
"Aku tidak memaksa, sudah kubilang aku hanya menawarkan." pria itu akhirnya tertawa juga.
"Ish, ... kamu mau mengejekku lagi ya?" Kaysa memicingkan matanya.
"Tidak Kay, aku hanya ..." Rama memeluk pingangnya sendiri saat melihat perempuan itu sudah bersiap akan mencubitnya lagi.
Namun Rama tetap tak dapat mengelak ketika istrinya itu mendaratkan cubitannya di beberapa bagian tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hah, ... akhirnya sampai juga." Kaysa menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah memastikan pegawai hotel pergi.
Mereka terpaksa menginap di sebuah hotel tak jauh dari villa keluarga Radit karena semakin malam lalu lintas jalan raya tujuan Jakarta malah semakin padat.
"Kalau tahu begini tadi kita bawa pakaian ya?" Kaysa mengangkat kepalanya sebentar. Melihat suaminya yang menghambur masuk ke dalam kamar mandi.
"Ram? kamu mandi?" dia bertanya.
"Hmm ..." Rama hanya menggumam.
"Tapi kita tidak bawa pakaian ganti, kan?" Kaysa bangkit.
"Lalu kita akan tidur dalam keadaan begini? aku tidak biasa." Rama berteriak dari dalam kamar mandi.
"Terus? bagaimana setelah mandi ..." Kaysa melihat sekeliling kamar hotel bintang 4 itu.
"Kalau aku ada," Rama menyembulkan kepalanya yang sudah basah yang di penuhi busa shampo. "Di mobilku selalu ada pakaian ganti." dia melirik tas yang tadi di bawanya saat turun dari dalam mobil.
"Lalu aku?" kaysa menunjuk wajahnya sendiri.
"Pakai saja punyaku." Rama kembali ke dalam, namun sedetik kemudian kembali menjulurkan kepalanya lagi. "Atau, tidak pakai baju juga tidak apa-apa." dia menyeringai, lalu kembali lagi.
"Hah?" wajah Kaysa tampak memucat.
***
Kulitnya yang setengah basah terlihat menggoda.
"Umm ..." Kaysa tertegun dan merasakan dadanya yang berdebar-debar. Melihat suaminya dalam keadaan seperti itu menghadirkan perasaan lain pada dirinya.
Pundak yang kokoh, dadanya yang bidang, tangan berotot dan apa lagi selain perutnya yang kotak-kotak itu? tentu saja, itu adalah hasil latihan rutin dan olah raga yang sudah menjadi kebiasaannya selama ini.
"Tapi aku kan tidak bawa baju."
"Salahmu sendiri memaksaku langsung pergi, bukannya pulang dulu." pria itu mengeluarkan beberapa helai pakaian dari dalam tasnya.
"Kamu sendiri, kenapa bisa punya pakaian ganti? jangan-jangan sengaja ya? sudah tahu kalau aku akan memintamu mengikuti Aslan?"
"Kegeeran kamu."
"Terus, kok bisa begitu?"
"Aku harus selalu siap untuk segala situasi tahu? sewaktu-waktu aku bisa saja pergi tiba-tiba. Bahkan di saat cuti sekalipun." jelas Rama.
"Masa di saat cuti juga harus pergi? kejam sekali komandanmu itu." Kaysa menggerutu.
"Kalau ada hal darurat yang mengancam keselamatan negara, siapa pun harus menerima tugas. Tidak peduli bagaimana keadaanya."
"Ah, ... kamu tidak asik!" Kaysa pun bangkit seraya menyambar kaus hitam di tangan Rama. kemudian menghambur ke dalam kamar mandi.
Namun Rama malah tertawa sambil menutup mulutnya.
***
Kaysa pun keluar setelah beberapa menit, dengan keadaan lebih segar dari sebelumnya. Mengenakan kaus hitam milik Rama dengan rambut hitamnya dia ikat ke atas, sementara pakaiaannya yang semula dia pakai di gantungkannya di belakang pintu kamar mandi. Pak*ian dal*mnya bahkan di cuci agar besok pagi dapat dia gunakan lagi.
"Baik pak. Nanti saya koordinasikan dengan anggota." sepertinya Rama sedang melakukan panggilan di telefon. Dia duduk di tepi ranjang masih mengenakan handuknya, sementara pakaiannya terongok di ujung.
"Tidak, hanya sedang di luar kota." pria itu terkekeh. "Mungkin besok sudah di Jakarta."
"Baik pak. Besok saya hubungi rekan-rekan." kemudian percakapan pun di akhiri.
"Ck! ada tugas lagi ya?" Kaysa datang menghampirinya.
"Tidak." Rama meletakan ponselnya di bawah bantal, lalu menoleh.
"Lalu telefon barusan?" perempuan itu berdiri di depannya.
"Hanya pemberitahuan untuk melakukan persiapan."
"Persiapan apa?"
"Tugas." Rama tergelak.
"Tuh kan?"
"Bukan untuk sekarang Kay."
"Lalu untuk kapan?"
"Untuk nanti, setelah masa cutiku habis."
"Hmm ... beberapa hari lagi ya?"
"Begitulah." Rama meraih pakaiannya.
"Dan kamu akan pergi malam lagi, lalu tidak pulang selama berhari-hari?"
Rama hanya tersenyum.
"Lalu kita akan sering berjauhan?"
"Tidak, hanya sesekali Kay."
"Sesekalinya sering, Ram."
"Begitulah, ... itu kan re ..
"Resiko pekerjaan." Kaysa melanjutkan kalimatnya.
"Itu kamu tahu." pria itu tersenyum, dan dia hampir saja mengenakan pakaiannya.
Namun Kaysa segera meraih benda tersebut, dan menariknya hingga terlepas dari genggaman suaminya. Setelah itu, dia menjatuhkannya di lantai.
"Kay, aku harus berpakaian." Rama bereaksi.
"Tidak usah berpakaian, katamu begitu tadi?"
"Tapi ... di sini ... dingin."
"Nanti juga jadi hangat." perempuan itu lebih mendekat lagi.
"Umm, ...
"Kamu lupa dengan imbalanmu ya?" Kaysa duduk mengangkang di pangkuan Rama.
"Im-balan?" pria itu membeo.
"Imbalan karena sudah mengantarku melihat Aslan, ingat?" Kaysa memiringkan kepalanya.
"Kan sudah tadi siang." Rama mengulum senyum, seraya menahan debaran di dada. Pikirannya sudah melanglang buana, namun dirinya tidak mau terlalu berharap. Ingat kejadian tadi siang saat perempuan itu memberinya sekotak cokelat.
Kedua sudut bibir Kaysa pun tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Imbalannya manis, ... dan enak." pria itu berbisik.
"Kamu suka?"
"Ya."
"Tapi kamu bilang tidak suka cokelat?"
"Memang, tapi tadi itu cokelatnya manis. Seperti kamu." hatinya bersorak riang ketika Kaysa mendekatkan wajahnya.
"Benarkah?"
"Hu'um." pria itu mengangguk pelan, dan tangannya sudah merayap di paha Kaysa, dan bergerak semakin dalam di balik kaus hitamnya yang kedodoran.
Dan degupan jantung Rama menjadi semakin cepat ketika dia merasakan tidak ada penghalang yang membungkus bokong indah dan pusat tubuh perempuan itu.
"Umm, ...
"Lebih manis mana? cokelat itu ... atau aku?" Kaysa menatap ke dalam mata pria itu yang juga sedang menatapnya.
"Tidak bisa dibandingkan." lalu mereka segera bercumbu. Saling menyesap bibir yang sejak tadi sudah menunggu, merapatkan dada masing-masing yang benda di dalamnya berdegup begitu kencang. Dan tangan mereka yang secara otomatis menjelajahi setiap bagian tubuh masing-masing.
"Mmm ..." Kaysa menggumam dalam cumbuannya ketika Rama meremat buah dadanya dari balik kaus yang masih melekat di tubuh indahnya. Puncaknya bahkan telah mengeras pertanda telah merespon setiap sentuhan pria itu.
Telapak tangan Rama terus bergerak menyusuri setiap lekukan indah di hadapannya. Meninggalkan jejak panas yang terasa membakar gairah Kaysa. Sehingga dia tanpa sadar mend*sah pelan.
Tangan pria itu bergerak di belakang tubuhnya. Mengusap punggung, pundak, kemudian meremat kedua bongkahan bokongnya yang menggoda.
Sesaat kemudian Rama kembali menyentuh pahanya, lalu bergerak lebih jauh, sehingga dia menemukan pusat tubuh Kaysa yang tampaknya telah siap.
Pria itu menatap wajahnya yang mulai memerah. Hasrat jelas telah menguasai Kaysa, sehingga matanya tampak berkabut.
"Ah, ..." dia menengadahkan kepalanya saat dua jari pria itu menerobos inti tubuhnya, menghadirkan sensasi gila yang baru di rasakannya.
"Oh, ... Ram!" des*hnya dengan suara lirih, lalu dia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan suara des*han yang lebih keras saat Rama menggerakan jarinya di bawah sana.
"Uh, ..." napasnya menderu-deru dan dadanya naik turun. Tubuhnya memanas dengan cepat, dan dia mencengkeram pundak pria itu dengan kencang.
Bokongnya bergerak-gerak tak karuan, dan Kaysa hampir saja tak bisa menahan dirinya. Apa lagi setelah menyadari senjata Rama balik handuk sudah mengeras. Dan dia tergoda untuk melepaskannya.
"Ugh!!" Rama melenguh saat Kaysa menggapai miliknya. Dia menggenggamnya dengan erat, kemudian menggerakkan tangannya. Berusaha membalas apa yang tengah di lakukannya.
Dan untuk beberapa saat mereka menikmati hal tersebut. Namun kemudian gairah yang lebih kuat mendorong Rama untuk melakukan hal lain. Dia melepaskan tangannya dari pusat tubuh Kaysa, kemudian beralih pada pinggulnya.
Dia menaikkan perempuan itu sehingga genggamannya terlepas, dan pusat tubuh mereka sejajar. Lalu di detik berikutnya, Rama menekannya sehingga alat tempurnya menerobos dari bawah.
"Ah!!" Kaysa mendongak, dan rangkulannya pada pundak Rama menjadi semakin kencang. Sementara pria itu menciumi leher jenjangnya.
Rama kemudian menyusuri dada Kaysa yang masih mengenakan kausnya. Menggigit pelan benda tersebut yang menghadirkan perasaan tak biasa pada tubuh Kaysa. Sehingga perempuan itu merasa tak sabar. Dia lantas menarik lepas pakaian yang melapisi tubuhnya yang sudah memanas.
"Oh, ..." Rama menekan, lalu menggerakkan pinggul Kaysa. Sementara dirinya menghujam dari bawah. Membuat perempuan itu merintih tak karuan.
"Mmm ... sayang!" racau Kaysa, yang mulai mengerti keinginan pria itu. Dia menggerakkan tubuhnya, sehingga terjadi hal paling indah di dunia.
Ketika mereka sama-sama berpacu. Setelah saling memahami, lalu keduanya saling menyenangkan, dan saling memanjakan. Dan bagian paling membahagiakan dari itu adalah ketika mereka sudah saling mengerti gerak tubuh, dan raut wajah masing-masing ketika mendapatkan sentuhan dan perlakuan seperti itu.
Membuat mereka lebih semangat lagi untuk menggapai surga dunia, dan di waktu yang bersamaan menyenangkan pasangannya.
"Oh, ... Rama!" des*h Kaysa, yang tidak mampu menahan diri. Dia menggerakkan tubuhnya seolah hanya dirinyalah yang memegang kendali. Dan membuat pria di bawahnya menikmati apa yang dia lakukan.
Dan Rama membiarkannya berbuat sesuka hati, karena pada kenyataannya dia memang menyukai hal tersebut. Dia bahkan pasrah saja ketika perempuan itu mendorongnya hingga dirinya terlentang di bawahnya.
Tubuh indah Kaysa yang melonjak-lonjak di atasnya, atau terkadang meliuk-liuk tak karuan. Rambutnya berhamburan ke sana ke mari dengan raut wajah yang begitu menggemaskan sekaligus menggoda. Membuat hasratnya terus berkobar sehingga seolah membakar seluruh bagian tubuhnya.
"Ah, Kay!" Rama menggeram, dan dia kembali menekan pinggul Kaysa untuk merasakan kenikmatan yang lebih pada pusat tubuhnya. Namun merempuan itu malah menarik kedua tangannya, dan menahannya di atas kepala.
Menekannya, seolah dia ingin menguasai seluruh tubuh Rama di bawah kendalinya. Tanpa menghentikan gerakan tubuhnya yang semakin lama semakin cepat.
"Oh, Kaysa!" geram pria itu lagi, dan seluruh otot di tubuh kekarnya semakin mengencang seiring hasrat yang terus berkobar. Berputar di pusat tubuhnya, dan mencoba membobol pertahanannya. Namun dia tak berniat mengambil alih kendali walau perempuan di atasnya terus menggila.
Rama malah melahap dua bulatan indah milik Kaysa yang menggantung bebas di depan wajahnya. Menyesapnya bergantian, dan mepermainkan puncaknya yang benar-benar mengeras. Membuat perempuan itu semakin menggila.
Dia mempercepat gerakan pinggulnya, dan benda di bawah sana terus berdenyut semakin kencang. Sementara Rama pun menghujamkan dirinya dari bawah. Mengimbangi perempuan itu, tapi membiarkannya memegang kendali atas permainan ini. Rama senang melihat ekspresinya yang luar biasa indah.
"Enghh ..." Kaysa terus berpacu tanpa berniat merubah posisi. Dia sudah nyaman seperti ini.
Pria itu membuatnya ingin melakukan banyak hal, dan dia membiarkannya seperti itu. Membuatnya merasa bebas dan lepas dengan keinginannya sendiri.
Hingga setelah beberapa lama, saat keduanya sudah tiba di ujung, Kaysa menekan pinggulnya dengan keras, dan Rama menghujam dari bawah begitu dalam. Seolah-olah mereka akan melebur menjadi satu, seiring pancaran hebat di dalam sana. Yang di akhiri dengan lenguhan tertahan dan geraman rendah. Dan tubuh Kaysa yang ambruk di atasnya.
*
*
*
Bersambung ...
astaga! kemalaman up 🤭 jadi ya gitu deh 🤣
jan lupa kirim hadiah yang banyak
lope lope sekebon korma yang hari ini berisik 😘😘