Kopassus And Me

Kopassus And Me
Adiknya Aslan



*


*


Rengganis menatap rumah yang tidak terlalu besar itu begitu dia turun dari mobil. Sementara cucunya berlari ke teras di mana tuan rumah sudah berdiri menyambut mereka.


"Mama!" Aslan menghambur memeluk Kaysa.


"Dia tidak sabar untuk cepat pulang Kay," katanya, yang juga berjalan ke arahnya.


"Tidak apa-apa Bu. Aslan memang kadang tidak sabaran. Baru saja kami mau menjemputnya waktu Mas Radit menelefon." Kaysa menjawab.


"Ya, begitulah. Padahal kami masih kangen, tapi dia terus merengek. Papanya sampai sedikit kesal."


"Maafkan Aslan Bu."


"Namanya juga anak-anak."


"Masuk dulu Bu?"


"Tidak usah, Ibu buru-buru. Biasa, kalau kakeknya Aslan lama-lama di tinggal suka protes."


"Begitu?"


"Ya, lain kali saja."


"Baiklah." Kaysa mengantarkannya ke arah mobil, sementara putranya masuk ke dalam rumah bersama Rama.


"Oh iya, Radit sudah mengirim uang bulanan untuk Aslan, coba di periksa ya?" Perempuan itu berhenti di dekat mobilnya yang mengkilap.


"Oh, iya Bu. Terimakasih," jawab Kaysa.


Rengganis menatap mantan menantunya tersebut lekat-lekat. Kaysa terlihat sangat berbeda sejak dia bercerai dengan putra mereka. Perempuan itu tampak lebih ceria, dan dia lebih sering tersenyum.


"Kamu baik-baik saja kan?" Kemudian dia bertanya.


"Baik Bu, sangat bak."


"Syukurlah. Ibu sempat khawatir karena membiarkanmu berpisah denga Radit. Tapi tampaknya keputusanmu memang benar."


Kaysa tak menjawab.


"Maaf kalau selama ini kamu mengalami kesulitan, ibu harap kamu memakluminya."


"Sudah jalannya seperti itu Bu."


"Suamimu baik? Apa dia menyayangi Aslan juga?"


"Ya, baik. Dia menyayangi Aslan seperti anaknya sendiri."


Rengganis melihat ke dalam rumah lewat kaca jendela di mana Aslan sedang bercerita kepada Rama.


"Syukurlah, ibu jadi tenang mendengarnya." Dia kembali berbicara kepada Kaysa.


"Iya Bu."


"Nah, ibu harus pergi. Jangan lupa telefon saja kalau butuh sesuatu."


"Baik Bu." Kemudian perempuan itu pun pergi.


"Sudah pergi, Mama." Rama muncul setelah beberapa lama menunggu Kaysa yang tak kunjung kembali ke dalam rumah. Melainkan hanya berdiri di depan pintu pagar yang terbuka lebar.


Perempuan itu terkekeh, kemudian dia mengikuti suaminya menutup pintu, lalu mereka kembali ke dalam rumah.


"Mantan mertuamu sepertinya baik?" Rama merapatkan pintu depan sambil menutup gorden karena hari sudah beranjak petang.


"Ya, memang baik. Mereka bahkan mendukung keputuaanku untuk berpisah karena melihat kelakuan anaknya yang tidak terkendali. Dan lagi, mereka meminta maaf untuk itu."


"Jarang sekali ada mertua seperti itu."


"Ya, satu di antara sejuta, atau mungkin hanya ada dalam novel saja. Karena pada kenyataannya mereka akan membela putranya apa pun yang terjadi, meski putra mereka bersalah sekalipun. Malah menantunya yang akan di salahkan atas kekeliruan yang di lakukan putra mereka." Kaysa tertawa.


"Duh, ini curhat apa sindiran?" Rama tertawa mendengar perkataan istrinya.


"Umm, ... aku lihat itu di sinetron." Dan Kaysa pun ikut tertawa.


"Sejak kapan kamu nonton sinetron? kebiasaan!"


"Hanya sekilas kalau sedang santai."


"Hmm ..."


"Mama, mau ada pesta ya? kok mama masaknya banyak?" Aslan sudah siap di meja makan, dan menatap takjub berbagai macam makanan yang terhidang.


"Tidak ada, hanya saja hari ini spesial." Kaysa menjawab sang putra.


"Spesial karena apa?"


"Umm ...


"Mau makan sekarang boleh?" Anak itu dengan mata berbinar.


"Memangnya sebelum pulang nenek tidak memberimu makan dulu?" Lalu Kaysa balik bertanya.


"Makan sih."


"Terus kenapa mau makan lagi?"


"Abisnya, lihat masakan Mama bikin aku jadi laper lagi, ..." Aslan denga cengiran khasnya.


"Huh, dasar kamu memang gembul!" cibir Kaysa, sambil mencubit pipi gembil putranya, lalu dia tertawa.


"Boleh nggak?" tanya Aslan lagi, dan dia menatap makanan itu satu per satu.


"Boleh, kenapa tidak boleh. Mama juga masak ini untuk Aslan kan?"


"Asiaaapp!" Bocah itu segera mengangkat piringnya ke depan Kaysa, meminta di ambilkan nasi, seperti biasa.


Perempuan itu mengisi piring putranya dengan nasi, dan beberapa macam lauk yang membuat mata Aslan berbinar seketika. Dia memang sesenang itu setiap kali melihat makanan.


"Makan yang banyak ya nak? Biar kamu kuat dan cepat besar." Rama menepuk-nepuk punggung anak sambungnya itu pelan-pelan.


"Hum, setiap hari juga makan banyak. Tapi besarnya lama." Aslan menjawab dengan mulut penuh dengan makanan. Pipinya saja tampak menggembung saking semangatnya dia makan. Membuat kedua orang tuanya tertawa karena dia terlihat lucu.


"Selesaikan saja dulu makannya. Nanti kita bicara." Rama menjawab.


"Kayaknya serius?" Aslan berucap.


"Tidak juga."


Dan setelah menyelesaikan acara makan, keluarga kecil ini beralih ke ruang tengah di mana televisi menyala menayangkan acara kartun favorit Aslan.


Kaysa dan Rama saling memberi isyarat untuk memulai pembicaraan, namun keduanya tak ada yang benar-benar melakukan apa yang seharusnya.


Entahlah, rasa ragu dan pikiran jika anak itu akan sulit menerima kehadiran anak lain di dalam keluarga mereka sepertinya menguasai. Mengingat betapa selama ini dia selalu menjadi prioritas. Namun tiba-tiba saja anggota keluarga mereka bertambah, dan dia harus berbagi segala hal.


"Ehm, ..." Rama berdeham untuk memulai percakapan.


"Aslan pergi kamana saja selama menginap dengan papa?" Pria itu memulai percakapan.


"Nggak ke mana-mana, cuma di rumah aja." Aslan menjawab.


"Masa, tidak jalan-jalan?" Kaysa turut bertanya.


"Nggak, kan papanya juga lagi sakit, nggak bisa ke mana-mana."


"Ah, benar juga."


"Untung di sana ada nenek sama kakek, jadinya aku nggal bosen. Main aja seharian kan."


"Dengan nenek dan kakek?"


"Hu'um." Aslan menganggukkan kepala. "Sama siapa lagi, nggak ada temennya kan."


Dua orang dewasa itu saling berpandangan.


"Memangnya Aslan mau punya teman?" Rama bergeser ke dekatnya.


"Ya mau lah, kan asik. Ada temen ngobrol, temen main. Ngerjain pr juga ada temennya."


"Kan ada Papa dan Mama?"


"Itu beda. Yang seumuran gitu."


"Kalau lebih kecil dari Aslan?" Rama memiringkan kepalanya.


"Hum? lebih kecil?" Anak itu menoleh dengan kening yang agak berkerut.


"Iya, lebih kecil." Rama mengangguk.


Aslan tampak berpikir.


"Adik maksudnya?" Kemudian dia berkata.


"Ah, ... kamu mengerti ternyata." Rama pun tergelak.


"Dih, soal gitu aya ngomongnya ke mana-mana dulu?" ucap anak itu lagi dengan cueknya.


"Bahasamu ini, ... dapat dari mana sih?" Pria itu mengusak puncak kepala anak sambungnya dengan gemas.


"Jadi, ... tidak apa-apa kalau kamu punya adik?" tanya nya kemudian.


"Ya nggak apa-apa, emangnya kenapa?" Aslan menjawab.


"Serius?"


"Hu'um, ... kapan?"


"Apanya?"


"Punya adiknya."


"Sebentar lagi."


"Kok sebentar lagi?"


"Adiknya masih kecil."


"Mana?"


"Di perutnya Mama."


Aslan menoleh kepada Kaysa, dan menatap wajah perempuan itu dengan raut bingung. Kemudian beralih pada perut ratanya.


"Mana? nggak ada?"


"Di dalamnya." Rama hampir tertawa lagi.


"Masa?"


"Iya."


Aslan pun terdiam lagi.


"Kenapa adiknya di perut mama?" Dia bertanya setelah berpikir cukup lama.


"Umm, ...


"Asiiikk!! sebentar lagi aku jadi kakak!" Aslan segera menghambur ke pelukan Kaysa.


"Berapa hari lagi? lama nggak? adiknya laki-laki atau perempuan? nanti boleh ya dia main sama aku? nggak jauh-jauh kok, cuma di rumah aja." Anak itu terus meracau. Reaksi yang tak di sangka-sangka sebenarnya, tapi itu cukup melegakan bagi mereka.


*


*


*


Bersambung ...


ayo gaess, udah masuk ranking nih. Kirim lagi hadiah sama vote nya biar makin naik.


lopr lope sekebon korma 😘😘