Kopassus And Me

Kopassus And Me
Cuti #2



*


*


Rama menyentuh gundukkan indah di bawahnya dengan lembut, kemudian merematnya dengan perlahan. Seraya mempermainkan puncaknya yang telah mencuat. Dia kembali merasakan hawa panas yang mulai menguar dari tubuh perempuan itu.


Perlahan senyuman mulai terbit di bibirnya. Senyum penuh kekaguman, menatap wajah dan tubuh mempesona Kaysa yang berada di bawah kuasanya.


Mengapa ini terasa begitu indah?


Mengapa rasanya juga menyenangkan? Dan terlebih lagi, membuat dadanya meletup-letup dengan hebatnya.


Jika saja dia tahu jatuh cinta dan kasmaran bisa seindah ini, mengapa tidak sejak dulu mereka bertemu? pasti rasanya akan lebih indah. Ketika mereka masih sama-sama pertama kali untuk satu sama lainnya.


Mereka sama-sama berada di Jakarta, tapi serasa berada di antah berantah.


Dia menundukkan wajahnya dan meraih bibir kemerahan perempuan itu. Di sesapnya sepenuh hati, di rasainya dengan penuh penghayatan, dan di nikmatinya seolah tidak pernah puas.


Kemudian dia kembali menelusuri setiap bagian tubuh Kaysa, yang kulitnya terasa selembut sutera. Yang kemudian mulai memanas dengan sendirinya.


Namun kini dia melakukannya dengan perlahan, tanpa terburu-buru seperti sebelumnya. Seolah ingin menikmati momen ini dengan sebenar-benarnya.


"Ah, ..." Kaysa mendes*h dengan tubuh yang melengking dan matanya terpejam ketika di rasakannya Rama menerobos inti tubuhnya.


Terlebih, ketika pria itu menghentakkan tubuhnya, membuatnya merasakan hal yang lebih luar biasa lagi.


"Ngh, ..." erangnya, dan dia mencengkeram pergelangan tangan Rama yang bertumpu di sisi kiri dan kanannya untuk menyalurkan hasrat yang begitu menggelora menguasai seluruh tubuhnya.


Rama berusaha melakukannya dengan perlahan, berusaha menikmati setiap detiknya dengan baik agar dia juga bisa memahami setiap ekspresi dan raut wajahnya. Juga gerak tubuhnya yang mulai membuatnya merasa kehilangan akal.


"Oh, ... kamu menyiksaku Ram, kamu menyiksaku!" racau Kaysa dengan cengkeraman di lengan pria itu yang semakin kencang.


Kepalanya terus mendongak dan dadanya kian membusung, membuat puncaknya semakin mencuat menggemaskan. Membuat pria yang tengah berpacu di atasnya merasa semakin tergoda. Tubuh indahnya begitu mengundang untuk terus di sentuh.


"Uuuhhh, ..." lenguhnya, ketika Rama menyesap puncak dadanya, sementara rematan di dada lainnya tak dia hentikan. Dengan hentakan yang terus dia lanjutkan.


Kedua tangan Kaysa memeluk pundaknya, kemudian merayap menekan kepalanya sehingga membuat sesapan pria itu di dadanya semakin dalam.


Pusat tubuhnya berdenyut-denyut kencang selama beberapa saat, dan dia merasa frustasi. Mendapati Rama yang tak kunjung menambah kecepatan hentakannya.


Kaysa kemudian melingkatkan kedua kakinya, sehingga membuat hujaman pria itu di pusat tubuhnya menjadi semakin dalam.


"Ah, ..." des*hnya lagi, dan dia semakin frustasi.


Sementara Rama tengah berusaha mati-matian untuk tak terbawa suasana. Meski nyatanya dia sulit untuk menahan diri karena pemandangan di bawah sana sungguh membuat gairahnya menggila. Perempuan ini benar-benar membuatnya hampir kehilangan kendali.


"Oh, ... Rama!" Kaysa terus meracaukan namanya, dan semakin membuat pria itu merasa tak karuan.


Merasakan perempuan itu yang mulai menggerakan pinggulnya, mengikuti pergerakannya yang mulai tak terkendali. Rama bahkan merasakan senjatanya di bawah sana seperti di rem*s dan di pelintir yang lama kelamaan menjadikannya hilang kesabaran.


"Oh, ... iya, sayang. Iya." racau Kaysa lagi saat Rama menghentak semakin cepat, dan dia mempersiapkan diri untuk pelepasan yang datang menyongsong.


Kedua tangannya terus menelusuri tubuh pria itu, merasakan otot-ototnya yang semakin mengencang dan mengeras seperti halnya benda di bawah sana.


Rama merasakan kendali atas tubuhnya sendiri berangsur menghilang ketika klim*ks mulai menggulung kesadarannya. Dan di detik berikutnya dia menekan pinggulnya dengan keras sehingga alat tempurnya terbenam seluruhnya kepada Kaysa. Seiring perempuan itu yang tubuhnya menegang bersamaan dengan pelepasan yang menghantamnya dengan begitu keras. Dan sesuatu di dalam sana memancar dengan begitu derasnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Rama tak bosan menatap wajahnya yang masih menyisakan keringat, sisa pertempuran hebat mereka beberapa saat yang lalu. Dia merasa begitu bahagia, dan rasa cintanya menjadi semakin besar. Kaysa telah mengisi seluruh ruang di dalam dirinya yang semula terasa kosong dan hampa.


Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah perempuan itu. Yang terlihat semakin cantik, semakin mempesona, membuatnya merasa tergila-gila.


Ah, ... aku memang sudah gila. batinnya, lalu dia terkekeh.


Jari-jarinya merayap menyentuh bibir kemerahan milik Kaysa, kemudian mengusap pipinya yang masih tampak merona. Tentu saja hal itu terlihat jelas karena keaadaan saat itu adalah lewat tengah hari, dan dirinya tak percaya percintaan tersebut berlangsung di saat-saat seperti itu.


Bersiaplah Rama, mulai sekarang hari-harimu tidak akan sama lagi. batinnya lagi.


Kaysa terlihat menggumam, kemudian kepalanya bergerak-gerak karena mendapatkan sentuhan Rama, lalu menelusup mencari tempat yang nyaman di dada pria itu.


Kaysa bahkan melingkarkan tangannya di pinggang Rama untuk memeluknya dengan erat.


"Baiklah, kita nikmati saja hal ini, sebelum nantinya terganggu lagi oleh panggilan tugas, bukan?" gumamnya, dan dia pun merangkul pundak Kaysa, untuk kemudian memeluknya dengan erat. Dan akhirnya mereka sama-sama terlelap.


*


*


Rama merasakan guncangan keras pada tubuhnya, dan ketika dia membuka mata, maka wajah Kaysa lah yang mendominasi. Dia sudah dalam keadaan rapi dan wangi, sepertinya sudah mandi lagi untuk yang ke tiga kalinya.


"Hey, sayang? jam berapa ini? ada apa kamu membangunkanku?" dia segera bertanya, tiba-tiba saja merasa kegirangan melihat perempuan itu sudah dalam keadaan segar.


Rama bangkit dan kemudian mencondongkan tubuhnya untuk merangkul Kaysa, namun dia malah menghindar.


"Bangun!" katanya.


"Ada apa?" Rama bereaksi.


"Setidaknya bangun dulu, dari tadi aku sulit membangunkamu." keluhnya.


"Benarkah?" Rama menyugar rambutnya dan mengusap wajahnya.


"Tidurmu seperti orang pingsan Pak!"


Rama hanya tergelak.


"Sssttt! biasa saja tertawanya, tidak usah sampai begitu. Lebih baik kamu menolongku untuk menghubungi Mas Radit."


"Menghubungi Radit?" Rama mengerutkan dahi.


"Ya, dia belum mengantar Aslan pulang, padahal ini sudah hampir petang, lihat?" dia menunjuk jam dinding.


"Kenapa tidak kamu saja yang menelefon?"


"Tidak mau." Kaysa bergidik.


"Kenapa?"


"Sebisa mungkin aku tudak mau melakukan kontak dengan dia, apa lagi sampai harus menelefonnya. Nanti dia kepedean mengira aku membutuhkannya?"


"Aneh sekali kamu ini?"


"Jadi, karena sekarang kamu sudah jadi suamiku, maka tugasmu adalah mengurus masalah ini." Kaysa meraih ponsel Rama dan memberikan benda itu kepadanya.


"Apa?"


"Mulai sekarang, kamu yang menghubungi Mas Radit untuk kepentingan Aslan."


"Kamu mulai mengaturku, Kay?"


"Ya." jawab Kaysa dengan tegas.


"Tapi dia kan ...


"Dia papanya Aslan, dan mantan suamiku. Dan aku tidak mau berhubungan dengan dia apa pun alasannya. Jadi, sekarang ini menjadi urusanmu, pak."


"Hah?"


"Kamu sendiri kan yang mengijinkan dia membawa Aslan?"


"Tapi Kay?"


"Telefon dia, dan suruh pulangkan Aslan sekarang juga, sementara aku mau menyiapkan makan malam." katanya lagi, dan dia segera keluar dari kamar mereka.


"Apa yang ..." Rama menggumam sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


***


"Ya, hallo. Begini Radit ... " pria itu keluar dari kamarnya sambil melakukan panggilan telefon. Seperti yang di minta Kaysa beberapa saat yang lalu.


" ....


"Oh, begitu ya?"


"...


"Tidak, hanya saja Kaysa memintamu untuk mengantarkan Aslan sekarang."


"...


"Baiklah, nanti aku katakan kepada Kay."


"...


"Baik." lalu percakapan pun dia akhiri.


"Bagaimana? Aslan mau di antar kapan?" perempuan itu langsung bertanya ketika Rama duduk di kursi makannya.


"Sepertinya malam ini dia akan menginap." pria itu meletakan ponselnya.


"Menginap?" Kaysa sedikit memekik.


"Ya, Radit membawanya pergi ke puncak. Kebetulan ada pekerjaan di Bogor, dan dia sengaja membawa Aslan."


"Sudah aku kira akan seperti ini!" Kaysa menghempaskan bokongnya di kursi dengan perasaan gusar.


"Dia selalu seperti itu. Berbuat seenaknya tanpa memikirkan dampaknya."


"Hanya semalam Kay, biarkan daja dulu. Kita lihat, apa Radit akan menggunakan kesempatan ini dengan baik atau tidak."


"Arrgghh! kamu seperti itu!"


"Ya apa lagi? Radit juga papanya Aslan, kita juga tidak boleh seenaknya menghalangi dia untuk dekat dengan papanya. Biar Aslan mengenal papanya juga kan?"


"Tapi kan ..


"Kay, ..." Rama mengulurkan tangannya untuk menyentuh pundak Kaysa.


"Beri mereka kesempatan untuk dekat. Aslan juga punya hak untuk mendapatkan kasih sayang papanya. Itu bagus untuk dia Karena ada hal yang tidak bisa tergantikan walau aku juga sangat menyayanginya dan menganggap Aslan seperti anakku sendiri. Dia tetap butuh papa kandungnya."


Kaysa terdiam.


"Kehadiran Radit sangat bagus untuk pertumbuhan mentalnya. Siapa tahu itu juga bisa mempercepat pemulihannya."


"Kamu pikir begitu?"


"Ya, mari berharap Radit tidak akan berbuat macam-macam."


"Kalau dia melakukan sesuatu?"


"Maka dia akan berhadapan denganku." Rama menyentuh pipi Kaysa dengan punggung tangannya.


"Oh astaga, lukamu!" Kaysa bereaksi ketika ekor matanya menangkap permukaan verban di lengan Rama.


Dia meraihnya, kemudian melihatnya untuk beberapa saat.


"Berdarah lagi Ram?" dia menyentuhnya, dan memang benar. Terlihat bercak darah yang tembus hingga keluar.


"Tidak apa-apa, di ganti verbannya juga sudah baik." pria itu berucap.


"Bukannya ini di jahit ya? kenapa bisa berdarah lagi? seperti kamu sudah mengerjakan sesuatu yang berat saja?" Kaysa membuka verban yang menutupi lukan tersebut. Dan benar saja, sedikit darah keluar dari luka yang jahitannya mulai mengering.


"Umm, ... kamu ... memegangnya terlalu keras tadi." Rama mengingatkan interaksi tadi siang saat mereka bergumul di bawah gulungan hasrat menggelora.


"Apa?" Kaysa beralih menatapnya.


"Kamu berpegangan padaku seolah takut terjatuh," Rama menahan senyumnya.


"Mm ...kenapa tidak bilang? aku kan tidak sadar tadi?" pipi Kaysa bersemu merah, dia berusaha menyembunyikannya dengan menunduk namun Rama meraih dagunya untuk mengembalikan perhatiannya.


"Terlalu menikmati saat itu jadi ...


"Aku obati. Kamu punya P3K?" Kaysa segera bangkit.


"Ada di lemari tivi paling atas." Rawab Rama dan dia hampir saja tertawa.


Tingkah perempuan ini begitu menggemaskan, terutama jika dia sedang malu-malu.


Kaysa segera pergi ke ruang tivi dan mengambil kotak obat-obatan tersebut dan kembali dengan cepat.


Dia membersihkan darah yang hampir mengering di sekitar lukanya dengan kapas dan alkohol, kemudian mengoleskan cairan pemulih luka, dan menutupnya dengan kapas baru juga kain kassa. Melingkarkannya membungkus sebagian lengan pria itu, dan merekatkannya dengan plester.


"Nah, sudah. Lukanya aman di sini." Kaysa mengecup lengan pria itu lalu mengusapnya perlahan.


"Kamu berlebihan." Rama bereaksi.


"Apanya yang berlebihan?" Kaysa mendongak.


"Caramu membungkus lukanya. Kenapa sebanyak ini? jadi terlihat sangat parah kan?"


"Tidak apa. Agar aku ingat kalau tanganmu yang ini terkuka, jadi aku tidak akan memeganginya terlalu kencang saat kita bercinta lagi nanti." perempuan itu membereskan kotak obatnya.


"Apa?"


"Um ... tidak. Hehe, aku hanya asal bicara eh, .." Kaysa menutup mulut dengan tangannya, kemudian tertawa.


"Sebelum bercinta lagi, lebih baik kita makan dulu untuk mengisi tenaga." Rama menanggapinya dengan perasaan girang bukan kepalang.


"Ap-apa?"


"Kamu kan yang bilang itu tadi? bercinta lagi?" pria itu menyeringai.


"Tapi kan sudah, ...


"Mumpung banyak kesempatan, cutiku juga masih utuh dan Aslan tidak ada di sini." dia menggerak-gerakkan alisnya ke atas. Saat ini pikirannya sedang di penuhi hal mes*m, dan itu karena Kaysa.


Sementara perempuan di depannya menatapnya dengan berdebar.


"Makan Kay, sebelum aku memakanmu nanti." pria itu memulai acara makannya dengan perasaan riang.


*


*


*


Bersambung ...


omegat!! Kang Korma terus memanas!🤭🤭


siapkan mental!😆


jan lupa kirim like komen sama hadiah biar dia on terus.


lope lope sekebon korma 😘😘