
*
*
Kaysa terbangun saat tidak merasakan tubuh hangat Rama yang sejak dini hari tadi mendekapnya, setelah menuntaskan pergumulan yang sempat berulang dan membuatnya hampir kewalahan. Pria itu benar-benar melampiaskan semua hasrat dan perasaannya, seolah mereka tidak akan memiliki banyak waktu setelah ini.
Dia membuka matanya perlahan, lalu melihat sekeliling kamar hotel di kawassn wisata itu yang masih temaram, namun Kaysa tidak melihat tanda-tanda keberadaan suaminya di sana.
"Ram?" panggilnya, saat dia bangkit. Namun tak ada sahutan.
Kaysa menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya, dan dia hampir saja turun dari tempat tidur ketika di saat yang bersamaan pintu kamar di buka dari luar.
Perempuan itu kembali ke ujung dan menarik selimutnya.
"Sudah bangun?" Rama merapatkan pintu.
"Baru saja. Kamu dari mana?"
"Hanya berjalan-jalan di sekitar. Aku tidak bisa tidur lagi setelah matahari muncul, karena terbiasa bangun pagi-pagi mungkin." Rama terkekeh, lalu dia meletakan bungkusan di sofa kecil di dekat tempat tidur, lalu dia duduk di dekat istrinya.
"Apa itu?" Kaysa bertanya, seraya menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.
"Makanan, tadi aku beli di depan." jawab Rama.
"Memangnya di hotel tidak ada ya?"
"Ada."
"Terus, kenapa kamu malah beli?"
"Aku pikir kamu belum bangun, makanya aku bawakan."
"Oh, ... aku pikir kamu pergi bertugas?"
"Tidak, kan masih cuti."
"Kamu bilang harus selalu siaga di segala situasi, walau sedang cuti sekali pun?" Kaysa mengingat percakapan semalam.
"Tapi tidak sekarang." Rama terkekeh lagi.
"Negara masih aman?"
"Setidaknya mereka belum membutuhkan kami." jawab Rama.
"Mereka?"
"Pasukan lain."
"Memang ada pasukan lainnya selain kamu dan timmu ya?"
"Banyak."
"Terus kenapa kamu juga kebagian sibuknya kalau banyak tim sepertimu?"
"Karena masalah yang ada itu tidak hanya puluhan. Tapi ribuan masalah rahasia yang tidak bisa di tangani oleh satu atau dua pasukan saja. Tapi kami mendapat bagian masing-masing untuk di selesaikan agar pasukan lainnya bisa bekerja. Dan kami menjadi salah satu tim yang paling pertama membuka peluang bagi tim lainnya. Tapi mungkin sekarang mereka bisa menanganinya tanpa kami." Rama menjelaskan.
"Oh, ..." Kaysa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mengerti?" pria itu menatapnya lekat-lekat.
"Tidak. Penjelasanmu membuatku pusing." jawab Kaysa yang beringsut dari tempat tidur dengan selimut yang dia lilitkan di dadanya.
"Kamu mau kemana?" Rama mengikuti dengan pandangannya.
"Mandi, apa lagi? masa mau di tempat tidur terus?" perempuan itu menghambur ke arah kamar mandi.
"Mandi?"
"Hu'um." Kaysa menjatuhkan selimut di ambang pintu, sehingga bagian belakang tubuhnya yang polos terpampang nyata, kemudian dia masuk ke ruangan tersebut. Lalu Rama mengikutinya, dan menahan pintunya yang hampir saja tertutup.
"Kamu mau apa?" perempuan itu bereaksi di belakang pintu.
"Mandi juga." Rama dengan pikirannya yang tak lagi se lugu dulu.
"Ap-apa? memangnya tadi belum?"
"Sudah."
"Lalu?"
"Mau mandi lagi." Rama menyeringai, dan dia melepaskan pakaiannya. Kemudian mendorong pintu kamar mandi sehingga terbuka lebar, dan segera melangkah masuk ke dalam.
Wajah Kaysa memucat, dan dia mundur ke belakang. Sementara pria itu mendorongnya hingga punggungnya terbentur dinding dingin kamar mandi. Lalu menyalakan shower seraya menutup pintunya rapat-rapat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Benar tidak mau mampir dulu untuk melihat Aslan?" Rama melirik persimpangan jalan yang dia ingat menuju ke villa milik keluarganya Radit.
"Tidak." jawab Kaysa tanpa menoleh ke arah tersebut.
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Baiklah, tapi jangan sampai merengek lagi jika nanti kita sampai Jakarta ya?" pria itu menambah kecepatan mobilnya.
"Tidak akan, memangnya kenapa?" Kaysa merenggangkan tubuhnya, lalu membenahi posisi duduknya agar lebih nyaman.
"Karena kemungkinan Aslan tidak akan pulang ke rumah dalam satu atau dua hari ke depan."
"Serius? memangnya mas Radit memberimu kabar?"
"Ya, tadi pagi dia menelefon. Dia mengatakan jika ada tugas dari sekolah Aslan bisa kita kirim saja ke ponselnya. Atau dia akan menyuruh seseorang untuk mengambil peralatan sekolahnya ke rumah."
"Hmm ... dia serius ya?" pandangan Kaysa menerawang jauh ke depan sana. Menatap cakrawala yang terlihat begitu cerah.
"Sepertinya begitu."
Kaysa tampak terdiam.
"Tidak usah khawatir, kita harus berprasangka baik kepadanya. Aku yakin dia tidak akan berbuat buruk. Lihat kemarin cara dia dan kedua orang tuanya menyambut Aslan?"
Kaysa menoleh kepadanya.
"Tapi pada kenyataannya?"
"Aku tidak tahu."
"Maka dari itu, kita harus membiarkan dia membuktikannya terlebih dahulu. Dan setelah itu kita akan tahu apa yang akan kita lakukan selanjutnya."
"Hmmm ..." Kaysa menghela dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.
"Dan ingat, bahwa tidak ada hal yang mampu menggantikan posisi Radit untuk Aslan. Dia tetap ayahnya." lanjut Rama.
"Ya ya ya, ... baiklah pak. Siudah bicara soal Aslan. Nanti aku merasa sedih lagi, dan malah memintamu untuk kembali lagi ke sana."
"Apa? tidak mau. Sudah sejauh ini." pria itu menambah kecepatan laju mobilnya.
"Makanya."
"Bagaimana dengan makan?" Rama bertanya lagi, berusaha mengajaknya terus berbicara karena dia sangat menyukainya.
"Perutku sudah penuh, jadi tidak khawatir soal itu. Makanan yang kamu bawa tadi cukup untuk mengisinya sampai Rumah. Mengisi sedikit tenagaku yang sudah kamu kuras habis-hanisan semalam." Kaysa menepuk perutnya pelan-pelan.
"Apa itu barusan?" Rama memutar bola matanya.
Kaysa kini yang tertawa.
"Baiklah kalau begitu, kita bisa mengendarai mobilnya dengan tenang." ucap Rama kemudian yang memelankan mobilnya begitu menemuka antrian kendaraan di depan sana.
"Hmm ..." perempuan itu menggumam.
Mereka memasuki tol menuju Jakarta. Baru beberapa menit saja penglihatan sudah beganti dari pemandangan kota menjadi pemandangan yang memanjakan mata.
Bogor memang terkenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki pesona alam yang eksotis. Meski posisinya sebagai salah satu kota penyangga ibu kota, tak menghilangkan kesan alami padanya. Kota hujan itu tetap memiliki daya tariknya tersendiri.
Hutan-hutan masih terbentang luas, dan perbukitan berjajar menjadi penambah keindahan. Layaknya lukisan alam yang tak akan di temukan di tempat lain. Membuat siapa pun memiliki pengalaman yang mengesankan setelah menginjakkan kakinya di sana.
Musik mengalun dari mp3 player di atas dashboard mobil, mengisi keheningan perjalanan selama hampir dua jam tersebut. Kebetulan lalu lintas pada menjelang siang itu tidak terlalu ramai. Hingga akhirnya mereka tiba di gerbang tol kota Jakarta, yang sudah menyuguhi pemandangan seperti biasanya.
"Macet." dua orang itu buka suara bersamaan, kemudian terkekeh.
"Langsung pulang?" Rama bertanya.
"Hum." Kaysa menjawab dengan gumaman.
"Tidak mau mampir dulu ke suatu tempat?"
"Tidak, aku hanya ingin sampai di rumah. Mau tiduran, aku lelah." dia mengusap tengkuknya sendiri. "Berkendara terlalu lama tidak baik untukku." katanya dengan suara pelan.
"Itu bagus." Rama tergelak.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu ya?" Kaysa memicingkan matanya.
"Tidak." Rama menggelengkan kepalanya.
"Kamu jadi banyak tersenyum dan tertawa sekarang ya? tidak seperti waktu kita pertama bertemu?" Kaysa menyandarkan kepalanya ke belakang, lalu menoleh kepada Rama yang masih berkonsentrasi di balik kemudi.
"Benarkah? aku rasa seperti ini saja."
"Tidak. Aku sangat ingat waktu pertama kita ketemu."
"Oh ya? bagaimana memangnya?"
"Cih, dia tidak sadar dengan ke judesannya dulu. Ketus, dan tidak ramah sama sekali." Kaysa mengingatkan.
"Masa? perasaan aku tidak seperti itu." Rama tergelak, sementara Kaysa mencebikkan mulutnya.
"Tidak ingat ya, sikapmu dulu buruk sekali kepadaku?"
Rama mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Tidak mau di wawancara, selalu cemberut. Wajahmu selalu tegang, juga sering menggerutu."
"Masa?" Rama tertawa lagi.
"Iya."
"Itu karena kita belum kenal Kay."
"Ya? aku bahkan ingat waktu mengajakmu bersalaman."
"Memangnya ada apa waktu kita kenalan?"
"Bukan muhrim." Kaysa menirukan suara dan raut wajah pria itu ketika di awal mereka berkenalan.
"Benarkah?" dan Rama kembali menyemburkan tawanya, kali ini lebih keras.
"Senang sekali kamu ya?" perempuan itu mencubit pipinya dengan gemas.
"Awww! kenapa kamu senang sekali mencubitku ya?" Rama menarik kepalanya dengan wajah yang sedikit meringis kesakitan.
"Habisnya kamu selalu membuatku merasa gemas saja." ucap Kaysa yang kembali bermaksud mencubit pipinya.
"Gemasnya kita lanjutkan nanti saja di rumah Kay, sekarang ini aku sedang menyetir." Rama kembali menghindar.
"Ish, ... kamu ini?"
Dan pria itu pun kembali tertawa.
*
*
*
Bersambung ...
maaf, sepertinya untuk beberapa hari ke depan novel ini akan up malam hari. Maklum dunia emak lagi rempong 😘😘
tapi tetap dukung dengan tap like, kirim komen dan hadiahnya ya, biar novel ini tetap muncul ke permukaan.
lope lope sekebon korma😘😘