
*
*
Rama terdiam mendengarkan ocehan pria Brazil itu, yang kemudian membuat fokusnya terpecah seketika. Cengkeramannya terhadap Anna bahkan mengendur perlahan dan dia mulai lengah. Menyebabkan perempuan berambut pirang itu mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri.
Dia menarik tangan Rama hingga terlepas, kemudian menjejakkan kakinya dengan keras. Diakhiri dengan menyarangkan sikutnya di perut pria itu.
Namun beruntung, rompi anti peluru melindunginya dari serangan tersebut, dan dia segera menangkap tangan Anna, kemudian memelintirnya hingga terdengar bunyi berderak.
"Aaarrrggghhh!" Perempuan itu berteriak kencang, kemudian ambruk sambil memegangi lengan kirinya yang sepertinya patah.
Dia kembali menggenggam senapannya dan menodongkannya kepada Anna. Rama berjalan mundur, dan pandangan juga senapan tak dia alihkan sama sekali darinya, seraya menarik Aslan dari tempat itu.
Namun seorang penjaga di pintu depan masuk, kemudian menumbuk punggung Rama dengan gagang senapan, sehingga dia terhuyung ke depan, dan jatuh tertelungkup di tanah dengan senapannya yang terjatuh. Kemudian seseorang menendang senjata tersebut sehingga bergeser ke sisi yang jauh dari jangkauan.
Orang lainnya bersiap untuk menembakkan senjatanya ke kepala Rama, namun Alvaro menghentikannya.
"Let the shows begin." Katanya, dan dia menyeringai.
Kemudian salah satu dari anak buahnya yang berbadan tinggi besar maju setelah mendapatkan isyarat. Menyerahkan senjata di tangannya kepada temannya, kemudian bersiap.
Rama faham dengan situasi ini, dan dia bangkit ketika pria berwajah garang itu berjalan mengitarinya, sambil meregangkan jari-jarinya sehingga terdengar bunyi berderak.
"Aslan mundur," katanya yang mendorong anak sambungnya ke dinding tanah di belakang.
Aslan menurut, dia merapatkan punggungnya pada dinding gelap nan lembab itu dengan ketakutan yang sangat besar menguasai dirinya. Tubuh kecilnya bahkan terlihat menggigil karena saking takutnya.
"Hanya, biarkan dia pergi dulu." Rama berujar.
Alvaro menggelengkan kepala.
"Let him know your weakness, and see how his father being a looser in front of him. (Biarkan dia mengetahui kelemahanmu, dan melihat betapa ayahnya menjadi pecundang di depan matanya)" Alvaro tertawa, kemudian dia menyentakkan kepalanya kepada anak buahnya, yang kemudian segera menyerang tanpa aba-aba.
Rama sudah bersiap, dan dia hanya akan melawannya hingga titik darah penghabisan. Tidak akan membiarkan siapa pun menjatuhkannya dengan mudah.
Pukulan di layangkan secara bertubi-tubi oleh pria tinggi besar itu. Menyasar kepala, wajah dan tubuhnya. Namun Rama selalu dapat menangkis dan membalikkan keadaan. Dan latihannya selama ini terbukti berguna. Dia mampu menghalau serangan dengan baik, kemudian menyerang balik hingga pria itu tampak kewalahan.
Rama terus menyerangnya tanpa memberikan dia kesempatan untuk melawan. Mendaratkan pukulan mematikan di wajah, tinjuan di perut, kemudian tendangan pada kepalanya. Dia bahkan melakukan tendangan memutar yang membuat pria itu tumbang dan memuntahkan darah.
Dan menyaksikan hal tersebut membuat Alvaro kembali memberikan isyarat kepada beberapa anak buahnya untuk maju.
Kemudian empat pria mendekat dengan batang kayu di tangan. Bersiap untuk menghadapi pria yang tampak mulai menggila ini.
"Aslan, tutup mata!" Rama melirik sekilas kepada anak sambungnya, dan bocah itu menurut. Dia bahka menutup telinga dengan kedua tangannya agar tak bisa mendengar perkelahian tidak imbang tersebut.
Rama kemudian mencabut belati di sabuk sebelah kirinya, dan menggenggamnya dengan kuat. Memposisikannya agar bisa melukai lawannya secara mematikan.
Empat pria itu segera menyerangnya secara bersamaan. Bermaksud menghantam Rama dengan bilah kayu di tangan mereka, namun pria itu bisa menghindarinya.
Rama merunduk, kemudian melesat dengan cepat sembari mengarahkan pisau belatinya, menyayat perut para penyerangnya dengan mudah.
Dua pria tumbang dengan darah mengalir deras, sementara dua lainnya berhasil menyingkir.
Kemudian beberapa pria lainnya ikut menyerang, dan Rama telah mengantisipasinya. Dan mereka terlibat perkelahian brutal yang benar-benar tidak seimbang.
Dua pria yang awalnya berjaga di depan pun ikut menyerang, sehingga membuat Rama cukup kewalahan. Dia bahkan kembali terjatuh ketika salah satu di antara mereka berhasil mendaratkan ujung kayu ke belakang kepalanya. Dan tanpa banyak bicara lagi, mereka menendangnya secara bersamaan.
Kepalanya di injak, wajahnya di tendang hingga berdarah-darah. Tubuhnya apa lagi. Rama bahkan tak sempat untuk menghindar dan melindungi dirinya sendiri dari penganiayaan tersebut.
Sementara Aslan mengkeret di sisi lain, seraya mengintip dari sela-sela jarinya ketika dia mendengar ayah sambungnya menggeram.
Darah terus mengalir entah dari wajah atau kepalanya, namun pria itu tetap bertahan. Dia bahkan terus berusaha bangkit di tengah serangan bertubi-tubi itu. Bahkan ketika si pria tinggi besar kembali ke dekat mereka, dan ikut menendang dan menginjak tubuhnya.
Tubuh Aslan gemetar, ini merupakan mimpi paling buruk yang dia alami. Bahkan lebih buruk dari apa pun yang ada dalam pikirannya. Dan lebih menakutkan dari segala yang selama ini membuatnya merasa takut.
Tapi dia tak dapat memalingkan pandangan dari adegan demi adegan di depan matanya. Dan hal itu malah membuatnya terus menyimak kejadian tersebut dengan perasaan yang tak terbayangkan.
Menatap pria itu di hajar habis-habisan, tanpa di berikan kesempatan untuk menghindar, apa lagi melawan. Kemudian menatap wajahnya yang berlumuran darah, dan kedua mata dibaliknya yang menatap ke arahnya. Mulutnya bahkan terlihat bergerak-gerak seolah dia sedang mengatakan sesuatu.
"Lari, Aslan." Rama dengan suara tertahan.
Sebelah tangannya menggapai-gapai di udara, sementara tubuhnya menahan rasa sakit dari serangan yang belum juga berhenti.
"Lari!" katanya lagi.
"Cepat!"
Dia berdiri, masih dengan pandangannya yang tertuju kepada mereka yang tengah sibuk menghajar ayah sambungnya.
Kemudian anak itu berjalan setelah terdiam cukup lama. Bukannya lari seperti yang pria itu perintahkan, tapi malah melangkah maju ke arah mereka.
Aslan bahkan memungut sebilah kayu yanh dia lihat di depannya, dan menggenggamnya dengan erat.
"Jangan! larilah Aslan!" Rama menggeram.
Namun bocah yang hampir berusia delapan tahun itu tak mengindahkan ucapannya. Dia terus berjalan hingga jaraknya hanya sekitar tiga puluh senti saja dari pria terdekat yang tengah menghajar Rama. Pria berbadan tinggi besar yang sibuk melayangkan pukulan dan mendaratkan tendangan di tubuh Rama.
"Aslan!" Rama dengan napas terputus-putus. Pandangannya bahkan sudah terasa mengabur dan dia merasa sudah tidak mampu melawan.
Namun hal yang tidak terduga pun terjadi, bahkan orang-orang yang berada di tempat itu pun tidak menyadarinya. Ketika Aslan mengangkat kayu di atas kepala, kemudian melayangkannya ke arah pria besar di depannya. Dan sebuah pukulan yang cukup keras pun mendarat di kepala pria itu.
PLETAK!!
Yang seketika membuat mereka berhenti memukuli Rama.
Pria itu tertegun, kemudian memutar tubuh dan mendapati anak laki-laki yang hanya setinggi lututnya itu menatap dingin ke arahnya.
"You!" Dia menggeram, kemudian merebut kayu tersebut dari Aslan, lalu melemparkannya ke belakang.
Aslan berjalan mundur, namun tangan panjang pria itu mampu menjangkaunya dengan cepat dan mencengkeram leher anak itu dengan keras. Kemudian dia mengangkatnya dengan mudah di udara.
"Aslan!" Rama terbata.
Kedua tangan Aslan meremat lengan pria itu. Dia berusaha melapaskan diri dari cengkeramannya dengan kedua kaki kecilnya yang bergerak menendang kesana kemari.
"Aslan!" Rama bergumam, dan tangannya terangkat ke atas.
Pria tinggi itu masih mencengkeram leher Aslan, dan di detik berikutnya dia melempar tubuh kecil bocah itu hingga terpelanting ke dinding tanah, kemudian jatuh ke bawah.
"Aslan!" Rama berteriak.
Kedua bola matanya membulat dengan sempurna, dan setelah itu, sebuah kekuatan besar yang entah datang dari mana tiba-tiba menguasaninya.
Rama menghirup napasnya dalam-dalam, kemudian segera bangkit. Tanpa mereka sadari dia berlari ke arah Aslan dan memeriksa keadaannya.
"Aslan!" Rama mengusap wajahnya yang basah karena keringat dan air mata, namun anak itu bergeming.
"Aslan, bangun!" katanya lagi, dan dia menepuk-nepuk pipi anak sambungnya itu.
"Aslan!" Dia berteriak lagi, namun Aslan tak bereaksi.
"Baj*ngan kalian." Dia menggeram. Kedua rahangnya mengetat, dan giginya terdengar bergemeletuk. Tubuhnya bahkan bergetar karena merasa begitu marah.
Dia kembali merebahkan Aslan di tempatnya, kemudian memutar kepala. Menatap tajam dari balik manik matanya yang berlumur darah.
Rama bangkit, dengan amarahnya yang siap meledak dia mengeratkan belati dalam genggamannya. Dan tanpa menunggu lama, dia berlari kembali pada ke empat pria yang baru saja menghajarnya.
Pertarungan itu di mulai kembali dalam keadaan Rama yang di kuasai amarah. Tanpa mempedulikan apa pun, pria itu menyerang dengan membabi buta.
Menusuk, menendang, dan memukul siapa pun yang ada di depannya yang tidak mengantisipasi hal tersebut. Mereka belum sempat mempersiapkan diri ketika tendangan keras dan pukulan mematikan Rama bersarang di tubuhnya.
Pria terakhir yang berlari menjauh bahkan tidak sempat menghindar ketika pria itu melemparkan belati yang telah berlumuran darah sehingga mengenai belakang kepalanya. Kemudian dia tumbang dan meregang nyawa, sama seperti ke lima rekannya yang lain.
Perhatian Rama kini tertuju kepada Alvaro dan adik perempuannya yang membeku di tempatnya. Kemudian dia memungut pistolnya yang sebelumnya terjatuh, kemudian membuka penguncinya. Dia berjalan pelan dengan kedua mata menatap tajam kepada dua orang yang tersisa di depannya.
"Aku tidak akan memaafkan walau kalian meminta ampun sekali pun." katanya, yang menodongkan pistol tersebut kepada Alvaro.
*
*
*
Bersambung ...
semoga Mt/Nt nggak eror2 lagi, aamiin
like komen vote sama hadiahnya jan lupa di kirim ya😉
lope lope sekebon korma 😘😘