Kopassus And Me

Kopassus And Me
Mimpi Buruk #2



*


*


"Kakak." suara perempuan terdengar memanggil.


Rama mengedarkan pandangannya mencari dari mana suara tersebut berasal.


"Kakak, aku disini." suara itu terdengar lagi.


Dan Rama tertegun ketika menemukan satu sosok gadis berseragam SMA di depan sana, beberapa langkah darinya. Dan dia sangat mengenalinya.


"Livia?" pria itu sedikit menjengit.


"Kakak lupa kepadaku?" gadis itu berujar.


"Kamu membual. Bagaimana bisa kakak lupa kepadamu?" Rama berjalan mendekat, sehingga dia dapat melihatnya lebih jelas.


"Tapi kakak mengabaikan aku." ucap sosok itu.


"Tidak Liv, kakak tidak pernah mengabaikanmu. Setiap waktu kakak memikirkanmu."


Livia menggelengkan kepala.


"Karena dia." telunjuk gadis itu tertuju ke belakang tubuh Rama, yang membuat kakak laki-lakinya itu menoleh.


Tampak seorang pria berseragam polisi tengah berdiri membelakanginya.


Rama mengerutkan dahi ketika dia merasa mengenalinya. Tapi pandangannya mulai mengabur, dan dia menggelengkan kepala untuk mengembalikannya.


"Dia membuat kakak melupakan aku ..." Livia berbicara lagi, dan membuat Rama kembali berpaling kepadanya.


Namun gadis itu hilang tak berbekas.


"Livia?" Rama mencari keberadaannya.


"Liv?" dia kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan sosok lain yang semula terlihatpun ikut menghilang.


"Livia!" panggilnya lagi, dan tiba-tiba sosok Livia kembali hadir di depannya.


Dia dengan seragam sekolahnya yang tampak lusuh, kulit wajah dan tangannya terlihat begitu pucat dengan rambutnya yang berantakan.


"Livia, ..." Rama kembali mendekat, namun dia berhenti kala cairan merah mengalir dari kedua matanya. Menuruni wajah sampai ke leher, hingga membasahi pakaian seragamnya.


Kemudian tiba-tiba gadis itu berlari ke arahnya, dan kedua tangannya segera mencengkeram lehernya dengan keras. Mencekiknya hingga dia hampir kehabisan napas.


"Livia, apa yang ...


Gadis itu menggeram dengan aroma darah menyengat menguar dari tubuhnya.


"Mereka menyiksaku dan kau hanya diam saja!" katanya, penuh amarah.


"Lalu apa gunanya kau di dunia ini?" cengkeramannya terasa semakin kuat.


"Lebih baik kau mati saja, ...


***


Kaysa terbangun ketika merasakan pergerakan keras di sampingnya, dan suara teriakan suaminya yang menggema memenuhi ruangan.


Betapa terkejutnya dia ketika mendapati Rama yang tengah mencekik dirinya sendiri, dan dia meracau tak karuan.


"Ram!" Kaysa segera berusaha membangunkannya.


"Ada apa denganmu?" dia membingkai wajahnya yang sudah basah oleh keringat.


"Ram!" Kaysa mencoba melepaskan kedua tangan pria itu dari lehernya. Namun dia belum juga sadar dari mimpi buruknya.


"Rama!" setelah beberapa saat akhirnya Kaysa mampu melepaskan tangannya, lalu menyadarkan suaminya.


"Ada apa? kamu mimpi buruk!" dia masih membingkai wajah Rama, ketika pria itu tersadar dan membuka matanya.


"Livia!" Rama berteriak, dengan napas yang terengah-engah dan keringat bercucuran di wajahnya.


Kedua matanya bergerak-gerak menyelaraskan pandangannya dengan keadaan kamar yang temaram.


"Ini aku, ..." Kaysa mendekatkan wajahnya.


"Kaysa?" Pria itu akhirnya tersadar dari mimpi buruknya.


"Ya, ini aku ..." jawab Kaysa yang kemudian mengusap wajah suaminya.


"Kamu baik-baik saja? kamu mimpi buruk?" Kaysa bangkit, kemudian meraih gelas berisi air putih di meja samping tempat tidur kemudian menyerahkannya kepada Rama.


Pria itu segera bangkit lalu menenggaknya hingga hampir habis.


"Ada apa denganmu?" perempuan itu sudah mengenakan pakaiannya, kemudian kembali duduk di tepi ranjang. Meletakan gelas kembali ke meja, kemudia memeriksa keadaan suaminya.


"Oh Astaga!" Rama menyugar rambutnya yang basah karena keringat.


"Mimpimu pasti sangat buruk sehingga kamu seperti ini." Kaysa mencondongkan tubuhnya ke depan.


Rama belum mengatakan banyak hal, dan dia masih mengumpulkan kesadarannya.


"Soal Livia?" Kaysa bertanya, dan Rama segera menatap wajahnya dalam keremangan.


"Kamu menyebut-nyebut namanya tadi, ada apa?" Dia menyentuh pundaknya.


"Aku hanya memimpikannya, dan ini lebih buruk dari mimpi-mimpiku sejak dia meninggal."


"Astaga! apa yang aku lewatkan? Livia, mengapa kamu berbuat begini? apa yang harus kakak lakukan?" Pria itu memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba saja terasa sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kaysa tertegun di ambang pintu memperhatikan suaminya yang sejak beberapa hari yang lalu lebih sering menghabiskan waktunya untuk berolah raga tanpa mengajaknya seperti biasa.


Terbangun di pagi hari, lalu berlari mengelilingi komplek dan area lapangannya, kemudian berakhir di ruang olah raganya di samping rumah.


"Kamu tahu, ini mulai mengkhawatirkan." Kaysa sudah merasa tidak tahan lagi. Keadaan ini mulai membuatnya merasa frustasi.


Rama menghentikan kegiatannya, dia terdiam sebentar lalu menoleh kepada Kaysa.


"Sudah aku katakan ini tidak bisa di biarkan lebih lama. Seseorang harus mengungkapnya sendiri." Perempuan itu mendekat kepadanya.


"Apa yang akan kamu lakukan? karena pada kenyataannya hidupmu juga tidak tenang. Sementara mereka, bisa dengan bebas berkeliaran di luar sana. Mungkin sedang mencari mangsa."


Rama mendongak.


"Mereka? kamu pikir pelakunya tidak sendirian?" Rama buka suara.


"Memangnya kamu tidak berpikir ke arah sana? tidak mungkin ini di tutup begitu saja jika pelakunya hanya satu orang. Bahkan orang-orang di tempatmu bertugas tidak turun tangan, padahal yang menjadi korban adalah anggota keluarga perwira mereka sendiri."


"Dan bukankah sudah aku katakan jika kejahatan bisa saja di lakukan oleh orang terdekat? Kamu sendiri sudah faham dengan masalah itu, bukan?" Kaysa mengingatkan.


"Jika kita tidak bisa meminta pertolongan orang lain karena semua bukti dan argumen yang kita dapat selalu mereka mentahkan, lantas kenapa tidak kita lakukan sendiri?" Kaysa dengan ide-idenya.


"Dengan begitu aku rasa mungkin saja kita bisa mendapatkan bukti baru." lanjutnya, dan dia mengusap pundak suaminya.


Kemudian percakapan itu terjeda ketika Aslan muncul di ambang pintu.


"Ya, sayang? ada masalah dengan tugas sekolahmu?" Kaysa beralih kepada putranya.


"Umm, ... peralatan tinju aku belum pernah di pakai." bocah itu memegang sarung tinju dan pelindung kepalanya.


"Tadinya aku beli ini kan mau belajar tinju, tapi belum aku cobain." lanjutnya, membuat Kaysa dan Rama saling pandang untuk beberapa saat.


"Tapi kayaknya Om Rama lagi sibuk deh, ya udah nggak jadi." Aslan hampir saja meninggalkan tempat itu ketika Rama bangkit kemudian mengejarnya.


Dia baru saja menyadari jika dirinya telah mengabaikan beberapa hal belakangan ini.


"Aslan tunggu." Rama menghentikan langkah anak sambungnya. "Mau kamu bawa ke mana sarung tinjunya?" dia kemudian menghadangnya di depan.


"Mau aku simpan lagi." Aslan menjawab.


"Kamu bilang mau latihan tinju?"


"Om nya juga kan lagi sibuk?" anak itu menatap ayah sambungnya lekat-lekat.


"Tidak, Om sudah selesai." Rama menyanggah ucapannya.


"Masa?"


"Iya. Jadi, ayo kita mulai latihan?"


"Tapi kayaknya udah kesorean Om." Aslan menatap keluar jendela.


"Tidak, masih bisa kalau mau latihan. Waktunya pas."


"Beneran?"


"Iya."


"Senjatanya Om udah beres?" anak itu menoleh ke ruangan tempat ayah sambungnya menghabiskan waktu selama beberapa hari belakangan.


"Sudah, ..." Rama pun menoleh ke arah pintu di mana Kaysa masih berdiri.


"Kunci pintunya Kay, kita latihan sama-sama." pria itu menyentakan kepalanya.


"Sekarang?"


"Ya, bukankah kita aka menyelidiki soal kematian Livia? dan aku rasa bahanya untuk kalian akan bertambah setelah ini." Rama berujar.


"Aku harus jujur, karena mungkin saja kita akan menghadapi sesuatu yang lebih besar dari pada Alvaro ataupun antek-anteknya."


"Perbuatan orang dalam akan lebih menghancurkan karena mereka mengetahui kelemahan kita."


"Begitu?"


"Ya, jadi ... tunggu apa lagi? sementara mereka mengira bisa mengalihkan perhatianku dengan membuatku sibuk dengan misi-misinya, maka kamulah yang bertindak mencari bukti."


"Kamu akan melibatkan aku dalam kasus ini?"


"Sudah terlanjur. Kita tidak bisa menghindar, dan aku tidak akan bisa menyembunyikan kalian selamanya. Satu-satunya jalan yang paling baik adalah mempersiapkan kalian menghadapi segala kemungkinan buruk yang pasti akan terjadi."


Kaysa terdiam.


"Apa kamu takut? hidupmu dan Aslan mungkin dalam bahaya."


"Tapi kita bisa menghadapinya bersama-sama kan?"


Rama menganggukkan kepala.


"Tapi kamu juga harus siap jika sewaktu-waktu aku memenuhi panggilan tugas."


Kaysa pun mengangguk.


"Kamu yakin?"


"Yakin Pak."


"Baik kalau begitu." Kemudian mereka bertiga mempersiapkan segalanya.


*


*


*


Bersambung ...


udah hari senin gaess, yang masih punya vote boleh dong di kirim buat kang Korma. Tapi kalau udah nggak ada juga nggak apa-apa. cukup klik like komen sama hadiah aja 😉


lope lope sekebon korma😘😘