Kopassus And Me

Kopassus And Me
Balada Kucing Dan Anjing



*


*


"Mau latihan lagi?" Rama sudah siap dengan pakaian olah raganya pagi itu. Seperti biasa mengenakan celana pendek dan kaus tanpa lengan yang memperlihatkan otot bisepnya.


"Tidak mau, badanku sakit semua." Kaysa yang kembali ke tempat tidur setelah mandi, meringuk di bawah selimut seperti bayi.


"Di awal latihan semuanya begitu Kay, tapi nanti juga kamu akan terbiasa." pria itu duduk di tepi ranjang.


"Tapi ini rasanya lebih parah. Setelah malam pertama kita saja tidak seperti ini. Eh, salah. Pagi pertama ya?" dia terkekeh sambil menutup mulutnya.


"Dasar kamu ini!"


"Aku latihannya besok lagi saja lah, siapa tahu sakitnya sudah hilang."


"Harus rutin Kay, di biasakan setiap hari agar badan kamu cepat terlatih. Kalau baru saja mulai kamu sudah berhenti, sama saja bohong. Kalau setiap hari latihannya akan terus meningkat, dan kemampuan kamu bertambah. Reflek kamu juga akan menjadi lebih baik." pria itu menjelaskan.


"Lagi pula, mungkin aku akan kembali bertugas dalam satu atau dua hari ke depan. Jadi waktuku tidak akan terlalu banyak setelah ini. Setelah aku mengajarkanmu dasar-dasarnya, nanti kamu bisa latihan sendiri. Sambil melihat di video, atau semacamnya. Nanti aku referensikan."


"Hhh..." perempuan itu akhirnya bangkit. "Sangat haruskah aku bisa melakukan apa yang kamu katakan?" tanya nya.


"Ya."


"Tidak ada pengecualian? aku kan tidak pergi ke mana-mana?"


"Sayangnya tidak. Aku hanya mengantisipasi kemungkinan terburuk. Tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama."


"Kesalahan apa?"


"Membiarkan Livia tanpa kemampuan bela diri. Sehingga dia tidak dapat menyelamatkan diri ketika sesuatu terjadi kepadanya."


"Hmm ...


"Sebahaya itu kah sekarang?"


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan, tapi tidak ada salahnya jika berjaga-jaga." pria itu bangkit, kemudian mendekati lemari pakaiannya.


"Ini Jakarta, dan apa pun bisa terjadi. Bahkan di waktu yang kita kira sangat aman." katanya.


"Ini." lalu Rama menyerahkan selembar kartu yang dia keluarkan dari dompetnya.


"Apa itu?" Kaysa menatapnya dengan dahi mengernyit.


"Atm gajiku."


"Aku tahu ini atm, tapi untuk apa?"


"Kamu tidak butuh ya? keperluan kita sudah cukup untuk sebulan ke depan?" pria itu hampir memasukkan kembali kartunya ke dalam dompetnya, namu Kaysa bangkit dan menyambarnya dengan cepat.


"Aku butuhnya uang, kalau harus ke atm dulu kadang malas, apa lagi dari sini rasanya jauh ke mana-mana. Tapi karena kamu memaksa, ya sudah. Atm juga tidak apa-apa." katanya, yang segera memasukkannya ke dalam tas miliknya.


Rama hampir saja tertawa.


"Isinya mungkin tidak terlalu banyak, tapi aku rasa cukup untuk keperluan kita. Baik-baik mengatur keuangan ya? jangan menggunakannya untuk yang tidak terlalu penting. Ingat, Aslan harus sekolah yang tinggi agar dia jadi orang hebat." pria itu mengusak puncak kepala istrinya.


"Hmm ... ngomong-ngomong soal Aslan, kapan Mas Radit akan mengantarnya pulang? sudah tiga hari kan, dan aku sudah kangen kepadanya. Ini waktu terlama aku berpisah dengan Aslan setelah memenangkan hak asuhnya."


"Mungkin hari ini."


"Benarkah?"


"Iya, aku lihat storry whatsappnya Radit tadi. Mereka sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta." Rama menunjukkan layar ponselnya.


"Begitu ya? baiklah."


"Jadi?"


"Apa?"


"Latihannya kita ulangi lagi?" ucap Rama lagi.


"Haaaa, ... sebenarnya tidak mau, ... tapi ...


"Aslan akan pulang, dan aku sudah menyerahkan atm gajiku kepadamu."


"Apa hubungannya dengan itu?" Kaysa mengerutkan dahi.


"Seharusnya ada timbal baliknya untuk itu kan?"


"Timbal balik? maksudnya imbalan?"


"Bukan, kalau imbalan itu untuk yang lain." Rama tersenyum, dan dia mendekat kepada Kaysa sehingga perempuan itu tersudut di depan lemari.


"Atau kamu mau memberiku imbalan dulu sebelum yang lainnya?" Rama mengungkung tubuh Kaysa, dan merapatkan dadanya. "Pilih saja, yang mana pun aku siap." dia menundukkan wajah dan hampir saja meraih bibirnya.


"Um, ... baiklah. Baik." Kaysa memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindar, sehingga bibir pria itu hampir menempel di lehernya.


Yang benar saja, masa itu harus terjadi lagi? setelah kemarin memulai latihan fisik, lalu malamnya di gempur habis-habisan, dan sekarang harus terjadi lagi? Bisa pingsan dirinya. Karena bisa di pastikan pria itu tidak akan mudah berhenti jika sudah memulainya.


"Yang mana?" Rama berbisik di dekat telinganya.


"Latihan saja, hehe ... hanya sebentar kan? paling lama satu jam? tidak akan berjam-jam kan?" perempuan itu tertawa.


"Jadi, tunggu apa lagi? ayo kita latihan!" dia mendorong dada Rama, dan segera menghambur ke luar dari kamar mereka dengan semangat.


***


Kaysa melatih pukulan tangannya pada boxing pads. Mendaratkan kepalan tanganya pada benda itu secara bergantian.


"Tendang!" ucap Rama yang memposisikan boxing pads di depan dadanya. Dan perempuan itu melakukan apa yang di katakannya.


"Kurang." Rama mengisyaratkan kepadanya untuk mengulang tendangannya, dan Kaysa menurutinya lagi.


"Masih kurang keras."


Sekali lagi Kaysa melakukannya, kali ini lebih keras dari yang dia mampu.


"Masih belum cukup." ucap Rama lagi.


"Astaga!"


Pria itu hanya tertawa.


"Ayo cepat, lakukan lagi!" Rama menepukkan dua boxing pads di tangannya, memberi perempuan itu semangat. Dan Kaysa melakukannya hingga berkali-kali.


"Sekarang kombinasikan!" pria itu berujar.


"Apa?"


"Jab, uppercut, kick!" katanya, yang memperagakan gerakan yang di sebutkannya.


"Pukul, tinju, dan menendang?" Kaysa memperjelas tandanya.


"Pintar." pria itu dengan senyumannya.


Kaysa memasang kuda-kuda yang sudah di ajarkan sejak pagi, lalu menggerakkan tangannya seperti yang di katakan oleh suaminya. Memukul, meninju, lalu mendaratkan tentangan di boxing pads.


"Bagus." puji Rama untuk membuat perempuan itu percaya diri.


"Lakukan lagi." katanya, dan Kaysa kembali mengulanginya.


"Lebih keras lagi, sayang!" pria itu terus membuatnya melakukan lebih keras dari sebelumnya.


Kaysa menghembuskan napas keras. Padahal dia sudah mengerahkan seluruh kekuatan, namun masih kurang keras untuk pria itu.


"Aku kan pemula, segini saja sudah untung." dia menggerutu pelan.


"Latih agar lebih keras lagi, karena penjahat tidak akan memiliki belas kasihan untukmu." jawab Rama dengan serius.


"Oh ya?"


"Mereka tidak seperti di sinetron yang akan mudah kamu perdayai. Jika kamu tak memiliki kekuatan penuh, maka mereka akan membunuhmu." Rama bersiap untuk menyerangnya dengan boxing pads.


Kaysa tersudut, namun dia bertahan. Dan dengan perlahan memukul mundur pria itu.


"Kekuatan penuh heh?" perempuan itu berucap.


Rama menganggukkan kepala. Kemudian di menit berikutnya, Kaysa mendaratkan pukulan keras di boxing pads, di susul tinjuan yang yang cukup bertenaga. Di akhiri dengan tendangan memutar yang cukup membuat Rama sedikit terhuyung ke samping. Kemudian dia berhenti di posisi siaga, dengan kedua yangan terkepal di depan dada.


Pria itu terdiam.


"Bagaimana pak? sudah cukup keras?" ucap Kaysa, dengan dadanya yang naik turun dengan cepat dan napasnya menderu-deru. Keringat sudah bercucuran di sekujur tubuhnya.


Rama tersenyum puas.


"Pintar sekali istriku ini ya? baru aku latih sebentar kamu sudah mengerti. Aku yakin kamu akan jadi petarung yang tangguh." Rama menjawabnya, dan dia menurunkan kedua tangannya.


"Benarkah? jadi kamu mengakui kekalahanmu?" Kaysa menanggapinya.


"Kekalahan apa?"


"Kekalahanmu menghadapiku?"


"Aku? kalah menghadapimu?" Rama menunjuk dirinya sendiri."


"Iya."


Pria itu tergelak.


"Tidak mungkin aku kalah menghadapimu. Apalagi kamu masih pemula. Bisa babak belur kamu kalau aku benar-benar melawanmu." pria itu dengan sombongnya.


"Benarkah?"


"Tentu saja, aku kan ...


"Hey! kamu curang. Aku belum siap?" pria itu menghindar, dan dia hampir kewalahan.


"Katamu dengan latihan refleks kita akan terlatih, tapi nyatanya ..." Kaysa mendaratkan tinjuan di depan wajah Rama, namun hal itu bisa pria itu hindari.


Dia lantas melepaskan boxing pads dari tangannya, agar bisa menghalau serangan istrinya.


Dan pada saat Kaysa melakukan tendangan kepadanya, maka kedua tangan pria itu dengan sigap menangkap kakinya.


"Ugh!!" Kaysa berusaha melepaskannya.


"Tidak mungkin Kay!" Rama mencengkeram pergelangan kakinya, dan Kaysa menariknya dengan keras.


Namun cengkeraman tangan pria itu sangat kuat sehingga dia sulit untuk melepaskannya.


"Kamu mau mengujiku ya?" pria itu menyeringai.


"Aku hanya ingin tahu, apa yag kamu katakan itu benar?" jawab Kaysa, dengan posisi sebelah kaki yang masih terentang dalam genggaman Rama.


"Oh ya?"


"Refleksnya, ... dan ... kekuatan ... nya." sebelah tangan pria itu masih mencengkeram kuat pergelangan kakinya, sementara tangan yang lainnya merayap ke pahanya.


"Umm ...


"Soal itu bisa di uji, Kay." Rama meneruskan aksinya.


Dia maju sehingga jarak di antara mereka menghilang, dan Kaysa kini sudah berada dalam cengkeramannya.


Suasana terasa hening saat ini, dan mereka saling pandang untuk beberapa saat.


"Mama?" suara anak kecil mengintetupsi, dan mereka memalingkan perhatian.


Aslan tampak berdiri di depan garasi, dan di sampinya berdiri pula Radit. Sebelah tangannya menenteng tas sekolan anak itu, sementara tangan lainnya menggenggam sebuah bungkusan yang cukup besar.


"Aslan?" mereka saling melepaskan diri.


"Oh, Aslan!! kenapa kamu baru pulang? mama sangat merindukanmu nak!" Kaysa segera menghambur memeluk bocah itu.


"Ugh!! mama apa-apaan sih? lepas!" protes Aslan yang berusaha melepaskan diri.


"Tidak mau, mama rindu padamu!!" perempuan itu merengek, dan dia tak melepaskan rangkulannya. Kaysa bahkan sampai berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badan mereka.


"Badan mama basah! keringetan. Ugh!!" anak itu akhirnya bisa melepaskan diri.


"Memang, mama habis olah raga." jelas Kaysa dengan bangganya.


"Huh, olah raga ya?" Radit bergumam pelan, sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pemandangan ini entah mengapa terasa menyesakkan dadanya. Apa lagi saat menyimak interaksi sebelumnya yang begitu intens di antara mereka.


Tiba-tiba saja ulu hatinya terasa ngilu. Tak bisa di pungkiri, perasaan itu kini muncul setelah mantan istrinya tersebut telah menjadi milik orang lain.


"Mama sekarang suka tinju?" Aslan menatap sarung tinju di kedua tangan ibunya.


"Sebut saja begitu." Kaysa menegakkan tubuhnya.


"Mama ketularan om Rama?" anak itu bereaksi.


"Bukan ketularan, tapi di paksa." Kaysa sedikit berbisik.


"Masa?" Aslan mengintip ke arah Rama yang berada di belekang ibunya.


"Sedikit." Rama mengisyaratkan dengan tangannya.


"Emangnya bisa?" Aslan kembali menatap Kaysa.


"Bisa." dia melepaskan sarung tinjunya.


"Hmmm ..." Radit berdeham, merasa di abaikan.


"Umm, ... kalian kapan sampai di Jakarta?" Kaysa kemudian bertanya kepada mantan suaminya.


"Baru saja."


"Duh, langsung ke sini?"


"Tentu saja, anakmu ini dari sejak subuh terus merengek minta pulang." jawab Radit, ketus.


"Benarkah?" Kaysa beralih kepada Aslan.


"Hu'um, ... aku nggak bisa tidur." jawab putranya.


"Terus kenapa bisa sampai berhari-hari? kenapa tidak pulang saja, malah pergi ke Bogor?"


"Orang tuaku ingin bertemu Aslan, masa aku menolak? mereka kan nenek kakeknya."


Kaysa memutar bola matanya.


"Iya, aku ketemu nenek sama kakek."


"Umm, ... lalu bagaimana kabar ayah dan ibu? apa mereka sehat?" perempuan itu berbasa-basi.


"Sehat, mereka juga menanyakan kabarmu." jawab Radit.


"Syukurlah."


"Tadinya kami akan pulang ke rumah orang tuaku, tapi Aslan merengek minta pulang terus, jadinya ya ...


"Sudah aku bilang kan, dia tak bisa jauh-jauh dariku. Jadi tidak usah berlama-lama membawa dia pergi. Kamu kesal sendiri kan?"


"Huh, cerewet sekali kau ini?" Radit mulai mengeluh.


"Hey, telingamu tidak terluka setiap hari mendengar ocehannya yang menyebalkan ini?" Radit beralih kepada Rama yang terdiam menyimak percakapan itu di belakang.


Dan pria itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Aneh sekali? aku bahkan merasa jengkel setiap kali melihat wajahnya." Radit mendelik.


"Kalau jengkel kenapa terus menemui Aslan? itu artinya kamu akan bertemu aku juga kan?" Kaysa bereaksi. Dia tidak terima mendengar ucapan mantan suaminya.


"Terpaksa. Kalau bukan demi Aslan, aku malas bertemu denganmu." pria itu menyerahkan tas dan bungkusan besar itu kepadanya. Sementara Kaysa mencebikan mulutnya.


"Aku pergi lah, lama-lama berada disini bisa membuat kita bertengkar terus. Kasihan Aslan." katanya kemudian.


"Itu kamu sadar, Mas?" Kaysa menjwab gerutuannya.


"Papa pergi dulu oke? kalau mau ketemu kamu tinggal telefon saja, nanti papa pasti akan menjemputmu." Radit mengusap kepala putranya.


"Oke papa."


"Nanti sekolah lagi ya? kalau kamu sudah siap." katanya lagi, dan dia bersiap untuk pergi.


"Tidak masuk dulu? mungkin kau mau minum sebentar?" Rama menawarkan.


"Tidak usah, waktuku tidak banyak." jawab Radit, ketus seperti biasa.


"Baiklah." Rama mengalah.


Kemudian pria itu pun bergegas pergi.


"Mama kenapa sih kalau ketemu papa kaya kucing sama anjing? berantem terus?" mereka menatap kepergian pria itu hingga mobilnya menghilang.


"Tidak, ..." Kaysa menyangkal.


"Beneran, kayak kucing sama anjing." ucap Aslan lagi.


"Mmm ... sudalah, tidak usah di bahas. Lebih baik kita masuk. Kamu tidak capek memangnya?" Kaysa mengalihkan topik pembicaraan.


"Capek sih, laper juga." Aslan menjawab.


"Ya sudah, mama masak dulu ya?" dia menariknya ke dalam rumah.


"Jam berapa ini? kenapa mama belum masak?" protes Aslan.


"Tadi kan mama latihan, jadinya belum masak."


"Ah, mama banyak alasan. Kan bisa masak dulu sebelum latihan?" anak itu menggerutu.


"Ish, ... sudah berani bilang begitu ya?"


"Emang mama gitu."


"Eh, ini apa sih di dalamnya?"


"Makanan dari nenek."


"Hah, makanan seperti ini di sini juga banyak. Mama kemarin habis belanja. Lemarinya penuh sekarang."


"Nggak apa-apa, biar banyak." Aslan tertawa.


"Eh, emang latihannya udahan ya?"


"Sudah." Kaysa menoleh ke belakang di mana suaminya membereskan kekacauan bekas latihan mereka.


*


*


*


Bersambung ...


like komen sama hadiah masih selalu aku tunggu ya.


lope lope sekebon korma 😘😘