Kopassus And Me

Kopassus And Me
Back To Mission



*


*


Kaysa memperhatikan di balik jendela ketika pria itu sedang melakukan panggilan telefon. Sepertinya sedang membicarakan hal serius.


Rama tampak mengangguk-angguk, kemudian berbicara sambil mondar-mandir di teras samping tak jauh dari garasi tempat mobilnya terparkir.


"Mama lagi nguping?" Aslan muncul secara tiba-tiba, membuat perempuan itu melonjak karena terkejut.


"Kamu kebiasaan, bikin mama kaget!" katanya, yang sedikit menyentuh ujung telinga putranya.


"Habisnya mama mencurigakan. Ngintipin apa sih dari tadi?"


"Papa mu yang mencurigakan, dari tadi telefonan di luar sampai sekarang belum juga selesai." dia menunjuk ke arah suaminya.


"Mmm ... itu udah beres?" Aslan ikut menunjuk ke arah Rama yang sudah mengakhiri percakapannya, kemudian memutar tubuh untuk kembali ke dalam rumah.


"Aaa ... mau masuk!" Kaysa pura-pura merapikan meja makan. Menata ulang peralatan makan yang sudah dia siapkan sejak tadi.


"Om telefonannya udah?" Aslan bertanya begitu pria itu masuk ke ruang makan mereka.


"Sudah." Rama menjawab, dan dia duduk di kursinya. Bersiap untuk menyantap makan malamnya yang sudah tersedia.


"Telefonan sama siapa sih? lama amat?" anak itu bertanya lagi.


"Atasan om."


"Maksudnya bos?"


"Kamu bisa menyebutnya begitu." pria itu mulai memakan makanannya.


"Oh, ... kirain siapa. Habisnya om men-cu-ri-gakan." Aslan merapalkan kata-katanya dengan hati-hati.


"Apa?" Rama tergelak.


"Mama bilang gitu tadi ...


"Mama?" Rama beralih menatap Kaysa.


"Eeee ... aku hanya ...


"Dari tadi ngintipin terus." Aslan pun menyuapkan makanannya.


"Hum?" Rama mengerutkan dahi.


"Aslan suka bicara sembarangan ya? padahal kan cuma lihat sekilas. Hehe ..." Kaysa tertawa canggung. Dia lupa kalau putranya itu memiliki pikiran yang kritis dan selalu bersikap apa adanya. Sama seperti dirinya.


Rama terdiam sebentar.


"Besok dini hari aku harus pergi. Ada tugas penting." ucapnya setelah terdiam cukup lama.


"Sudah mulai ya?"


"Ya."


"Kok perginya dini hari om? kan masih ngantuk." Aslan menyahut.


"Memang, karena tugasnya harus di kerjakan jam segitu." Rama menjawab.


"Ngerjain apa sih emangnya?" Aslan bertanya lagi.


Rama terdiam lagi sebentar.


"Umm, ... aku mendapat tugas pengawalan pemindahan tahanan khusus." katanya kepada Kaysa.


"Tahanan khusus?"


"Ya."


"Sangat khusus sehingga harus di jam se awal itu?"


"Benar."


"Tersangka pembunuhan?"


"Bukan."


"Penganiayaan?"


"Bukan juga."


"Ter**is?"


"Bukan, ...


"Terus?"


"Peraturan melarangku untuk mengatakan apa pun selain ini."


"Oh, ... rahasia ya?"


"Begitulah."


"Baiklah, ...


"Kenapa sih pakai rahasia-rahasiaan segala?" Aslan menyela.


"Karena ini sangat berbahaya." Rama beralih kepada putra sambungnya.


"Nggak boleh ada yang tahu ya om?"


"Iya, makanya di sebut rahasia."


"Oh, ...


"Aslan juga jangan bilang-bilang soal ini kepada orang lain ya?"


"Nggak ih, masa aku bilang-bilang, kan rahasia." jawaban lugu anak itu membuat dua orang dewasa di depannya tertawa.


"Baiklah, kamu pintar." Rama tertawa sambil mengusap puncak kepalanya.


"Berapa hari?" Kaysa penasaran, karena sudah bisa di pastikan jika tugas ini tidak akan berlangsung selama satu hari saja.


"Sampai tahanannya tiba dengan selamat di tempat tujuan." Rama menjawab.


"Pemindahannya ke tahanan mana?"


"Pihak pemerintahan negara tetangga. Kasusnya lebih banyak terjadi di sana, dan semuanya di limpahkan kepada mereka."


"Apa berbahaya sehingga timmu yang mengawal?"


"Seharusnya ini menjadi kasus kejahatan internasional biasa, tapi karena dia merupakan anggota keluarga dari kelompok yang cukup berbahaya, jadi ya ... aku menyebutnya cukup beresiko."


Kini Kaysa yang terdiam.


"Tidak apa-apa, aku sudah biasa menghadapinya. Jangan khawatir." Rama berujar, kemudian dia melanjutkan kegiatan makannya.


"Jangan lupa pulang ya? dan ingat ..." Kaysa menyentuh lengannya yang bertumpu di meja.


"Hati-hati." katanya, lalu tersenyum.


Rama balas tersenyum, kemudian mengangguk pelan.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Dia masuk ke dalam kamar, lalu memutar kuncinya sebanyak dua kali. Memastikan pintu tersebut tertutup dengan rapat. Kemudian memutar tubuh, dan menemukan suaminya sudah berada di tempat tidur dengan perhatiannya yang masih tertuju pada layar ponselnya.


Kaysa tertegun sebentar.


"Aslan sudah tidur?" Rama bertanya.


"Sudah dari tadi. Dia sepertinya sangat kelelahan." jawab Kaysa. "Barusan aku membereskan peralatan sekolahnya. Banyak sekali lukisan yang dia buat. Sepertinya Aslan terus melukis selama bersama papanya."


"Iya. Um, ... apa perlu ada yang aku siapkan?" dia berjalan menghampirinya.


"Tidak usah, semuanya sudah aku siapkan." Rama menjawab.


"Yakin? tidak ada yang kamu lupa? tidak ada yang terlewat?"


"Yakin. Lagi pula ini kan untuk pekerjaan. Aku membawa seperlunya saja, sementara yang lainnya markas yang menyediakan."


"Oh, ... baiklah." perempuan itu naik ke tempat tidur.


"Jam berapa kamu berangkat?" dia bertanya lagi. Rasa-rasanya bicara seperti ini saja tidak cukup, tahu suaminya akan pergi untuk menjalankan tugas, tapi tak tahu kapan dia akan pulang.


"Tidak tahu, nanti kalau pergi aku beri tahu." Rama menjawab lagi.


"Umm ... oke." mereka terdiam lagi, dan Kaysa mencoba untuk memejamkan mata dengan posisi memunggunginya.


"Sayang, aku ..." namun kemudian dia memutar tubuh, dan di saat yang bersamaan Rama pun melakukan hal yang sama setelah meletakan ponselnya yang tertaut pada pengisi daya.


"Ya?"


"Tidak. Aku pikir kamu sudah tidur."


"Aku mencoba. Tapi sepertinya agak sulit. Tahu akan menjalankan tugas membuatku merasa sedikit gugup." Rama tertawa.


"Apa kamu takut?" Kaysa menatap wajahnya.


"Tidak, hanya gugup."


"Anggota pasukan khusus bisa gugup juga ya?"


"Tentu saja, kami juga manusia biasa."


"Hmm ... malah aku yang mulai merasa takut." perempuan itu terkekeh.


"Takut soal apa?"


"Entahlah. Sepertinya pekerjaanmu ini sangat berbahaya ya?" dia merangsek ke dekatnya, mencoba mengikis jarak di antara mereka.


"Bahaya hanya saat mengerjakannya saja, setelah itu selesai, semua orang selamat. Lihat? bukankah aku selalu kembali? keselamatan kami juga di jamin oleh negara. Kalau pun ada yang terjadi, sesorang pasti akan menyelamatkan kami."


"Apa maksudmu dengan ada yang terjadi?"


"Ya, hanya berandai-andai."


"Jangan bicara begitu Ram, aku jadi semakin takut." tangannya merayap di leher pria itu dan mengusapnya perlahan.


Rama terkekeh pelan.


"Aku pastikan tidak akan terjadi apa-apa. Hanya pemindahan tahanan, dan semuanya sudah di persiapkan dengan matang. Aku dan timku hanya bertugas mengawalnya sampai dia tiba di penjara berikutnya untuk menjalani hukuman. Memastikan tidak ada yang berusaha melepaskannya dengan cara apa pun." Rama menjelaskan.


Kekhawatiran itu jelas dia lihat dari raut wajah Kaysa, tapi malah membuatnya merasa bahagia. Tahu kini dia tak bertahan sendirian, karena akan selalu ada yang menunggunya di rumah, dan itu membuatnya memiliki harapan besar untuk tetap pulang.


"Berjanjilah untuk bisa pulang dengan selamat, Ram." Kaysa semakin mendekat kepadanya, dan ruang kosong di antara mereka pun menghilang.


"Iya, memangnya apa yag bisa menahanku untuk pulang? ada kamu di sini, dan juga Aslan." tangan Rama pun merayap untuk memeluk pinggangnya.


Kaysa tak lagi dapat menahan diri, perasaannya tentu saja meluap-luap. Belum mereka berpisah, tapi dia sudah merindukannya. Dan itu membuatnya tak ingin menyia-nyiakan lagi waktu yang tersisa.


Dia menarik kepala pria itu sehingga bibir mereka segera bertemu, dan dia mencumbunya dengan berapi-api. Bersamaan dengan debaran di dadanya yang juga bertambah cepat.


Perasaan Rama pun sama, dan dia tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Pria itu membalasnya dengan menggebu-gebu, seperti biasa. Hasratnya bahkan sudah meningkat sejak Kaysa berbaring di dekatnya, dan dia merasa tak sabar untuk menuntaskannya.


Tangan keduanya sudah menjelajah ke segala arah, dan mereka tak bisa lagi di hentikan. Kaysa bahkan bangkit, dan naik ke atas tubuh Rama tanpa melepaskan cumbuan yang semakin lama menjadi semakin menggebu-gebu.


Dia memperdalam ciumannya menjadi semakin intens, di tambah dengan sentuhan yang membuat pria di bawahnya hilang akal.


Kaysa menarik lepas kaus yang masih menempel di tubuh Rama, lalu menjeda cumbuannya untuk sejenak. Dia menatap pria itu untuk beberapa saat, kemudian menyentuhnya kembali. Mengusap dada bidangnya dengan lembut, lalu naik ke pundak kokohnya yang menawan, lalu menelusuri lehernya, yang jakunnya naik turun dengan cepat. Dia merasakan apa yang pria itu rasakan.


Kaysa kemudian melepaskan pakaian miliknya, dan terpampanglah benda di baliknya yang tanpa penghalang sehelai pun, dan membuat Rama semakin berdebar-debar.


Menatap dua bulatan yang menggantung indah, kulit mulusnya yang tampak berkilauan di terpa lampu tidur di dinding, juga segala apa yang ada pada dirinya tampak mempesona.


Pria itu bangkit, bersamaan dengan Kaysa yang menundukkan wajahnya. Bibir mereka kembali bertemu, dan cumbuan pun kembali berlangsung.


Mereka saling menyentuh, menyalurkan semua keinginan yang mungkin tidak akan bisa di salurkan esok. Lalu saling menikmati sentuhan, seolah tak aka merasakannya lagi segelah esok hari. Yang membuat keduanya cepat tenggelam dalam buaian hasrat dan gairah yang menggelora.


"Eghh ..." tubuh Kaysa mengejang dan wajahnya mendongak ke atas, ketika Rama meremat buah dadanya dan mempermainkan puncaknya. Sementara bibir dan lidahnya bermain-main di belahan dadanya.


Menyesapnya dengan keras, dan sesekali menggigit kecil, sehingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.


Namun itu tak berlangsung lama, Kaysa kembali menarik wajahnya dan mengulangi cumbuan.


Hasrat mereka sudah di ambang batas, dan rasanya ini harus segera di tuntaskan. Maka Rama mendorongnya, dan merubah posisi sehingga kini Kaysa berada di bawah kungkungannya.


Dia menarik lepas kain yang tersisa di bagian bawah tubuhnya, dan hal sama pula dia lakukan kepada Kaysa. Sehingga kini mereka sama-sama telanjang.


Senjatanya yang sudah siap tempur dia arahkan pada pusat tubuh perempuan itu, kemudian dia mendorong pinggulnya sehingga kini tubuh mereka benar-benar bertautan.


"Ngh, ..." Kaysa mengerang, lalu di detik berikutnya dia mendes*h pelan saat Rama mulai menghentak.


Pria itu tak berhenti menyentuh tubuhnya. Meremat dengan gemas, kemudian menciuminya. Menyesap kulit halusnya, dan merasakan betapa lembutnya perempuan itu. Membuatnya merasa semakin ingin menggila saja.


"Ummm, ..." Kaysa menggumam, dan napasnya tersengal-sengal. Sentuhan pria ini menjadi semakin nakal saja, namun dia menyukainya.


Rama membuatnya merasa lebih berharga sebagai perempuan, dan dia menjadi lebih percaya diri. Apa pun yang di lakukannya, dia menyukainya.


Pria itu memacu tubuhnya lebih keras, dan hentakannya terus menggila, seiring perasaannya yang semakin tak karuan.


Apa lagi ketika dia merasakan denyutan di bawah sana semakin mengencang, dan miliknya di cengkeram degan begitu kuat. Rama semakin tak bisa mengendalikan diri.


"Oh, ... Kaysaaa ..." geramnya di dekat telinga perempuan itu, dan dia tak berhenti mengecupi lehernya. Rasanya tidak puas hanya dengan menyentuhnya saja.


Erangan dan des*han tertahan terus mengudara hingga beberapa saat, dan keduanya sudah benar-benar hampir kehilangan kendali. Namun Rama bertahan selama mungkin. Meski tampaknya Kaysa hampir mengalami pelepasan.


Matanya tertutup dan terbuka dengan perlahan, dan dia sudah meracau tak karuan. Juga denyutan di bawah sana semakin mengencang saja.


Di menit berikutnya Rama menarik diri sehingga tautan tubuh mereka terlepas, membuat Kaysa menatapnya dengan raut kecewa.


Namun beberapa detik kemudian pria itu membalikkan tubuh Kaysa sehingga perempuan itu tertelungkup di bawahnya.


Rama menarik pinggulnya, kemudian kembali membenamkan miliknya kepada perempuan itu dari belakang.


"Ahhh!!" wajah Kaysa mendongak ke atas, dengan kedua tangan meremat kain sprey di bawahnya.


Napasnya semakin menderu-deru, dan di detik berikutnya dia kembali mend*sah dan mengerang, seiring hentakan yang kembali berlangsung. Dengan pria itu yang memenuhi dirinya, mengobrak-abrik bagian terdalam tubuhnya.


Semakin lama hentakannya semakin cepat, hingga kemudian keduanya merasakan sesuatu di dalam diri mereka bergejolak hebat. Yang berkumpul di satu titik pusat, dan berusaha mendobrak pertahanan.


Rama menarik Kaysa, dan merangkul pundaknya dari belakang sehingga dadanya sedikit merapat dengan punggung perempuan itu, tanpa menghentikan hentakannya sedikitpun. Sementara tangan lainnya mengusap perut ratanya, dan sesekali mempermainkan dadanya yang bergerak-gerak bebas seiring hentakan yang semakin cepat.


Dia tak peduli dengan rintihan dan erangannya, yang menambah semangatnya menjadi semakin menggebu-gebu.


"Oh, ... aku tidak tahan lagi!!!" rintih Kaysa, dengan tangannya yang meremat rambut di kepala pria itu.


Napasnya semakin tak beraturan, seiring hentakan Rama yang bertambah cepat. Dan di detik berikutnya pria itu menekan pinggulnya dengan kencang dan begitu dalam saat pelepasan menghantamnya tanpa ampun, di sambut denyutan hebat di pusat tubuh Kaysa yang akhirnya meraih klim*ksnya dengan begitu hebatnya.


*


*


*


Bersambung ...


uhuk, ... bekel mana bekel 🤣🤣🤣


awas, jan lupa like komen sama hadiahnya .


akhir buan nih gaess , ...


lope lope sekebon korma 😘😘