Kopassus And Me

Kopassus And Me
Urusan Pribadi



*


*


Garin mondar-mandir di sekitar heli kopter yang membawa mereka ke tempat itu. Pandangannya terus dia tujukan ke bangunan kecil di depan sana di mana rekan satu pasukan, sekaligus pemimpinnya itu berada. Dia sudah merasa sangat tidak sabar.


"Dia sengaja mengantar nyawa." Pria itu bergumam.


"Dia itu bodoh atau gila?"


"Aarrgghh, aku sudah tidak sabar lagi." Katanya, yang bergegas mendekati Adam.


"Tetaplah di tempatmu." Pria tinggi itu berujar ketika menyadari Garin menghampirinya.


"Tapi ini terlalu lama." Garin berbisik.


"Belum ada tanda dari Rama." Adam menjawab.


"Tapi sudah hampir satu jam, memangnya apa yang mereka lakukan di dalam sana? main catur?" Garin dengan nada kesal.


"Tutup mulutmu!" Adam menatap tajam kepadanya.


"Tapi ...


"Kita harus tetap di sini sampai Rama memberikan tanda, atau rencananya akan kacau." ucap Adam dengan pandangan tak dia lepaskan dari ke sepuluh anak buahnya Alvaro yang menjaga mereka.


Garin kemudian memutuskan kembali ke tempatnya, dengan rasa gusar yang melanda.


Kemudian suara tembakan terdengar dari arah gubuk kecil itu, membuat Adam bersama timnya segera bersiaga. Mereka mengangkat senjata seperti halnya ke sepuluh orang itu.


Namun hal tak terduga terjadi ketika tanpa sengaja Garin menarik pelatuk senapannya, dan pelurunya mengenai salah satu di antara anak buahnya Alvaro. Yang tentu saja membuat mereka yang berada di tempat tersebut bereaksi.


"Garin!" Adam berteriak.


Kemudian mereka melesat berlindung di balik pepohonan, dan segera saja, baku tembak pun terjadi.


"Maaf, aku tidak sengaja!" Garin berteriak dari persembunyiannya.


"Tidak ada waktu untuk membual, ini sudah terlanjur terjadi." Adam balas berteriak. "Awas kalau kita sampai terbunuh, itu gara-gara kau!" Kemudian dia menggeram.


Suara tembakan terus mengudara di tempat itu, beberapa granat bahkan di lemparkan untuk melumpuhkan musuh, yang seketika membuat pulau tersebut seolah menjadi medan perang pada hari itu. Mereka berusaha saling menguasai situasi.


Garin membidikkan senapannya pada beberapa titik yang dia curigai. Di mana terlihat siluet keberadaan manusia di kejauhan. Di balik pohon-pohon besar nan tinggi menjulang, dan semak belukar yang terpampang di sejauh mata memandang.


Dia memicingkan mata, lalu mengunci sasaran setelah yakin dengan bidikannya. Kemudian Garin menarik pelatuk senapannya, dan benda itu dengan segera memuntahkan peluru tajamnya, yang dalam waktu se per sekian detik melesat dan bersarang di kepala musuh.


Satu orang tumbang.


Garin kemudian melakukan hal yang sama, begitu juga dengan yang lainnya. Peluru tajam berhamburan di udara. Sebagian mengenai pepohonan, dan sebagian lagi mengenai apa pun yang ada di tempat tersebut. Namun selebihnya mengenai tubuh-tubuh di balik pepohonan yang segera mengantarkan mereka pada kematian.


"Pasukan hantu!" Adam berteriak, kemudian tembakan segera terhenti. Dan seketika suasana di pulau tersebut terasa hening seperti tak ada kejadian sebelumnya.


Mereka terdiam sebentar, lalu secara perlahan Adam menyembulkan kepalanya dari balik batu besar.


Tak ada yang terjadi. Suasana tetap hening seperti sebelumnya.


Mereka kembali menunggu untuk beberapa saat, dan tetap tak ada yang bereaksi.


Kemudian satu persatu anggota pasukan hantu muncul dari persembunyiannya, namun tetap dalam kewaspadaan mereka. Ke enam pria tersebut berjalan mengendap di jalur mereka masing-masing, tersebar di beberapa titik untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.


Hingga tibalah mereka di garis pertahanan musuh, dan menemukan beberapa tubuh tergeletak di tanah bersimbah darah dengan luka tembak yang sangat mematikan.


"Dua," Garin berteriak.


"Empat."


"Delapan."


"Sepuluh." yang lainnya mengkuti saat menemukan jasad yang sudah terbujur kaku di balik semak.


Mereka berhasil melumpuhkan musuh hingga tak bersisa. Ke enam pria itu kemudian saling pandang. Dan tanpa menunggu lama lagi, mereka semua berlari ke arah gubuk.


***


Alvaro terjungkal ke tanah sambil memegangi kakinya setelah Rama menembaknya sebanyak dua kali. Se usainya pria itu mengatakan banyak hal kepadanya.


Tentang bisnis gelapnya, juga tentang kematian Livia yang memang ada hubungan dengannya.


Ketika gadis itu secara tanpa sengaja mendengar percakapan di antara mereka, pada kedatangannya dua tahun yang lalu dalam penyamaran. Yang segera Alam bungkam entah dengan cara apa. Karena setelah hal itu terjadi, dia hanya melihat berita online tentang penemuan mayat seorang gadis yang menghilang selama tiga hari.


Namun Alvaro tida terlihat ketakutan, dia malah tertawa meski di kakinya telah bersarang dua peluru dari pistol dalam genggaman Rama.


"You such a fool. ( kau bodoh!)" katanya.


"Just like everyone. ( seperti halnya semua orang)"


"Tutup mulutmu, dan pergilah ke neraka." Rama bergumam, kemudian dia mendekatka moncong pistolnya ke kepala Alvaro, dan berniat meledakannya ketika mendengar pintu di dobrak dari luar.


Anna kemudian menarik Alvaro ke belakang sambil menodongkan senjata itu kepada Rama. Mereka berjalan tertatih ke arah belakang, kemudian menghilang di balik celah.


"Ram!" Garin muncul diikuti ke lima rekannya yang lain.


Mereka memasuki ruangan tersebut dengan penuh kewaspadaan, namun tertegun begitu melihat mayat bergelimpangan di tanah.


"Kau membantai mereka Ram?" Garin setelah berada di dekatnya, namun Rama tak merespon.


"Bagaimana ...


"Kami juga membantai mereka di luar." Pria itu penuh kebanggaan.


Kemudian mereka segera tersadar ketika melihat Aslan dalam gendongan Adam, setelah pria itu memeriksa keadaannya.


"Bawa Aslan pergi." Rama berucap.


"Kau juga." jawab Adam.


Rama menggelengkan kepala.


"Ada yang harus aku selesaikan."


"Di mana Alvaro?"


"Mereka lari tapi ...


"Lari?"


"Aku aka mengejarnya. Maka bawalah Aslan pergi dari sini." Rama mendekati Adam, kemudian mengusap kepala anak sambungnya yang berada dalam dekapan pria tersebut.


"Pastikan dia selamat sampai Kaysa." katanya, kemudian mundur menjauh.


"Rama!" Garin berteriak.


"Aku mengandalkan kalian. Selamatkan Aslan, lalu meminta bantuan. Dan siarkan rekaman kejadian barusan ke seluruh dunia sehingga mereka tahu." Pria itu melemparkan sesuatu kepada Garin, yang di tariknya dari dalam rompi anti pelurunya.


Sebuah alat berbentuk baterai kecil dengan lampu di atasnya.


"Aku rasa benda itu tidak rusak walau mereka menginjaknya dengan keras." katanya, yang terus menjauh.


"Rama!"


"Pergilah, selamatkan anakku. Sekarang bukan lagi urusan negara, tapi sudah menjadi urusan pribadi di antara aku dan Alvaro. Maka tugas kalian sudah selesai." katanya lagi.


"Tapi Ram?"


"Pergi!" kemudian pria itu masuk ke sebuah celah yang gelap.


"Kalian dengar? pimpinan sudah memerintahkan." Adam kembali bersuara.


"Sebaiknya kita kembali ke permukaan."


"Tapi Rama sendirian. Dia bisa menggila di sana dan ...


"Seperti yang di katakannya, sekarang sudah menjadi urusan pribadi di antara mereka. Dan prioritas kita adalah menyelamatkan Aslan. Jadi, cepatlah." Pria itu pun berbalik ke arah sebelumnya. Dia membawa Aslan keluar meski pikirannya terus tertuju kepada Rama.


Bagaimana tidak? Pria itu memilih jalannya sendiri untuk menyelesaikan masalah ini, yang sudah dia sadari jika asalnya dari Alvaro. Dan hal paling berat adalah Rama telah membuatnya berjanji hanya untuk menyelamatkan Aslan.


Garin berhenti berlari ketika dia hampir saja mencapai heli kopter.


"Garin cepat!" Adam dan yang lainnya menunggu.


"Aku rasa aku tidak bisa membiarkannya sendirian kali ini." Pria itu menjawab.


"Tapi dia sudah memerintahkan kita untuk menyelamatkan Aslan."


"Rama sudah menyelamatkannya, dan kini tugas kalian untuk membawanya pulang." kemudian dia melemparkan benda yang tadi Rama lemparkan kepadanya. Setelah meraih sebuah tas besar di dalam mesin terbang itu.


"Bawa juga itu, dan lakukan apa yang dia perintahkan." Garin berjalan mundur dengan tas berisi persenjataan di punggungnya.


"Aku tidak bisa membiarkan rekanku berjuang sendirian, meski itu untuk urusan pribadinya." kemudian dia berlari.


"Garin!"


Namun pria itu tak mengiraukan, dia malah menembakkan suar di udara untuk memberi tanda kepada pasukan di pangkalan.


Tak ada jalan, Adam segera masuk ke dalam heli kopter bersama yang lainnya, bersiap untuk pulang, sementara Garin nekat kembali ke dalam sana.


*


*


*


Bersambung ...