Kopassus And Me

Kopassus And Me
Malam Pengantin



*


*


Rama menjatuhkan tubuhnya di sofa, setelah tamu terakhir yang merupakan tetangga di sekitar rumahnya pergi. Tidak di sangka sama sekali jika pernikahan dadakan ini akan menjadi semacam perhelatan penting di lingkungan tersebut.


Tapi buktinya, para tetangga yang telah mengenalnya sejak dia remaja datang ke rumah untuk memberikan selamat atas pernikahannya. Malah, sebagian besar di antara mereka ada yang membawa hantaran. Baik itu berupa makanan atau pun beberapa kado berisi barang yang belum mereka tahu. Seperti yang juga di dapatkannya pula dari rekan-rekannya di kantor tadi siang. Sebagai bentuk kebahagiaan karena pria itu telah melepas masa lajangnya.


"Apa akan ada yang datang lagi?" Kaysa keluar dari kamar setelah berganti pakaian.


"Sepertinya tidak. Sudah malam." Rama melirik jam dindingnya yang menunjukkan pukul 21.30.


"Baiklah kalau begitu." perempuan itu menghampiri Aslan yang sudah terkantuk-kantuk di sofanya.


"Aslan sudah mau tidur?" Kaysa bertanya.


"Hu'um, udah ngantuk mama." anak itu menjawab.


"Sudah minum obat?"


"Udah tadi sama om Rama."


"Baiklah kalau begitu. Ayo, kita ke kamar." Kaysa mengulurkan tangannya, yang segera Aslan sambut.


"Kalau mau, Aslan bisa tidur di kamar sebelah Kay." Rama berujar.


"Hum?" mereka menoleh ke arahnya.


"Kamar Livia sudah bisa di pakai. Aku sudah membereskannya kemarin."


"Boleh?"


"Boleh." Rama mengangguk.


"Aslan mau tidur di sebelah?" Kaysa bertanya kepada putranya.


"Di mana aja boleh." jawab Aslan dengan suara parau.


"Tapi sendirian."


"Oke." anak itu mengangguk.


"Eh?"


"Mama nggak usah takut, kan sekarang udah ada om Rama yang nemenin." ucap Aslan dengan lugunya, lalu dia berjalan ke arah kamar di sebelah kamar Rama.


Sementara pria itu terdengar menyemburkan tawanya.


"Ini di rumah baru lho, dan pertama kali kamu tidur di sini." Kaysa mengikutinya dari belakang saat putranya memasuki ruangan yang tidak terlalu besar itu.


"Emangnya kenapa?" Aslan melenggang ke dalam kamar yang cukup nyaman itu. Dengan warna dinding yang cerah dan ornamen khas anak sekolahan.


Meja belajar terletak di sisi ranjang berukuran sedang yang cukup rapi. Juga rak dengan buku-buku dan piala bertuliskan nama Livia Hadinata sebagai juara 1, 2, 3 atas beberapa lomba. Dan dindingnya yang di hiasi beberapa foto gadis itu yang tampak ceria.


"Kalau mau lebih rapi lagi, besok kita lepas foto-fotonya, biar Aslan bisa menggantinya dengan yang lain." Rama berdiri di ambang pintu.


"Nggak usah Om. Tante Livia cantik, kamarnya jadi lebih bagus." ucap Aslan yang menatap sebuah foto berukuran besar tak jauh darinya.


Livia dengan seragam putih abunya memegangi piala dan medali juara satu tingkat SMA di bidang ilmu pengetahuan.


"Tante Livia dulunya mau jadi dokter, tapi sayang sudah meninggal." Rama pun masuk ke dalam ruangan itu.


"Pasti sekarang udah jadi dokter di surga." jawab Aslan.


"Hmm ...


Bocah itu mengganti pakaiannya dengan yang di sodorkan Kaysa kepadanya. Kemudian dia naik ke tempat tidur.


"Kamu yakin bisa tidur sendirian di sini? biasanya kan tidur dengan mama?" Rama melirik ke arah Kaysa.


"Bisa. Sebenernya sih aku udah bisa tidur sendiri, tapi mama nggak ijinin. Katanya takut kalau tidur sendirian." jawaban polos Aslan tentu saja membuat sang ibu membekap mulutnya.


"Apa?" dan membuat Rama kembali tertawa.


"Asli om, katanya takut kalau nanti aku ...


"Ssstt! katanya mau tidur?" Kaysa memotong perkataan putranya.


"Cepat, sudah malam!" ucap Kaysa lagi yang ikut naik ke tempat tidur yang cukup nyaman itu.


"Aku di sini dulu menidurkan Aslan." katanya, di tujukan kepada Rama.


"Baiklah, ..." kemudian pria itu keluar dari kamar yang dulunya milik sang adik.


***


Rama tengah mengenakan pakaiannya setelah membersihkan diri saat dengan tiba-tiba Kaysa menerobos masuk ke dalam kamar mereka. Membuat pria itu terkejut setengah mati, dan dengan refleks membalikkan tubuhnya ke arah lain.


Beruntung celana pendeknya sudah dia kenakan, dan dengan cepat pula pria itu mengenakan kaus oblongnya.


"Kamu membuatku terkejut Kay, apa tidak bisa pelan-pelan?" katanya, setelah dia selesai dengan urusannya.


"Maaf, kebiasaan." Kaysa tertawa canggung.


"Hmm ... Aslan sudah tidur?" Rama mencari topik pembicaraan, saat lagi-lagi rasa gugup mulai menguasainya.


"Sudah, akhir-akhir ini dia mudah sekali tertidur. Mungkin efek obat yang di minumnya, menjadikan dia lebih banyak istirahat."


"Benar." Rama duduk di tepi ranjang sambil mengusak rambutnya yang basah.


"Baiklah, aku mau mandi." ucap Kaysa yang berjalan ke arah kamar mandi di ujung ruangan.


Sementara Rama mengawasinya lewat pantulan di cermin.


***


Kamar mandi itu tidak terlalu besar, karena berada di dalam kamar milik Rama. Dengan bak kecil di sisi lainnya, juga closset di dekatnya. Sementara shower dengan bentuk tak biasa menggantung di langit-langit kamar mandi.


"Heh, dasar pria ini memang antik." katanya dengan kepala terdongak ke atas menatap benda tersebut.


"Oke, Kay ... apa yang kita punya di sini?" Kaysa membuka tas peralatan pribadinya yang dia bawa dari apartemennya.


Tas kecil berisi sabun, kosmetik dan peralatan perempuan yang biasa dia pakai. Namun saat ini terasa begitu spesial baginya.


"Kenapa aku merasa sangat gugup? seperti anak perawan yang mau menghadapi malam pengantin saja?" dia terus bergumam sambil menatap dirinya di cermin.


"Tapi ini memang malam pengantin, dan aku sangat gugup." tubuhnya melorot di lantai kamar mandi, dengan kedua tangan menutupi wajahnya, frustasi.


Memang ini bukan yang pertama kali baginya, namun rasanya sudah lama sekali dia tak melakukannya. Kalau di ingat-ingat, tak ada momen yang bagus untuk di kenang soal itu, apa lagi di pelajari. Karena pada kenyataannya tak ada yang spesial pada pernikahannya dulu.


Kegadisannya saja Radit renggut dalam keadaan tak sadar, itu pun setelah tiga bulan pernikahan dan selama itu pula dia mengabaikannya. Karena pria itu yang bertengkar dengan Kristina, dan mengalami perpisahan sementara yang mengakibatkan dirinya minum-minum hingga mabuk, kemudian pulang ke rumah mereka dengan membawa amarah.


Dan begitulah seterusnya yang terjadi setiap kali Radit pulang, Kaysa seolah menjadi samsak hidup yang menjadi pelampiasannya setiap kali pria itu mengalami pertengkaran dengan Kristina. Yang terjadi beberapa kali hingga akhirnya hadirlah Aslan di antara mereka.


Dan yang tak Kaysa mengerti mengapa dirinya bertahan selama beberapa tahun padahal sudah jelas perasaan mereka tidak pernah saling bertaut.


Dia terdiam.


Tapi bukankah ini berbeda?


Pria yang kini menjadi suaminya bukanlah pria seperti Radit, mungkin. Dan baru memikirkannya saja hatinya sudah merasa tak karuan. Dan dia selalu merasa berdebar setiap kali mereka berdekatan.


Dan suasana selalu berubah syahdu setiap kali mereka berinteraksi, dan dia sangat menikmatinya.


Ah, Kaysa ... dia membawa rasa yang lain kepadamu. batinnya, seketika wajahnya memerah dan terasa panas. Dia bahkan tersenyum-senyum setelahnya.


"Ya Tuhan, apa aku bisa melakukannya kali ini?" dia bermonolog.


"Bagaimana jika aku tidak bisa?"


"Ah, ... dia itu laki-laki, pasti sudah pernah melakukannya denga seseorang. Anak jaman sekarang kan?" Kaysa tertawa sambil menutup mulutnya.


"Tenang, Kay. Ini tidak akan terlalu sulit, kau tahu?" perempuan itu terus mengoceh di depan cermin sebelum akhirnya tersadar dan segera menyelesaikan ritual membersihkan dirinya.


Dia mengintip lewat celah pintu kamar mandi yang terbuka sedikit. Rama tampak membaringkan tubuhnya dengan sebelah tangan di atas kepala.


Perempuan itu mengendap keluar sambil memeriksa dirinya sendiri. Mengendus kedua sisi tubuhnya yang sudah dia berikan semprotan parfum.


Wangi, dan dia merasa percaya diri.


Kaysa menarik dan menghembuska napasnya perlahan seolah dia tengah bersiap menghadapi pertempuran.


Hmm ... pertempuran.


Dan ini rasanya menjadi semakin mendebarkan saja.


Rama tampak membuka mata, dan itu membuat Kaysa sedikit terkejut. Dia megira pria itu sudah tertidur.


"Aku membangunkanmu?" perempuan itu berusaha mencairkan suasana yang terasa mulai canggung.


"Tidak." Rama menjawab.


"Baiklah." Kaysa naik ke tempat tidur, dan duduk di sisi kosong di samping suaminya.


Suami.


Rasanya dia ingin tertawa terbahak-bahak karenanya.


"Malam ini tidak ada panggilan tugas?" Kaysa mencari bahan pembicaraan.


"Tidak tahu, belum ada panggilan." jawab Rama seraya memeriksa ponselnya. Memang sepi. Biasanya jam-jam seperti ini sangat rawan baginya karena panggilan tugas bisa saja tiba-tiba muncul.


"Serius? memangnya akan ada panggilan tugas? ini kan malam pengantin, masa atasanmu tega memberimu tugas?"


"Kenapa begitu?"


"Resiko pekerjaan."


"Kalau tidak?"


"Negara akan mengalami kekacauan."


"Duh? berat sekali tugasmu pak, seolah-olah kamu ini adalah superhero."


Rama hanya tergelak.


"Tidak ada kompensasi untuk malam pengantin?" Kaysa memiringkan kepalanya.


Rama terdiam menatap wajahnya yang polos tanpa make up sama sekali. Dia hanya mengenakan tanktop dan celana pendek, seperti sengaja sedang menggodanya.


"Malam pengantin heh?" pria itu bangkit, kemudian duduk seperti Kaysa.


"Ya, ...


"Entahlah, mungkin ada." dia mencondongkan tubuhnya, "Makanya sampai jam segini tidak ada panggilan." dia tersenyum.


"Umm, ... kamu ... mau melakukannya sekarang?" perempuan itu bertanya.


"Melakukan apa?" Rama tanpa menghilangkan senyumnya sama sekali.


"Ayolah, kita sama-sama dewasa. Aku yakin kamu mengerti apa maksudku."


"Aneh sekali jika perempuan yang bicara seperti itu?" Rama tertawa pelan.


"Memangnya tidak boleh ya?"


"Ya biasanya tidak begitu. Kamu tahu, di novel-novel malah perempuannya akan bersikap malu-malu dan gugup. Bahkan mungkin ketakutan."


"Begitu ya?"


"Ya."


"Mungkin kalau perempuannya masih gadis iya. Aku kan ... janda." Kaysa sengaja menekan kata janda pada ucapannya.


Rama tertawa lagi.


"Jadi karena kamu janda menjadikanmu tidak merasa gugup ya?" pria itu bergerak mendekat, merasa menemukan jalan untuk memulai sesuatu.


"Tidak juga sih."


"Terus?"


"Bagaimana pun akan terjadi juga kan? gugup hanya di awal, selanjutnya ya ...


"Bisakah kita mulai sekarang?" Rama langsung pada maksudnya.


"Umm ... bisa?" Kaysa bertanya lagi, namun sesaat kemudian dia menyesali ucapannya yang sekonyol itu.


"Aku tidak tahu, tapi ...


"Tidak tahu?" perempuan itu membeo.


"Kamu tahu, ini pertama bagiku, dan aku tidak berpengalaman dengan perempuan. Jadi ...


"Apa?"


"Tunjukan saja, beri tahu apa yang harus aku lakukan?"


Kaysa tertegun.


"Kamu tahu, agar kamu merasa senang dan ...


"Pertama bagimu?" ucap Kaysa lagi.


"Hmm ...


"Kamu bercanda."


"Tidak."


Perempuan itu menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana dirinya harus memulai ini, sementara pengalamannya juga tidak terlalu banyak.


"Maka, ... mulailah untuk tidak terlalu banyak bicara setelah ini." Kaysa setengah berbisik. Sepertinya dia yang harus mengambil alih?


"Hum?" Rama terhenyak ketika perempuan itu bergerak mendekat kepadanya. Dan tanpa menunggu lama, Kaysa menarik wajahnya untuk kemudian dia cumbu seperti yang sudah pernah mereka lakukan.


Dia memagut lembut bibir milik Rama yang segera mendapat sambutan dari pria itu. Mereka saling menyesap bibir masing-masing, yang kemudian membuat keduanya segera terbawa suasana.


Cumbuannya menjadi semakin dalam, dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hingga keduanya merasa mulai saling memahami.


Kaysa naik ke pangkuannya, tanpa melepaskan pertautan bibir mereka berdua. Tangannya sudah merayap menyusuri leher, tengkuk dan belakang kepala Rama. Lalu mengusap pundak kokohnya yang masih berbalut kaus.


Kemudian dia menarik kain yang menempel di tubuh pria itu sehingga benda itu terlepas. Dan tampaklah tubuhnya yang kekar dengan lekuk-lekuk otot yang membuat Kaysa menahan napas sejenak. Dia menatapnya sebentar seraya menyentuh tubuh menggoda di hadapannya.


Rama tampak mati-matian menahan perasaannya. Gejolak hasrat sudah membumbung hingga ubun-ubun, dan rasanya dia tidak akan mampu untuk menahannya lagi kali ini. Kaysa benar-benar telah membuatnya merasa tidak sabar.


Pria itu kembali menariknya untuk melanjutkan cumbuan yang kini membuatnya ingin melakukan lebih. Dia bahkan mulai menyusuri setiap lekuk tubuh Kaysa. Menikmati rasa hangat dan lembutnya permukaan kulit perempuan itu. Yang membuat darahnya semakin berdesir-desir tak karuan.


Leher jenjangnya menjadi bagian yang paling sering dia jelajahi. Dengan ujung hidung dan bibirnya yang tak berhenti mengecup, mencium bahkan menghisapnya seolah dia ingin menghabisinya saat itu juga.


Apa lagi ketika des*han pelan mulai keluar dari mulut Kaysa, membuat kesabaran Rama berangsur menghilang dan akal sehatnya berhamburan.


Dia pun menarik tanktop yang melekat di tubuh Kaysa, dan segera saja bulatan indah itu terpampang jelas di depan wajahnya.


Rama menatapnya penuh kekaguman, bagaimana bisa perempuan yang sudah pernah menikah seperti dia bisa begitu mempesona seperti ini? membuatnya merasa begitu berdebar-debar tak karuan.


Pria itu melanjutkan cumbuannya, seraya menyentuh bagian indah yang baru di lihatnya secara nyata. Yang membuat Kaysa pangsung bereaksi karenanya.


Rama merasakan debaran di dadanya semakin menggila, seiring sentuhannya yang semakin jauh pada tubuh Kaysa, yang membuat perempuan itu menggeliat-geliat menahan gejolak di dalam dirinya.


Hal yang sama terjadi kepada Rama, ketika hasratnya juga bangkit, dan sesuatu di bawah sana semakin mengeras dan mendesak. Apa lagi ketika tanpa sengaja bersentuhan dengan milik Kaysa, walau mereka masih sama-sama mengenakan penghalang.


Kaysa menatap wajahnya yang sudah memerah ketika merasakan sesuatu mengganjal di bawah sana. Dan keadaannya pun sama merona nya. Namun Rama tak membiarkannya berlama-lama diam karena dia kembali menyambar bibirnya untuk di sesap dengan penuh perasaan.


Kedua tangannya terus menjelajah ke segala arah. Menyentuh dan merasakan setiap lekuk tubuhnya yang hampir membuatnya gila. Dari ujung kaki hingga ke ujung kepala tak ada yang luput dari sentuhannya.


Tangannya bahkan sudah menyelinap di balik celana pendek milik Kaysa, dan perempuan itu membiarkannya berbuat sesuka hati. Dia bahkan bangkit sebentar untuk membiarkan Rama melepaskan benda tersebut darinya.


Pria itu tampa tersenyum dalam cumbuannya, merasa senang karena hal ini berjalan mulus tanpa hambatan. Begitu juga yang dia lakukan pada celana pendek miliknya, dan kini mereka sudah sama-sama telanjang.


Kaysa menahan napas kala milik mereka bersentuhan. Jantungnya berdebar begitu kencang, sama halnya seperti Rama. Napas mereka menderu-deru, dan tubuh keduanya sama-sama memanas. Mereka bersiap untuk memulai pergumulan indah ini secara nyata.


Kaysa menyentuh benda itu, lalu menggenggamnya sebentar, membuat si pemiliknya mende*ah pelan dengan mulut sedikit terbuka. Dia tak bosannya menatap wajah Rama, seperti juga pria itu yang tak berhenti menatapnya.


Kaysa kemudian mengangkat pinggulnya, memposisikan miliknya sejajar dengan milik Rama, kemudian perlahan-lahan menurunkannya ketika kedua tangan pria itu menekannya dengan tidak sabar. Dan ...


"Ah, ..." keduanya sama-sama mendes*h ketika milik mereka sudah saling bertautan. Tanpa hambatan, tanpa penghalang.


Dan mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Merasakan dan menyesuaikan diri masing-masing. Kembali saling menatap untuk mencari tahu apa yang tengah mereka rasakan.


Rama mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mempertahankan kesadarannya yang sudah buyar sejak alat tempurnya berhasil bersarang pada Kaysa. Jantungnya terasa mau meledak saat itu sudah terjadi.


Lalu dia merasakan hal yang lebih gila lagi ketika benda di bawah sana terasa berdenyut kencang.


Napasnya berhembus keras, begitu juga Kaysa. Yang di detik berikutnya sebuah pergerakan pun di mulai dengan sendirinya.


Ketika perempuan itu menggerakkan pinggulnya, dan dia berusaha memegang kendali. Sementara Rama berusaha menahan diri. Membiarkannya mengendalikan pergumulan tersebut seperti yang di inginkannya.


Desah*n dan erangan tertahan mengudara memenuhi ruangan temaram pada hampir tengah malam itu. Dan pertautan indah itu berlangsung begitu syahdu.


Namun dering ponsel di atas nakas mengganggu konsentrasi Rama yang segera meraihnya untuk melihatnya. Dan matanya terbelalak ketika sebuah pesan darurat masuk.


911


Yang benar saja!


Sementara Kaysa masih menggerakkan tubuhnya berusaha menggapai pelepasan.


"Ke-napa? panggilan tugas?" perempuan itu sempat berkelakar tanpa menghentikan cumbuannya pada Rama. Dengan desah*an yang mengiringi gerakan tubuhnya di atas pria itu.


"Hmm ..." Rama menggumam.


"Ap-apa?"


"Panggilan, ... tugas." Rama menahan pinggulnya.


Wajah Kaysa kini terlihat memucat, dan di detik berikutnya pria itu mendorongnya sehingga pertautan mereka terlepas begitu saja.


"Ram?" perempuan itu setengah berteriak.


"Maaf Kay, ..." katanya, yang menghambur ke dalam kamar mandi, dan dengan tergesa bersiap untuk pergi.


*


*


*


Bersambung ...


kabuuuuuuurrrrrr 🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀