Kopassus And Me

Kopassus And Me
Rencana



*


*


"Ini kapan sih latihan tinjunya? kok cuma gini-gini doang?" Aslan masih melakukan gerakan memukul dan menendang tanpa sasaran. Setelah beberapa saat pemanasan seperti hari-hari sebelumnya.


Sudah satu minggu mereka bersama-sama berlatih gerakan yang sama.


"Sabar Aslan." Rama menyiapkan beberapa peralatan yang mereka butuhkan.


"Terus sampai kapan latihannya gini terus? Aku kan bosen." bocah itu berucap.


"Latihan itu bukan soal senang atau bosan, tapi soal kemauan. Kamu mau bisa melakukannya?" Rama memberi pengertian.


"Mau lah, makanya ikut latihan juga." Aslan menjawab.


"Makanya harus sabar, semua ada tahapannya, dan ada prosesnya. Apa lagi untuk anak-anak seperti kamu. Tidak boleh langsung pada tujuannya begitu saja. Kita harus melatih beberapa hal."


"Waktu mama nggak gitu."


"Mama sudah dewasa."


"Beda ya?"


"Beda lah."


"Kirain sama aja."


"Nah, sekarang kita pakai ini." Rama menggenggam handwrap untuk Aslan setelah anak itu selesai melatih gerakan dasarnya.


Kemudian dia memasangkannya pada tangan kecil anak itu.


"Kenapa harus pakai ginian? kenapa nggak langsung pakai sarung tunju aja?" Aslan terus bertanya.


"Agar tangan kamu terlindungi dari cedera." Rama memberikan jawaban.


"Kan udah pakai sarung tinju?"


"Setidaknya tangan kamu akan lebih aman di dalam sini."


"Tangan aku kayak orang sakit om?" Aslan menatap pergelangan hingga jari-jariya yang di lilit handwrap, kemudian dia terkekeh.


"Tapi ini aman."


"Oh ya?"


"Iya."


"Oke."


"Nah, sekaranga lihat mamamu." Rama mengisyaratkan kepada Kaysa untuk menunjukkan apa yang sudah di pelajarinya lebih dulu, dan perempuan itu segera melakukannya.


Dia beberapa kali mendaratkan tinjuan di permukaan samsak, di kombinasikan dengan tendangan mematikan.


"Gitu doang?" Aslan bereaksi.


"Coba kamu lakukan?"


Anak itu melakukan hal sama seperti yang di lakukan oleh ibunya.


"Tidak begitu. Lupa dengan yang Om ajarkan ya?" Rama menyela ketika apa yang di lihatnya tak sesuai apa yang dia ajarkan.


"Sama aja Om. Sama-sama ninju sama nendang." Aslan menjawab.


"Beda Aslan. Karena beda gerakan akan beda juga hasilnya." pria itu menjelaskan.


"Masa?"


Rama bangkit maju beberapa langkah, kemudian melakukan gerakan yang sama.


Memukul dengan keras, kemudian menendang dengan penuh tenaga. Samsak yang menggantung di tiang itu bahkan sampai tetpental karena tendangannya.


"Lihat?"


"Yah, ... Om kan udah ahli, kalau aku baru belajar." anak itu berujar.


"Nah, itulah perlunya latihan yang serius, agar kamu juga bisa melakulannya seperti ahli. Lihat dan perhatikan, kemudian lakukan." Rama mengulangi gerakannya.


"Lagian ini kan tinju, kenapa harus pakai tendang-tendang juga sih?" Asla menggerutu.


"Karena yang kita pelajari ini bukan hanya tinju." Rama menjawab gerutuan anak sambungnya.


"Terus apa?"


"Kick Boxing, ini gabungan dari tinju dan bela diri."


"Ya sama aja, masih ada boxing-boxingnya juga."


"Iya, terserah kamu sajalah." Rama tertawa. Anak ini memang selalu membuat hari-hari mereka penuh tawa dengan segala ocehan dan tingkah polosnya.


"Mau melanjutkan latihannya?" ucapnya lagi.


"Mau lah, ...


"Tidak capek?"


"Capek sih, tapi kan biar bisa."


"Oke."


Dan mereka bertiga kembali mengulangi hal yang sama selama beberapa jam ke depan. Dengan Rama yang masih terus memikirkan banyak hal di kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa sebaiknya kita beri tahu Radit soal ini?" Mereka sedang menikmati makan siangnya di halaman belakang seusainya sesi latihan hari itu. Sementara Aslan sudah kembali asyik dengan dunianya bermain-main di halaman sendirian setelah sempat mengeluh karena kelelahan.


"Apa itu tidak akan membahayakan? aku rasa Mas Radit tidak akan mengerti soal ini." Kaysa meletakan makanan terakhir yang dia masak, kemudian duduk di samping suaminya.


"Aku hanya berpikir, mungkin sebaiknya kita beri tahu dia agar ketika Aslan sedang bersamanya dia tahu harus berbuat apa."


"Entahlah, menurut kamu bagaimana?" Kaysa membalikan pertanyaan.


"Aku lihat dia sangat menyayangi Aslan. Walau memang sikapnya yang kadang acuh, tapi ketika terjadi sesuatu dia tampak khawatir, apa lagi kepada Aslan. Jadi aku pikir mungkin sebaiknya Radit mengetahui soal ini karena menyangkut keselamatan Aslan."


"Aku hanya malas mendengar dia mengatakan banyak hal jika tahu hal ini. Kamu sendiri sudah kenal bagaimana dia kan?"


"Yeah, ... benar juga. Dia akan menyalahkan kita pada awalnya."


"Itu yang aku maksud, dan aku sedang tidak mau mendengarkannya."


"Tapi setelahnya dia akan menjaga Aslan dengan baik."


"Apa kamu, dan orang yang di perintahkan untuk mengawal kita tidak mampu menjaga Aslan?"


"Mereka mampu, tapi aku rasa kita juga harus melakukannya sekedar untuk membuat Aslan aman walau tidak sedang bersama kita. Dan aku rasa Radit akan melakukannya dengan baik."


Kaysa terdiam sebentar.


"Terserah bagaimana baiknya sajalah, kamu lebih tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya."


***


Radit menatap Rama dan Kaysa secara bergantian begitu mereka selesai berbicara. Tepat di akhir pekan ketika mereka kembali bertemu untuk pembagian waktu bersama Aslan, dan apa yang di dengarnya hari ini membuatnya kehilangan kata-kata.


"Kalian ini sedang bercanda ya?" ucapnya setelah terdiam beberapa saat.


"Kau pikir keselamatan Aslan bisa dijadikan bahan candaan?" Rama bersedekap.


"Aku hanya tidak percaya. Rasanya ini seperti di film saja."


"Terserah kau akan menganggapnya seperti apa, tapi aku harap kau tidak mengabaikannya." Rama kembali menjawab.


"Heh, ... " Radit tertawa mengejek. "Kau lihat Kay? keputusanmu telah membawa Aslan ikut masuk ke dalam bahaya. Jika hanya kau, aku tidak akan peduli, tapi ini sudah membahayakan putraku."


Kaysa membuka mulutnya untuk menyanggah, namun Rama segera meremat tangannya yang berada di bawah meja untuk menghentikannya.


"Sudah aku katakan untuk menjaganya baik-baik tapi kau tak mendengarkan. Beginilah jadinya Kay." lanjut pria itu, merasa ada jalan untuk menyudutkan mereka, terutama mantan istrinya.


"Bukan saatnya untuk menyalahkan Kaysa, aku atau siap pun. Karena tidak ada di antara kami yang menginginkan keadaan seperti ini." Rama menyela.


"Tapi buktinya kalian telah membahayakan anakku!" Radit menggebrak meja, membuat Aslan yang tengah asyik dengan makanannya di meja lain memalingkan perhatian.


"Kau pikir kami sengaja melakukan ini? pikiran gila macam apa itu?" Rama bereaksi.


"Kalau kau tidak sanggup menjaganya, lebih baik serahkan saja Aslan kepadaku. Dari pada hidupnya terancam seperti ini." Radit meneruskan ocehannya.


"Kau pikir kami tidak mampu? aku bisa saja mengerahkan segala hal yang aku mampu untuk menjaganya, termasuk menyewa pengawal yang bisa menjaganya selama 24 jam penuh, dan jika kami egois aku pun bisa melarangmu menemui dengan alasan keamanan."


"Tapi kami masih memikirkan hakmu sebagai ayahnya, makanya dengan terpaksa aku membuka masalah ini kepadamu, walau sebenarnya itu sudah melanggar kerahasiaan dari pekerjaanku."


"Rahasia pekerjaan kepalamu!" Radit merasa berada di atas angin untuk menyudutkan pasangan ini.


"Memangnya se penting apa pekerjaanmu itu sampai-sampai harus di rahasiakan dan bisa mengancam banyak nyawa jika sampai bocor ke luar?"


"Sangat penting, bahkan saking pentingnya, negara yang kau diami ini akan kacau jika pasukan kami terlambat bertindak satu detik saja."


"Oh ya?" Pria itu masih dengan raut mengejek. "Lalu mengapa kau beritahukan ini kepadaku? jika memang pekerjaanmu ada sangkut pautnya dengan negara, seharusnya mereka bisa membantumu melindungi keluargamu." katanya, seolah merendahkan.


"Aku bisa saja melakukannya, jika Aslan tak harus berbagi waktu denganmu. Kami bisa mengurungnya di rumah karena di sanalah tempat paling aman. Akan kami berikan apa pun yang dia mau agar tidak mengingat dunia luar. Tapi aku masih berpikir jika kau, sebagai ayahnya juga butuh waktu bersamanya."


"Dan alasanku memberitahu masalah ini adalah agar kau juga bersikap waspada terhadap apa pun, karena bahaya bisa datang dari mana dan kapan saja."


Kini Radit yang terdiam.


"Tapi jika memang kau tidak peduli dengan itu, tak apa. Aku rasa mulai hari ini kau tidak bisa menemui Aslan hingga waktu yang tidak bisa aku tentukan, karena akan sangat berbahaya baginya jika keluar tanpa pengawasan ketat." Rama bangkit seraya menarik lengan Kaysa, dan mengisyaratkan kepada Aslan untuk pergi.


"Terimakasih atas waktumu Pak." katanya, yang sukses membuat pria di depannya sedikit terhenyak.


"Tunggu, apa-apaan kalian ini? aku hanya bertanya." Radit mencoba menghentikan langkah mereka.


"Kami tidak memiliki banyak waktu untuk menjawab pertanyaan yang tidak ada faedahnya. Karena mungkin saja saat ini bahaya sedang mengintai." Rama mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe yang jaraknya tida terlalu jauh dari stadion nasional itu.


"Baiklah, baik. Jadi apa saja yang harus aku lakukan?" Radit akhirnya mengalah. Dia merasa tidak mungkin jika harus terpisah dari putranya. Dan saat ini, bekerja sama dengan pasangan ini adalah yang ide yang paling tepat.


Rama dan Kaysa saling pandang, kemudian mereka berbalik dan kembali duduk untuk menyusun sebuah rencana.


*


*


*


Bersambung ...