Kopassus And Me

Kopassus And Me
Ledakan



*


*


Kaysa menunggu dengan berdebar, pasalnya Rama tidak mengiyakan ataupun menolak ketika dia menelefonnya untuk meminta bertemu. Namun yang pasti Kaysa percaya bahwa pria itu akan datang setelah dirinya mengatakan tentang penayangan berita yang dibuatnya beberapa hari yang lalu dan telah dia serahkan kepada stasiun televisi.


Perempuan itu membenahi letak vas mini di tengah meja, lalu beberapa hal lainnya untuk menghilangkan kegugupan. Kafe pada hampir siang itu terasa begitu ramai, dan dirinya merasa beruntung mendapatkan tempat yang bagus di ujung dekat jendela. Sehingga bisa melihat pemandangan sibuk kota Jakarta.


Kenapa aku gugup ya? seperti sedang menunggu kencan datang saja? batinnya, dan dia pun tertawa sambil menutup mulutnya.


"Ehm ..." suara dehaman itu terdengar tak asing.


Kaysa mendongak untuk melihat, dan pria itu sudah berada di depannya. Berdiri tegap seperti perwira yang sedang enunggu perintah.


"Umm ..." Kaysa segera berdiri.


"Selamat siang pak? sudah lama menunggu?" katanya sambil menganggukkan kepala. Dirinya berniat mengulurkan tangan untuk bersamalam tapi melihat wajah datar pria itu yang tampak sedang tak senang membuat nyalinya ciut.


Rama terlihat mengerutkan dahi.


"Sepertinya saya yang seharusnya bertanya." katanya.


"Oh, ... mm ... maksud saya, ... selamat datang." Kaysa meralat ucapannya.


Huh, mengapa pria ini tidak ramah sama sekali? dia membatin.


"Silahkan duduk pak?" katanya lagi, dan mereka pun duduk berseberangan.


"Bapak mau pesan sesuatu?" perempuan itu mengambil buku menu.


"Tidak usah." Rama menjawab.


Kaysa mendongak dan menatap wajah pria itu lagi.


"Padahal saya mau berterimakasih lho pak." katanya, lalu berdeham. Penolakan adalah hal yang cukup memalukan baginya.


"Berterimakasih untuk apa?" ucap Rama dengan dahi yang lagi-lagi berkerut.


"Karena bapak mau saya wawancarai."


"Oh, ... kan itu kamu yang maksa?"


"Hah?"


"Saya paling malas mendengar ocehan perempuan kalau kemauannya tidak di turuti. Makanya saya mau kamu wawancara, dari pada kamu terus mengejar-ngejar saya? seperti debitur yang menghindari debt colector saja." Rama berujar, dan itu adalah kalimat terpanjang yang dia ucapkan semenjak mereka bertemu.


Dan membuat Kaysa tertegun karenanya.


"Hanya ini saja kan?" pria itu kembali berbicara, membuyarkan lamunan Kaysa.


"Mm ... setidaknya izinkan saya mentraktir bapak, untuk ungkapan terimakasih pak."


"Saya bilang tidak usah, terimakasih."


"Pak?"


"Lebih baik kamu simpan untuk diri kamu sendiri, dan anak kamu ketimbang memikirkan orang lain." ucap Rama, dan dia bangkit dari tempat duduknya.


"Tapi pak?"


"Saya harus pergi, harus menghadiri tes fisik sebentar lagi." katanya sambil melihat jam tangannya.


"Baik kalau begitu, sekali lagi terimakasih pak." perempuan itu akhirnya mengalah.


Rama tersenyum, lalu dia menganggukkan kepala.


"Oh iya," Kaysa kembali berbicara.


"Beritanya akan di tayangkan lusa, di berita petang pak."


"Oke. Semoga saya bisa menonton tayangannya."


"Baik."


Mereka berdua terdiam dan saling pandang untuk beberapa saat. Mencoba menelisik debaran halus yang tiba-tiba saja hadir tanpa permisi.


"Ehm, ... saya harus pergi," ucap Rama lagi seraya memutar tubuh. Dan dia berjalan menuju pintu keluar untuk melanjutkan perjalanannya demi menjalani tes fisik tujuannya.


Dan pria itu baru saja tiba di ambang pintu saat sebuah ledakan terjadi di dalam kafe, membuatnya jatuh tersungkur di lantai teras kafe dengan keras.


Suara sirine darurat dari beberapa mobil di depan kafe terasa memekakan telinga.


Rama mengerjap-ngerjapkan matanya untuk meraih kembali kesadarannya. Kepalanya terasa berdenging dan pandangannya mengabur untuk beberapa saat.


"Ah, sial!" umpatnya, seraya menyentakkan kepala.


Dia mencoba bangkit lalu melihat sekeliling. Orang-orang tampak panik, dan sebagian berhamburan dari dalam kafe dengan keadaan terluka dan berdarah-darah terkena serpihan material. Entah itu kaca atau benda lainnya.


Wajahnya tiba-tiba saja memucat. Bagian depan kafe porak poranda sehingga menampilkan bagian dalamnya yang berantakan. Dengan beberapa tubuh yang bergelimpangan tak bergerak.


Seketika saja dia teringat seseorang di dalam sana.


"Kaysa!" dia bergumam, kemudian bangkit.


Darah mengalir dari pelipisnya dengan rasa pening luar biasa.


Dia memindai keadaan yang kacau dengan meja dan kursi yang terjungkal, juga tubuh-tubuh yan tak bergerak. Sebagian dari mereka mengerang meminta pertolongan.


"Seseorang hubungi polisi dan ambulance!" Rama berteriak dengan pandangan dia edarkan ke tempat terakhir dia melihat perempuan itu.


Dan di sanalah dia, tergeletak di sudut ruangan dengan meja menimpa tubuh mungilnya.


"Kaysa!" teriak Rama lagi, dan dia segera menghampirinya. Menyingkirkan meja yang menindihnya, lalu meraih tubuh Kaysa ke dalam dekapannya.


Memeriksa keadaannya dan memastikan dia masih hidup. Darah mengalir dari ujung alisnya yang terbentur lantai dengan keras. Tiba-tiba saja kelebatan bayangan wajah Livia melintas di pelupuk mata, ketika dia menemukannya di rumah sakit dalam keadaan sudah tak bernyawa.


"Kay?" denyut nadinya masih terasa dan perempuan itu masih bernapas. Dan Rama bernapas lega karenanya.


"Oh, syukurlah." secara refleks dia memeluk perempuan itu dengan erat, merasa lega karena dia selamat.


"Seseorang telefon polisi dan ambulance!" Rama berteriak lagi seraya membawa Kaysa dalam gendongan, dan di saat yang bersamaan terdengar suara sirine yang sangat dia hafal.


Kemudian mobil polisi segera berdatangan diikuti beberapa ambulance dan pemadam kebakaran.


"Bawa dia ke rumah sakit, selamatkan dia." ucapnya kepada petugas ambulance, yang segera melaksanakan tugasnya.


Rama kembali melihat sekeliling area. Instingnya sebagai polisi mulai bekerja. Menyelidik hal yang mungkin menjadi penyebab ledakan tersebut.


"Menyingkirlah Ram, biarkan kami melaksanakan tugas." Garin muncul sesaat kemudian.


"Seseorang meledakan kafenya." gumam Rama yang menatap kekacauan di depannya, lalu dia merangsek masuk.


"Rama, biarkan kami yang melakukannya!" Garin dan beberapa orang polisi lain mengejar pria itu.


"Seseorang meledakan kafenya!" ulang Rama yang matanya menangkap serpihan kain hitan yang cukup tebal. Dan hal yang sama dia temukan di sekeliling area.


"Kain ransel?" dia kembali memindai keadaan.


Rama memutar ingatan ke beberapa saat ke belakang ketika dirinya masuk ke dalam tempat tersebut. Yang pada hampir siang itu cukup ramai. Berbagai macam orang datang silih berganti dengan berbagai kepentingan. Namun nihil, dia tak menemukan petunjuk.


"Ram, pergilah. Jangan lagi mengcaukan ini." ucap Garin lagi, namun Rama tak menggubrisnya sama sekali.


Apa lagi ketika pandangannya kembali menatap hal tak biasa. Ketika sebuah area di tengah ruangan kafe yang tampak seperti bekas tungku pembakaran, dengan asap yang mengepul tipis.


Sebuah tas ransel yang sudah hancur, namun dia yakin jika itu adalah ransel, dengan potongan paralon dan baja juga tampak seperti kalkulator dan kabel-kabel yang berserakan.


Sekilas pun dia dapat mengenali benda tersebut sebagai bahan peledak, dan seseorang pasti telah meletakannya di sana.


Rama kembali melihat keadaan, bersamaan dengan para petugas yang mengangkat tubuh-tubuh yang mungkin sebagian darinya sudah tak bernyawa. Dan pada saat itu juga satu tim penjinak bom datang untuk menangani keadaan.


Rama ditarik mundur, dan seseorang menahannya untuk mengantisipasi tindakannya.


Namun sebuah pergerakan di tempat parkir menarik perhatiannya. Ketika seorang pria yang tampak mencurigakan mundur tergesa dan masuk ke dalam mobilnya.


Lagi-lagi instingnya bekerja.


Rama merebut pistol milik Garin, kemudian berlari menghampiri pria itu dan menodongkannya kepadanya dari jarak sekitar tiga meter.


"Diam di tempat!" dia berteriak.


Pria di depannya berhenti, lalu berbalik.


"Aku bilang diam di tempat!" Rama berteriak lagi.


Pria itu tampak membeku.


"Jangan bertindak gegabah, Ram." rekan-rekannya datang menghampiri, namun Rama bergeming. Dia tak melepaskan pandangan dari pria yang berdiri di dekat mobil hitam itu.


"Ram ayolah, kita sedang menghadapi hal lain sekarang ini, ..." Alan mencoba membujuknya.


"Kalian harus menangkap dia," Rama berujar.


"Ma-maaf pak, saya hanya pengunjung biasa." pria itu berkata.


Rama tak menyahut, namun dia memicingkan mata ketika menyadari gerakan halus pada tangan pria berperawakan sedang itu. Dia tampak menggenggam sebuah alat seperti ponsel jaman dulu dengan tombol-tombol keypad.


"Jatuhkan benda di tanganmu!" ucap Rama lagi dengan senjata masih dia todongkan.


"Pak? saya hanya ...


"Jatuhkan benda di tanganmu, kataku!" pria itu kembali berteriak. Namun tak membuat pria asing itu melakukan apa yang di katakannya.


"Jatuhkan, dan bekerja samalah dengan petugas." Rama dengan suara yang lebih pelan.


Pria itu bergeming, namun tangannya kembali bergerak.


"Menjauh!" Rama lagi-lagi bereriak seraya berlari menjauh ketika dia menyadari hal tersebut, dan sedetik kemudian sebuah ledakan kembali terjadi.


Mobil hitam jenis Honda jazz itu meledak hebat, membuat orang-orang yang berada di sekelilingnya terpental sejauh beberapa meter dan segera tak sadarkan diri. Sementara pria di sampingnya tewas di tempat dengan tubuhnya yang hancur menjadi beberapa bagian.


*


*


*


Bersambung ...