Kopassus And Me

Kopassus And Me
Rama Dan Kaysa



*


*


"Terimakasih Ram, kamu sudah sering aku repotkan." mereka tiba di apartemen sederhana Kaysa. Setelah tiga hari perawatan, Aslan di pastikan pulih dan bisa melakukan perawatan di rumah.


"Tidak apa-apa. Aku akan bantu sebisaku." pria itu menjawab seraya membiarkan Aslan duduk di sofa depan televisi.


Sementara Kaysa meletakan tas berisi pakaian putranya di kamar mereka.


"Dan maaf, mungkin kami juga telah mengganggu kehidupan pribadimu." dia kembali.


"Kehidupan pribadi apa? aku tidak punya kehidupan pribadi." Rama terkekeh.


"Benarkah?"


"Ya."


"Bagaimana dengan pacar? apa dia tahu kamu sering membantu Aslan? bagaimana reaksinya kalau dia tahu ...


"Tidak ada pacar." Rama menyela.


"Oh ya?"


"Ya, hanya aku saja jadi tidak usah khawatir." dia terkekeh lagi. "Aku pria lajang yang bebas." katanya, yang membuat Kaysa sedikit mengerutkan dahi.


"Eee ... maksudku, aku ... tidak terbebani dengan hal-hal semacam itu, jadi ... tidak usah khawatir. Hehe, ..." katanya, canggung.


Kenapa juga aku harus berkata seperti itu ya? konyol sekali. batinnya.


"Baiklah, aku tenang kalau begitu. Karena tidak akan membuat masalah untukmu atau siapa pun." ucap Kaysa, tampak lega.


"Tapi, apa kamu sibuk?" kemudian dia bertanya.


"Tidak."


"Bagaimana dengan tugasmu?"


Rama merogoh ponsel di saku celananya, melihat kalau-kalau ada pesan yang masuk.


"Tidak ada panggilan tugas." jawabnya.


"Kamu tidak ke kantor untuk dinas atau setidaknya menjalani piket seperti yang lainnya?"


"Hanya sesekali."


Kaysa tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Cukup santai juga ya, mengingat kamu ini seorang polisi?"


"Um, ... tidak juga. Haha ... hanya saja aku bisa mengerjakan hal lainnya selain tugas dari kepolisian." Rama menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Bagaimana cara menjelaskannya ya?


Tidak mungkin juga dirinya membuka identitas yang sebenarnya. Bisa kena sanksi dari kesatuan nanti.


Memang dia terlihat terlalu santai untuk ukuran seorang polisi, hanya saja orang-orang tak tahu seberat apa tugas yang akan dia dapatkan sekalinya mendapatka misi. Dan itu semua tidak bisa di anggap enteng.


"Baiklah, duduklah dulu. Aku akan buatkan minuman." Kaysa melenggang ke arah dapur.


"Sebenarnya tidak perlu Kay, karena aku ...


"Kamu bilang tidak ada panggilan tugas, maupun dinas di kantor atau yang lainnya?" Kaysa mundur dua langkah kemudian menoleh.


"Umm, ...


"Jadi kenapa tidak minum dulu sebentar? seingatku aku belum pernah membuatkanmu minum padahal kamu sering berkunjung." perempuan itu melanjutkan langkahnya.


"Kamu sukanya apa?" Kaysa berteriak dari arah dapur.


"Hum? apa?" Rama menyahut.


"Kamu sukanya minum apa? teh, kopi atau s*su?" Kaysa kembali.


"Mm ... apa saja aku suka. Mau teh, kopi, atau ... s*su. Sama saja." pria itu menjawab sekenanya, kemudian berdeham.


Kecanggungan yang lainnya lagi, duh.


"Jadi aku harus membuatkanmu apa?" Kaysa bertanya lagi.


"Apa saja, terserah."


"Ish! Biasanya laki-laki itu sukanya kopi."


"Ya sudah, kopi juga tidak apa-apa."


"Hum?"


"Atau sedikit s*su." lanjut Rama, dan dia kembali berdeham.


"Atau kopi s*su saja? bagaimana?" tawar Kaysa setelahnya.


"Baiklah, itu juga boleh."


"Oke." lalu setelah diskusi tidak berfaedah itu akhirnya Kaysa datang membawakannya minuman yang dia sebutkan tadi.


"Silahkan pak, kopi s*su sesuai pesananmu." Kaysa meletakan cangkir kopinya di atas meja, di depan sofa di mana Rama dan Aslan sibuk dengan mainan baru yang pria itu belikan untuk putranya dalam perjalananannya ke rumah sakit.


"Ya, terimakasih."


"Aslan mau istirahat?" Kaysa kepada putranya.


"Nggak. Puzzelnya belum selesai." anak itu tidak memalingkan perhatian.


"Mau mama bantu menyelesaikan puzzle?" tawarnya, dan dia hampir mengambil satu potongan puzzle untuk di pasangkan.


"Nggak boleh, ini kan puzzle aku." Aslan menyingkirkan tangan ibunya.


"Mama pikir boleh?"


"Nggak lah, harus aku beresin sendiri."


"Begitu ya?" katanya, yang kemudian duduk di sisi lain di samping anaknya.


"Permainan seperti ini bagus untuknya. Dia jadi fokus dan bisa mengalihkan pikirannya dari hal lain." jelas Rama saat perempuan itu terdiam memperhatikan Aslan.


"Ya, sepertinya begitu."


"Hmm ..."


"Sepertinya kamu memahami anak-anak?" Kaysa beralih kepada Rama.


"Hanya tahu sedikit. Karena dulu adikku begitu. Dia sangat aktif jadi tidak bisa diam. Tapi setelah aku berikan beberapa mainan edukasi semacam ini, barulah di bisa fokus pada satu hal. Dan aku rasa metodenya untuk Aslan juga sama."


"Begitu ya? kamu punya adik?"


"Ya. Perempuan. Usianya 20 tahun, ..." Rama terdiam sebentar. Aneh sekali dirinya mulai berbicara mengenai masalah pribadi dengan orang lain, terutama keluarganya yang biasanya seringnya dia hindari.


"Oh ya?" Kaysa antusias.


"Ya, kalau masih ada." lanjut Rama.


"Maksudnya?"


"Sayangnya dia sudah meninggal."


"Ya Tuhan."


"Aku kehilangan dia berusa 18 tahun, tepat di hari kelulusannya."


"Meninggal?"


Rama menganggukkan kepala.


"Kecelakaan?"


"Bukan."


"Lalu, apa yang terjadi?"


"Di hari kelulusan Livia menghilang, lalu tiga hari setelahnya dia ditemukan tak bernyawa di satu area pinggiran Jakarta."


"Apa?"


"Seseorang menculik lalu membunuhnya setelah merenggut kegadisannya dengan keji."


Kaysa tampa menahan napasnya sebentar. Sepertinya dia ingat satu berita itu, yang pernah di lihatnya selintas di laman berita online yang entah kenapa menghilang begitu saja.


"Dan yang paling menyesakkan dari itu semua adalah aku kakaknya, sebagai penegak hukum tidak bisa mengusut kasus itu hingga selesai dan pelakunya di temukan."


"Pelakunya tidak di temukan?" Kaysa mencondongkan tubuhnya.


"Tidak. Aku tidak mampu mengungkap hal itu dan membuat kasusnya menggantung begitu saja." Rama merebahkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Tidak bisa di percaya."


"Memang. Untuk kasus lain bisa aku kawal sampai tuntas. Kasus Aslan bahkan aku bisa menekan semua orang untuk memprosesnya secara hukum, tapi untuk adikku? aku bahkan tidak mampu menemukan siapa pelakunya, dan memberikan keadilan untuknya. Ironis bukan?" Rama terkekeh getir.


"Aku ingat pernah meilhat ceritanya di media sosial. Apa yang di temukan terikat di dalam karung?"


"Ya."


"Ternyata adikmu ya? Kamu tidak mencurigai siapa pun?" Kaysa dengan jiwa penyelidiknya yang tiba-tiba saja bangkit.


"Tidak sama sekali. Semua yang aku lakukan menemui jalan buntu."


"Orang terdekat mungkin?"


"Kami tidak punya orang dekat."


"Pacarnya?"


"Livia tidak punya pacar. Aku tidak memperbolehkannya berhubungan dengan lawan jenis selain berteman."


"Atau dia mungkin merahasiakan sesuatu sehingga kita tidak tahu?"


Rama terdiam.


"Seingatku kami tidak pernah merahasiakan apa pun. Aku selalu mengatakan segala hal kepadanya, sebaliknya juga Livia. Dia bahkan mengatakannya ketika mengalami datang bulan untuk yang pertama kalinya. Dan segala hal yang dia alami selama masa pubernya aku tahu. Jadi, aku rasa dia tidak mungkin merahasiakan sesuatu dariku. Kecuali ..." tiba-tiba saja Rama mengingat sesuatu.


"Apa?"


"Beberapa jam sebelum menerima surat kelulusan dia bertanya apa aku akan memperbolehkannya punya pacar setelah lulus sekolah nanti atau tidak. Karena dia sedang suka dengan seseorang." Rama mengerutkan dahi.


"Nah, ... mungkin itu."


Rama terdiam lagi untuk berpikir.


"Siapa orangnya?" Kaysa bertanya lagi.


"Justru itu, aku belum tahu, karena dia belum sempat mengatakannya."


"Haahh, ... rumit kalau begitu." Kaysa pun menghempaskan punggungnya pada sandaran di belakang.


"Memang."


"Dan itu membuat frustasi, bukan? ketika kita seharusnya bisa melakukan sesuatu mengenai itu tapi pada kenyataannya tidak bisa."


"Yeah, ... persis seperti yang aku rasakan selama ini." Rama mengusap wajahnya perlahan.


"Kamu masih mau menyelidikinya?" Kaysa kembali berbicara.


"Entahlah, apa masih ada harapan untuk mengungkanya? karena ini sudah dua tahun tapi belum juga ada kejelasan."


"Apa masuk akal jika aku kira ini ada hubungannya dengan orang yang sedang dia sukai?"


"Apa itu mungkin terjadi?"


"Semua kemungkinan itu pasti ada."


Pria itu terdiam lagi untuk mengingat lagi kalau-kalau ada yang dia kewatkan.


"Atau mungkin juga ada aktor intelektual yang terlibat di dalam kasus ini?" Kaysa dengan pemahamannya.


"Maksudmu?"


"Mungkin saja ada seseorang yang berpengaruh yang mampu menutup kasus ini bahkan sebelum di ungkap?"


Kini Rama yang mengerutkan dahi.


"Kamu tahu, biasanya hal itu yang terjadi pada kasus besar yang tidak terungkap. Ada seseorang yang berpengaruh yang memungkinkan dia bisa terhindar dari jeratan hukum."


"Kamu pikir begitu?"


"Aku pikir bisa saja, tapi tidak tahu ya. Soalnya kan belum di selidiki."


Rama kembali berpikir.


"Tapi apa yang membuat kasus ini sepertinya terabaikan ya? padahal sebagai anggota kepolisian seharusnya kamu mendapatkan dukungan secara penuh."


"Aku rasa juga begitu."


"Mau di selidiki lagi tidak?" Kaysa kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Rama, dan kali ini lebih dekat. Membuat jarak wajah mereka hanya tersisa sedikit saja.


Pria itu bahkan sampai menahan napas karena merasa situasi ini cukup membuatnya canggung. Ini pertama kalinya dia berada begitu dekat dengan perempuan, dan membuat detak jantungnya dua kali lebih cepat.


"Umm ..." kedua pipinya juga mulai memerah dan dia merasakan wajahnya memanas.


"Mau tidak?" Kaysa kamudian tersenyum.


"Ap-apa?" Rama tergagap.


"Aku bantu selidiki." Kaysa semakin mendekat, dan dengan percaya dirinya dia menatap wajah pria di sampingnya.


"Eee ... entahlah. Bagian mananya yang akan kamu selidiki? sementara aku saja tidak menemukan titik terang." Rama mencoba menekan debaran di dadanya yang terus meningkat seiring jarak mereka yang hampir saja menghilang.


"Yah, ... belum apa-apa kamu sudah menyerah?" Kaysa kemudian mundur, mengembalikan ruang kosong di antara mereka.


"Kamu lupa ya, sekarang kan aku jadi pengangguran lagi."


"Oh ya?"


"Ya, bukankah aku tidak bisa meninggalkan Aslan untuk sementara waktu? dan itu membuatku harus keluar juga dari pekerjaanku."


"Benarkah? aku kira kamu tidak akan menuruti perintah mantan suamimu?"


"Hah, apa lagi? dari pada Aslan yang menjadi korban, sepertinya aku harus menyerah untuk mengalah." Kaysa dengan nada sendu.


"Hanya bersiap saja jika mas Radit akan berbuat semaunya kepadaku, karena hidup kami sekarang tergantung kepadanya."


"Andai dia belum membayar semuanya di rumah sakit, pasti hal ini tidak akan terjadi." Rama berujar.


"Aku terlambat, waktu berniat melakukan pembayaran ternyata dia sudah mendahului."


Kaysa terdiam lagi dengan segala pikiran yang bermuncullan.


"Kamu sendiri kan yang bilang, bahwa ada tanggung jawab yang harus Mas Radit jalankan sebagai papanya Aslan. Dan sepertinya aku hanya harus menerimaya saja. Apa lagi? sudah untung dia bersedia membiayai anaknya, dari pada tidak sama-sekali."


Kemudian mereka sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing. Sementara Aslan sudah tertidur di pangkuan Rama sejak beberapa saat yang lalu.


"Mm ... dia tidur." ucap pria itu yang mengusap kepalanya Aslan.


"Mungkin efek obat yang dia minum tadi." Kaysa menyahut.


"Ya, mungkin."


"Bagaimana ini? munkin dia harus aku pindahkan?" perempuan itu kembali mencondongkan tubuh untuk melihat keadaan putranya yang benar-benar terlelap di pangkuan Rama. Membuat jarak di antara mereka hampir menghilang. Dia bahkan menyentuh lutut Rama untuk bertumpu ketika melihat keadaan putranya.


"Sini Aslan, kita pindah." lalu dia hampir saja meraih bocah itu untuk di bawa.


"Jangan!" namun Rama menghentikan gerakan tangannya, menahannya agar dia tak membawa Aslan.


"Biarkan dulu dia begitu, kasihan. Sepertinya baru saja tidur." katanya, yang menggenggam tangan Kaysa begitu erat.


"Nanti lama-lama bisa membuatmu pagal tahu? dan lagi ...


"Tidak apa, setidaknya sampai dia benar-benar lelap." ujar Rama.


"Baiklah jika itu maumu." Kaysa kembali munduru, namun pria itu belum juga melepaskan tangannya.


"Umm, ... tanganku?" dia kemudian meraih tangannya.


"Oh, ... maaf." Rama segera melepaskan genggamannya, dan seketika keadaan berubah menjadi canggung.


Pria itu bahkan berdeham berkali-kali untuk menetralisir rasa gugupnya.


"Kamu tahu, ini pertama kalinya Aslan akrab dengan orang lain sampai seperti ini. Dan aku tidak menyangkanya sama sekali, karena dia cenderung sulit untuk mempercayai siapa pun. Tapi kamu ..."


"Ini juga pertama kalinya aku akrab dengan orang asing, anak-anak pula. Orang yang paling dekat denganku hanyalah Livia. Selain orang tuaku."


"Oh iya, bagaimana dengan orang tuamu?" Kaysa menoleh lagi, dan dia melihat wajah murung pria itu.


"Orang tuaku?"


Kaysa nenganggukkan kepala.


"Mereka juga sudah meninggal. Ibuku beberapa hari setelah melahirkan Livia, sementara ayahku tidak lama setelah aku menyelesaikan pendidikan di akademi kepolisian."


Wajah perempuan itu terlihat terkejut, tentu saja. Bagaimana kehilangan itu menimpa Rama secara bertubi-tubi, dan pria di dekatnya ini tampak begitu tegar. Mungkin hal tersebut yang membuatnya menjadi sekeras yang dia tahu.


"Maaf." Kaysa berucap.


"Kenapa minta maaf?" Rama bereaksi.


"Turut berduka cita atas segala yang kamu alami. Terkadang aku ini merasa bahwa hidupku lah yang paling sulit. Tapi ternyata ada orang lain yang lebih dari itu. Dan bagaimana kamu bisa bertahan menghadapi semuanya sendirian?"


"Kesulitan itu tergantung cara pandang kita Kay, pada saat terakhir aku mendapat berita jika Livia di temukan sudah meninggal, aku merasa duniaku hancur seketika. Bagaimana aku akan mejalani hari-hariku sendirian, di tambah dengan kenyataan bahwa aku tidak mampu kengungkap siapa pelakunya. Aku merasa gagal sebagai seorang kakak, dan lagi aku merasa gagal sebagai seorang aparat."


"Tapi merasa sedih dan gagal saja tidak cukup, aku juga harus bertahan menjaga diriku sendiri agar tidak terbawa emosi dan melakukan hal yang membahayakan. Setidaknya sampai aku menemukan pelaku pembunuhan Livia."


"Dan itu tidak mudah Ram."


"Memang, dan aku hampir saja gila karenanya."


"Tapi kamu berhasil melewatinya?"


"Ya, sampai aku menemukan kalian." pria itu tersenyum samar.


"Oh bukan, sebenarnya kalian yang menemukan aku." dia kemudian terkekeh.


Kaysa terdiam, namun bibir mungilnya tampak berkedut-kedut seperti dia akan mengatakan sesuatu.


"Tiba-tiba saja aku tidak bisa berhenti memikirkan Aslan. Sedang apa dia, bagaimana sekolahnya, apa kamu bisa menjemputnya hari ini atau tidak? atau apakah dia sudah makan siang atau belum?"


"Dia anakku tahu?"


"Aku tahu, tapi pertemuan denganmu membawaku bertemu dengannya. Dan dia satu-satunya anak yang berani membantah semua perkataanku."


Mereka saling pandang untuk waktu yang cukup lama. Mata kecoklatan milik Rama memindai wajah Kaysa. Wajah yang di hari-hari terakhir mendominasi pikirannya. Selain karena masalah hidupnya yang datang bertubi-tubi, dan perempuan itu yang selalu mengadu kepadanya, menjadikan mereka selalu terlibat menangani satu masalah, terutama yang berhubungan dengan Aslan membuat mereka menjadi dekat dengan sendirinya.


"Dan kamu orang dewasa pertama yang pasang badan untuk melindunginya. Melebihi papanya sendiri."


"Jangan membandingkan aku dengan mantan suamimu." tukas Rama dengan segera.


"Aku tidak suka mendengarmu menyebut dia mantan suamiku." Kaysa pun langsung menjawab.


"Kenyataannya dia memang mantan suamimu, Kay."


"Tapi aku tidak suka kamu menyebutnya begitu."


"Kenapa?"


"Karena itu mengingatkan aku bahwa dulu diriku pernah menjadi perempuan dungu yang tidak mampu berbuat apa-apa ketika dia semena-mena kepadaku."


Rama masih menatap wajahnya.


"Kamu bukan perempuan dungu, Kay."


"Tapi itu kenyataannya. Karena aku menerima saja ketika dia berbuat semaunya sendiri hanya karena alasan anak. Bahkan saat membawa kekasih masa kuliahnya ke rumah kami, dan membuatnya menjadi tuan rumah juga di sana."


"Kamu hanya bertahan untuk Aslan, agar dia tetap punya papa dan pelindung." Rama menyambung kata-katanya.


"Ya, tapi kenyataannya tidak sesuai ekspektasi kan? aku ternyata tidak sekuat itu untuk mempertahankan suamiku sendiri, sehingga perceraianlah yang aku tempuh, dan membuat Aslan menderita bersamaku."


"Kamu hanya mencoba untuk tetap waras dengan caramu sendiri, Kay."


"Benarkah?"


"Kadang perceraian menjadi jalan untuk membuat kita menemukan kedamaian. Meski caranya tidak lazim. Tapi pernikahan langgeng yang tidak sehat juga tidak baik."


"Menurutmu begitu?"


"Untuk beberapa kasus aku rasa iya."


"Berapa umurmu pak?" Kaysa malah bertanya.


"27 tahun, Bu."


"Kita cuma beda setahun." ucap Kaysa, dan dirinya sedang membuat perbandingan.


"Ya, lalu?"


"Mengapa Mas Radit yang umurnya tiga tahun lebih tua darimu tidak memiliki pemikiran yang sama sepertimu ya?"


Rama terkekeh pelan.


"Setiap orang itu beda Kay, dan tidak dapat di bandingkan."


"Benarkah?"


"Lalu dari segi mananya laki-laki bisa di sebut setara dan dewasa?"


"Entahlah, karena tidak ada alat yang bisa mengukurnya Kay."


"Hmm ... apa kamu benar sedewasa itu Ram?"


"Soal apa?"


"Semua yang kamu katakan?"


"Tidak tahu, itu hanya pandanganku saja. Tidak tahu kalau pandangan author, apa lagi netizen." saat ini Rama merasakan jantungnya benar-benar berpacu cepat. Semakin lama wajah Kaysa terasa semakin dekat saja.


"Begitu ya? lalu bagaimana caranya agar aku tahu bahwa semua yang kamu katakan itu benar?"


"Entahlah, mungkin hanya dengan merasakan dan menjalaninya saja." jawab pria itu, dan rasanya dia sedang kecau saat ini. Kata-katanya saja semakin ngelantur.


"Maksudnya merasakan dan menjalani?"


"Rasakan saja apa yang telah aku lakukan, lalu jalani kebersamaan ini." ucap Rama yang seketika saja menyesali ucapanya. Namun sudah terlanjur, dia tidak mungkin menariknya kembali.


"Kebersamaan ... ini?"


"Hu'um." Rama mengangguk pelan.


"Apa ... kamu sedang menyatakan cinta kepadaku Ram?" Kaysa merasa harus mengatakannya.


"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi ... rasanya ini mulai nyaman."


"Hum?"


"Aku terbiasa bertemu denganmu, dan jika sehari saja tidak bertemu rasanya aneh. Apa ada yang salah dengan perasaanku? karena disini rasanya ..." Rama menyentuh dadanya sendiri.


"Berdebar-debar?" Kaysa menahan senyum. Mengapa ini rasanya lucu sekali? Mereka seperti dua remaja yang sedang saling mendekati.


"Tentu saja berdebar, kamu hidup." Kaysa tertawa.


"Aku ... kelihatan bodoh ya?" Rama terkekeh lagi, namun dia tak bisa mundur. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mencari tahu tentang perasaannya sendiri.


"Tidak, kamu kelihatannya lucu." Kaysa malah tertawa lagi.


"Lucu sebelah mananya? sekarang ini aku merasa sedang melakukan hal bodoh. Merayu seorang perempuan yang baru aku kenal beberapa minggu dan ..." dia menahan napas ketika dengan cepat Kaysa mendekatkan wajahnya. Dan di detik berikutnya kedua bibir mereka bertemu.


Perempuan itu bahkan menarik tengkuknya sehingga membuat ciumannya menjadi semakin dalam. Namun Rama tertegun dengan pikirannya yang mulai berlarian. Dia terlalu terkejut untuk memberikan balasan.


"Bernapas Ram, nanti kamu pingsan." Kaysa menjeda ciumannya, membuyarkan lamunan Rama.


Dia sedikit memundurkan wajahnya, kemudian melihat kedua bola mata pria itu yang mengerjap-ngerjap berusaha mengumpulkan kesadarannya.


Kayasa kemudian tersenyum. Namun kemudian Rama menariknya kembali hingga cumbuan itu berlanjut. Dan mereka kini saling memagut untuk beberapa saat. Lidah keduanya saling membelit dan saling merasakan, berlomba dengan debaran di dada dan perasaan yang mulai meletup-letup.


"Mama!" namun Aslan tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya, menginterupsi kegiatan yang mulai memanas di belakangnya. Membuat dua sejoli yang mulai meraba perasaan masing-masing itu saling melepaskan diri.


"Hauuusss." katanya sambil mengusap-usap lehernya, kemudian menoleh ke belakang di mana ibunya berada.


"Haus? Aslan mau minum?" Kaysa bereaksi.


"Hu'um." anak itu mengangguk.


"Oke, mama ambilkan minum. Tunggu ya?" dia pun bangkit. Dan bersamaan dengan itu ponsel Rama berdering saat pesan darurat masuk di aplikasi chatnya.


"Sepertinya aku ... harus pergi, Kay. Ada panggilan tugas." katanya.


"Oh ya?"


"Iya."


"Semalaman?"


"Tidak tahu, mungkin." pria itu bangkit seraya memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana.


"Baiklah kalau begitu. Kabari aku kalau sudah selesai. Eh, ..."


"Tidak janji ya? karena terkadang sulit untuk mendapatkan sinyal."


"Hah? kenapa? memangnya kamu bertugas di mana?"


"Umm, ... soal itu ... nanti aku cerita. Sekarang aku harus cepat pergi."


"Oh, oke."


"Baiklah. Aslan, om pergi kerja dulu ya? baik-baik di rumah."


"Hum?" anak itu mengerutkan dahi.


"Aku pergi Kay." pamitnya kepada Kaysa.


"Oke, hati-hati."


"Ya." pria itu tertegun sebentar.


"Om katanya mau kerja, nunggu apa?"


"Hah? tidak. Baiklah pergi dulu." katanya, yang bergegas keluar dari tempat itu. Sementara Kaysa terbengong-bengong di tempatnya berdiri.


"Mama! haus!!" Aslan membuyarkan lamunannya.


"Astaga, maaf nak. Mama lupa." dia pun bergegas mengambilkan minuman.


*


*


*


Bersambung ...


Uhuuuyyy, udah ada yang tabrakan 😂😂


Habis ini apa lagi? 🤣🤣


3000 kata loh gaess, kalian nggak mau nambahin hadiahnya gitu biar nangkring juga di ranking hadiah?😉😉


nih sun dari Kang Korma 😘😘😘