Kopassus And Me

Kopassus And Me
Pembicaraan Serius



*


*


Rumah menjadi hal yang paling dia rindukan selama satu minggu ini terkurung di rumah sakit. Dan Rama lega, keadaannya sudah membaik sehingga dokter mengizinkannya untuk pulang. Meski luka di perutnya belum sembuh benar, tapi setidaknya kondisinya bisa pulih dengan cepat.


"Aslan belum pulang?" Dia duduk di sofa ruang tengah. Merasakan suasana rumah itu yang memang sepi.


"Belum. Mungkin hari ini Mas Radit mengantarkannya." Kaysa meletakkan travel bag di sofa lainnya.


"Hmm ... dan pekerjaanmu?"


"Bisa di tunda." Kaysa duduk di sampingnya.


"Kamu bahkan baru mulai?"


"Tidak apa-apa, mereka mengerti. Lagi pula, aku kan menangani berita kasus Livia. Jadi selama persidamganya belum selesai ya aku tidak mengerjakan yang lain."


"Begitu?"


Kaysa menganggukkan kepala.


Kemudian perhatian mereka teralihkan ketika terdengar suara mobil berhenti di depan pagar.


"Mama!" Lalu suara Aslan memanggil.


Kaysa bergegas keluar untuk melihat, dan bocah itu sudah menerobos ke dalam rumah, diikuti Radit yang menenteng tasnya.


"Hey?"


"Aku denger Papa Rama di tembak ya? Mana sekarang? Udah pulang dari rumah sakit?" Aslan berlari ke ruang tengah.


Kaysa mengerutkan dahi, lalu dia menoleh ke arah mantan suaminya.


"Dia tidak sengaja melihat berita di tivi," ucap Radit yang melihat raut bertanya-tanya dari Kaysa.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" lalu pria itu bertanya.


"Sudah lebih baik. Mas sendiri sudah baikan?"


Radit menganggukkan kepala.


"Mas mau masuk?" tawar Kaysa, dan dia mencoba untuk lebih ramah.


"Umm, ... baiklah, tapi cuma sebentar. Aku sudah mulai bekerja hari ini." Pria itu menjawab.


"Iya. tidak apa-apa, aku tahu."


Lalu kedua orang ini masuk ke dalam rumah.


Radit tertegun sebentar menyimak interaksi antara putranya dengan pria yang menjadi ayah sambungnya itu, yang tampak begitu dekat.


Aslan bahkan mengambilkannya air minum dan beberapa macam makanan ringan, kemudian mereka makan bersama sambil membicarakan banyak hal.


"Kan bener, aku bilang juga udah pulang? Papa nggak percaya sih?"Aslan kepada sang ayah.


"Iya, Papa tahu." Radit pun menjawab.


"Bagaimana keadaanmu?" Kemudian dia mendekati sofa di mana Rama berada.


"Sudah lebih baik."


"Syukurlah."


"Dari kemarin aku bilangin mau pulang Papa nggak denger. Katanya di rumah nggak ada orang? Kan aku kesel jadinya." Aslan mengadu.


"Ya memang tidak ada siapa-siapa. Kan ini baru pulang?" Kaysa yang menjawab.


"Dengar kan apa yang Papa bilang? Kamu tidak percaya." Radit menimpali.


"Sejak kemarin dia marah-marah karena aku tidak megantarnya pulang." Lalu dia menjelaskan.


"Aku nggak marah-marah, cuma ngomong!" Aslan membela diri.


"Tidak marah-marah tapi cara bicaranya begitu?"


"Habisnya Papa sih, ...


"Aslan?" Rama menghentikan perdebatan ayah dan anak ini.


"Jangan bicara seperti itu. Siapa yang mengajarimu bersikap begitu kepada orang tua?"


"Umm ...


"Apa ada yang mengajarimu berbicara begitu?" Pria itu mengulangi ucapannya.


"Nggak ada."


"Terus kenapa Aslan begitu?"


"Nggak kenapa-kenapa."


"Sudahlah, kalau begitu aku pergi." Radit menyela. Dia lalu berpamitan, karena tak ingin lebih lama lagi berada di tempat itu.


***


"Menurutmu, apa mereka akan membuat keputusan yang kita harapkan?" Rama sudah berbaring nyaman di tempat tidurnya, setelah Kaysa selesai memeriksa lukanya, dan mengganti verbannya dengan yang baru.


"Kita tidak tahu, tapi usaha kita sudah sejauh ini. Jadi sepertinya bukan kemustahilan jika itu terjadi." Perempuan itu membereskan semua peralatan, lalu di letakkan di tempatnya.


"Aku haya merasa tidak yakin."


"Soal apa?" Kaysa duduk di tepi ranjang.


"Semuanya. Bagaimana jika mereka tetap memenangkan perkara, dan aku kalah?"


"Itu tidak mungkin."


"Semua hal bisa di putar balikkan, ingat?"


"Ya, tapi masa buktinya sudah sejelas itu mereka masih berani? Apa kamu tidak ingat jika persidangan di langsungkan secara terbuka, dan semua orang tahu dengan jelas bagaimana kasusnya berproses hingga terakhir? Banyak pihak yang mendesak kepada pengadilan untuk segera membuat keputusan, mereka bahkan membuat petisi untuk memberikan hukuman paling berat kepada Alan dan Frans."


"Ya, ... hanya saja ...


"Sssttt! Tugas kita hanya berusaha. Selebihnya, biar takdir yang menentukan. Jika hasilnya tak seperti yang kita inginkan, maka tidak apa-apa. Kita tetap sudah melaksanakan kewajiban untuk berihtiar." Kaysa mengusap dada Rama untuk membuatnya tetang.


"Jangan khawatir, Livia pasti tahu kalau kamu sudah berusaha. Tidak apa-apa, orang-orang juga mendoakannya."


"Setidaknya kita sudah mengusahakan segala hal untuknya."


Pria itu terdiam.


"Istirahatlah Papa, jangan lagi mengkhawatirkan apa pun. Kita sudah melaksanakan bagian kita, biarkan Tuhan yang menentukan bagianNya."


Kaysa naik ke tempat tidur setelah menyingkap selimutnya.


"Aslan sudah tidur?"


"Sudah. Dia tidak banyak bicara hari ini."


"Apa aku terlalu keras memperingatkannya? Mungkin ucapanku yang membuatnya seperti itu?"


"Mmm ... aku rasa sesekali Aslan harus di peringatkan. Kamu tahu, semakim besar dia semakin berani mengatakan apa pun. Mungkin kebiasaanku dulu yang membebaskannya mengutarakan isi hati, sehingga membuatnya seperti itu. Tapi keadaan kami yang mengalami beberapa transisi tidak terduga mungkin membuat aku mengabaikan beberapa hal. Termasuk bagaimana cara yang benar untuk mengungkapkan isi hati dan pemikirannya." Perempuan itu bersandar pada kepala ranjang.


"Di tambah perceraian yang mungkin juga membawa dampak bagi Aslan. Belum lagi melihat sikap Mas Radit yang seperti itu, dan minggu-minggu ini dia tinggal lama di sana. Aku yakin berpengaruh juga."


Rama menatap wajahnya.


"Maaf," ucapnya dengan raut menyesal.


"Kenapa minta maaf?" Kaysa terkekeh seraya mendekat kepadanya.


"Karena mengurusi banyak hal, terutama masalah persidangan. Membuatmu repot dan terpaksa harus membiarkan Aslan bersama Radit."


Perempuan itu menggelengkan kepala.


"Ini hampir selesai bukan? Sedikit lagi, dan kita akan hidup normal seperti semula. Tidak usah khawatir, soal Aslan masih bisa kita perbaiki. Lagi pula, kalau dia tidak aku titipkan di Mas Radit, mungkin kemarin aku tidak akan bisa mencari bukti baru, dan hal ini tidak akan terbuka seperti sekarang." Tanpa sengaja Kaysa malah mengatakan yang seharusnya tidak dia ucapkan. Setidaknya bukan sekarang.


"Apa?" Kening Rama berjengit.


"Umm, ... tidak ada, lupakan saja. Ayo tidur? Ini sudah larut." Perempuan itu menarik selimut sambil memiringkan tubuhnya ke arah lain untuk menghindar.


"Tidak tidak, apa maksudmu dengan mencari bukti dan membuat masalahnya terbuka seperti sekarang?"


"Tidak ada, aku hanya asal bicara. Sudahlah." Kaysa terus mengelak.


Rama terdiam sebentar. Namun keningnya kembali berjengit ketika sesuatu melintas di pikirannya.


"Aku jadi bertanya-tanya, siapa yang menemukan ponselnya Livia dan memberikannya kepada Junno? Masalahnya dia tidak membahas itu sebelum masuk ke ruang sidang. Tidak ada pembicaraan juga sebelumnya, kalau dia mendapatkannya."


"Umm ... aku tidak tahu." Kaysa merapatkan selimutnya. Dia merasa akan terjadi sesuatu sebentar lagi jika dengan terpaksa harus mengatakan yang sebenarnya.


"Tidak tahu katamu? Tapi sepertinya kamu tahu sesuatu?" Rama mengulurkan tangannya ke arah pundak perempuan itu, lalu menariknya agar dia berbalik.


"Tidak, aku tidak tahu apa-apa." Kaysa bertahan sebisa mungkin.


Namun hal tersebut malah membuat Rama semakin curiga.


"Kay, ..."


"Tidak akan mendapat jawaban atau tidak akan kamu jawab."


"Tidak akan aku jawab, soalnya ..." Kaysa menggantung kata-katanya saat dia menyadari sekali lagi melakukan kesalahan.


Duh!!


"Kaysa! Ada yang tidak aku tahu?" Rama meninggikan suaranya.


"Umm, ... tidak ada. Eh, ... maksudku ...


"Kamu tahu soal ponselnya Livia yang Junno dapatkan?" Pria itu perlahan bangkit.


"Tidak, aku tidak tahu apa-apa soal itu. Serius."


"Aku tidak percaya, sepertinya kamu tahu sesuatu?"


"Tidak Ram, percayalah."


Pria itu terdiam lagi.


"Aku curiga, jangan-jangan Junno mendapatkannya dari kamu?" ucap Rama setelah beberapa saat, dan Kaysa hampir merasa lega karena lolos dari pertanyaan.


"Umm, ...


"Kamu yang mencarinya sendiri?"


Perempuan itu tak menjawab.


"Kaysa, kamu yang mendapatkan ponsel itu?" Rama bertanya lagi.


"Tidak menjawab? Baik, akan aku telefon Junno, dan bertanya kepadanya." Rama berujar.


"Tidak! Jangan!" Membuat Kaysa bangkit lalu berbalik, namun mendapati suaminya yang masih dalam posisi duduknya dengan sebelah tangan bertumpu pada bantal.


"Eee ...


"Kamu tahu sesuatu." Rama memicingkan matanya.


"Katakan, Kaysa!"


Kalau sudah begini, bisa di pastikan dirinya tidak akan bisa mengelak lagi. Dan Rama pun tak akan berhenti menginterogasinya apa pun yang terjadi.


"Eee ...i-iya." Akhirnya perempuan itu menjawab.


"Apa?"


"Aku yang mendapatkannya, lalu memberikannya kepada Junno." katanya, takut-takut.


"Kaysa, ... bagaimana bisa?"


"Sebenarnya aku tidak sengaja menemukannya. Kalau saja waktu itu aku tidak mengikuti Alan ke apartemennya, mungkin aku tidak akan menemukan ponselnya Livia, jadi ...


"Apa?" Rama setengah berteriak.


Kaysa mendengus keras, dan dia menyesal karena jadi terlalu banyak bicara. Percuma juga mengucapkan banyak alasan karena pada akhirnya harus jujur juga.


"Waktu itu, ... aku pergi subuh-subuh, aku melihat Alan di jalan. Dia seperti baru saja pulang entah dari mana, dan aku memutuskan untuk mengikutinya." Akhirnya Kaysa pun bercerita tentang kejadian saat dia menyelidiki Alan hingga mendapatkan ponsel yang ternyata merupakan milik Livia yang di kabarkan menghilang.


"Aku hanya curiga, mengapa tersangka pembunuhan seperti dia bisa bebas berkeliaran tanpa pengawasan. Meski tahu keluarganya memberikan uang jaminan kepada polisi, tapi menurutku bukan hal yang wajar jika dia bisa bebas begitu saja. Apa lagi sedang masa sidang. Aku hanya curiga. Awalnya."


"Lalu?"


"Aku mengikuti dia sampai ke apartemen, dan ... akhirnya kamu tahu bagaimana."


"Dan kamu bisa lolos begitu saja tanpa terjadi apa-apa?" Katanya kemudian.


Kaysa mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Katakan!" Pria itu sedikit menggeram.


"Aku ... mengalami ... sedikit perkelahian dengannya."


"Apa? Dengan siapa?"


"De-dengan Alan."


"Kaysa!"


"Habisnya dia mau menyekapku Ram. Belum lagi dia hampir saja mengetahui kalau aku yang masuk ke apartemennya dan dia mengira aku mau mencuri. Jadinya aku ...


"Bagaimana bisa? Kamu melawan dia sendirian?"


Perempuan itu mengangguk.


"Kaysa, ..." Rama mengerang frustasi.


"Sudah aku katakan itu tidak sengaja Ram, aku tidak berniat sama sekali."


"Tapi kamu membahayakan dirimu sendiri. Terlebih, kamu membahayakan anakku." Rama kembali meninggikan suaranya.


"Iya iya, aku tahu. Tapi kami tidak apa-apa, aku baik-baik saja, lihat?"


"Bagaimana kamu bisa mengatakan kalau kamu baik-baik saja?" Rama menariknya agar mendekat, lalu memeriksa keadaannya.


"Kamu tidak apa-apa? Bagaimana keadaanmu? Apa yang terjadi?"


"Ti-tidak ada, aku hanya ..." Kaysa bergeser sehingga jarak di antara mereka hampir menghilang.


"Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Bagaimana kalau Alan menangkapmu?"


"Tapi tidak kan?" Kaysa dengan takut-takut.


Rama mengetatkan rahang, dan dia terlihat menahan amarah.


"Bagaimana kalau terjadi? Apa yang harus aku lakukan?" Namun dia berhasil meredamnya. Tidak mungkin juga bersikap tidak dewasa sekarang ini, karena sudah terlalu banyak hal yang terjadi, dan dia tak ingin mengacaukan keadaan. Sudah cukup dengan masalah yang di hadapinya sekarang.


"Itu bahaya Kay!"


"Aku tahu, maaf. Tapi aku selamat kan?"


"Iya, kamu beruntung Alan tidak bisa menangkapmu. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang mungkin akan dia lakukan kepadamu."


"Maaf."


"Jangan lakukan lagi!"


"Tidak akan." Perempuan itu tertawa. Dia merasa lega karena suaminya tak mengamuk seperti yang di perkirakan sebelumnya.


"Jangan tertawa, dasar ceroboh!" Rama menepuk keningnya agak keras, sehingga Kaysa megaduh kesakitan.


"Ampun!!" katanya, sambil mengusap-usap keningnya.


"Kamu mau membuatku gila ya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadamu?" Rama terus menggerutu.


"Iya, maaf Papa. Lain kali aku tidak akan."


"Tidak akan karena beum menemukan kasus yang penuh misteri seperti ini."


"Janji, tidak akan lagi."


"Kamu bohong."


"Tidak."


"Buktinya kamu nekat begini? Padahal aku sudah memperingatkan sebelumnya?"


"Habisnya ...


Rama kemudian menariknya sekali lagi hingga dia dapat memeluknya dengan erat.


"Aku mohon jagan begitu lagi Kay! Ini yang terakhir."


Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Aku serius, ini yang terakhir. Kalau kamu begitu lagi, lebih baik tidak usah bekerja saja."


"Aaa ... tidak mau, jangan begitu!"


"Mau membahayakan anakku ya?"


"Tidak Papa, tidak akan lagi, percayalah." Kaysa mendongak kepadanya. Menatap Rama dengan mata bulatnya yang berkilauan di timpa cahaya dari lampu di langit-langit kamar.


"Awas saja!" ancam Rama kepadanya.


Lalu perempuan itu manggangguk lagi, kali ini sambil tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya yang berjejer rapi.


*


*


*


Bersambung ...


Hari ini melelahkan gaess. Tapi nggak akan lelah untuk terus meminta dukungan kalian sama novel ini. Jangan lupa like, komen, sama hadianya ya.


lope lope sekebon korma. 😘😘