Kopassus And Me

Kopassus And Me
Persidangan Pertama



*


*


"Sudah siap?" Rama mengenakan pakaian yang cukup rapi. Sebuah celana panjang dan kemeja hitam yang lengannya dia gulung hingga ke sikut menjadi pilihannya untuk menjalani hari itu.


Sementara Kaysa juga mengenakan celana senada dengan atasan seragam berwarna merah, yakni seragam dari stasiun televisi tempat nya bekerja sekarang. Dengan tulisan CTNEWS di punggung dan dada sebelah kirinya , juga sebuah name tagg yang mengantung, menjadi tanda pengenalnya mulai hari ini. Menegaskan pekerjaannya sebagai jurnalis yang akan dengan secara resmi meliput persidangan kasus pembunuhan Livia, yang melibatkan beberapa pihak yang cukup berpengaruh.


"Sudah." jawabnya, sambil merapika diri untuk yang ke sekian kalinya.


"Anakku baik-baik saja di dalam sana bukan?" Rama menyentuh perutnya yang masih rata.


"Tentu saja. Dia sangat kuat seperti papanya." jawab Kaysa dengan bangga, membuat kedua sudut bibir Rama melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Baiklah, aku harap dia tidak akan memyusahkanmu saat bekerja nanti." Pria itu belum melepaskam tangannya dari sana.


"Tidak akan, dia ini anak yang sangat pengertian. Buktinya aku tidak mengalami gejala parah apa pun sejak tahu sedang mengandung kan? Jadi aku yakin dia juga tudak akan membuatku sulit sekarang ini."


"Hmm ... yeah, ..."


"Jadi jangan khawatirkan aku, hanya fokus saja pada sidangnya."


"Baik Bu." Rama tersenyum lebar.


"Kita berangkat ke sana bersama atau aku harus mengantarkanmu dulu ke kantor?" Rama tidak melepaskannya yang kembali memastikan penampilannya di depan cermin.


"Langsung ke pengadilan saja, crew sudah meluncur ke sana setelah breefing online tadi subuh." Kaysa menjawab, seraya menatap pantulan mereka di cermin.


"Bisa begitu ya?" Rama mengeratkan rangkulan.


"Bisa dong, aku kan punya tugas khusus."


"Apa?"


"Meliputmu secara pribadi." Perempuan itu tertawa.


"Dasar kamu ini."


"Dimulai jam berapa sidangnya?" Kaysa memastikan waktu.


"Di jadwal jam sembilan." Rama melihat jam tangannya. "Baru jam delapan?"


"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang? Agar aku dapat spot yang bagus untuk meliputmu di dalam sana." ajak Kaysa dengam begitu bersemangat.


"Sekarang?" Rama membeo.


"Iya," Kaysa menganggukkan kepala.


"Baiklah, ... umm ..." Lalu dia menghembuskan napas dengan keras.


"Gugup?" Kaysa meutar tubuh lalu memeriksa keadaannya. "Masa kamu gugup? Bahkan gembong narkoba kelas dunia saja takluk di tanganmu? dengan adik dan antek-anteknya lagi?"


"Tidak, hanya sedikit ..." Tiba-tiba Kaysa memeluknya begitu erat, yang kemudian dia balas tak kalah eratnya.


"Tidak apa-apa, kita akan berjuang untuk mendapatkan keadilan bagi Livia bukan? Bagaimana pun caranya, dan apa pun yang akan kita hadapi, atau apa pun hasilnya nanti, setidaknya kita sudah berusaha." Kaysa berujar.


Rama menganggukkan kepala seolah perempuan itu bisa melihatanya.


"Baiklah, ... " Kaysa melonggarkan lilitan tangannya, kemudian menarik diri sehingga bisa menatap wajah suaminya, yang kemudian dia bingkai dengan kedua tangannya.


"Kamu berjuang di dalam sana, sementara aku di luar dengan caraku sendiri. Oke?" katanya lagi, dan Rama kembali mengangguk.


"Baik, ayo kita berangkat!" ucapnya, yang kemudian mendaratkan sebuah kecupan manis di sudut bibir pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pengadilan Negara menjadi tempat yang paling di sorot hari itu, dan tanpa di sangka di sana telah hadir banyak orang yang terdiri dari berbagai kalangan. Dan yang hadir di antara mereka sebagian besar adalah masyarakat awam yang ingin memberikam dukungan.


Tidak ada yang lupa dengan penemuan mayat seorang gadis belia di dalam karung dalam keadaan telanjang, dengan bekas luka cekikan di leher dan kegadisannya yang sudah terengggut.


Tidak ada yang tak menangis ketika berita tersebut di tayangkan di televisi selama beberapa hari, dan semua orang tentu saja mengutuk keras pelakunya. Meski sempat di tutup karena tidak di temukan tersangka yang paling berpotensi, namun semua orang kini bersemangat untuk mengetahui hukuman yang pantas yang akan pengadilan berikan setelah di ketahui siapa dalang dibalik kematian gadis itu.


Kaysa segera memasuki barisan crew televisi begitu dia melihat teman-teman dari CTNEWS sudah siap di depan ruang pengadilan. Setelah memberi pelukan semangat kepada Rama sebelumnya.


Puluhan kamera dan mikrofon sudah di nyalakan begitu mereka mengetahui kedatangan pihak Rama dan timnya. Adam dan Junno sebagai pengacara, diikuti Garin sebagai pendamping. Dan empat rekan dari pasukan hantu sebagai pendukung di belakang. Dan pandangan semua orang tentu saja tertuju kepada mereka.


Para wartawan segera mengajukan pertanyaan begitu mereka melintas, namun tak ada yang buka suara, selain hanya menganggukkan kepala. Dan Kaysa mengacungkan kepalan tangan di udara untuk menyemangati suaminya.


Kemudian keadaan menjadi riuh ketika pihak tersangka tiba. Apa lagi saat Frans dan Alan turun dari mobil tahanan dengan mengenakan rompi oranye, semua orang segera saja berteriak melontatkan hujatan, dan cacian diikuti beberapa poster dengan ujaran kebencian segera di angkat ke atas sebagai tanda kemarahan kepada mereka.


ADILI SI PEMBUNUH!


HUKUM MATI FRANS DAN ALAN!


KEADILAN UNTUK LIVIA!


Jagat maya pun kembali di ramaikan oleh dukungan terhadap kasus tersebut, sehingga muncul ratusan tanda pagar yang berhubungan dengan kejadian hari itu. Dan tanda pagar #justiceforlivia pun segera bertebaran di kalangan milenial, sebagai tanda atas dukungan mereka.


Frans dan Alan berada di sisi kanan ruangan, duduk di kursi pesakitan, menghadap hakim dan jaksa. Sementara di sisi lainnya Rama di dampingi pengacaranya. Hadir sebagai saksi dan pihak keluarga. Juga beberapa ahli dari banyak pihak yang di butuhkan kehadirannya untuk proses pengadilan ini.


Ruangan itu sengaja di kosongkan dari pihak yang tidak berkepentingan untuk menghindari kegaduhan yang pasti aka berlangsung karena kasus ini memang telah di nantikan penyelesaiannya.


Dan sidang pertama hari itu merupakan sidang pembacaan dakwaan bagi Alan sebagai tersangka utama. Setelah melewati serangkaian proses yang cukup lama, dakwaan pun di bacakan oleh sang oditur sebagai pembaca.


"Saudara Alan, bersama dengan ini, pengadilan menyampaikan, bahwa anda sebagai terdakwa, bersama saudara Frans di tuntut atas dakwaan gabungan, yakni menggunakan pasal primer subsider. Mulai dari pembunuhan berencana, menghilangkan mayat sekaligus merampas kemerdekaan orang lain. Yang kemudian negara melayangkan ancaman hukuman setinggi-tingginya penjara seumur hidup. Atas korban saudari Livia Hadinata yang di temukan meninggal dunia pada tanggal enam Juli 2020 di Jakarta."


Suasana ruang sidang cukup riuh, di tambah suara dari luar ruang yang semakin lama semakin ramai.


"Apakah anda menerima atau akan melayangkan eksepsi?" Sang pembaca dakwaan kemudian memberikan pertanyaan.


Alan terdiam. Dirinya memang tidak bisa menghindar atas dakwaan ini, namun untuk menerimanya juga rasanya sangat berat. Tapi tak ada yang bisa dja lakukan kecuali menuruti arahan tim pengacaranya.


"Saya menerima." jawaban yang tidak di duga keluar dari mulut pria itu.


"Saudara Frans?"


"Saya menerima." jawaban yang sama juga di sampaikan sepupunya. Apa lagi? keadaan mereka se gawat ini.


"Tidak akan mengajukan eksepsi?"


Dua pria di kursi pesakitan saling pandang, kemudian pengacara mereka di belakang tampak berunding.


"Tidak akan Pak." mereka menjawab bersamaan.


"Baiklah, karena tidak ada penolakan, juga pihak terdawa tidak akan mengajukan eksepsi, maka sidang hari ini di tutup. Sidang akan di lanjutkan minggu depan dengan menghadirkan saksi." Hakim berujar setelah melakukan perundingan dengan petugas di sampingnya. Lalu dia mengetukkan palu tanda sidang hari itu di tutup.


"Serius? Hanya segitu saja?" Rama bergumam.


"Aku bersiap-siap dari subuh, dan yang mereka lakukan hanya ini?" katanya lagi saat melihat hakim dan petugas lainnya keluar.


"Tenanglah, ini baru permulaan." Adam menenangkan rekannya.


"Strategi mereka bagus. Mengakui dan memerima di awal persidangan untuk meraih simpati?" Junno tampak masih mengamati.


"Dan lihat, mereka tenang sekali seolah tidak terjadi apa-apa." dia menatap ruangan itu dengan seksama ketika semua orang berdiri untuk membiarkan hakim pergi terlebih dahulu.


*


*


*


Bersambung ...