Kopassus And Me

Kopassus And Me
Breaking News



*


*


Aslan mengerutkan dahi ketika Rama tiba dengan sebuah motor jenis Mega Pro berwarna hitam di depan gerbang sekolahnya.


Pria itu tersenyum bersamaan dengan anak sambungnya yang berjalan mendekat.


"Ayo cepat, kita akan membuat kejutan untuk mamamu," katanya, yanga menyodorkan sebuah helm khusus untuk anak-anak.


"Ini motor siapa?" Aslan menatap motor tersebut dengan raut heran.


"Motor Papa."


"Papa beli motor?"


Rama menganggukkan kepala.


"Kapan?"


"Hari ini."


Kening Aslan masih berkerut.


"Mulai sekarang, kemana-mana kita pakai ini ya?" ucap Rama yang memakaikan helm pada kepala anak sambungnya itu.


"Hum? kenapa?"


"Mobilnya sudah di kembalikan ke kantor."


"Oh, itu bukan mobil punya Papa ya?" Aslan naik di belakang Rama.


"Bukan, itu punya kantor."


"Ooo, ...


Rama menghidupkan mesin motornya, kemudian benda tersebut mulai melaju.


"Dadah Maira, aku duluan ya?" Anak itu melambaikan tangan kepada teman satu bangkunya yang juga telah di jemput oleh seorang perempuan bermotor matic, yang kemungkinan adalah ibunya.


"Dadah Aslan." balas Maira yang juga melambaikan tangan.


"Duh, yang punya teman sebangku?" ucap Rama sambil tertawa.


"Papa, boleh nggak kita keliling dulu? jalan-jalan gitu?" pinta Aslan.


"Jalan-jalan?"


"Iya, sekali aja. Satu putaran gitu, keliling Jakarta?"


"Jakarta itu luas. Kalau kamu minta keliling Jakarta, kita bisa pulang nanti malam atau besok pagi." Rama menjawab.


"Ya, maksud aku nggak keliling Jakarta juga sih. Pokoknya jalan ajalah."


"Baik, tapi jangan lama-lama ya? Mama mu pasti sudah menunggu. Bisa marah dia kalau kita terlalu lama di luar rumah."


"Hu'um."


"Baik, pegangan!" Kemudian Rama menambah kecepatan motornya. Menyalip kendaraan lain yang sama-sama berpacu di jalan raya pada siang itu.


"Aku mau motornya lebih cepat!" Aslan berteriak, dia tampak senang dengan hal itu. Terdengar tawanya yang begitu renyah ketika Rama terus menggeber kendaraan roda duanya setiap ada celah kosong di depan.


Beberapa mobil mereka lewati, juga kendaraan lainnya dan Aslan senang dengan hal tersebut.


"Lain kali kita jalan lagi ya? Nanti lebih jauh tapi." Aslan segera turun dari motor seraya melepaskan helmnya, yang kemudian dia berikan kepada Rama. Mereka tiba setengah jam lebih lama dari seharusnya.


Kaysa segera keluar dari dalam rumah ketika mendengar suara mesin berhenti di pekarangan.


"Kalian terlambat!" katanya, dengan suara sedikit melengking. Tapi dia tertegun saat suami dan anaknya baru saja turun dari motor yang tidak dia kenal.


"Jalan-jalan dulu Mama, nyobain motornya." Aslan menjawab.


"Motor?" Kaysa berjalan mendekat.


"Motor siapa ini?" Wajahnya tampak bertanya-tanya.


"Motorku lah," jawab Rama yang melepaskan helmnya.


"Motor kamu? aku tidak tahu kalau kamu punya motor?"


"Memang baru sekarang."


"Baru beli maksudnya?"


Pria itu menganggukkan kepala.


"Duh?"


"Maaf aku tidak mengatakannya terlebih dahulu. Hanya saja, tidak mungkin aku pergi dengan kendaraan umum atau semacamnya. Jadi aku putuskan untuk membeli motor saja. Kalau beli mobil takut biayanya terlalu besar dan menguras tabungan kita."


"Hmm ... dan apakah motor ini tidak menguras tabunganmu?" Kaysa membalikkan perkataan.


"Tenang saja, tidak semahal mobil."


"Berapa?"


"Hanya motor bekas Kay."


Perempuan itu menatap kendaraan tersebut lekat-lekat.


"Motor bekas tapi mengkilap begini? seperti baru? aku curiga ...


"Motor bekas, sumpah. Hanya saja, pemiliknya memang merawatnya dengan baik, jadi masih terlihat baru."


"Benar?"


"Benar."


Kaysa terdiam dan menatapnya curiga.


"Kalau baru tidak mungkin bisa aku pakai langsung kan?"


"Masa?"


"Iyalah, lihat?" Dia menunjuk nomor polisinya yang masih bisa di gunakan untuk enam bulan ke depan.


"Baik, harganya?"


"Tidak semahal motor baru."


"Berapa?"


"Kay, kenapa mempermasalahkan soal itu? kan sudah aku bilang tidak mahal."


Rama terdiam sambil menahan senyum.


"Ram?"


"Sepuluh juta."


"Apa? untuk motor bekas kamu menghabiskan uang sebanyak itu? kenapa tidak membeli motor baru saja sekalian? mahal pun tidak apa-apa. Sepuluh juta itu terlalu mahal." segera saja Kaysa mengomel.


"Oh, astaga!"


"Kenapa sih kamu kalau membeli barang itu sepertinya tidak memakai pemikiran? pasti langsung beli? mentang-mentang ada uangnya?"


"Bukan begitu Kay. Motornya belum terlalu lama."


"Ya kenapa tidak kamu tawar? kan bisa lebih murah?"


"Ini kondisinya sangat baik, makanya aku tidak menawar lebih rendah. Kan kasihan pemiliknya kalau aku menawar terlalu rendah?"


"Ah, kamu!"


"Lagi pula aku tidak mengambil dari uang kebutuhanmu, ini tabunganku sendiri tahu? Dan motor baru itu harganya lebih dari 20 juta, kan sayang." Rama terlihat agak gusar.


"Eee ...


Benar juga. Batin Kaysa.


Tapi ...


"Mm ... tetap saja kan?"


"Sudah, jangan di lanjutkan. Atau kita akan bertengkar nanti." Pria itu melenggang ke dalam rumah.


"Mama bawel!" Aslan pun berjalan melewatinya begitu saja.


"Ish, ... di bela?" Kaysa menggerutu.


***


"Aku sudah menerima tawaran dari CTNEWS." Kaysa memulai percakapan seusainya makan siang mereka.


"Oh ya? kenapa CTNEWS?" Rama memalingkan perhatian.


"Sepertinya mereka lebih objektif dalam menyiarkan setiap berita. Tidak terlalu memihak pemerintah, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan itu. Dan lagi aku suka cara mereka menyampaikan berita. Lugas dan dapat di percaya, juga tidak pandang bulu."


"Begitu?"


"Hmm ...


"Dan posisi apa yang kamu dapatkan?"


"Pembaca berita singkat."


"Berita singkat?"


"Sekilas info."


"Yang beritanya di sela iklan itu?"


"Ya, seperti itu. Bisa juga di sebut Breaking News."


"Hmm ..." Rama menganggukkan kepala.


"Kalau responnya positif aku bisa naik ke pembaca berita utama. Tapi mungkin prosesnya lama."


"Tidak apa-apa Mama, santai saja. Segala hal ada prosesnya, nikmati saja."


"Mungkin juga aku seharian ada di kantor."


"Iya, aku mengerti. Tidak apa-apa."


"Benarkah?"


"Hmm ... bekerjalah dengan tenang."


"Aslan?"


"Lupa ya? aku kan sedang cuti, biar aku yang mengurusnya."


"Uuhhh baik sekali kamu ini ya?" Kaysa mengusap-usap dada suaminya, kemudian tertawa.


"Jangam begitu, nanti aku terpancing untuk melakukan sesuatu." Rama menghentikan gerakan tangannya.


"Ah, ... aku tidak berbuat apa-apa juga kamu selalu terpancing?"


Pria itu tertawa hingga kepalanya tertarik ke belakang.


"Makanya jangan berulah, kebetulan Aslan sudah ada di rumah. Kalau tidak ...


"Apa?"


"Aku akan menerkammu." Rama mencondongkan tubuhnya ke arah Kaysa.


"Kayak macan?" Aslan muncul dengan menenteng tas sekolahnya.


"Apa?" Rama segera menarik diri.


"Main terkam-terkamman?" Anak itu duduk di karpet di pinggir sofa, lalu mengeluarkan beberapa buah buku dan alat tulis dari dalam tasnya.


"Duh?"


"Kan cuma macan yang main terkam kalau ketemu mangsa." katanya lagi, dan dia mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya.


"Anak siapa itu ya? kenapa bicaranya bisa begitu? Heran." Rama bergumam. Sementara kaysa mencebikkan mulutnya.


*


*


*


Bersambung ...


Bukan anakku ya, itu anaknya Papa Radit. 😂😂😂


Cuss like komen sama hadiahnya terus di kirim. Otewe satu juta popularitas nih. Jadilah bagian dari kesuksesan cerita Kang Korma dan keluarga kecilnya.


lopelope sekebon Korma 😘😘