
"Coba sekarang juga, Jarrett," rengek Jemma dengan berbisik dan tatapan mata yang memelas nan mamaksa.
Jarrett kalah kalau Jemma merengek seperti itu kepadanya. Dia kadang-kadang bingung, entah siapa yang adik dan siapa si kakak. Malas sekali rasanya.
Memang Jarrett sudah bangun dari tadi, tapi seperti yang dilakukannya kemarin yaitu diteruskan dengan membaca buku sambil menyender ke ranjang sekalian menjaga Gail yang masih dalam masa tidur.
Demi Jemma berhenti merengek dalam mode berbisik dan Nigel yang baru membuka pintu kamar menatap tajam ke arah dirinya dan si saudari, Jarrett pun bergerak.
Lagipula perlu menjaga kondisi kamar yang tenang untuk tidur Gail. Duo J kompak merasa terintimidasi oleh Nigel meski sang papa berhenti dan berdiri di dekat pintu.
Tanpa suara, Duo J melangkah menuju posisi Nigel berada. Kedua anak lima tahun itu memahami apa yang sang papa harap lewat tajamnya tatapan pada mereka.
"Duo J, apa yang kalian lakukan? Ini masih jam tidurnya Mama kalian. Istri Papa itu belum bangun, Kids," tegur Nigel dengan suara yang rendah ketika sepasang anak kembar itu berhenti di depannya.
Duo J menunduk, menatap lantai. Nigel akan selalu posesif pada Gail, dengan kadar yang berkali-kali lipat di atas keposesifan yang mereka punya.
"Maaf," ucap Duo J kompak. Tidak ada lagi selain mengucapkan kata ajaib itu dengan kesungguhan dan ketulusan.
Suara hembusan nafas Nigel jelas terdengar karena betapa sunyinya sekian detik terdiam bersama. Duo J menunggu apa yang selanjutnya dilakukan oleh sang papa.
"Ya, Kids. Tolong jangan ulangi seperti tadi. Duo J paham, kan?" ucap Nigel lembut nan tegas serta hawa intimidasi yang hanya sedikit berkurang.
Nigel mencoba cara Gail memperlakukan Duo J ketika memarahi mereka. Meski emosi buruk di dalam hati meluap-luap, itu tetap bukan jadi pembenaran untuk dilampiaskan begitu saja.
"Paham, Papa," ucap Duo J bersamaan.
"Kesayangan Papa. Sekarang Papa yang menemani Mama. Duo J mandi dan sarapan. Kakek dan nenek sudah di ruang makan," kata Nigel melembut.
Duo J mengiyakan lalu pergi menuju kamar masing-masing. Kembar yang mandiri itu mematuhi apa yang Nigel katakan.
Jemma berjalan gontai karena keinginannya tertunda. Sedangkan Jarrett mempercepat geraknya bersih-bersih agar segera bisa menikmati menu sarapan yang Nigel siapkan ditambah dengan yang ada di rantang bawaan The Brown.
Pengaturannya begitu. Nigel bangun paling pagi lalu menyiapkan sarapan sedangkan Duo J tetap di kamar, tidur dan menjaga Gail agar saat bangun merasa tenang karena tak merasa sendirian.
Lalu saat The Brown tiba di rumah The Twins, Nigel permisi kembali ke kamar dan Duo J membersihkan diri dulu ke kamar masing-masing sebelum bergabung sarapan bersama sang kakek dan nenek. Seperti biasanya ketika masih tinggal bersama.
Masa percobaan untuk membiasakan Gail familiar untuk berada di rumah baru tersebut sejauh ini lancar sesuai rencana. Meski batas waktu pastinya tidak ada.
Semua tergantung Gail. Duo J bukan anak yang sulit beradaptasi untuk tidur sendiri di kamar yang terpisah. Apalagi Nigel, lebih memilih menyiksa dirinya sendiri daripada istrinya.
Waktu terus berjalan. Seperti biasa, ruang makan akan ramai jika ada Duo J.
"Cucu Manis Nenek akhirnya selesai mandi," sambut Ellie kepada Jemma yang masih melangkah gontai.
"Maaf aku lama, Nek, Kek," ucap Jemma sambil mendekat ke posisi Ellie duduk. Dia memeluk sang nenek dan kakek bergantian.
"Dasar lamban," ledek Jarrett yang sudah duduk dan mengunyah menu sarapannya.
"Terima kasih yang tak pernah lamban," cibir Jemma
Lalu perempuan kecil itu tersenyum sambil menaiki tatakan untuk bisa lebih mudah duduk di kursi. Jemma bukan Jarrett yang gampang menjangkau tempat tinggi untuk ukuran tubuh anak-anak, jadi Nigel punya cara untuknya.
Jemma mengangguk antusias. Itu bubur kacang hijau buatan kakek yang jadi favoritnya.
Dengan sigap, Ellie yang berada di samping Jemma menggeser wadah makanan yang ditunjuk suaminya tadi ke dekat sang cucu. Seperti pinta Gail di ulang tahun kelima Duo J.
Awalnya bagai cobaan oleh sepasang anak kembar yang tidak balita lagi tersebut. Keduanya terbiasa dilayani di meja makan oleh para orang dewasa.
Tidak ada lagi piring berisi makanan dan gelas berisi air minum disediakan di hadapan Duo J. Masing-masing harus mengisi sendiri dari wadah dan urusan tumpah dimaklumi saja.
Lama-lama Duo J bisa melakukannya dengan baik tanpa tumpahan dan porsi yang dipindahkan ke dalam piring mereka pas untuk dihabiskan. Ajaran bertanggung jawab dengan kemandirian.
"Terima kasih, Nenekku yang semakin cantik," ucap Jemma riang seraya menyendok ke dalam wadah bubur kemudian memindahkan ke piring kosongnya.
Ellie tertawa mendengar kalimat manis dari Jemma. Dia merasa pagi ini membaik dari suasana makan malam sebelumnya yang muram.
Tawa Ellie menular ke Landon. Pasangan The Brown itu merasa khawatir yang hinggap seakan menguap karena tingkah Duo J sudah seperti biasa lagi.
Jemma tersenyum sembari menikmati isi piringnya. Ledekan Jarrett tadi pertanda bahwa saudara kembarnya itu sudah merasakan suasana hati yang cerah lagi, membaik.
"Kakek, aku mau tambah. Tolong geserkan wadah buburnya," pinta Jarrett kepada Landon. Lanjut berkata, "Apa masih ada lagi selain di wadah ini, Kek?"
Landon meletakkan wadah yang diminta Jarrett tepat di hadapan sang cucu. Lalu dia tersenyum dan geleng kepala.
"Baiklah. Aku ambil beberapa sendok saja supaya Mama dan Papa kebagian bubur buatan Kakek yang lezat ini," ucap Jarrett yang lagi-lagi berisi kalimat manis.
"Jarrett mau Kakek bikinkan lagi buat besok pagi?" ujar Landon terkekeh.
"Tidak, Kek," jawab Jarrett cepat.
Jawaban Jarrett itu sama dengan jawaban yang diperkirakan Landon. Mana ada Duo J makan menu yang sama dalam hari yang berturut-turut dan walaupun suka dan ditawari pasti menolak, seperti barusan.
"Bilang Kakek, Duo J mau dibuatkan apa?" timpal Ellie lembut dan berharap ada jawaban yang beda dari yang dia perkirakan sekarang.
"Terserah Kakek saja buat kejutan," kata Duo J berbarengan meski ada yang sedang mengunyah.
Pasangan The Brown tertawa gemas dengan tingkah sepasang cucu genius kesayangan itu. Walau Gail sedang tidak ada di dekat keduanya, Duo J tetap patuh dengan yang diajarkan sang mama.
Selera Jemma yang suka manis-manis dan Jarrett yang condong ke rasa pedas memang tak sama. Tapi Gail mengajari keduanya untuk bertoleransi dan ada waktunya untuk mendapatkan selera masing-masing.
Alasan mama Duo J itu adalah membuat sang anak kembar nan genius itu tidak merepotkan lebih banyak dua orang berumur senja yang pasti mengusahakan apapun untuk menyenangkan hati cucu.
Kejeniusan Duo J dimanfaatkan Gail untuk sedini mungkin mendukung kemandirian sepasang buah hatinya. Sebab bagi sang mama itu, ajaibnya diri memungkinkan dia meninggal kapan pun.
Sehingga Gail berusaha sekeras yang dia bisa untuk mempersiapkan Duo J hidup tidak bergantung banyak pada orang lain. Walau tak mudah, tetap diusakannya.
Kerasnya keyakinan dan luasnya sabar, itu jadi kekuatan Gail dalam memahami Duo J yang perlu waktu untuk mampu melakukan hal baru dengan baik secara mandiri. Seiring pertambahan umur sang anak, tambah pula hal untuk dicoba.
|Diw @diamonds.in.words - FebM22
Oh G, kok aku ngetiknya haru begini.. hikss