DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Juga



Telinganya sensitif, bisa mendengar Gail berdengus. Tanda istrinya sedang tidak baik-baik saja, sebaik itu sang suami paham.


“Tidak ada apa-apa. Ayo ke rumah,” jawab Gail beserta senyuman sekenanya. Tatapannya juga berbeda, tidak seramah tadi.


Beebeda, Nigel menatap sendu pada Gail. Sang istri belum terbuka untuk berbagi dengannya, masih ada jarak membentang.


"Ayo, Mam. Meluncur," seru Jemma riang. Keberadaan perempuan kecil itu memutus keinginan Nigel.  Tak ada pertanyaan lebih jauh.


***


Jarrett merasa ada yang sedang menatapnya. Ternyata sepasang mata Gail yang Jarret tahu itu pertanda tidak baik.


Segera Jarrett turun dari kursi yang dari tadi dia duduki. Tersadar hanya dirinya yang tertinggal di dalam mobil.


"Mama," sapa Jarrett seperti biasanya. Meski perasaannya tidak enak, itu disimpan dulu.


Sesampainya di dekat Gail, Jarrett melakukan kebiasaannya ketika bertemu sang mama. Mencium pipi.


"Berikan tablet itu pada Mama, Jarrett," ucap Gail dalam nada dingin.


"Ini, Ma," patuh Jarrett.


"Terima kasih. Sekarang masuk rumah dan mandi," perintah Gail dan tangannya mengenggam erat gawai yang Nigel belikan untuk Jarrett.


"Iya, Ma. Tabletnya?" kata Jarrett was-was.


"Mama sita."


"Ma, jangan ya. Mama, plis," mohon Jarrett.


Tidak tahu saja, jika disita itu berarti semakin lama waktu termakan untuk penyelesaian project-nya. Jarrett tidak rela.


"Ma-" kalimat Jarrett terpotong karena pelototan mata Gail makin tajam.


"Jarrett Brown!" suara Gail tak bersahabat.


"Iya, Mama. Jarrett Brown Irey laksanakan perintah," pasrah Jarrett dengan kesal. Kemudian berlalu dari hadapan Gail.


Kata Irey yang Jarrett ucapkan menembus perasaan Gail yang lain. Itu mengingatkannya bahwa bayi kecilnya sudah makin besar dan paham siapa dirinya.


Rasanya ada yang berdenyut dalam hati Gail. Refleks dia berjongkok, menenangkan emosi. Berada sendiri di halaman, antara parkir mobil dan teras, rasanya cukup membantu.


Tanpa Gail tahu, Nigel berdiri di pintu masuk rumah. Saat Jarrett masuk rumah dengan wajah ditekuk, firasat sang papa tahu ada sesuatu terjadi di luar.


Benar saja, Nigel melihat Gail berjongkok dengan menekuk kepala ke arah tubuhnya. Nigel ingat dulu Gail pernah bilang; apa rasanya jika sedang dalam keadaan seperti itu lalu menerima pelukan Nigel.


Isi obrolan antara Gail dan Nigel saat bicara tentang cara meredakan ledakan emosi. Selama waktu pendek dalam kebersamaan keduanya, belum melewati segala macam emosi.


Kali ini pertama untuk Nigel menemukan apa yang pernah Gail ceritakan. Dengan memberanikan diri, dia mendekati sang istri.


"Gee, boleh aku memelukmu?" tanya Nigel hati-hati. Dia berdiri tepat di hadapan Gail.


"Gee?" panggil Nigel lembut bertanya, sembari ikut berjongkok. Kakinya sudah semakin membaik, kuat untuk menopang tubuh.


Tidak ada jawaban dari Gail. Kenekatan Nigel membuatnya langsung saja memeluk sang istri.


Ajaibnya, Gail menerima kontak fisik dengan Nigel itu dengan kenyamanan. Kehangatan yang didapatkan dari pelukan itu, mendorong Gail mengeluarkan tangisnya.


Berbagai ketakutan yang seorang ibu miliki juga Gail punya. Selama ini dia pandai menguatkan dirinya sendiri. Tidak mengeluh apalagi menangis.


Nigel terkejut mendapati reaksi Gail. Dia diterima istrinya, malah dibalas dengan dekapan lebih erat. Tak terkira senang hati si suami.


Namun ada yang salah, kepekaan Nigel mengusik suasana hatinya. Ditambah dia merasakan bajunya basah di bagian atas dada. Suara lirih isak tangis tertangkap telinga.


Sontak Nigel mengangkat badan Gail. Posisi keduanya yang berpelukan memudahkan Nigel mengendong sang istri lalu membawanya duduk ke dalam mobil. Pintu kendaraan besar itu masih terbuka.


Nigel memposisikan tubuhnya dan Gail relaks di sana. Sambil mengusap bahu istrinya, suami itu mengirim pesan pada Miles.


Pesan teks itu berisi permintaan Nigel agar tak ada yang ke halaman rumah atau mencarinya dan Genaya.


Perlu waktu untuk meredakan tangis lirih yang Nigel tangkap dari Gail. Hati Nigel yakin bahwa istrinya itu kembali baik setelah selesai menangis.


Tentu saja Nigel menemani sampai waktu itu tiba. Kesabarannya tak bisa diragukan. Lagipula penerimaan Gail kali ini adalah keinginan terbesar yang selalu ada dalam doa.


"Maaf. Aku membuat bajumu basah," ucap Gail dalam nada bersalahnya ketika menarik diri dari dekapan Nigel.


"Bukan masalah, Gee," sahut Nigel penuh perhatian dan dengan cepat tangannya menjangkau tisu yang tersedia dalam mobil.


Kotak tisu itu Nigel taruh di dekat Gail. Suami itu belajar dari pengalaman bagaimana reaksi sang istri saat dia ingin membantu menghapus air mata itu dengan tangannya langsung.


"Terima kasih, Nigel. Aku tidak seperti ini biasanya. Maaf, aku merepotkanmu."


"Aku senang kamu menangis-" ucap Nigel tertahan karena menyadari susunan kata-katanya tak tepat dan tatapan Gail yang terkejut dengan apa yang keluar dari bibir suaminya.


"Gee, maksudku ketika kamu seperti ini dan aku bisa berada di dekatmu sampai perasaanmu lebih baik. Aku merasa berguna dan senang dengan penerimaanmu."


Gail tidak bersuara lagi. Dia tersenyum saja merespon tutur Nigel sembari menghilangkan jejak air di pipi dan matanya.


"Boleh aku memelukmu sekali lagi, Gee?"


"Kenapa?"


"Aku ingin berbagi kekuatan. Kamu pernah bilang itu pada pelukan pertama kita, setelah kita resmi sebagai suami dan istri."


Selang beberapa waktu, Gail hanya menatap Nigel tanpa memberi jawaban boleh atau tidak. Ada raut ragu yang kentara di wajahnya.


"Maaf, Nigel. Aku tidak bisa mengingatnya."


"Aku mengerti. Kita tidak sedang buru-buru, Gee."


"Atau, aku bisa mencobanya?"


"Aku tidak memaksa, Gee. Kapan pun kamu-"


Gail tidak mempedulikan Nigel yang masih berbicara. Dia mengikuti intuisinya untuk lebih dulu memberi pelukan pada sang suami.


Sekian detik, Nigel mematung tidak percaya. Keajaiban untuknya terjadi lagi. Gail mendekapnya, bahkan berinisiatif membelitkan lengan pada tubuhnya dengan erat.


"Gee, terima kasih. Perasaan buruk apapun yang sedang ada padamu sekarang, itu tak akan selamanya. Kamu bisa berbagi denganku. Setidaknya saling berpelukan begini. Aku sudah bersamamu lagi. Kita bisa bersama-sama menghadapi apapun masalahmu. Jika belum kini, tak apa. Yang harus selalu kamu ingat, aku akan terus menunggu kapan pun waktu kamu bersedia mengikutsertakanku."


Kalimat panjang Nigel itu diucapkan dengan berbisik ke telinga Gail. Penuh perasaan dan penuh harapan.


Perasaan Gail terasa semakin campur aduk. Manis sekali terdengar apa yang Nigel sampaikan. Tapi dua sisi diri Gail jadi bertentangan.


Antara merasa tersanjung, betapa beruntungnya mendapati perlakuan Nigel yang spesial. Serta merasa tak pantas, sebab betapa sempurnanya lelaki itu berbanding terbalik dengan dirinya yang serba terbatas.