DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Lama (Penting: baca keterangan di bagian atas bab ini)



*PENTING: bab ini adalah sambungan dari judul bab "NANTI", karena alasan revisi. Jadi selamat lanjut menikmati kisah~


Lama Gail membaca apa yang tampil di layar laptop. Semakin larut dirinya dalam cerita yang hadir di naskah novel.


Fiksi yang dikarang pada enam tahun lalu, begitu kata Nigel. Gail berusaha memahami seperti apa dirinya lewat penuturan sang suami itu.


Ketukan pintu ruangan dari luar memecahkan fokus. Gail melihat Ellie melongok dari sela bukaan pintu.


"Gail, sudah waktunya pulang. Apa pekerjaan Anak Bunda sudah selesai?" ucap Ellie dari posisinya berdiri.


"Sudah, Bund. Aku sudah selesai. Tinggal mematikan laptop ini," kata Gail yang tersadar dirinya lupa waktu cukup lama.


"Bunda tunggu di teras, ya. Ayah sudah ke villa menjemput Jarrett," sahut Ellie lalu meninggalkan ruangan Gail dengan pintu terbuka.


“Baik, Bundaku sayang,” seru Gail mempercepat geraknya beres-beres.


Niat awal Gail untuk mengedit naskah yang diminta oleh pihak Wordlib tinggal niat saja. Fokusnya terganggu karena rasa penasarannya berlebih terhadap naskah novel tersebut.


Seperti Nigel juga penasaran ingin membaca tapi tidak diizinkan oleh dirinya di masa lalu. Gail ingin menilai tulisannya itu, apa memalukan sampai-sampai memberi larangan kepada orang terdekatnya pada masa itu.


Kata Nigel pula, sampai sekarang suaminya itu belum baca walaupun bisa sebebasnya mengakses naskah tersebut di laptop yang dirawatnya sejak mereka terpisah. Sepenurut itu sang suami kepada Gail.


Naskah Gail itu terdiri dari seratus lima puluh ribu kata lebih, segitu yang ditampilkan pada sistem baca di laptop. Benda yang berumur kurang lebih dua belas tahun, info dari Nigel lagi.


Panjangnya bacaan itu kira-kira perlu berhari-hari untuk bisa selesai dibaca. Nanti disambung lagi karena sudah waktunya pulang. Putus Gail yang bicara dalam hati.


"Bund, aku sudah siap. Ayo pulang."


Dua wanita beda generasi itu pun mulai berjalan menuju rumah. Gail menyandang ransel dan Ellie menjinjing kantong berisi kotak bekal kosong karena isinya sudah habis.


"Bunda, aku pernah bercerita tentang tulisanku yang menang lomba waktu itu. Apa Bunda masih ingat?" ucap Gail di sela langkah kaki yang santai menyamakan kecepatan Ellie.


"Ingat. Kemudian apa yang terjadi, Anak Bunda?" kata Ellie, menyambut pembukaan obrolan berdua dengan Gail sembari mengisi perjalanan.


"Salah satu juri bilang, aku tidak seperti amatir yang menulis naskah. Dari penilaian beliau, aku sudah melewati banyak latihan dan waktu yang tidak sebentar. Bahkan dikira aku punya judul karya lainnya."


"Lalu?"


"Sepertinya beliau benar, Bund. Dari yang Nigel ceritakan kepadaku kemarin, jadi masuk akal. Ternyata lupa ingatanku tidak begitu buruk."


"Bagaimana dengan perasaan Anak Bunda ini kepada Menantu Bunda? Sepenglihatan Bunda hubungan kalian berdua semakin dekat. Senang rasanya."


"Nigel memperlakukanku dengan baik, Bund. Juga hadir sebagai sosok ayah kepada Duo J, bahkan interaksi mereka tidak seperti orang baru kenal. Istilah hubungan darah itu kental, sepertinya cocok."


"Perlakuan Nigel ke Bunda dan ayah juga baik. Ternyata sempat juga Bunda merasakan apa yang disebut dengan mempunyai menantu. Hal yang tidak berani Bunda bayangkan dulu."


"Bunda, menangis," ujar Gail, menoleh terkejut. Dia menyadari getar suara Ellie kemudian melihat air mata sudah mengalir di pipi orang tua angkatnya itu.


Refleks Gail menghambur ke Ellie. Memeluk sang bunda karena tidak tahu apa yang mesti Gail katakan.


Mampunya berbagi kekuatan saja dalam menghadapi duka masing-masing yang bagai muncul-tenggelam. Gail dan Ellie berhenti sebentar di tengah perjalanan.


Ponsel Gail berbunyi. Sesi pelukan dua perempuan, ibu dan anak itu pun terpaksa diakhiri. Jarang-jarang ada panggilan masuk ke gawai itu.


Muncul tulisan kekasih di layar ponsel Gail. Keningnya berkerut, membongkar ingatan siapa yang dinamai seintim itu. Detik berikutnya pipi Gail merona.


"Kenapa dilihat saja? Siapa yang menelepon Anak Bunda?" tanya Ellie. Dirinya sudah membaik ke semula.


"I-iya, Bund," sahut Gail gugup. Jantungnya berdetak semakin tidak santai karena Nigel, terbayang bagaimana wajah serta pesona suaminya yang berada di ujung telepon.


Suara Nigel pun merespon. Keduanya bertukar kalimat beberapa saat. Lalu sambungan telepon putus.


"Nigel dan Jemma pulang terlambat, Bund," kata Gail memberi tahu Ellie apa yang dibicarakan dengan Nigel barusan.


"Apa ada masalah?" tanya Ellie kembali penuh perhatian setelah mengalihkan fokus dari Gail yang menelpon tadi.


"Tidak. Hanya menunggu Father bisa bertemu Jemma sebentar sebelum balik ke Delan. Beliau dalam perjalanan dari luar negeri, Bund."


"Baiklah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Gail tersenyum untuk merespon. Bersama Ellie, dia melanjutkan langkah kaki menyusuri jalan pulang.


"Bunda penasaran, rumah seperti apa yang Menantu Bunda bangun. Setiap melihat tukang-tukang itu bekerja, Bunda rasanya tak sabar melihat hasilnya."


Kalimat itu diucap Ellie sembari menunjuk dengan gerak matanya ke arah rumah The Twins yang sudah dalam jarak pandangnya dan Gail.


"Duo J bilang, dari gambar desain yang mereka lihat bentuk depannya mirip dengan rumah kita. Seperti kembar. Sampai dinamai rumahnya."


"Ada nama buat rumah? Ada-ada saja dua cucuku."


"Iya, Bund. Untuk rumah kita, namanya Rumah The Brown. Sedangkan Rumah The Twins untuk rumahnya Nigel."


"Rumahnya Nigel berarti rumah Anak Bunda juga. Menurut Bunda, tidak bisa lama-lama kamu dan suamimu beda rumah seperti sekarang."


"Bunda, aku-"


"Anak Bunda butuh waktu. Bunda paham. Bunda juga percaya kamu bisa melakukan yang terbaik untuk keluarga kecilmu. Bunda akan selalu jadi bundanya Gail. Bagaimanapun pilihanmu, Putriku."


Gail tidak berkata-kata lagi, tidak mampu saja. Sebab matanya sudah berkaca-kaca.


Sembari melangkahkan kaki, Gail melingkarkan lengannya kepada tubuh tua Ellie. Memeluk manja sambil berjalan.


"Mama, lihat Kakek cemburu," seru Jarrett dengan tingkah lucunya dari depan teras rumah The Brown.


Landon terkekeh di tempat duduknya, kursi santai yang letaknya di teras. Sang cucu nan genius bisa mengartikan tatapannya sejak tadi dua kesayangan itu berbelok masuk ke halaman.


"Sudah saatnya Nyonya Brown dikembalikan kepada Tuan Brown, Jarrett," kekeh Gail menyambut candaan sang putra.


Belitan lengan Gail pada Ellie perlahan lepas seraya didekatkan posisi sang bunda kepada si ayah. Mereka sudah sama-sama berada di teras.


"Semoga bahagia selamanya, Tuan dan Nyonya Brown," sambung Gail lalu diikuti Jarrett mengucapkan kalimat yang sama.


"Nyonya Brown, suamimu ini ingin memelukmu juga," ucap Landon merespon tingkah kesayangannya.


"Tolong Cucu Tampan Nenek, hitung sampai dua. Tuan Brown bisa menikmati pelukan dua detik," canda Ellie meramaikan.


Mereka tak bisa untuk tidak tertawa lepas. Selera humor yang sedang satu frekuensi. Selang waktu senja dihabiskan kumpul di teras.


"Kurang Jemma dan papa. Mereka lama," ujar Jarrett.


|Bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Januari2022


Readers, saatnya beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini, :D


Makasih lagi.. dari Duo J :)