
Selama waktu pendek dalam kebersamaan keduanya, belum melewati segala macam emosi.
Kali ini pertama untuk Nigel menemukan apa yang pernah Gail ceritakan. Dengan memberanikan diri, dia mendekati sang istri.
"Gee, boleh aku memelukmu?" tanya Nigel hati-hati. Dia berdiri tepat di hadapan Gail.
"Gee?" panggil Nigel lembut bertanya, sembari ikut berjongkok. Kakinya sudah semakin membaik, kuat untuk menopang tubuh.
Tidak ada jawaban dari Gail. Kenekatan Nigel membuatnya langsung saja memeluk sang istri.
Ajaibnya, Gail menerima kontak fisik dengan Nigel itu dengan kenyamanan. Kehangatan yang didapatkan dari pelukan itu, mendorong Gail mengeluarkan tangisnya.
Berbagai ketakutan yang seorang ibu miliki juga Gail punya. Selama ini dia pandai menguatkan dirinya sendiri. Tidak mengeluh apalagi menangis.
Tapi Nigel menerobos tembok tak kasat mata itu dan Gail sedang berada di kegelapan dalam benteng yang dia bangun. Entah makna yang mana untuk air mata yang keluar dari dua mata.
Nigel terkejut mendapati reaksi Gail. Dia diterima istrinya, malah dibalas dengan dekapan lebih erat. Tak terkira senang hati si suami.
Namun ada yang salah, kepekaan Nigel mengusik suasana hatinya. Ditambah dia merasakan bajunya basah di bagian atas dada. Suara lirih isak tangis tertangkap telinga.
Sontak Nigel mengangkat badan Gail. Posisi keduanya yang berpelukan memudahkan Nigel mengendong sang istri lalu membawanya duduk ke dalam mobil. Pintu kendaraan besar itu masih terbuka.
Nigel memposisikan tubuhnya dan Gail relaks di sana. Sambil mengusap bahu istrinya, suami itu mengirim pesan pada Miles.
Pesan teks itu berisi permintaan Nigel agar tak ada yang ke halaman rumah atau mencarinya dan Genaya.
Perlu waktu untuk meredakan tangis lirih yang Nigel tangkap dari Gail. Hati Nigel yakin bahwa istrinya itu kembali baik setelah selesai menangis.
Tentu saja Nigel menemani sampai waktu itu tiba. Kesabarannya tak bisa diragukan. Lagipula penerimaan Gail kali ini adalah keinginan terbesar yang selalu ada dalam doa.
"Maaf. Aku membuat bajumu basah," ucap Gail dalam nada bersalahnya ketika menarik diri dari dekapan Nigel.
"Bukan masalah, Gee," sahut Nigel penuh perhatian dan dengan cepat tangannya menjangkau tisu yang tersedia dalam mobil.
Kotak tisu itu Nigel taruh di dekat Gail. Suami itu belajar dari pengalaman bagaimana reaksi sang istri saat dia ingin membantu menghapus air mata itu dengan tangannya langsung.
"Terima kasih, Nigel. Aku tidak seperti ini biasanya. Maaf, aku merepotkanmu."
"Aku senang kamu menangis-" ucap Nigel tertahan karena menyadari susunan kata-katanya tak tepat dan tatapan Gail yang terkejut dengan apa yang keluar dari bibir suaminya.
"Gee, maksudku ketika kamu seperti ini dan aku bisa berada di dekatmu sampai perasaanmu lebih baik. Aku merasa berguna dan senang dengan penerimaanmu."
Gail tidak bersuara lagi. Dia tersenyum saja merespon tutur Nigel sembari menghilangkan jejak air di pipi dan matanya.
"Boleh aku memelukmu sekali lagi, Gee?"
"Kenapa?"
"Aku ingin berbagi kekuatan. Kamu pernah bilang itu pada pelukan pertama kita, setelah kita resmi sebagai suami dan istri."
Selang beberapa waktu, Gail hanya menatap Nigel tanpa memberi jawaban boleh atau tidak. Ada raut ragu yang kentara di wajahnya.
"Maaf, Nigel. Aku tidak bisa mengingatnya."
"Atau, aku bisa mencobanya?"
"Aku tidak memaksa, Gee. Kapan pun kamu-"
Gail tidak mempedulikan Nigel yang masih berbicara. Dia mengikuti intuisinya untuk lebih dulu memberi pelukan pada sang suami.
Sekian detik, Nigel mematung tidak percaya. Keajaiban untuknya terjadi lagi. Gail mendekapnya, bahkan berinisiatif membelitkan lengan pada tubuhnya dengan erat.
"Gee, terima kasih. Perasaan buruk apapun yang sedang ada padamu sekarang, itu tak akan selamanya. Kamu bisa berbagi denganku. Setidaknya saling berpelukan begini. Aku sudah bersamamu lagi. Kita bisa bersama-sama menghadapi apapun masalahmu. Jika belum kini, tak apa. Yang harus selalu kamu ingat, aku akan terus menunggu kapan pun waktu kamu bersedia mengikutsertakanku."
Kalimat panjang Nigel itu diucapkan dengan berbisik ke telinga Gail. Penuh perasaan dan penuh harapan.
Perasaan Gail terasa semakin campur aduk. Manis sekali terdengar apa yang Nigel sampaikan. Tapi dua sisi diri Gail jadi bertentangan.
Antara merasa tersanjung, betapa beruntungnya menerima perlakuan Nigel yang spesial. Serta merasa tak pantas, sebab betapa sempurnanya lelaki itu berbanding terbalik dengan dirinya yang serba terbatas.
"Sudah. Sebaiknya kita segera masuk ke rumah. Semua orang ada di dalam," putus Gail sembari mengurai pelukannya.
Takut Gail akan kemungkinan dirinya menjadi semakin salah tingkah oleh pesona Nigel. Lagi pula perlu segera jauh dari si suami agar degup jantung Gail yang berdetak cepat tidak disadari.
Nigel mau tidak mau menuruti Gail. Sudah cukup rasanya. Dia tidak mau menjadi serakah dan berimbas tak baik nanti.
Gerakan terampil tangan Gail memperbaiki penampilan wajahnya setelah menangis, merapikan apa yang dirasa perlu untuk mengaburkan jejak emosinya tadi.
"Gee, tablet Jarrett ditinggal di mobil kah?" tanya Nigel saat keduanya beranjak dari kabin mobil.
"Aku lupa. Itu aku yang bawa, Nigel," ucap Gail sembari mengambil gawai yang jadi pemicu kejadian tadi.
Setelah yakin tidak ada yang tertinggal lagi, Nigel menutup pintu dan mobil otomatis terkunci. Dia mengikuti Gail yang buru-buru masuk rumah.
Sesampainya Nigel di ruang tamu, dia mendapatkan tatapan penuh tanya dari Miles. Perlu penjelasan lebih lanjut terkait isi pesan teks si kakak kembar yang menghilang hampir setengah jam.
Nigel balas dengan isyarat. Permintaan untuk bersabar menunggu sampai bisa leluasa mengobrol berdua saja nanti.
"Pap, tadi Jemma ingin menyusul Papa ke mobil tapi tidak dibolehkan Paman," kata Jemma sambil berjalan mendekat ke kursi ruang tamu, duduk bersama dua pria kesayangannya.
"Kenapa Je mau menyusul Papa?" sambut Nigel kepada Jemma yang memanjat untuk dipangku.
"Mau saja. Jemma suka ada Papa dan Mama bersama-sama. Tapi setelah aku selesai mandi tadi, tidak ada yang bisa aku temukan," keluh Jemma.
"Bukannya ada Paman, Bibi, Nenek juga Kakek?" laden Nigel.
"Pap, maksud dari kalimatku itu adalah Papa dan Mama. Ketika aku melihat bayangan Papa di mobil dan ingin kesana, Paman melarangku. Aku cuma bisa menunggu Papa muncul," tutur si perempuan kecil.
"Terima kasih banyak, Je. Kamu melakukan hal yang sangat tepat, Sang Putri," ucap Nigel bangga. Ternyata kesigapan Miles menerima permintaan tolongnya dibarengi oleh Jemma yang penurut.
"Baiklah. Tadinya Sang Putri kesal, tapi tidak lagi sekarang," kekeh Jemma lalu membalikkan badannya untuk mendekap Nigel.
Miles geleng-geleng kepala saja menyaksikan perbincangan dua orang di hadapannya itu. Bagai melihat dirinya dan Evelyn, putri kecilnya yang dewasa daripada umur.