
Nigel masih tidak muncul. Tidak tampak batang hidungnya dimana pun, seantero rumah The Brown. Bahkan sampai waktu Gail harus pergi, berangkat kerja.
Sedangkan Duo J sudah berangkat diantar Landon ke villa kantor Addison. Sebab hari ini giliran sang kakek yang mengantar dua cucu itu.
Eliie juga sudah berangkat ke dapur The Brown lebih pagi dari biasanya. Kejadian pulang dadakan kemarin menyisakan beberapa pekerjaan yang tertunda waktu penyelesaiannya.
Setelah beberes dan memastikan rumah sudah bisa ditinggal, Gail berjalan lambat keluar halaman. Bagian dari hatinya berharap ada suara Nigel memanggil dirinya dari arah punggung, dari arah jalan ke villa.
Seandainya Nigel sedang berada di rumah The Twins yang tampak oleh Gail masih direnovasi itu, mungkin dia bisa melihat sang suami meski sekilas. Seperti bayang-bayang saja sudah cukup.
‘Mungkin Nigel terlambat bangun, mungkin Nigel ini, mungkin Nigel itu, dan sejenisnya,’ itu kalimat-kalimat penenang yang Gail ucap dalam hatinya. Pikiran baik juga agar dirinya tenang.
Bayangan sang suami saat kejadian kemarin memenuhi lamunan Gail sambil berjalan kaki. Entah bagaimana Gail mau bertemu Nigel tapi dia membantah cepat keinginannya itu.
Rasa rendah diri Gail dan ketakutan-ketakutan lainnya menang dari kata hati yang khawatir dengan keadaan sang suami hari ini. Gail bingung karena selama waktu enam tahun hatinya tidak pernah serisau ini.
‘Sudah lah, tidak usah diambil pusing,’ kalimat penenang Gail pada dirinya sendiri. Dia sudah sampai di Dapur The Brown. Kesibukannya bekerja akan dimulai. Waktunya memusatkan fokus pada urusan bisnis makanan The Brown.
****
“Es, aku hanya kelelahan,” keluh Nigel sebab Miles tidak juga beranjak dari kamarnya di villa Addison. Adik kembarnya itu sedang keras kepala.
Tengah malam tadi, Nigel mendapati Miles tertidur dengan tangan mereka saling menggenggam. Dia tersentak dari tidur karena ingin buang air dan terhambat karena sang adik.
“El, dengar. Aku akan tetap disini. Jangan ikut-ikutan keras kepala,” ujar Miles serius. Dia kembali fokus pada layar ponsel, disana ada menu makanan dan minuman untuk jadi pilihan sarapan mereka.
Suara ketukan pintu menarik perhatian dua pria dari keluarga Irey itu. Nigel refleks menggerakkan kakinya untuk turun dari kasur. Dia mau meraih remote yang terletak di nakas.
“Diam di tempat tidurmu, El,” titah Miles. Dia beranjak ke arah pintu kamar, ingin membuka pintu secara manual dengan tangannya. Sekaligus ingin tahu lebih dulu dari Nigel tentang siapa yang datang.
“Paman,” seru dua anak berusia lima tahun ketika Miles melongokkan kepalanya dari sela bukaan pintu. Wajah ceria itu menularkan bahagia untuk suasana hati Miles.
“Apa Duo J ingin bertemu Papa di kamar?” ucap Miles hati-hati.
“Iya. Ada apa Paman?” kata Jarrett bingung sekaligus penasaran dengan kehadiran Miles di villa Addison.
Miles yang ditanyai itu terdiam. Dia berpikir dan menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan di waktu seperti sekarang.
“Paman?” suara Jemma yang mengandung pertanyaan itu memanggil perhatian Miles dari keterdiaman. Raut wajah perempuan kecil itu menuntut segera direspon.
Miles akhirnya mempersilahkan Duo J masuk ke kamar Nigel. Kedua anak itu pun mengucap kata terima kasih sambil berebutan untuk berlari duluan sampai di tempat tidur sang papa.
“Papa,” panggil Duo J bersamaan. Langkah cepat untuk lari yang sudah diancang-ancang terhenti. Mereka sama-sama melangkah panik kepada Nigel.
“Selamat pagi Duo J, kesayangan Papa,” sambut Nigel dengan khasnya. Dia pun memperlihatkan diri dalam kondisi yang baik-baik saja.
“Pap, wajahnya pucat,” ujar Jemma yang genius. Dia segera lebih mendekat ke tempat tidur Nigel agar bisa melihat sang papa lebih jelas.
“Papa, kapan Paman datang?” kata Jarrett yang naik ke kasur Nigel. Sang papa tidak bersuara karena lebih memperhatikan gerakan sang anak memanjat ranjangnya.
“Paman datang tadi malam, Jarrett,” kata Miles merespon pertanyaan sang keponakan setelah urusannya dengan pelayan selesai. Nigel menatap Miles pasrah.
“Apa waktunya itu setelah Kakek meminjam ponselku, ya?” ucap Jarrett bertanya pada dirinya sendiri.
“Betul. Kakekmu menelepon Paman untuk memberitahu bahwa Addison mulai kemarin pergi selama seminggu. Jadi tidak ada yang mengawasi Papamu yang keras kepala itu,” sahut Miles terhadap Jarret.
Cara bicara Miles yang tanpa ekspresi sudah biasa bagi Jarrett. Kalimat sang Paman juga seperti tidak bicara pada anak berumur lima tahun saat bicara kepadanya..
“Lalu, kenapa Papa masih berbaring? Apa Papa sakit, Paman?” tanya Jarrett pada Miles. Orang yang paling bisa ditanyai karena Nigel masih saja tutup mulut.
“Badannya sempat panas berkali-kali semalam."
“Aku demam, Es?” suara Nigel keluar akhirnya, memastikan tentang apa yang disampaikan oleh sang adik kembar. Dia sendiri tidak tahu ternyata ada efek begadang akhir-akhir ini muncul tadi malam.
“Iya. Hari ini kamu harus mematuhiku, El. Jadi pasien yang baik supaya aku bisa memperbolehkanmu keluar dari sini besok. Agar waktumu terkurung cuma sehari."
“Apa parah, Paman?” tanya Jemma sambil menatap sendu pada Miles.
“Kita lihat nanti, ya. Sekarang sarapan dulu,” kata Miles mengakhiri percakapan. Dia bisa ikutan sendu jika lebih lama melihat Jemma seperti itu.
Seandainya ada Evelyn di sini, putri dari kakak kembarnya itu pasti teralihkan. Sayangnya jadwal sekolah mengikat nona muda Irey itu.
“Jemma, apa Evelyn pernah bercerita tentang sekolahnya padamu?” tanya Miles di sela-sela menghabiskan potongan roti yang jadi menu sarapannya.
“Sekolah Savvy Edu, Paman.” ungkap Jemma setelah mengangguk.
Nigel yang sedang sibuk dengan buburnya menyimak saja obrolan dua orang penting baginya itu. Sedangkan Jarrett pergi ke dapur untuk minta langsung tambahan potongan buah, keaktifannya tidak bisa ditahan.
“Betul. Apa Jemma ingin sekolah di sana juga? Evelyn mulai masuk sekolah di umur lima. Seumur dengan kamu sekarang.”
Gelengan Jemma terlihat cepat setelah kalimat Miles selesai. Penolakan yang dilakukan tanpa ada jeda waktu berpikir.
Nigel mengerutkan kening mendapati sikap Jemma. Tatapan matanya bersirobok dengan Miles yang juga melihat padanya dengan makna bertanya.
“Mama dan Papa ada di sini. Jadi Jemma tidak akan kemana-mana, Paman,” jelas Jemma yang peka bahwa dua orang pria di dekatnya itu butuh alasan.
“Padahal Jemma bisa sesuka hati pada setiap akhir pekan pulang ke Delan. Paman bisa menyiapkan kapal yang khusus untuk Jemma pakai,” kata Miles lagi, ingin tahu bagaimana reaksi sang ponakan.
Anggukan Jemma memulai tanggapan perempuan kecil itu terhadap pemikiran Miles. Dia berkata, “Jemma tahu diriku yang sekarang adalah anak keluarga kaya. Tapi aktu bersama Mama dan Papa lebih berharga untukku, Paman.”
“Je,” ucap Nigel penuh haru, refleks kedua tangannya meletakkan wadah bubur dan menarik lembut tubuh Jemma untuk dia dekap. Waktu Jemma mengucapkan kalimat barusan seperti ada kekuatan tambahan bagi sang Papa.
*bersambung..
-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021