
"Ini dari Wordlib," bisik Nigel kepada Gail yang melihat penasaran ke arahnya. Lanjut berkata, "Aku buat ke mode loud-speaker saja ya, Gee?"
"Iya," ucap Gail lega. Senyum manisnya sudah bisa terbit setelah ragu yang dibarengi ketakutan beberapa saat tadi.
"Istri saya sudah ada di sini. Saya akan berikan telepon ini padanya," kata Nigel sembari menekan tombol untuk pindah mode jadi pembicaraan yang tidak hanya bisa didengar Gail saja.
"Selamat pagi, ini dengan saya Gail Brown," sapa Gail membuka suaranya ke arah ponsel yang dipegangi Nigel.
Refleks Gail menggenggam sebelah tangan Nigel yang lain. Berlindung. Dirinya tidak berani menghadapi orang asing sendirian.
Lagipula nomor yang menghubungi Gail tersebut bukan dari orang yang biasanya bertukar pesan singkat dengannya ataupun email. Perihal naskah yang masih perlu didiskusikan bersama.
Di sisi Nigel, muncul perasaan sedih ketika istrinya menyebut nama tanpa ada nama Irey di belakangnya. Hal penting tapi tak urgent sehingga dia baru tersadar belum membicarakan penyematan nama belakang pada Gail dan The Brown.
Selama dua puluh menit, hanya suara Gail dan lawan bicara di seberang ponsel yang terdengar di ruang makan rumah The Brown. Duo J dan Nigel sama-sama menyimak dalam diam.
Jemma bisa memahami yang sedang dibicarakan. Naskah Gail telah disetujui tim editor dan tinggal menunggu persetujuan atasan untuk tahap selanjutnya serta beberapa hal yang harus sang mama lakukan di masa menunggu.
Jarrett memandang Gail dengan mata penuh kagum. Dia bangga luar biasa pada mamanya, tak menyangka ada kehebatan lain dari sang mama.
Wajah cerah Gail perlahan redup ketika mendengar dirinya diminta datang ke kantor Wordlib yang ada di Hicyti pada waktu yang akan ditentukan nanti. Ini masalah baginya.
Nigel bisa merasakan beda tekanan tangan Gail setelah terdengar permintaan tersebut. Dia pun berusaha menguatkan dengan menggenggam balik tangan yang lebih kecil milik sang istri.
Setelah bertukar beberapa kalimat lagi, telepon yang Gail terima selesai. Hening kemudian.
Duo J dan Nigel menunggu Gail untuk angkat suara lebih dulu. Perempuan kesayangan mereka sepertinya sedang menata pikiran.
"Duo J mau ikut Mama sarapan?" ucap Gail akhirnya.
Cara Gail berucap seperti cara biasanya. Sang mama tampaknya tidak akan membicarakan isi telpon barusan.
"Mam, aku mau tapi perutku tidak menerima makanan dan minuman tambahan pagi ini," ujar Jemma jenaka.
"Gayamu, Jemma," timpal Jarrett meledek.
Nigel cepat tanggap untuk melayani Gail sarapan. Meski berapa kali pun istrinya menolak dilayani, dia tetap bersikeras untuk menerima saja perlakuan manisnya.
Beda cerita jika makan malam, Nigel menunggu Gail melayaninya. Seakan tidak akan makan jika sang istri tidak melakukan apa-apa untuknya.
Duo J tetap menempati meja makan untuk menjadi penonton kelakuan baru Nigel dan Gail tersebut. Sang mama yang galak tapi wajahnya merona dan si papa yang pemaksa tapi wajahnya lembut dan manis.
“Gee, dua hari lagi kita sudah bisa menempati rumah The Twins,” ucap lembut Nigel memberitahu saat Gail menyuap sendok terakhir menu sarapan.
“Dua hari lagi? Aku tidak yakin bisa selesai beres-beres secepat itu, Nigel,” kata Gail lalu mengambil gelas dan menghabiskan air putih hangat di dalamnya.
“Tidak ada yang perlu kamu bereskan, Gee,” sahut Nigel yang sedang merapikan meja makan. Piring kotor Gail beralih ke tangannya.
“Kenapa, Nig? Pindah tapi tidak bawa apa-apa, rasanya tak mungkin,” ujar Gail sambil menunggu penuh gelas yang digenggamnya dengan air hangat yang dituangkan Nigel.
“Mungkin, Gee. Itu yang akan kamu lakukan, Istriku,” kekeh Nigel.
Gail tersedak. Yang Nigel katakan barusan membuatnya terkejut.
***
Suasana sore hari yang panas membuat Duo J dan Nigel menunggu kepulangan Gail, Ellie dan Landon di teras rumah The Brown. Duduk menanti di bangku-bangku halaman rumah The Twins tidak cocok kali ini.
“Pa,” panggil Jarrett untuk menarik fokus Nigel dari layar ponsel.
“Iya, Ja. Apa apa?” ucap Nigel yang matanya masih ke benda pipih dalam genggamannya.
“Menurut Papa, apa yang aku buat ini sudah bisa digunakan Mama sebelum waktunya pergi ke Hicyti?”adu Jarrett.
Jemma yang tadinya menyandar di lengan Nigel jadi duduk tegap karena menyimak apa yang Jarrett utarakan. Dia ingin paham pembicaraan saat ini, tidak mau acuh tak acuh lagi sebab terkait Gail.
“Bawa ke sini tabletmu, Ja. Biar Papa cek perkembangannya,” pinta Nigel seraya memasukkan ponselnya tadi ke kantong.
Jarrett melompat turun dari kursi lalu berpindah ke dekat Nigel. Dia memperlihatkan apa yang sang papa minta.
Perlu waktu beberapa menit sebelum Jarrett mendapat respon dari Nigel. Tatapan sang papa mengisyaratkan jawaban tidak tapi mulutnya masih terkatup.
“Besok Papa masih mengurusi kelengkapan rumah The Twins. Lusa kita pindahan. Jadi, esoknya akan Papa jadika jadwal untuk rapat bersama tim kamu. Kita ke Hicyti. Bagaimana, Ja?” jelas Nigel kemudian.
“Aku ikut, Papa,” sambut Jarrett bersemangat. Anggapan buruk yang sempat di pikirannya terpatahkan. Papanya luar biasa.
“Aku, Pap?” timpal Jemma. Dia hanya mengerti bagian rapat dan pergi ke Hicyti, tidak dengan apa yang saudaranya sedang perbuat di layar gawai yang diperlihatkan pada papanya.
“Sang Putri ikut jika mau,” jawab Nigel terkekeh.
“Kalau aku mau di sini saja, Pap?” tanya Jemma kembali.
“Sesuai kemauan Sang Putri.”
“Pap, apa urusan para lelaki lagi?”
“Dasar Jemma, si banyak tanya,” ledek Jarrett sambil menerima uluran tabletnya dari tangan Nigel.
“Pintar, jangan lupa kamu sama denganku. Genius Tampan,” balas Jemma lalu menjulurkan lidah ke arah saudaranya. Sedetik kemudian bergelayut manja ke Nigel dan berkata, “Aku diledek Jarrett, Pap.”
Tawa Nigel tidak tertahankan. Drama ala Duo J ini sudah banyak kali bahkan sudah hafal dirinya dengan alur kelakukan Jemma dan Jarrett, namun tetap saja mengandung humor dan lucu.
Jarrett tidak membalas Jemma lagi, tidak seperti yang biasa dia lakukan. Sebab matanya menangkap sosok Gail dari kejauhan.
“Pa, aku melihat mama tetap jalan ke arah rumah The Twins,” ujar Jarrett lalu menoleh ke Nigel dan lanjut berkata, “Apa Mama tidak melihat pesan Papa tentang kita sudah di sini?”
Nigel merespon Jarrett tanpa berkata apapun. Dia segera bangkit dari kursi teras yang didudukinya sambil membawa Jemma dalam gendongannya.
Mendapati gerak cepat sang papa, Jarrett ikut melangkah menuju rumah The Twins. Panjang kedua kakinya yang kira-kira cuma setengah dari Nigel, membuatnya jadi berlari agar bisa dalam garis yang sama.
“Mam, kami di sini,” teriak Jemma sambil melambaikan tangan. Dia memanfaatkan posisi badannya yang tinggi ini.
|Diw @diamonds.in.words - Februari22
Moga kedengeran, hohoho