DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Ingin



“Tunggu disana, Je. Papa ingin memperlihatkan sesuatu,” pinta Nigel dalam nada yang lembut dan hangat pada Jemma, sang putri yang kini jadi salah satu nyawa untuknya.


Jemma mengangguk dan tetap duduk di sofa. Sedangkan Evelyn sudah berpindah ke dalam gendongan Miles. Ketiga orang tersebut memusatkan perhatian pada apa yang akan Nigel lakukan.


Perlahan Nigel membuat badannya bangkit dari dudukan kursi roda. Wajah cerahnya bercampur dengan ekspresi berjuang menggerakkan anggota tubuh yang sudah lama dibiarkan lumpuh.


Miles menyaksikan itu dengan haru dan syukur. Hari-hari seperti ini akhirnya tiba, hari dimana Nigel terlihat bercahaya kembali di matanya. Diri El yang Es kangeni dan kagumi.


Evelyn bersorak gembira. Pertama kali dia melihat Uncle-nya bisa berdiri sendiri serta berjalan meski perlahan-lahan dan lama dalam melangkahkan kaki.


Tidak berbeda dengan yang lainnya, Jemma melonjak-lonjak senang di atas sofa. Matanya berbinar-binar cantik menyambut Nigel yang  mengarahkan langkah padanya.


Kedua pasang ayah dan anak perempuan larut dalam bahagia untuk proses penyembuhan Nigel yang menampakkan hasil sedikit demi sedikit. Terapi fisik hasil campur tangan Jarrett.


Jemma ingin sekali berbagi kabar bahagia itu pada saudaranya. Setelah sang papa mengatakan boleh, perempuan kecil itu menghubungi Jarrett lewat panggilan suara.


“Ada apa? Aku sudah-” ucap Jarrett yang ingin mengusili Jemma ketika angkat telepon terpotong.


“Apa mama ada di dekatmu, Jarrett?” kata Jemma langsung menyelidik.


“Tidak. Aku sedang di kamar sendirian,” jawab Jarrett dan kemudian dia menggerutu karena sambungan telepon diputuskan sepihak oleh saudarinya.


Baru saja Jarrett membuka pintu kamar untuk keluar, panggilan video dari Jemma masuk ke ponselnya. Si kakak menyebalkan. Jarrett menggerutu sembari menerima sambungan.


“Jarrett, kamu pasti senang-” ucap Jemma yang antusias dan penuh nada bahagia dipotong.


“Kamu yang senang. Lihat mukaku, apa aku senang?” protes Jarrett cepat. Niat ingin mengusili Jemma gagal dan saudarinya itu sedang dalam mode menyebalkan baginya.


“Kamu tampan karena kamu adik Jemma,” ujar Jemma terbahak-bahak. Dia suka geli dengan raut wajah kesal Jarrett.


Jarrett diam saja. Malas meladeni jika Jemma tertawa seperti itu di ujung telepon tapi akan berbeda kalau ada di dekatnya. Dia akan membalas dengan menggelitik sampai ampun.


Beralih gambar yang tampak di panggilan video Jemma ke arah Nigel yang kembali berusaha berdiri. Mata Jarrett membola melihat bagaimana sang papa.


“Aku senang. Aku senang, Jemma. Aku senang, Papa. Aku-,” ucap Jarrett menggantung. Tersadar dengan nada suara senangnya itu cukup besar sampai terdengar di luar kamar.


Yang Jarrett cemaskan ternyata kejadian. Gail berjalan menuju kamarnya dan itu pasti karena teriakan senang barusan.


Jarrett komat kamit berdoa dalam hati agar tidak ada pertanyaan tentang kata papa yang sempat dia sebut. Sebab belum waktunya sang mama untuk tahu, sesuai kesepakatan banyak pihak.


Gail menatap Jarrett dengan mata bertanya dan kening berkerut. Sang putra terlihat berbeda drastis dibandingkan dengan beberapa detik lalu. Teriakan bahagia yang lepas.


Merasa Gail akan diam dan melihat saja karena tahu ada telepon, Jarrett perlahan melihat kembali layar ponsel yang spontan dia dekap ke dada. Jantungnya berdetak tidak tenang.


“Ini Jemma, Ma. Apa mama ingin melihat wajah jeleknya juga?” kata Jarrett sambil bernafas lega. Saudarinya memang jenius, pandai memahami keadaan genting bagi masa depan mereka.


Jemma sudah mengarahkan kembali gambar video pada wajahnya. Dia tahu ada yang tidak beres ketika ekspresi senang Jarrett terhenti tiba-tiba.


“Mama. Mama. Mama, aku mau mama. Berikan ponselmu pada mamaku, adik jelek,” sahut Jemma untuk mengalihkan Jarrett. Dia tahu perasaan Jarrett tidak baik-baik saja disana.


“Halo, putri mama,” sambut Gail pada ponsel Jarrett yang sudah berpindah tangan padanya. Obrolan antara mama dan anak perempuannya mengalir begitu saja.


Si suami hanya diperbolehkan melihat sosok Genaya itu secara sepihak. Seperti sekarang ketika ada Gail dalam panggilan video dengan salah satu anak mereka.


Ada juga Nigel melihat lewat video-video pendek tentang apa yang sedang dilakukan sang istri. Pastilah sang malaikat baginya yang mengirimkan, Duo J.


Jemma menghapus air mata yang membasahi pipi Nigel. Sang papa sepertinya tidak menyadari panggilan video sudah berakhir barusan.


“Papa pasti bisa bertemu mama,” ucap Jemma penuh perhatian. Lanjut berkata, “Aku, Jarrett, Paman Miel dan semuanya ada untuk kesembuhan Papa.”


Nigel mengangguk untuk merespon Jemma. Dia kehabisan kata-kata.


Betapa luar biasanya sang putri yang berumur lima tahun dan betapa sia-sia kehidupannya yang keterlaluan meratapi nasib selama enam tahun. Nigel memeluk Jemma penuh perasaan.


“Papa,” panggil Jemma berhati-hati dalam dekapan Nigel, “Apa aku masih boleh punya keinginan setelah keinginan paling besarku punya papa terkabul?”


Sisi anak-anak Jemma membuatnya menyampaikan yang pernah ada dalam pikirannya. Pelukan Nigel lebih longgar agar bisa melihat wajah sang putri.


“Tentu saja masih boleh. Keinginan apa yang Je punya? Papa akan mewujudkannya untuk putri besar ini,” kata Nigel dengan tegas yang lembut. Naluri kebapakannya terbentuk cepat.


“Boleh, Pap?” kata Jemma yang binar matanya makin terlihat cantik di pandangan Nigel. Anggukan kepala membuat perkataan berlanjut, “Aku ingin digendong papa seperti Paman Miel menggendong Ev.”


“Itu saja?” ujar Nigel tak menyangka. Dia mengalihkan mata ke arah Miles yang masih menggendong Evelyn sejak mereka masuk ke ruang musik tadi.


Badan Miles memang Nigel tahu, tidak perlu diragukan bagaimana tingkat kekuatan dan kebugaran sehingga berat tubuh Evelyn yang kecil tidak jadi masalah besar baginya.


Sedangkan Miles yang mendengar permintaan Jemma merespon dengan senyuman penuh arti. Genius yang satu ini pandai mendorong kondisi mental Nigel untuk lebih cepat membaik.


Ada namanya daya cinta yang jadi kunci Nigel untuk keluar dan sembuh dari luka mentalnya. Ditambah campur tangan kejeniusan Duo J, proses akan lebih cepat.


Enam tahun dilalui begitu saja oleh Nigel yang tidak peduli dan membiarkan lukanya begitu saja serta terpuruk karena cintanya pergi. Miles pun sempat ingin menyerah pada keputus-asaan kakaknya.


“Dad, apa malam ini kita akan tidur bertiga lagi dengan Mom?” bisik Evelyn pada ayahnya.


Saat giliran Jarret menginap kemarin, Nigel bisa tidur tanpa ada kehadiran Miles. Itu membahagiakan bagi Evelyn karena Dad dan Mom ada bersamanya lebih lama.


“Sepertinya tidak, Dear. Jemma bukan Jarrett yang bisa menemani Uncle jika sakit saat tidur,” jelas Miles dengan cara khasnya pada Evelyn. Anak tujuh tahun ini bisa mudah merajuk.


Evelyn mencium sebelah pipi Miles, pertanda dia memaklumi lagi keadaan Uncle. Dia menggerakkan tubuh agar diturunkan dari gendongan Dad.


Miles paham. Evelyn beralih ke Jemma dan dirinya mendorong kursi roda ke arah Nigel lalu bersuara.


“Waktunya bersiap untuk tidur. Besok jadwal ke pantai. Terapi lanjutan untuk El sambil kita bersenang-senang.”


*bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Oktober2021


**Silakan tekan tombol suka, hadiah, vote dan jadikan novel ini masuk favorit. Juga, bagikan. Makasih ya :))