
Irama dari permainan piano Jemma mengalun ke seantero ruangan di dalam rumah The Twins. Bagai penyemangat bagi orang-orang yang sedang menjalankan perintah Tuan Nigel Irey di sana.
“Je, istirahat,” kata Nigel sembari meletakkan kotak bekal berisi salad buah buatan Gail dalam jarak jangkau putrinya.
Jemma mengangguk. Namun tangannya tidak langsung berhenti menari di atas deretan tuts berwarna hitam dan putih.
Nigel tidak berkata lagi. Giliran tatapan matanya yang bicara pada si genius dalam seni musik itu.
Cengiran muncul di wajah manis Jemma. Dia pun mengakhiri kegiatannya karena tatapan tak-mau-dibantah dari Nigel.
Semakin banyak waktu bersama Nigel, Jemma sudah bisa dia memahami apa artinya tatapan serta raut wajah sang papa. Orang tua yang tidak pemaksa tapi sulit untuk diberi bantahan.
“Mama sudah membuatkan itu untukmu, Sang Putri. Jadi makan dulu, setelah selesai boleh lanjut bermain” tutur Nigel ketika dua tangan Jemma meraih kotak bekal.
“Iya, Pap. Yang untuk Papa, mana?” ucap Jemma dengan khasnya yang energik dan antusias.
“Di ruang bawah, dengan Jarrett. Mau ikut Papa, Je?”
“Pap, aku mana mau sendirian,” kekeh Jemma setelah menganggukkan kepala. Tak ketinggalan dua lengannya dibuka untuk meminta Nigel menggendong.
“Oh, Anak Papa. Sini,” kekeh Nigel pula. Dia selalu tak bisa menolak terhadap wajah menggemaskan Jemma saat minta digendong.
Tubuh kecil Jemma berpindah dalam hitungan detik. Satu dari banyak hal yang perempuan kecil itu suka lakukan pada sang papa.
“Aku ini anak Papa dan Mama. Jangan salah-salah, Pap,” tegas Jemma.
“Iya, iya Sang Putri,” tanggap Nigel lalu mencium gemas sebelah pipi Jemma.
Seiring langkah kaki Nigel, keduanya meninggalkan alat musik yang berada di sudut ruang tengah. Jemma digendong mode koala ke ruang bawah.
“Jemma,” panggil Jarrett bersemangat. Sekitar dua jam dia dan saudarinya itu terpisah lantai.
“Makan dulu, Kids,” ucap Nigel seraya mendudukkan Jemma di samping Jarrett.
Jemma mengangguk ke arah dua laki-laki kesayangannya. Lalu dia membuka kotak bekal yang diperuntukkan Gail kepadanya.
“Hari ini salad buah Papa sepertiku,” ujar Jarrett ketika melihat tutup kotak bekal untuk Nigel dibuka.
“Berisi potongan buah-buahan saja,” timpal Nigel tersenyum.
“Apa Papa tidak suka keju juga?” tanya Jemma menyambung topik.
“Suka. Tapi Papa lebih suka yang Mama khususkan buat Papa,” jelas Nigel. Tak ketinggalan wajah tampannya berseri-seri ketika mengutarakan kalimat barusan.
“Itu sama dengan Jarrett, Pap,” ucap Jemma mematahkan.
“Yang khusus itu kotak untuk saladnya, Jemma,” kata Jarrett meluruskan.
“Pokoknya, buatan Mama Duo J,” tegas Nigel.
“Betul,” sahut dua genius berbarengan.
Lalu kompak tertawa senang bersama. Tertular bahagianya Nigel yang selalu terasa ketika menyantap bekal yang dijadwalkan Gail untuk dimakan di pukul sepuluh pagi.
“Pap, aku baru tahu kemarin malam. Ternyata Papa tidak suka makanan coklat,” ucap Jemma di sela-sela menyendok salad buahnya yang lengkap dengan dressing keju.
“Cuma coklat yang dibuat jadi kue kering, Je. Yang olahan lainnya Papa suka,” kata Nigel menjelaskan.
“Dessert box yang isinya coklat semua. Yang sering Papa bawakan dari Hicyti itu, bagaimana?”
“Lumayan suka.”
“Lumayan saja, Pa?” ujar Jarrett ikut obrolan.
“Iya, begitulah. Tapi jika makannya dengan Mama Duo J, Papa akan lebih suka.”
***
Di teras Dapur The Brown, Gail duduk menghadap ke arah gudang. Tempat yang sedang jadi daerah pekerjaan Ellie.
Semua beban kerja Gail untuk hari ini sudah selesai. Tidak ada pekerjaan yang perlu dipikirkannya lagi, tinggal menunggu jam pulang saja.
Itu membuat pikiran Gail beralih ke perihal pindah serumah dengan Nigel. Dia merasa tidak tenang memikirkan akan tinggal bersama dengan suaminya itu.
Di satu sisi, Gail paham memang sudah seharusnya suami dan istri tinggal dan hidup bersama di tempat yang sama.
Namun sisi lain, Gail yang memang tampak normal hanya seperti itu saja. Dia sadar diri dan masih merasa tak pantas sebagai istri seorang Nigel Irey.
Ganjalan itu sudah lama muncul dalam diri Gail, tapi kini semakin membesar rasanya. Dia perlu Ellie untuk berbagi, ditambah lagi besok adalah waktunya pindah.
“Anak Bunda,” panggil Ellie membuyarkan lamunan Gail.
“Bunda,” sambut Gail melihat wanita kesayangannya itu berjalan ke arah dia berada.
“Pekerjaan Gail sudah selesai?”
“Sudah dari tadi, Bund. Hari ini tidak banyak. Bunda sudah juga?”
“Tinggal bagian Ayah untuk memindahkan bahan yang berlebih dari tempat masak.”
Sampai di dekat Gail, Ellie duduk di kursi terdekat dengan anak angkatnya itu. Insting keiibuannya menuntun karena membaca ada raut sendu di wajah sang mama Duo J.
“Bund,” panggil Gail ragu setelah ada keheningan antara dua wanita itu sebentar.
“Ceritalah, Nak,” ucap Ellie penuh empati. Dia tahu jika Gail sudah memanggilnya dengan nada ragu seperti itu, berarti sedang bingung dengan apa yang akan dilakukan.
Selang dua menit, Gail belum mengangkat suara lagi. Sepasang tangan tua Ellie mengenggam sebelah tangannya untuk menguatkan diri dari keraguan.
Menit selanjutnya, mengalir kalimat-kalimat yang menjadi curahan hati Gail untuk diperdengarkan kepada Ellie. Orang tua yang bijaksana menurut sang anak angkat.
Panjang lebar pembicaraan terhadap yang dirisaukan Gail. Ellie pandai menempatkan pemahaman, pandangan dan usulan terkait yang didengarnya.
Gail benar dengan yang dilakukannya sekarang. Memang perlu bantuan sang bunda untuk membuat dirinya lebih tenang.
“Bisa juga diumpamakan dengan sepasang sepatu favorit Jarrett. Bentuk yang tidak sepenuhnya sama itu membuat kedua belah, kanan dan kiri memiliki arti. Gail dan Nigel dipertemukan kembali, pasti ada arti dibalik ini yang bisa dipahami esok di masa depan.”
“Aku juga takut menyulitkan Nigel, Bund.”
“Terangkan kepada Bunda.”
“Seperti semalam, aku tidak tahu dia tidak bisa makan kukis coklat. Tapi dia memaksakan diri karena permintaanku. Dia bisa menolak tapi tidak dilakukannya. Kalau saja dia tidak segera muntah-muntah di toilet, aku takkan pernah tahu.”
“Perasaan takut Anak Bunda itu wajar. Tapi itu tidak untuk membatasi apa yang bisa dilakukan. Bagaimana cara pandangnya saja yang Gail ubah.”
“Maksudnya, Bund?”
“Kejadian itu bisa Anak Bunda lihat dengan cara begini. Nigel menurut dengan apa yang Gail pinta. Gunakan itu untuk meminta suamimu membuka dirinya dengan memberitahu apa yang perlu. Supaya ke depan Gail tahu bersikap bagaimana.”
Gail diam memahami yang disampaikan Ellie. Dia teringat sejauh ini memang Nigel sibuk membuat dirinya menerima kehadiran sang suami. Sedangkan dia tidak begitu mencari tahu perihal papa Duo J itu.
Getar ponsel terdengar di meja dekat Gail dan Ellie. Sontak keduanya melihat ke layar alat komunikasi itu.
Tampil tulisan kekasih. Seketika pacu jantung Gail tak sesantai biasanya berirama.
|Diw @diamonds.in.words - Februari22
Tenang G, tenang.. kan yang nelpon si suami hihiii