DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Rencana



Rencana berkeliling ruang bawah tanah rumah The Twins tidak jadi terlaksana. Duo J dan Nigel mengikuti arah langkah Gail yang lurus saja untuk menyeberang ke rumah The Brown.


Jemma tetap berada dalam gendongan Nigel dan Jarrett dibimbing tangannya oleh Gail. Tampak seperti keluarga kecil harmonis jika tidak memperhatikan wajah sang mama yang sedang sebal.


Sedangkan Nigel yang salah tingkah karena momen tadi berulangkali menyembunyikan wajahnya ke badan Jemma. Untuk menutupi dirinya yang senyum-senyum sendiri.


Sesampainya di tujuan, Gail meminta Nigel memindahkan Jemma ke kasur yang ada di kamar tidur yang dipakai bersama oleh sang mama dan anak-anak. Dia hanya mengantar sampai pintu.


Gail tidak mau berdekatan lebih lama dengan suaminya itu. Dia kesal kepada Nigel tapi sampai sekarang belum yakin dengan apa yang menjadi alasannya. Lagi-lagi, membingungkan.


Nigel yang akan menggigit Jemma, itu tidak masuk akal sebagai alasan. Sebab Gail tahu itu bukan sesuatu yang sungguh-sungguh akan dilakukan oleh bapak dari putrinya itu, bahkan menyakiti seujung jari pun pasti tidak mampu.


Nigel yang melakukan apa kemungkinan membuat perasaannya buruk begini, Gail memikirkan itu sembari beberes untuk makan malam. Sekaligus dia menyalurkan energi.


Demi emosi buruknya tidak salah keluar, Gail mendiamkan dan membentang jarak pada si suami itu dulu. Tentu saja Nigel yang tadinya berada di level bahagia yang tinggi perlahan-lahan merosot rasa senang hatinya.


Jemma menatap bingung dengan interaksi Gail dan Nigel. Bukannya tadi sore, sebelum dia tertidur memeluk sang mama, kedua orang tuanya itu sangat baik-baik saja.


“Jarrett,” bisik Jemma memanggil saudaranya untuk bicara berdua. Sebab posisi duduk untuk makan malam berada di tengah antara Gail dan Nigel.


Jarrett menoleh sembari mendekatkan telinganya kepada Jemma. Bersiap bicara dengan saling berbisik.


“Ada apa dengan Mama dan Papa?”


“Aku juga tidak tahu. Sudah seperti itu sejak turun tangga ke ruang bawah. Kalau kamu tidak tidur, kamu pasti lebih tahu.”


“Berarti ada yang terjadi setelah aku tidur. Sebelumnya tidak ada masalah Mama dengan Papa saat aku menunjukkan isi kamarku.”


Bisik-bisik antara Duo J terhenti karena Gail menegur Jarrett yang belum menambahkan sayur untuk menu makan malam. Hal yang selalu harus sang mama lakukan terhadap kebiasaan makan putranya.


Sebelum Jarrett mengeluarkan aksi tawar menawar untuk tidak makan sayur kepada Gail, Nigel lebih dulu menyendokkan olahan tumbuhan hijau tersebut ke piring pria kecil itu. Seolah sang papa meminta untuk langsung menuruti apa yang mama mau.


“Baiklah,” gumam Jarrett. Dia paham dan jadi penurut kali ini.


Nigel yang sudah semakin paham gerak-gerik putranya itu, meraih pundak Jarrett lalu mengusap sayang sebentar. Insting kebapakkan dan suami itu sedang diuji rasanya.


Waktu berlalu, aktifitas makan malam juga usai. Namun Duo J belum menemukan jawaban dari keanehan Gail dan Nigel.


Keduanya berharap Nigel bisa mengajak Gail bicara berdua lagi seperti waktu itu. Karena balik dari pembicaraan di teras, kedua orang tua itu seperti memancarkan kehangatan hubungan.


Jemma tidak suka kondisi seperti ini lagi. Ditambah pula tatapan Nigel ke arah Gail ada sorot sendu di antara cahaya penuh cinta, begitu istilah yang dia temukan dari tontonan film.


“Pap, apa aku berbuat salah?” tanya Jemma saat berpindah duduk ke ruang lepas untuk bersantai sebelum Nigel pamit kembali ke villa.


“Kenapa Sang Putri bertanya seperti itu?” tanya Nigel pula, belum paham kemana arah ucapan Jemma.


“Karena sebelum aku tertidur tadi, Papa dan Mama baik-baik saja.”


“Tidak ada yang salah, Je. Papa sedang mencari tahu ada apa. Kita tunggu, ya?”


Anggukan Jemma mengiyakan apa yang Nigel sampaikan. Keduanya beralih topik dengan mengobrol ringan bersama Landon dan Ellie.


Di bagian lain, Jarrett sedang giliran membantu Gail membersihkan ruang makan dan peralatan yang dipakai makan malam tadi. Didikan yang sang mama tanamkan bahwa pekerjaan rumah harus bisa dilakukan laki-laki dan perempuan.


“Ma, apa Papa buat salah dengan Mama?”


“Mama dan Papa tidak ada masalah, Jarrett.”


“Aku bisa Mama jadikan tempat curhat. Percayakan masalah pria kepadaku,” ucap Jarrett bergaya. Dia ingin tawa Gail terpancing.


“Mama, putra mama ini genius,” jawab Jarrett jenaka.


“Iya, genius tampan-ku,” tambah Gail terkekeh.


“Jadi, bagaimana Ma?”


“Bagaimana yang Jarrett bersihkan, sudah selesai?” ucap Gail membelokkan topik.


“Sedikit lagi,” kata Jarrett memberengut dan Gail menahan senyum mendapati tingkah putranya itu.


Hening  beberapa saat. Jarrett menyapu lantai dan mengatur letak kursi dan meja makan dengan lebih fokus agar selesainya semakin cepat. Dia mau bebas bicara sambil mengekori Gail yang masih mencuci peralatan makan.


“Mama, Jemma bilang kamarnya dapat pujian dari Mama. Kamarku bagaimana, Ma?” kata Jarrett mulai bersuara lagi.


“Maaf, Jarrett. Tadi Mama belum masuk ke kamarmu. Jemma tidur setelah meminta Mama menggendongnya. Lain kali Mama ke kamar Jarrett, ya,” tutur Gail menerangkan.


“Dasar Jemma. Tapi Ma, tadi aku melihat Papa yang menggendong Jemma saat turun tangga ke ruang bawah. Apa Papa merebut Jemma dari Mama?” ucap Jarrett dengan gaya penuh selidik.


Gail tertawa dengan tingkah Jarrett. Bersamaan dengan itu, dia selesai dengan pekerjaan bersih-bersih.


“Tidak, Jarrett. Kalau itu terjadi, maka sebelum Papa merebut, Mama akan memberi terlebih dulu,” kekeh Gail sambil gemas menempelkan kedua tangannya yang dingin dan lembab karena lama terkena air itu ke pipi Jarrett.


“Lalu, Mama?”


“Membuat perencanaan.”


“Mama sendiri?”


“Mungkin.”


“Apa yang akan Mama rencanakan?”


“Macam-macam. Bisa itu kesepakatan, perjanjian, atau apapun yang memungkinkan untuk bertemu di tengah-tengah.”


“Kenapa tidak merencanakan perebutan juga, Ma?”


“Karena itu akan melukai lebih banyak hati. Mama mau kedamaian. Lebih baik itu yang direncanakan. Apa pria kecil ini mengerti?” kata Gail dengan kekeh di ujungnya.


“Nanti pria kecil ini bisa mengerti, Mama,” ujar Jarrett berlagak nan lucu. Lalu berkata, “Tangan Mama sudah tidak lembab.”


“Saatnya kita ke ruang lepas,” ajak Gail lalu tangannya yang tadi di pipi Jarrett berpindah ke dalam genggaman putranya.


“Ayo, Mama,” ucap energik Jarrett.


Tiba di ruang lepas, Jarrett menarik Gail sampai tepat di samping Nigel agar kedua orang tuanya duduk berdekatan. Meski insting genius tampan itu merasa ada tatapan tajam dari sang mama, dia pura-pura tidak tahu.


“Gail, tadi kami membicarakan tentang rumah yang di seberang,” ucap Landon menyambut bergabungnya sang anak angkat dan cucu laki-laki.


Gail tersenyum merespon yang disampaikan Landon. Hal yang cepat atau lambat harus dibicarakan dengan serius.


“Ayah, Bunda, aku berencana-“


|Diw @diamonds.in.words - Februari22


Ape tuu, G ato Nigel.. Hmm