DUO J: GENIUS

DUO J: GENIUS
Ketika



Ketika Gail dan Nigel larut dalam obrolan di meja makan, Miles dan Avery duduk santai di sofa ruangan sebelah kamar. Keduanya berselonjor.


Miles dan Avery sama-sama tersenyum menonton interaksi pasangan Nigel dan Genaya aka Gail lewat rekaman CCTV di ponsel tak biasa milik Miles.


Gawai canggih yang selalu ada. Jika tidak, mana bisa Miles tenang melepas Nigel untuk tinggal sendirian tanpa ada dirinya menjaga. Mereka saling setuju berbagi privasi.


Beda cerita jika Nigel sudah bisa kembali hidup bersama keluarga kecilnya, Genaya aka Gail dan Duo J. Ketika itu terjadi nanti, Miles mampu mengurangi kadar keposesifannya.


“Sayang, apa renovasi rumah yang berseberangan dengan tempat Genaya tinggal tidak bisa dipercepat selesainya?” ujar Avery yang masih belum lepas dari belitan salah satu lengan Miles.


“Sepertinya tidak. Satu bulan itu sudah waktu paling cepat dalam hitungan yang diatur El. Kenapa, Sayang?” jelas Miles, perhatiannya beralih dari layar ke wajah istrinya.


“Aku ingin bunga-bunga yang mulai bermekaran dalam hati mereka terus tumbuh dengan lebih cepat,” jawab Avery sambil menunjuk objek yang dibicarakan lewat arah matanya.


Avery kembali menatap ke layar ponsel yang digenggam sebelah tangan Miles. Wanita itu teringat bagaimana sikap Jemma saat berpamitan.


“Kita semua sedang berusaha, Sayang,” ucap Miles. Lelaki itu menangkap sorot mata yang sendu dari Avery.


Seketika Miles mengikis jarak dan menghadiahi sebuah pertautan bibir yang penuh perasaan kepada sang istri. Itu membuat Avery tersenyum dalam kegiatan panjang mereka.


Perjalanan kisah cinta pasangan Miles dan Avery seperti air mengalir yang tenang. Ketika datang ujian dalam rumah tangga mereka, langsung bisa diselesaikan dalam waktu cepat.


Tidak seperti kisah sang kembaran, Nigel menghadapi perjalanan yang sangat berbeda. Cepat dan lancar pada awalnya lalu diuji besar-besaran dalam waktu yang tak sebentar.


‘Jarrett Irey’


Tulisan itu muncul di layar ponsel. Avery yang lebih dulu melihatnya segera menyudahi momen intim bersama Miles.


“Terima kasih, Sayang. Ada telpon masuk dari Jarrett,” kata Avery sembari merapikan penampilan Miles sebelum dirinya.


Miles merespon ucapan Avery lewat bahasa tubuh. Lelaki itu mengecup singkat bibir sang istri sebelum jarinya menggeser ikon terima sambungan.


“Selamat pagi, Paman. Ini Jemma,” ucap suara di seberang telepon.


“Selamat pagi, Keponakan yang Manis,” kata Miles membalas.


Avery yang masih berada di dekat Miles mendengar ucapan manis prianya kemudian menahan diri untuk tidak kelepasan mengeluarkan suara tawa.


Miles si minim ekspresi itu berkata dengan suara yang lembut, kalimat yang menyenangkan hati, tapi raut wajahnya tidak mendukung. Lucu terlihat bagi Avery, mengandung humor.


“Paman Kesayanganku, apa Mama benar sedang bersama Papa?”


“Benar. Kenapa Jemma bertanya begitu?”


“Aku hanya ingin memastikan apa yang Jarrett bilang. Aku tidak bertemu Mamaku sejak bangun tidur, Paman. Sekarang, Jemma ini sudah tenang berkat Paman.”


“Manis sekali kalimatmu, Jemma.”


“Aku memang Jemma yang manis dan keponakan dari Paman yang Menawan.”


“Menawan?”


“Iya. Aku dapat kata itu ketika menonton film. Maknanya bagus kan, Paman?”


“Bagus.”


“Benar, kan? Cocok untuk Paman. Teleponnya boleh Jemma sudahi dulu ya, Paman?”


“Baiklah. Jemma boleh menutupnya lebih dulu.”


“Terima kasih, Pamannya Jemma yang menawan.”


Miles menarik lengkungan bibirnya, tersenyum lebih lebar dan pipinya bersemu ketika panggilan dari Jemma sudah terputus. Perempuan kecil itu genius dan penuh kejutan.


“Sayang, tiba-tiba kamu terlihat seperti remaja yang sedang kasmaran,” goda Avery lalu melepaskan tawanya terbahak-bahak. Tak sanggup menahan lebih lama.


“Kau memang menawan, Pamannya Jemma,” goda Avery lagi.


“Sayang, aku malu,” ujar Miles kemudian menenggelamkan wajah minim ekspresinya itu ke pundak Avery.


Interaksi antara pasangan itu selalu dibuat seimbang oleh keduanya. Serius berarti serius, santai pada tempatnya, saling paham kondisi yang dihadapi, keharmonisan jadi tujuan.


“Kita belum sarapan, Sayang. Apa kamu sudah lapar?” kata Miles yang suaranya tertutup oleh leher Avery.


“Belum. Kamu?” ucap Avery yang sudah mengambil alih ponsel Miles untuk berpindah ke genggamannya. Sebelah tangannya yang lain mengusap kepala si suami penuh kasih.


“Sama.”


“Kita balik ke tempat El setengah jam lagi, bagaimana? Aku masih ingin melihat mereka kencan, Sayang.”


“Oke, aku menurut. Sayang, biarkan aku tidur selama dua puluh menit seperti ini ya?”


“Iya. Tapi perbaiki dulu letak kakimu supaya lebih nyaman, Sayang.”


Setelah itu, Miles benar-benar lelap sambil memeluk Avery. Sedangkan si istri membalasnya dengan tak henti mengusap kepala sebab bisa menambah pulas sang suami.


Mata Avery tidak beralih dari layar ponsel. Tak terbayangkan olehnya jika kisah menyedihkan sang ipar terjadi kepada Miles dan dirinya. Dia tak akan sanggup.


Ketika Miles melamar dan Avery berkata mau, hari-hari yang Avery jalani setelah itu terasa lebih bermakna. Kurang dari dua minggu setelah itu keduanya resmi menjadi suami istri.


Ikatan hubungan yang sakral itu mengubah diri Avery yang dikira bahagia-bahagia saja dalam kesendirian, menemukan dirinya yang lebih bahagia ketika dijadikan bagian sebuah keluarga.


Mungkin jika bukan Miles yang ingin menjadi suaminya, Avery tidak akan terpikir untuk menikah. Oleh karena itu, dia paham betapa terpuruknya Nigel ketika kehilangan istrinya.


***


“Ketika Papa dibawa Paman dan Bibi, aku melihat mobil di halaman rumah,” ucap Jemma.


Perempuan kecil itu sedang menghabiskan sarapannya sambil bercerita. Meja makan ditempatinya bersama Jarrett dan Landon.


Hanya ada Duo J dan sang kakek di rumah. Sebab Ellie sudah pergi ke Dapur The Brown dan hari ini giliran Landon yang mengantar cucu-cucunya ke villa kantor Addison.


“Mobilnya berwarna apa?” sahut Landon.


“Putih, Kek. Pertama kali Jemma melihat mobil seperti itu ada disini. Kalau ketika di Hicity sering aku lihat di jalanan.”


“Mamamu naik mobil putih juga tadi.”


“Berarti aku bisa melihat mobil itu lagi ketika di villa ya, Kek?”


“Mungkin. Habiskan dulu sarapanmu. Jarrett diam-diam sudah selesai sarapan.”


Seketika Jemma mengangguk dan mempercepat gerakannya. Jarrett menunggui kakaknya itu dengan diam dan berkonsentrasi dengan bacaan yang tampil di layar tabletnya.


Landon yang memperhatikan kedua cucu itu hanya tersenyum maklum. Duo J terlahir dengan kejeniusan masing-masing.


Tak ada penyesalan Landon menuruti Ellie ketika ingin Gail yang sebatang kara diangkat menjadi anak mereka. Lalu ditambah dengan kehadiran dua cucu setelahnya.


Rumah The Brown yang awalnya ditempati berdua saja berubah ramai. Mungkin tak lama akan berubah lagi. Landon harus menyiapkan hatinya lebih awal agar rela ketika itu terjadi.


Duo J akan terus tumbuh besar. Ditambah pula sosok ayah kandung keduanya ternyata bukanlah seorang yang sembarangan. Landon bahagia sekaligus sedih.


|Bersambung..


-Diw @ diamonds.in.words | Desember2021


Mari beri ‘suka’, ‘vote, ‘hadiah’, juga jadikan ‘favorit’ lalu bagikan ajakan baca novel Diw ini, makasih loh dukungannya untuk keberlangsungan Duo J: Genius  :)